Author Topic: Angel By My Side~Chapter 22 Updated 9 January 2011~  (Read 49852 times)

fara

  • Guest
Angel by my side
« Reply #360 on: April 20, 2010, 05:34:36 am »
Kariiiiiiiiinnnnnnnnnnn,
thanks ya udh di update ABMSnya [love struck] [love struck] [love struck],

daku baca dulu ya karin,
komen'y nanti yaw [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
Bisa update 2 chaps nih hari ini...  [hmpfh] [hmpfh]

mau kuupdate yg chap 12 hari ini juga gk???  [biggrin] [biggrin]

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE

Offline sunny.mino

  • Newbie
  • *
  • Posts: 22
  • MINSUN love ya !!!
  • Location: Indonesia
    • View Profile
hiiiiiiii kariiin.... [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] update chap 12 skarang duonx.. [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]pnasaran nih ma lanjutannya... [laughing] [laughing]


M I N S U N             
                      IS
                            MY
                                  LOVE

fara

  • Guest
Angel by my side
« Reply #363 on: April 20, 2010, 07:02:32 am »
Akhirnya selesai jg baca chapter 11nya :D :D :D

Huhuhuhu kasian bgt ya nasib minho, udh cinta bertepuk sebelah tangan ma hyesun, ehh pas dia kecelakaan mpe tangan & kaki minho patah,
tapi tetep aja hyesun tega2nya ga mau jenguk minho,

jadi makin sebel ni ma karakter hyesun di sini.
Pengen [head break] [head break] [head break] karakter hyesun...

Trus minho amnesia ga c karin?? Jangan2 minho amnesianya kyk yg waktu di bbf, amnesianya sama orang yg udh bwt sakit hati minho aka cuma lupa sama hyesun doang [what] [what] [what]

kalo minho amnesia tentang hyesun doang c aku setuju bgt bgt d karin,
cz aku udh sebel bgt sama sikapnya hyesun di chap ini...

Biar hyesun ngerasain gimana rasanya dilupain ma minho....

Btw, kalo chap 12 mo di post sekarang c aku seneng buangget karin...
Beneran nih chap 12 mo di post???
Ayo2 sekarang aja karin [clap] [clap] [clap]

Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
Ini chap 12 nya...
Mak nem... tepati janjimuuu...  [hmpfh] [hmpfh] [on] [on] [on] [on] [on]

Chapter 12

   “Mungkin agak terlalu tiba-tiba aku bicara seperti ini—“kata Na Young dengan nada yang masih serius. “Aku juga tidak bermaksud menjilat ludah sendiri—“
   
Hye Young menghembuskan napas. Mulai tahu pembicaraan ini mengarah ke mana.
   
“Aku juga bukan tidak percaya pada anakmu, Hye Young-ssi. Meskipun bertemu berpuluh-puluh pria tampan di luar sana, ia pasti tak pernah bermaksud mengingkari perjodohan ini—”Na Young sungguh-sungguh. “Tapi, aku ingin kau bisa membuat Hye Sun kembali ke Seoul secepatnya—”
   
Hye Young menghembuskan napas kuat-kuat kali ini, dia sendiri saja bingung harus menjawab apa. “Na Young-ssi, aku pun tidak ingin anak perempuanku yang paling aku sayangi itu pergi jauh-jauh dari sisiku. Tapi—Untuk membuat Hye Sun kembali secepatnya sebelum batas waktu yang ditentukan akan membuat Hye Sun berontak—“
   
“Aku tahu—Aku pun bukan tipe yang tidak sabaran dan tidak mau menunggu empat bulan lagi sampai bulan Februari—“lanjut Na Young. “Tapi, masalahnya, aku sungguh khawatir dengan keadaan Min Ho—Kalau saja, ada yang bisa menjaganya, bukankah lebih baik?“
   
Hye Young mengangguk mengerti. “Aku tahu, Na Young-ssi. Aku juga sebenarnya ingin minta maaf sebelumnya, tapi, ketika tahu Min Ho kecelakaan saja ia tak mau kembali ke Seoul karena urusan pekerjaan, padahal itu hanya kunjungan singkat saja. Bagaimana jika saya menyuruhnya cepat-cepat kembali ke Seoul dan melangsungkan pernikahan dengan Min Ho?”
   
“Hye Young-ssi, aku dan suamiku sudah tua. Kami ingin menimang cucu secepatnya. Aku yakin kau juga ingin menjadi nenek—“lanjut Na Young. “Keluarga Lee dan Goo harus punya penerus. Dan saya tahu sekali, itu tak bisa diberikan Hye Jung pada Anda, makanya Anda memilih Hye Sun sebagai penerus. Sedangkan saya hanya punya satu anak, kalau bukan Min Ho jadi siapa lagi?”
   
Hye Young hanya menghembuskan nafas lagi dalam-dalam, Seoul Sun butuh penerus. “Baik. Saya akan mencobanya—“
***
   New York, USA—5 November 2006—07.00 pm
   

Hye Sun habis mandi ketika itu. Ia melirik jam yang tergantung di atas dinding apartemennya yang bergaya minimalis dan serba putih itu. Pukul tujuh tepat. Badannya dari tadi terasa lengket akibat gym seharian di apartemen yang kebetulan menyediakan fasilitas gym itu. Tapi, untungnya rasa lengket itu segera hilang ketika ia mandi tadi.
   
Hyo Joo sedang tak ada di apartemen. Ia tadi pamit untuk mengunjungi Bibi Jae Min di rumahnya. Jadi, tinggalah Hye Sun sendiri di hari Minggu yang membosankan itu. Kemudian, terdengar suara bell yang berbunyi. Cepat-cepat Hye Sun menuju ruang depan apartemennya, tapi akhirnya, ia bingung juga. Hyo Joo, kan, punya kunci apartemennya. Kenapa harus memencet bel?
   
Tapi, segera tersedia jawaban dari kebingungannya itu. Biasanya, jika Hyo Joo pergi, kunci yang ada di dekat pintu masuk apartemennya itu hanya tinggal satu, tapi sekarang, ada dua kunci di atas meja itu.
   
Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, ia segera membukakan pintu apartemennya. Tiba-tiba saja, ketika ia membuka pintu, segerombolan pria masuk ke dalam, dan setelah itu? Gelap sama sekali—
***
   Seoul, Korea Selatan—6 November 2006—06.25 am

   “Halo?”Hye Young baru saja bangun tidur dan ia sudah menerima telepon dari anak buah yang ia sengaja kirim dari Seoul ke New York untuk menangkap anaknya yang satu itu.
   
“Halo, Bu Presdir. Kami berhasil menangkapnya—“Suara salah seorang laki-laki yang kedengaran gembira seperti singa yang mendapat mangsa itu juga telak membuat Hye Young menyeringai lebar.
   
“Bagus. Bawa dia ke cepat-cepat ke Banda John F. Keneddy—“perintah Hye Young. “Sebentar, kau mengambil paspornya tidak?“
   
“Tenang saja—Saya sudah mengambil paspornya—“jawab suara lelaki itu.
   
“Bagus. Setelah ini, kau bawa dia ke hangar tempat pesawat jet pribadi Seoul Sun berada—“kata Hye Young kemudian. “Lakukan semua sebaik-baiknya. Pokoknya ia tak boleh sadar sebelum pesawat lepas landas—“
   
“Baik, Bu Presdir—“kata suara lelaki di seberang sana itu lagi.
   
Hye Young menutup ponselnya dengan wajah yang puas.
   
“Jadi, segampang ini, ya, menangkapmu?”
***
   New York, USA
   
   Dengan kantung belanjaan yang benar-benar banyak sekali. Hyo Joo naik menuju apartemennya yang berada di lantai 42 dengan lift. Ia baru saja mengunjungi Bibi Jae Min, setelah perjumpaan yang cukup lama dengan bibinya itu, Hyo Joo kemudian mampir ke supermarket untuk belanja bulanan, makanya ia pulang terlambat dan kelihatan sangat repot dengan bawaannya sekarang.
   
Ketika ia baru saja ingin masuk ke dalam apartemennya, Nate, anak laki-laki yang berusia 16 tahun yang merupakan tetangga sekaligus penggemar berat Goo Hye Sun yang memang selalu mengetuk pintu apartemen mereka setiap kali ia sempat. Kadang-kadang anak itu akan memberikan kertas yang berisi lagu buatannya untuk Hye Sun, kadang-kadang anak itu akan masuk dan bermain gitar sambil bernyanyi dengan romantisnya seakan-akan ia sedang berhadapan dengan pacarnya sendiri, kadang-kadang ia membawa kue atau boneka, atau hal yang aneh-aneh lainnya.
   
Hyo Joo mengerutkan kening ketika anak lelaki yang sebetulnya manis itu celingak-celinguk tidak jelas ke dalam apartemen Hye Sun.
   
Jangan-jangan anak ini mau menyatakan cintanya pada Hye Sun sekali lagi!
   
Ah! Jangan! Perut Hyo Joo sudah cukup ingin jungkir balik dengan cara anak lelaki itu yang aneh-aneh untuk mendapatkan Hye Sun, tanpa menyadari anak itu enam tahun lebih muda dari Hye Sun. Tapi, yang lebih aneh lagi, Hye Sun selalu meladeni anak yang satu itu, kadang-kadang Hye Sun malah membiarkan anak itu memeluk dan mencium pipinya! Dan kadang-kadang Hye Sun yang memberikan pelukan atau ciuman di pipi anak itu setelah anak itu menyanyikan lagu yang memang sih romantis minta ampun, tapi, terlihat benar-benar weird karena anak itu tampak seperti adik Hye Sun sendiri.
   
“Hey! Nate! What’s up?”tanya Hyo Joo pada anak yang masih celingak-celinguk itu dari kejauhan. Anak lelaki itu sedang memakai kaos hijau yang sangat santai dan jeans yang itu-ituuuu lagiii…
   
Ketika mata hijau anak lelaki itu menatap mata coklat Hyo Joo, anak itu segera bingung. “I don’t know what happen, Hyojoo—But your condo is open and looks very messy. And where’s Hyesun?”
   
Hyo Joo buru-buru mempercepat langkahnya menuju anak lelaki itu, “Messy? Housekeeper maybe forget to come and…”
   
“…forget to close the door?”sambung Nate dengan nada yang benar-benar bingung mutlak. Mata Hyo Joo segera terbelalak ketika melihat pintu yang menjablak terbuka seperti itu. Ia segera menaruh barang belajaannya yang sangat merepotkan itu di sebelah pintu.
   
“Where’s Hyesun?”tanya Nate sekali lagi, mempertegas pertanyaannya tadi.
   
“She’s inside—“jawab Hyo Joo, ia kemudian masuk ke dalam apartemen itu.
   
Suara Nate terdengar lagi, “She can’t let the door open! I know who Hye Sun is! She’s not you! The careless one!”
   
Hyo Joo segera dongkol setengah mati mendengar perkataan anak bau kencur itu, ia segera berbalik dan menghentikan aksinya yang ingin mencari Hye Sun di dalam apartemen. “Hey! Just shut up and help me to find her!”
   
Nate segera terkesiap di depan pintu. Ia segera masuk ke dalam ia membantu Hyo Joo mencari-cari Hye Sun di seluruh apartemen itu. Ketika akhirnya mereka bertemu di satu titik yang sama, Nate mengangkat bahu sementara Hyo Joo pucat pasi.
   
“Nate! Are you kidnapping her? Just please! I know you’re her fans! But, not like this!”seru Hyo Joo dengan nada yang sangat menuduh.
   
Anak lelaki itu sungguh kaget mendengar kata-kata itu. Ia ingin mempertahankan harga dirinya.
   
“Hey! What’re you talking about! I’m not!”teriak Nate lagi.
   
Hyo Joo bingung. Dengan cepat ia mengambil gagang telepon yang tertempel di dinding apartemen itu. “Hello, Sir? Do you see model named Hye Sun-Ku, the  owner of condo number 578S091 just leave outside? Ok. Thank you.”
   
“What’s up?”tanya anak lelaki itu dengan simpatik.
   
“Sh!t, I don’t know where to find her! She’s lost!”jerit Hyo Joo agak histeris.
   
“Call police! Quickly!”Anak lelaki itu balas berteriak.
   
“No way! I’m not the citizens of America! I’m Korean you know?”Hyo Joo lebih histeris lagi. Anak lelaki itu terdiam.
   
“You! Don’t make noise again! Just back to your condo!”perintah Hyo Joo pada anak lelaki dengan mata hijau itu. “I want finding her!”
   
Hyo Joo kemudian keluar dari apartemennya, menyeret barang belanjaannya itu ke dalam apartemen. Tapi, suara Nate terdengar menghentikan langkah Hyo Joo.
   
“There’s a letter, Hyo Joo—“kata Nate dengan suara yang agak parau.
   
“What? Oh… Don’t playyin with me, boy—“Hyo Joo kesal sekali, sampai-sampai ia menggeletakkan barang belanjaannya begitu saja di atas lantai dapur kecil itu.
   
“Hyo Joo! I’m serious!”seru Nate lagi. Hyo Joo segera menghampiri anak lelaki yang sedang memegang kertas memo kecil itu.
   
“Where did you found that?”tanya Hyo Joo.
   
“On table near the door—“jawab Nate seraya memberikan kertas itu pada Hyo Joo. “It’s not written in English. It is—Hangeul?”
   
Hyo Joo melihat surat itu dan membacanya dengan benar-benar teliti—
   
To : Ms. Han Hyo Joo

   Kami adalah suruhan dari Presdir Lee Hye Young, orang tua Nona Goo Hye Sun.
   Anda tidak perlu khawatir dengan keadaan Nona Goo Hye Sun. Ia baik-baik saja dan akan kembali ke Seoul. Jangan mencarinya.
***
   Seoul, Korea Selatan—6 November 2006—09.00 am

   Hye Young dengan wajah puasnya, menyeringai lebar hampir setiap ia menandatangani proposal-proposal yang tiba di mejanya itu.
   
Dengan tangannya yang kurus, ia meraih telepon yang terletak di atas mejanya itu. “Yobseoyo?”
   
“Yobseoyo?”Suara parau dan dalam dari seberang sana terdengar menjawab. “Bibi Hye Young?”
   
“Hmm—Min Ho—“panggil Hye Young kemudian. “Aku bisa minta tolong?”
   
“Ya—“jawab Min Ho agak ragu-ragu.
   
“Jadi, nanti malam aku ada rapat—“dusta Hye Young. “Dan ternyata, aku baru ingat kerabat dekatku akan pulang ke Seoul malam ini—“
   
“Hm…”Min Ho kedengaran sedang mendengarkan baik-baik. “Lalu, Bi?”
   
“Lalu, bisa tolong jemput kerabat dekatku di Bandara Incheon nanti malam?”tanya Hye Young dengan nada yang agak hati-hati. “Kau ada waktu?”
   
Min Ho diam sejenak, sepertinya sedang berpikir, akhirnya suara parau itu menjawab Hye Young, “Kebetulan jadwalku malam ini sedang kosong. Aku bisa menjemputnya, Bi—”
   
Hye Young menyeringai lebar sekali lagi, ia menegakkan posisi duduknya. “Oke. Tolong jemput di Bandara Incheon di terminal tempat jet-jet pribadi lepas landas dan mendarat—Dan, ia bilang ia akan tiba pukul 09.45 waktu Seoul—“
   
“Aku mengenal kerabatmu, Bibi Hye Young?”tanya Min Ho selanjutnya.
   
Hye Young segera mengerutkan keningnya, ingin bilang ‘ya’ tapi, terkesan terlalu terburu-buru untuk membuka kejutan ini. “Tidak—“

   Suara Min Ho yang parau terdengar lagi. “Bibi Hye Young bisa kirim foto kerabat Bibi ke email-ku? Maksudku agar aku bisa mudah menemukannya—”
   
“Oh—Kau tidak perlu mencarinya—Kau tunggu saja di—“Hye Young juga berpikir sebentar. “Dunkin Donuts… Nanti aku akan menyuruhnya ke sana—“
   
Min Ho tidak menjawab lagi, ia diam saja sekarang.
   
Hye Young kemudian membuka mulutnya, ingin bicara selanjutnya. “Min Ho-a, gomawo—“
   
“Ne—“jawab Min Ho pada akhirnya. “Bi, aku ada rapat sebentar lagi. Sampai jumpa—”
   
“Ya. Bye, Min Ho-a—“
   
Pembicaraannya sampai situ saja. Hye Young sendiri bingung betapa iritnya Min Ho sekarang dalam berkata-kata. Seakan-akan, Min Ho sedang malas sekali berbicara dengannya.  Tapi, sepertinya bukan itu—Ada yang lain—Yang lain yang membuat orang itu berubah—Lalu apa itu?
***
   Pesawat Jet Pribadi Seoul Sun

   Hye Sun merasa pusing sekali. Ia seperti sedang terbang sekarang. Tapi, sepertinya, ya! Ia memang sedang terbang.
   
Ia akhirnya membuka kelopak matanya yang terasa berat sekali dibuka. Pertama ia melihat suasana sekelilingnya, ini adalah jet pribadi Seoul Sun, kemudian, ia melihat seorang pria dengan tampang sangar yang ada di hadapannya.
   
“Anyeonghaseyo, Goo Hye Sun-Agashi—“kata pria itu sambil membungkukkan badan sedikit di tempat duduknya.
   
Hye Sun segera ingin tahu lebih lanjut apa yang sebenarnya telah terjadi.
   
Ia melirik ke sebelahnya, dua orang pria juga tampak mengapit dirinya.
   
“Kita dalam perjalanan ke Seoul—“ucap lelaki dengan wajah yang galak itu lagi. “Tiga jam lagi kita sampai—“
   
Dengan tampang yang masih linglung, ia menutup matanya lagi.
   
Sial, aku akan kembali ke Korea—
***
   Incheon International Airport—21.11

   Min Ho mengetuk-ngetukkan lima jari tangan kanannya di atas meja. Sedangkan tangan yang satu, tidak menunjukkan tanda-tanda untuk bergerak, masih digips. Laptop yang ada di hadapannya ia pandangi dengan tatapan serius. Tapi sekali-kali, ia masih mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.
   
Ia menunggu kedatangan seseorang yang nampaknya adalah seorang perempuan. Ia tidak diberitahu secara jelas oleh Bibi Hye Young. Makanya ia juga tak begitu tahu tentang orang yang akan dijemputnya ini.
   
Lima menit… Sepuluh menit… Dua puluh menit…
   
Belum ada juga tanda-tanda kenampakan orang itu.
   
Sekarang sudah jam 10 tepat. Ia sepertinya harus lebih bersabar lagi..
   
Mungkin ada masalah di dalam…
   
Ia sekarang mulai bisa berkonsentrasi mempelajari dokumen-dokumen yang ia lihat di laptopnya itu. Semua ia pelajari dengan teliti dan sebaik-baiknya. Daripada ia menunggu tanpa melakukan apa-apa, lebih baik ia sambil bekerja saja.
   
Tapi, kemudian, ia segera mengalihkan pandangan dari laptop itu ketika ada beberapa orang yang mendekati mejanya—
***
   Incheon International Airport—22.00

   Hye Sun melihat pria yang tangan kirinya digips dan dari tadi memfokuskan perhatiannya ke laptop itu mendongakkan kepalanya.
   
Min Ho sekarang mengerutkan keningnya ketika melihat Hye Sun dan beberapa pria berpakaian hitam yang mengelilinginya. Dilihatnya Hye Sun dari atas sampai ke bawah.
   
“Anda kerabat dekat Bibi Hye Young?”tanya lelaki itu setelah memperhatikan Hye Sun baik-baik.
   
Sekarang, giliran Hye Sun yang mengerutkan kening, kenapa pria ini bersikap seolah-olah ia tak mengenalnya?
   
“Saya Lee Min Ho. Utusan Bibi Hye Young untuk menjemput Anda—“jelas Min Ho sambil berdiri dan membungkukkan badan.
   
Diulurkannya tangan kanannya, tapi Hye Sun memiringkan kepalanya. “Ini tidak lucu, LEE MIN HO—“
   
Ditepisnya tangan kanan itu dari hadapannya. Min Ho kelihatan agak tersinggung dengan perlakuan itu. Matanya sekarang terbelalak ke arah perempuan di hadapannya ini.
   
“Aku menunggu di sini hampir satu jam dan Anda bersikap seperti ini?”tanya Min Ho pada gadis di hadapannya.
   
Hye Sun segera menoleh ke pria-pria tegap dan berwajah keras di belakangnya dengan tatapan yang sangat menusuk dan tanpa seorang pun dari mereka sadari, Hye Sun segera menerobos barisan pria itu, berlari sekencang-kencangnya dari orang-orang itu.
   
Sudah dari tadi ia mencari kesempatan seperti ini, dengan kemeja longgar putih, hot pants, dan sandal jepit Roxy-nya, ia berlari dari semua orang itu. Semua orang segera mengalihkan perhatian ke arahnya dengan tatapan bertanya. Hye Sun menoleh ke belakang sebentar, melihat Min Ho dengan tangannya yang digips berlari-lari bersama pria-pria dengan wajah galak itu.
   
Hye Sun masih terus berlari, melarikan diri, pokoknya ia harus kembali ke New York.
   
Bodoh! Kau bodoh, Hye Sun! Bisa-bisanya kau tidak melihat dulu siapa yang mengetuk pintu!
   
Tapi, tiba-tiba langkahnya terhenti ketika sebuah tangan menangkap lengan kirinya. “Yaa!!! Agashi!!!”
   
Ketika Hye Sun menoleh, ia dapat melihat wajah Min Ho jelas-jelas.
   
Wajah pria itu berubah menjadi tambah keras.
   
“Aku baru saja kecelakaan dua bulan lalu. Kakiku tak bisa jalan hampir selama satu setengah bulan. Dan sekarang kau benar-benar memberikanku olahraga yang sungguh luar biasa—“kata Min Ho dengan nada yang benar-benar menyindir.
   
“LEPASKAN AKU!”teriak Hye Sun sambil menepis tangan Min Ho dari lengannya, ia mendengus kesal karena tangan Min Ho masih tetap berada di atas lengannya.
   
“Berhenti bersikap kekanak-kanakan!”bentak Min Ho.
   
“Aku ingin pulang ke New York…!!”balas Hye Sun sambil berteriak.
   
“Dengan sandal jepit seperti itu, Anda masih berharap masih ada uang dalam kantong Anda?”cibir Min Ho, membuat Hye Sun berpikir sejenak, tapi hanya sejenak, ia segera berteriak lagi.
   
“Akh!! Yang penting aku harus pulang ke New York! Lepas!”jerit Hye Sun lagi.
   
“Agashi!”bentak Min Ho dengan tegas.
   
“Berhenti memanggilku dengan sebutan Agashi! Jangan bersikap kau seperti tidak mengenalku, Lee Min Ho-ssi—“Hye Sun mengingatkan. “Kamu sungguh-sungguh menyebalkan!”
   
“Tapi saya memang sama sekali tidak mengenal Anda! Siapa Anda, saya pun tidak tahu—“jawab Min Ho dengan nada yang agak frustasi.
   
Hye Sun tambah menyipitkan matanya. “Kalau kau tidak mengenalku, ya sudah! Lepaskan tanganku!”
   
“Tapi, Bibi Hye Young menyuruhku menjemputmu!“jawab Min Ho dengan kesal, ia mempererat cengkramannya di atas lengan mungil dan kurus itu.
   
“Saya tidak mau ikut denganmu, Min Ho-ya!”seru Hye Sun nyaring. “Saya ingin pulang ke New York!”
   
“Kalau Anda tidak mau ikut denganku buat apa aku menjemputmu?”tanya Min Ho tambah kesal.
   
“Min Ho-ssi—“Suara lembut dan terdengar angkuh itu menghentikan pertengkaran mereka berdua.
   
Min Ho segera menoleh ke belakangnya dan Hye Sun melihat sumber suara itu.
   
“Bibi Hye Young—“desah Min Ho sambil tetap mencoba mengontrol emosi, awalnya, ia jelas ingin menanyakan bagaimana caranya Bibi Hye Young berada di sini, tapi kemudian, ia berkata dengan nada yang masih kesal. “Jelaskan siapa dia—“
***
   Hye Young jelas-jelas bingung dengan permintaan Min Ho yang tidak masuk akal. Masa Min Ho tidak mengenali sahabatnya dari kecil?
   
“Min Ho-ssi—“Hye Young tersenyum sambil menganggap itu hanya gurauan saja. “Tolong jangan seperti ini—“
   
“Bibi Hye Young—“ulang Min Ho sekali lagi. “Tolong jelaskan siapa perempuan kurang ajar ini—”
   
“Min Ho-ya—“Hye Young mulai merasa gurauan Min Ho keterlaluan. “Dia ini, kan, putriku—“
   
“Putrimu?”Min Ho mengulanginya.
   
“Ya—Dia ini putriku yang kedua, adik Hye Jung—“jelas Hye Young dengan agak tak sabar. “Kalian berdua bersahabat dari kecil—“
   
Tangan kanan Min Ho segera memegang dahinya, ia tidak lagi mencengkram  lengan Hye Sun mengendur.
   
“Aku tak mengenalnya—Dia bukan sahabatku—Dia tak mungkin adik dari Hye Jung Noona—“
   
“Kau tak mengenalnya, Min Ho-ssi?”Hye Young mengulangi dengan agak kaget, bingung.
   
Min Ho kali ini tidak menjawab, jelas saja, ia jatuh ke lantai—
***
   Keesokan Harinya, Seoul International Hospital—

   Setelah menjalani CT Scan, Dokter Hwang segera mengajak ibu Min Ho, Kang Na Young untuk berbicara.
   
Hye Young dan Hye Sun sekarang menunggu di depan ruang dokter dengan keadaan yang sangat tegang.
   
“Omma—“panggil Hye Sun, memecahkan ketegangan itu. “Aku harus pulang ke New York secepatnya.”
   
Hye Young segera menoleh ke arah putri kesayangannya itu. “Pulang?”
   
“Ya. Aku masih harus melaksanakan kontrakku—“jelas Hye Sun pada ibunya.
   
Hye Young segera tersenyum pahit. “Tidak akan pernah kau kubiarkan untuk pulang—“
   
“Omma!”seru Hye Sun. Tak habis pikir.
   
“Kau tahu tidak kalau Na Young bilang padaku kalau ingin pernikahan kalian dipercepat!”seru Hye Young. “Dia yang minta! Maka Omma mau tidak mau harus mengabulkannya! Perusahaan keluarganyalah yang selama ini membantu perusahaan kita selama sembilan bulan terakhir—“
   
“Omma!”Hye Sun berseru lagi. “Kontrakku itu baru akan berakhir 3 tahun 3 bulan lagi!”
   
“Mwo?”Kali ini Hye Young benar-benar kaget. “Tiga tahun? Kau bilang tiga tahun? Siapa yang memberikanmu waktu sepanjang itu?”
   
“Omma—“Hye Sun berkata pelan seperti berbisik sekarang. “Aku tak membaca kontrak sebelum aku menandatanganinya—“
   
Air mata mengalir pelan di atas pipinya. “Kontrak yang aku tandatangani itu bukan untuk satu tahun, tapi untuk empat tahun. Aku masih terikat kontrak untuk tahun-tahun ke depan—“
   
“Mwo?”Tapi, suara Hye Young tambah pelan.
   
“Pabo!”seru Hye Young kemudian dengan nada yang histeris. Ia memukulkan tas tangannya ke seluruh badan Hye Sun. “PABOOO!!! PABOOO!!! Untuk apa kau kusekolahkan tinggi-tinggi kalau kau jadi seceroboh ini! Bodoh!!!”
   
“Omma—“Hye Sun berbisik, tapi itu langsung menghentikan kelakuan Hye Young padanya. “Miane—“
   
Hye Young tampak sedang mengendalikan emosinya, emosinya tadi sudah memuncak sampai ke ubun-ubun.
   
“Ada denda yang harus kubayar jika aku melanggar kontrak itu—“kata Hye Sun dengan nada lirih. “Dua juta dollar Amerika, Omma—“
   
Hye Young segera menghembuskan nafasnya, mencoba untuk sabar. “Ini benar-benar kelewatan. Dua juta dollar mungkin sedikit bagi Seoul Sun yang dulu. Tapi, Seoul Sun sekarang tak bisa jadi seperti dulu lagi!”
   
“Omma, miane—“kata Hye Sun kemudian. “Maka, tolong, biarkan aku kembali ke New York dan menyelesaikan kontrakku—“
   
“SIRO!”Ibunya mengibaskan tangan sambil berseru dengan nyaring. “Kamu tak boleh kembali ke New York. Kalau kamu berani kembali ke New York, bisa-bisa Na Young akan menghentikan dana bantuan dari Lee Coorperation. Kau tahu tidak yang membuat kita bertahan selama ini itu adalah ikatanmu dengan Min Ho yang belum resmi itu!”
   
“Omma—“bisik Hye Sun lagi. “Tapi aku harus kembali. Aku tak bisa di sini—“
   
Sunyi sejenak.
   
“Hye Sun-a, kau tidak bisa kembali ke New York lagi—“kata Hye Young, ketika ia sudah mulai tenang lagi. “Pilihanmu hanya di sini dan menikahi Min Ho atau Seoul Sun akan hancur—“
   
“Omma!”Hye Sun berseru sekali lagi, tak peduli tempat mereka berada sekarang, air mata sudah benar-benar mengalir di pipinya. “Aku tak mencintainya! Aku tak mau menikahinya!”
   
“Hye Sun, kau harus lihat apa yang bisa keluarganya lakukan pada kita—“Hye Young meraih pipi anaknya sekarang. “Mereka bisa membayar dua juta dollar itu demi menantu satu-satunya keluarga Lee. Kau akan jadi menantu kesayangan keluarga Lee. Dan Seoul Sun dapat terselamatkan dari krisis—“
   
Hye Sun menggeleng pelan, pelan sekali. “Tapi aku sama sekali tak mencintainya—Aku tak akan pernah bisa melupakan Geun Seuk—“
   
“Hye Sun, kau pasti bisa mencintainya—Dia orang yang baik—“kata Hye Young kemudian. Hye Sun menggeleng tambah keras sekarang. “Dia sahabatmu dari kecil, Hye Sun-a. Omma yakin kau tahu dia orang yang baik—“
   
“Aku tak bisa mencintai siapa pun selain Geun Seuk—“Di sela-sela isakannya, ia berkata. “Omma, miane—“
   
Kemudian, ia berlutut di depan Ommanya menggenggam tangan Ommanya. “Apa saja, Omma. Aku akan melakukan apa saja untuk tidak menikah dengannya—“
   
Hye Young menepis tangan putrinya tanpa ampun.
   
“Apa saja yang akan kau lakukan untuk tidak menikah dengan Min Ho adalah apa saja yang bisa menghancurkan Seoul Sun dalam sekejap—“desis ibunya lagi, kali ini ia menekan suaranya, membuat suaranya semakin menusuk hati Hye Sun. Hening panjang—
   
“Lebih baik kau basuh wajahmu di toilet—Kalau Na Young-ssi melihatmu seperti ini, ia pasti akan berpikir yang tidak-tidak—“desis Hye Young lagi.
   
Beberapa detik kemudian, pintu ruangan dokter terbuka begitu saja dari dalam. Cepat-cepat Hye Sun berlari untuk menghindari tatapan Kang Na Young padanya. Ketika putrinya berlari, Hye Young segera beralih pada Na Young yang baru saja keluar dari ruang dokter, wajah Na Young agak kelihatan kacau.
   
“Min Ho-ya—“desah Na Young perlahan, membuat Hye Young segera bangkit dan menghampiri Na Young secepatnya.
   
“Gwenchanayo, Na Young-ssi?”tanya Hye Young sambil memasang wajah yang khawatir.
   
“Dokter bilang, Min Ho mengalami amnesia parsial—“
   
Setelah mengatakan itu, mendadak kaki Na Young lemas, Hye Young buru-buru mengulurkan tangannya untuk menahan bahu Na Young.
   
Na Young melanjutkan. “Waktu ia mengalami kecelakaan, ternyata Dokter Jung tidak menyadari hal ini karena ia terlalu memfokuskan pada masalah kaki dan tangannya. Padahal, kepalanya terbentur dengan keras, sampai ia melupakan sebagian ingatannya.”
   
Hye Young kemudian menepuk-nepuk pelan bahu Na Young dengan perasaan simpatik.
   
“Dia hanya tidak mengingat Hye Sun?”tanya Hye Young hati-hati.
   
“Kemungkinan, Hye Young-ssi—“jawab Na Young dengan wajah yang lesu. “Dokter bilang, ada kemungkinan dia melupakan hal yang lain—“
   
“Jadi, apa yang harus dilakukan selanjutnya?”tanya Hye Young lagi.
   
“Tidak ada—“jawab Na Young pasrah. Hening sebentar. “Selain, menunggu dia dapat mengingat semuanya—“
   
“Berapa lama?”
   
“Entahlah. Bisa saja hari ini, bulan depan, tahun depan. Atau—“lanjut Na Young. “Selamanya—“
   
Hye Young menelan ludahnya mentah-mentah. “Jadi menurutmu, bagaimana rencana pernikahan mereka?”
   
Na Young menatap Hye Young sekarang. “Mereka boleh mengawalinya dari awal lagi. Tapi, rencana yang sudah dibuat harus tetap berjalan— “
   
Hye Young tersenyum senang sekarang. “Na Young-ssi, lebih cepat lebih baik—“
***
   Kediaman Goo

   Di kamar yang gelap gulita itu, Hye Sun terduduk sendiri di tengah ruangan, memeluk lututnya sampai ke dada dengan erat-erat, terdiam. Sampai-sampai seperti tak ada tanda kehidupan di dalam kamar itu.
   
Goo Hye Sun bergetar di tempatnya, merenungkan sesuatu yang sulit sekali baginya sendiri.
   
Semua tergantung padamu—
   
Ya. Semua ini tergantung padanya.
   
Kau mau melihat Seoul Sun, yang dihasilkan dari darah dan keringat kakek dan ayahmu itu hancur, atau—   

Hye Sun tak dapat melanjutkan. Tak ada pilihan baik dalam kasus ini.
   
Atau—Kau menikah dengan pewaris keluarga Lee—Lee Min Ho—
   
Brukkk… Terdengar bunyi yang agak tidak professional ketika Hye Sun menjatuhkan tubuhnya ke atas lantai, terbaring dengan tangan terbuka di atas lantai kamarnya, seperti mayat yang tergeletak di atas lantai—dengan tatapan kosong ke arah langit-langit kamar yang terlihat hitam-hitam.
   
Aku tak siap jika harus mengecewakan Appa—Geun Seuk-a, miane—
***
   Seoul, Korea Selatan—9 Nopember 2006—07.36 pm

    Keluarga Lee sudah duduk di meja restoran Seoul Grand Hyatt Hotel, mereka sedang menunggu kedatangan Keluarga Goo.
   
Tuan Lee menunggu dengan sabar. Nyonya Lee terlihat sumringah dan tersenyum. Sedangkan, Min Ho tampak tidak nyaman dengan keberadaannya sendiri di sini dengan tangan yang masih saja digips.
   
Tak henti-hentinya Min Ho melirik jam tangan yang terlingkar di tangan kanannya. “Appa, Omma, kenapa mereka belum datang juga?”
   
“Min Ho-ya, kamu harus sabar—“jawab Nyonya Lee halus dan penuh dengan rasa keibuan.
   
Min Ho tak mengenal siapa pun perempuan itu! Ini aneh jika orang-orang bilang perempuan itu adalah sahabat Min Ho dari kecil dan aneh juga jika ia bisa-bisanya melupakan gadis itu, jika benar-benar perempuan itu sahabatnya dari kecil. Ia benar-benar melupakan kehidupan masa kecilnya dan gadis itu.
   
“Omma, Appa, aku sungguh-sungguh tidak mengenal perempuan itu—“desah Min Ho. “Kenapa Omma dan Appa memaksaku menemuinya?”
   
“Justru karena kau melupakannya, kau harus terbiasa lagi dengan dirinya—“jawab Nyonya Lee dengan nada yang agak tinggi. “Dia itu, kan, sahabatmu—“   
   
Min Ho akhirnya tersenyum paksa di depan ibunya. Segala yang ibunya ceritakan padanya tentang Hye Sun sama sekali tidak berpengaruh pada ingatannya. Dia sama sekali tak ingat apa pun tentang gadis itu.
   
Tiba-tiba saja, wajah Nyonya Lee terlihat tambah sumringah. Ayah dan ibunya segera berdiri melihat tamu mereka datang, terkecuali Min Ho. Ketika ibunya memberikan isyarat baru ia bangkit berdiri dan membungkuk pada keempat orang itu.
   
Pandangan Min Ho berhenti pada Hye Sun yang kali itu memakai gaun warna kuning terang dan sangat menarik perhatian. Rambutnya dipotong pendek, berbeda dengan penampilan kemarin-kemarin, ia nampak lebih segar hari ini. Senyumnya tambah mencerahkan penampilannya kali itu.
   
Min Ho kemudian segera mengalihkan perhatiannya dari Hye Sun, walaupun sebenarnya tidak bisa, tapi ia buru-buru melihat Hye Jung Noona dan pria yang digandengnya, serta Bibi Hye Young yang juga kelihatan lebih muda hari ini dengan gaun hijau dengan aksen bulu-bulu yang menambah elegan penampilannya.
   
“Kang Na Young-ssi—“Bibi Hye Young kemudian mencium kedua belah pipi Ommanya. Selanjutnya, ia bersalaman dengan Appanya.
   
Ketika tiba di hadapan Min Ho, ia tersenyum dan memberikan kecupan kilat di pipinya, “Gwenchanayo, Min Ho-ya?”
   
Min Ho membalas senyum itu dengan senyum yang agak miris.
   
Kalau aku kehilangan sebagian ingatanku, mana bisa aku baik-baik saja.
   
Tapi, pada akhirnya, ia menjawab juga. “Gwenchanayo, Hye Young Ajuma—“
   
Kemudian, Min Ho membuka suaranya lagi. “Hye Jung Noona, siapa ini? Dia termasuk orang yang kulupakan?”
   
Hye Jung Noona yang tersenyum dengan pria di sampingnya itu, Hye Jung tersenyum lebih lebar lagi. “Tidak. Lebih tepatnya kau memang belum pernah melihat Byung Hyun. Kau waktu itu tidak menghadiri pernikahan kami.”
   
“Kalau tidak salah waktu itu, kau sedang berada di London, Min Ho-ya—“kata Hye Jung hati-hati, tak ingin memaksakan jika Min Ho tak mengingat bagian yang itu.
   
“Oh—Iya—Aku ingat yang itu—“Min Ho tersenyum lebar sambil mengulurkan tangan pada Byung Hyun.
   
“Lee Min Ho—“Min Ho memperkenalkan diri pada Byung Hyun.
   
“Oh Byung Hyun—“
   
Selanjutnya, Hye Sun hanya tersenyum-senyum di tempatnya. Senyumnya agak tidak ikhlas kalau menurut Min Ho. Akhirnya, Keluarga Goo mengambil tempat mereka masing-masing di meja itu.
   
Semua terasa akrab bagi Min Ho kecuali gadis yang dibalut gaun warna kuning terang itu. Hye Sun tak bicara sama sekali, hanya tersenyum-senyum saja.
   
“Ah, Na Young-ssi, seharusnya kami yang mengundangmu makan malam—“kekeh Hye Young pelan ketika mereka sedang menunggu makanan.
   
“Ah—Tidak apa-apa, Hye Young-ssi. Oh, ya, ngomong-ngomong, hari ini Hye Sun ulang tahun, kan?”tanya Na Young dengan senyum mengembang.
   
“Ne—“jawab Hye Young dengan senyum sumringah.
   
“Min Ho-ya—“Na Young mengelus pelan pundak Min Ho. “Hari ini ia ulang tahun—“
   
Min Ho hanya tersenyum sebentar pada Hye Sun. “Saengil chukayo hamnida—“
   
Hye Sun hanya mengangguk sambil tersenyum teramat dipaksakan, setelah itu ia memaksakan diri melihat ke arah lainnya.
   
“Hye Sun ada hadiah dari Paman dan Bibi Lee—“lanjut Nyonya Lee sambil menatap Hye Sun yang sekarang entah melihat ke arah mana. “Tapi, karena sepertinya Min Ho tidak menyiapkan kado untukmu karena tidak tahu hari ini ulang tahunmu. Berarti ini dari kami bertiga—“
   
Nyonya Lee kemudian menyerahkan sebuah kotak perhiasan berbentuk persegi berbahan beludru. Hye Sun kemudian tersenyum sambil menerima kotak perhiasan itu. “Paman dan Bibi seharusnya tak perlu repot-repot seperti ini—Gamsahamnida—“
   
“Ah—Aniyeyo—“jawab Na Young lagi dengan senyum sumringah.
   
Min Ho sekarang masih memperhatikan gadis itu, mempelajari sikapnya, tapi kebanyakan perempuan ini bersikap dengan tenang dan tak banyak bicara, berbeda sekali dengan sosok gadis liar yang ia temui di bandara waktu itu.
   
Ketika makanan tersedia, tak ada orang yang berbicara sama sekali, hanya ada gesekan sendok dan garpu yang terdengar dari meja makan itu. Setelah pelayan mengangkat seluruh piring kotor di atas meja itu, barulah terdengar suara lagi.
   
“Min Ho-ya—“Hye Young tersenyum sumringah. “Ada sesuatu yang kami harus katakan sekarang ini. Tadinya, ibumu ingin memberitahukanmu terlebih dahulu. Tapi, setelah mendiskusikannya dengan kami. Dia akhirnya menunda sampai momen ini—“
   
 Min Ho segera mendongak terang-terangan ke arah Bibi Hye Young ketika mendengar perkataannya. “Memang ada apa?”
   
“Min Ho-ya, kau mungkin tak mengingat hal ini, tapi, kami menjodohkanmu dengan Hye Sun—“lanjut Hye Young kemudian, membuat mata Min Ho terbelalak kaget.
   
   Ia tak menyangka kalau kali ini pembicaraannya bisa mengarah sampai ke situ.
   
“Dan kami ingin di hari ulang tahunnya ini, kamu melamarnya, Min Ho-ya—“sambung Na Young, kali ini giliran Hye Sun yang tersedak minumannya, matanya terbelalak lebar, ia sedang menatap Min Ho lekat-lekat dengan mata yang sepenuhnya melebar, tapi tatapan itu tidak digubris sama sekali oleh Min Ho.
   
“Ini tidak terlalu cepat!”Tuan Lee nimbrung. “Aku yakin kalian berdua juga sudah siap—“
   
Min Ho dan Hye Sun sama-sama melihat ketiga orang tua itu. Min Ho terbelalak melihat kedua orang tuanya, sedangkan Hye Sun menyipitkan matanya.
   
Na Young berusaha meyakinkan lagi. “Min Ho, kau butuh seseorang yang bisa menjagamu. Dan Hye Sun, sudah waktunya juga kau untuk menikah—“
   
Mulut Hye Sun terbuka. Tapi, akhirnya tertutup lagi, tak bisa protes dengan perkataan Nyonya Lee.
   
Sekarang, giliran Min Ho yang membuka mulut. “Aku tidak mau—“
   
Mendengar itu, mata Na Young serasa ingin melompat dari rongga matanya. “Min Ho—“
   
“Omma, aku tak mencintainya—”kata Min Ho terus terang. “Aku juga tak yakin dia mencintaiku dan tidak keberatan dengan pernikahan ini—“
   
“Tidak! Hye Sun tidak pernah keberatan dengan pernikahan ini—“sela Hye Young dengan senyum yang agak dipaksakan, tangan kanannya masuk ke bawah meja, mencubit paha Hye Sun keras-keras.
   
“Ne!”Hye Sun menjawab dengan spontan, terkesiap, dan dengan suara yang keras. “Aku hanya kaget karena ini terlalu cepat—“

Hye Sun menahan sakit dari cubitan ibunya itu. Kini giliran tangan kirinya yang masuk ke bawah meja dan menepuk pelan punggung tangan ibunya.
   
Min Ho menatap Hye Sun dengan tatapan memicing. “Kita tidak bisa menikah—Kita tak saling mencintai—“
   
Kemudian, ibunya melanjutkan sandiwara ini. “Sekalipun kalian tidak saling mencintai, cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu—“
   
“Ya, kan, Hye Sun?”tanya ibunya lagi sambil mencubit paha putih mulus milik Hye Sun.
   
“Ne—“jawab Hye Sun lagi dengan yakin dan tegas, kali ini cubitan ibunya mulai mengendur.
   
“Aku punya urusan setelah ini—“Min Ho berkata tanpa menggubris kata-kata Bibi Hye Young dan jawaban singkat dari Hye Sun. “Aku permisi dulu—“
   
“Min Ho-ssi!”panggil Hye Sun dengan nada tegas, nadanya menghentikan langkah Min Ho yang baru saja ingin meninggalkan meja makan itu. “Aku tak  keberatan dengan pernikahan ini!“
   
Min Ho tersenyum, tapi, sudut bibirnya hanya naik sebelah, seperti hanya ingin menunjukkan senyuman mengejek,tapi tetap terlihat mempesona. “Buktikan—“
   
Hye Sun terdiam seribu bahasa ketika mendengar perkataan itu. Min Ho tersenyum bak seorang makhluk manis, baru saja beberapa langkah ia meninggalkan meja makan itu, suara lantang Hye Sun terdengar lagi—“Bagaimana cara untuk membuktikannya?”
   
Min Ho menghentikan langkahnya, berpikir sebentar, hanya sebentar saja, ia sudah menemukan apa yang harus ia katakan. “Cium aku—“

***

End of Chapter


      

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
karin, thanks udah diupdate, lum baca nih wlp udah dipm ke gw kemarin malam, maklum say sibuk menyelesaikan chp 2 my everything 2, klu udah selesai baru deh gw baca, ok [biggrin]

edit --------------------------

yeahhh dua chp sekaligus, thanks rin [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
udah diupdate yak karin thanks yak [hug] [cheekkiss]

wew mino kecelakaan tp syukur de slamat chap 12 hyesun balik yak uhuyyyy asek2 mulai brubah nda tu prasaan hyesun ke mino pas dy balik ke korea kalo hyesun msh nda mau jg sm mino biar mino sm daku aja lah sini mino revy siap menemanimu wkakakak [hmpfh] [hmpfh] [laughing] [laughing] di [head break] [head break] [head break] mami

wew mau mau mau karin chap 12 skarang aja  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]



ADAM COUPLE SELCA

Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
karin, thanks udah diupdate, lum baca nih wlp udah dipm ke gw kemarin malam, maklum say sibuk menyelesaikan chp 2 my everything 2, klu udah selesai baru deh gw baca, ok [biggrin]

edit --------------------------

yeahhh dua chp sekaligus, thanks rin [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]

 [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]


SI MAMI GIMANA SIHHH... dianggurin... minta komen dong mam... kan mami seniornya...  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE

Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
udah diupdate yak karin thanks yak [hug] [cheekkiss]

wew mino kecelakaan tp syukur de slamat chap 12 hyesun balik yak uhuyyyy asek2 mulai brubah nda tu prasaan hyesun ke mino pas dy balik ke korea kalo hyesun msh nda mau jg sm mino biar mino sm daku aja lah sini mino revy siap menemanimu wkakakak [hmpfh] [hmpfh] [laughing] [laughing] di [head break] [head break] [head break] mami

wew mau mau mau karin chap 12 skarang aja  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]



uenakkkk aja Onn Revy....
minho untukku selalu dongggg===
Love you minho... *di  [head break] [head break] [head break]sama mami love*

chap 12 nya udh di update kok onn... [biggrin] [biggrin]

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
karin, gw janji bakal baca tp ga sekrg, masih ada 3 part yg hrs gw selesaiin, jd jeongmalmiane say [heh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
karin daripada buat rebutan mending qta bagi berdua aja yak mino kan milik qta bersama [hmpfh] [hmpfh] [laughing] [laughing] [laughing]

yah karin yg trakhir nanggung euy blon jg di kissu [kiss] udah bersambung aja banghead banghead banghead bsk update lg yak karin hihihi di [head break] [head break] [head break] sm karin minta update trs [rofl] [rofl] [rofl] [rofl]


ADAM COUPLE SELCA

Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
karin daripada buat rebutan mending qta bagi berdua aja yak mino kan milik qta bersama [hmpfh] [hmpfh] [laughing] [laughing] [laughing]

yah karin yg trakhir nanggung euy blon jg di kissu [kiss] udah bersambung aja banghead banghead banghead bsk update lg yak karin hihihi di [head break] [head break] [head break] sm karin minta update trs [rofl] [rofl] [rofl] [rofl]

iye dahhh... kyk transtv aja... milik kita bersama...

sist revy.. ku  [head break] [head break] nanti kalo minta update besok lagi... *kidding*

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
asyikk....udah ada updetan...
baru pulang dari kampus, udah ada pelepas dahaga....
hehehehehhehehehehe...

thenk u ya sist....

belum baca nieh..,baru baca komen sista-sista yang lain... minho hilang ingatan ya...
wah kasihan hye sun dunk... gantian dia yang berusaha untuk ngambil hati minho ya...
hahahahahahah..
biarin aja dink...biar dy juga ngerasain usaha minho buat bikin hyesun jatuh cinta sama minho...

javascript:void(0);

javascript:void(0);

Offline helen XD minsun

  • Newbie
  • *
  • Posts: 11
  • the true love
  • Location: indonesia tanah tercinta wkwekwek XD
    • View Profile
 [on] [on] [hmpfh] [hmpfh]

akhirnya di-update dobel juga besok yg ke 13 yaa .. [laughing] [laughing] di [head break] [head break] [hammer] [hammer] [fighting] [fighting] akhirnya  [collapse] sama karin hehhe

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
karin daripada buat rebutan mending qta bagi berdua aja yak mino kan milik qta bersama [hmpfh] [hmpfh] [laughing] [laughing] [laughing]

yah karin yg trakhir nanggung euy blon jg di kissu [kiss] udah bersambung aja banghead banghead banghead bsk update lg yak karin hihihi di [head break] [head break] [head break] sm karin minta update trs [rofl] [rofl] [rofl] [rofl]

iye dahhh... kyk transtv aja... milik kita bersama...

sist revy.. ku  [head break] [head break] nanti kalo minta update besok lagi... *kidding*

wew abis penasaran karin sm lanjutan nya gimana kissu nya [kiss] [kiss] [kiss] demen dah kalo yg beginian wkakakakak [hmpfh] [hmpfh] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing]


ADAM COUPLE SELCA