Author Topic: Unconscious Love ~Chapter 13, update 7 August 2011  (Read 36004 times)

Chainezz_Vian

  • Guest
boleh ga updatean tanpa piku? [hmpfh]

boleh boleh boleh [hmff] boleh koQ mii. . .  Hehe [hmpfh]
ditunggu ya say,, lagi diusahain. semalam ga ngalong karna udah ga sanggup. ngantuk berat [sweat]
     
[cry]   mamii jgn ngalong lagi. . .   Tar atit lagi >.<        klo mamii atit tar min chan ku cyng gk bsa d update [cry]  juga fic yg laen   *tetep ada mau'a [hmff] *     
     
sip dech mii, d tunggu slalu.    Semangat!! [smiley-gen013] [smiley-gen013]

Offline Surie_Riri

  • Full
  • ***
  • Posts: 297
  • i'm silent reader, mian...
    • View Profile
mi, ditunggu update'an ULnya GPL...

*dateng-dateng langsung minta update'an  [hmff] [hmff] [hmff]
[lovestruck]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
thanks Emoticons0424 Emoticons0424

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
mami [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
kutunggu UL [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
SEMANGAAAAAAT [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [hmpfh]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
mian, mian, baru pulang nih [sweat] [sweat]  .. gw mandi dulu--ga ada yg nanya [hmpfh] [hmpfh]
tar gw update sekitar pukul 11 di sini--pukul 10 di sono,, klu sanggup ditungguin ya [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
mian, mian, baru pulang nih [sweat] [sweat]  .. gw mandi dulu--ga ada yg nanya [hmpfh] [hmpfh]
tar gw update sekitar pukul 11 di sini--pukul 10 di sono,, klu sanggup ditungguin ya [laughing]

Uggh pantesan ada bau2 aneh gini... ~ nyumpet hidung...

Lah dr mana toh mam kok ru pulang...  [chin] Malming??

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
vay, dari jalan2 di luar [biggrin] elu ngapain di tret ini? bukannya elu ga baca UL ya? [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Pukul 11 disini, pukul 10 disono?? Maksudnya?? [what]

hiyaaa......si mami belum mandi. Pantesan...[hmpfh]
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME


Offline viollet.koo

  • Full
  • ***
  • Posts: 371
  • I'm minsunner until the end of time ♥ minsun
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Pukul 11 disini, pukul 10 disono?? Maksudnya?? [what]

hiyaaa......si mami belum mandi. Pantesan...[hmpfh]


voldi maksud mami, pukul 11 hongkong time ---> ditempat mami dan pukul 10 WIB -----> tempat kita yg waktu indonesia barat  [hmpfh]  hehe sory mi jadi gue yg sok tau  [hmpfh] [laughing] [laughing] [laughing]

ok dah mi gue siap nungguin update-an UL  [clap] punk

 이민호 ♥ 구혜선

-Viollet Koo-

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile




Jandi mencuri pandang lewat sudut matanya. Hae Jaeng tampak memperhatikannya dengan seksama. Jandi bergerak sedikit. Agak risih juga diamati seperti itu.

“Hmm—madam Kang, .. anda bilang ada yang ingin dikatakan?”

“Ne .. ,” kata Hae Jaeng. Dia berhenti sebentar. Masih dengan pandangan menyelami, dia mengamati Jandi. “Kau tahu madam mencintaimu, Jandya?”

Jandi tersentak. “Ne .. ,” jawabnya gugup. Dalam hati dia berpikir. Sebenarnya ke arah mana pembicaraan ini?

“Dan madam yakin kau juga tahu madam sangat mencintai Junpyo .. “

“Ne .. ,” sekali lagi Jandi mengiyakan. Semakin tidak mengerti apa yang dimaksudkan wanita berwibawa ini.

Ruang VIP yang bersebelahan dengan ruang VIP yang semula mereka tempati bersama Junpyo dan orangtua Jandi menjadi hening kembali. Jandi meremas tangannya—menanti perkataan Hae Jaeng selanjutnya. Dia mendengar wanita itu menghela nafas. Perlahan Jandi mengangkat wajahnya. Wajah Hae Jaeng terlihat sendu. Jandi tersentak kaget. Untuk pertama kalinya dia melihat ekspresi madam Kang seperti ini.

“Junpyo sangat keras kepala. Kau tahu itu?”

“Ne .. ,” Jandi menjadi benci kata ini sekarang. Dia terus-terusan berkata, ‘ne’ sebanyak tiga kali dalam waktu kurang dari sepuluh menit.

“Dan kau juga keras kepala, Jandya!”

“Mwo?!” Jandi terloncat dari kursi. “Madam Kang, saya tidak .. “

“Jangan membantah dulu!” sela Hae Jaeng. “Kau lihat sendiri. Madam baru memulainya, kau sudah memprotes. Apa itu bukan keras kepala namanya?”

“Saya .. ,” Jandi ingin membalas tapi segera diputus Hae Jaeng.

“Madam tidak mau tahu seberapa keras kepalanya kalian .. ,” lanjut Hae Jaeng. “Mau bagaimanapun, pernikahan ini harus dilaksanakan!”

“Tidak mungkin!” ketus Jandi. “Saya dan Junpyo—MUSTAHIL!”

“O ya?” Hae Jaeng tersenyum. “Mengapa? Berikan alasannya pada madam!”

Jandi membalas tatapan Hae Jaeng dengan sikap menantang, tapi dia tidak mampu menjawab pertanyaan itu.

“Karena kalian sama-sama egois! Mau menang sendiri!”

“Bukan begitu … ,” jerit Jandi.

“Jadi?”

Lagi-lagi Jandi membisu. Alasan itu tidak mungkin diutarakannya--Alasan yang terlalu kekanak-kanakan. Jika dia mengatakan bahwa tidak bisa menerima Junpyo karena Junpyo sendiri yang menolak permintaan untuk menjaganya seumur hidup waktu mereka masih kecil, mungkin madam Kang akan tertawa terpingkal-pingkal dan Jandi tidak bisa menerima penghinaan seperti itu.

“Madam ada penawaran buatmu .. “

Perkataan itu membuat mata Jandi melebar. “Dhe?”

“Tentang penyakit Jaekyung—madam yakin, kau merasa bertanggungjawab terhadapnya .. “

Jandi membisu.

“Madam bersedia memberi pengobatan terbaik buatnya.”

“Lalu?”

“Kau terima perjodohan dengan Junpyo .. “

“Apa madam kira saya tidak mampu mencarikan tim medis terbaik buat Jaekyung?” tanya Jandi tenang.

“Kau tak bisa melakukannya, Jandya.”

“Mengapa?”

“Karena orangtuamu telah bersepakat—akan menentang usahamu itu!” jawab Hae Jaeang sambil tersenyum penuh kemenangan.

“Mwo?!” mata Jandi terbelalak lebar. “Untuk apa kalian melakukannya?” terus terang dia merasa benci terhadap orang-orang ini sekarang. Persetan dengan omma, appa, Junpyo dan wanita di hadapannya ini! Apa mereka mengira mereka ini dewa? Bisa mengatur segalanya?


“Kami hanya ingin yang terbaik buat kalian .. ,” Hae Jaeng memperhatikan kukunya yang terjaga baik. “Kami ingin memastikan kau menerima rencana pernikahan ini!”

“OMONG KOSONG!!” Jandi berdiri dari kursinya. Dengan marah dia mendorong kursi itu ke belakang.

“Kau tak punya pilihan lain, Jandya!”

Teriakan Hae Jaeng menghentikan langkah Jandi. Dia menoleh ke arah wanita itu.

“Kau tahu madam bersungguh-sungguh. Madam bisa melakukan apa saja. Ha Jae Kyung tidak pernah akan sembuh!”

“Anda mengancamku, madam Kang?” tanya Jandi dingin.

Tiba-tiba Hae Jaeng tertawa geli. Ekspresinya membuat Jandi kesal karena dia merasa tidak ada yang lucu dengan perkataannya.

“Kau lihat!” Hae Jaeng menghapus airmatanya. “Bahkan sikap kalian sangat mirip! Mengapa tidak disatukan saja?!”

“Madam Kang!!” teriak Jandi.


Hae Jaeng mengangkat tangannya. “Ok, serius! Bagaimana penawaran ini, Jandya? Madam rasa tidak ada ruginya buatmu .. “

“Menikah dengan Junpyo, maksud anda?” tanya Jandi tak percaya. “Itu sudah merupakan kerugian terbesar buatku!”

“Hey come on!” hibur Hae Jaeng. “Junpyo tak seburuk itu .. Lagipula penawaran ini menarik. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan Jaekyung. Madam berjanji padamu, dia akan dirawat dengan baik .. Madam sudah mengutus seorang dokter terbaik untuk memeriksanya dan dipastikan dua tahun kemudian penyakitnya akan sembuh .. “

“Sungguh?” Jandi menjatuhkan dirinya kembali ke kursi.

“Ya. Dan janji madam bisa dipegang, kau tahu itu!”

Jandi terdiam. Benar, janji-janji Hae Jaeng memang bisa dipercaya. Sekali dia mengatakan sesuatu, itu akan terjadi. Bukan karena dia dewa, tapi karena dia memang sangat berpengaruh. Dan dia bukan tipe orang yang suka menjilat kembali perkataan yang sudah dilontarkannya.

“Bagaimana?”

Jandi mengangkat wajahnya. “Pertunangan .. ,” katanya. “Saya menerimanya jika .. kami hanya bertunangan … bukan menikah .. “

Hae Jaeng menatapnya, lalu dia tersenyum perlahan. “Deal. Bertunangan dulu, tidak apa-apa. Semua akan berawal dengan baik lewat pertunangan .. “

Jandi mengangguk. “Berapa lama?” dia memberanikan diri bertanya.

“Mwo?” alis Hae Jaeng berkenyit. “Apa maksudmu?”

“Saya yakin pertunangan ini tidak akan membuahkan hasil sampai ke pernikahan karena itu saya berani bertanya .. ,” jawab Jandi. “Tidak lama bukan?”

Hae Jaeng berpikir. Gadis ini benar-benar keras kepala! “Dua tahun .. ,” sahut Hae Jaeng setelah mempertimbangkannya masak-masak.

“Mwo?” Jandi terlonjak dari posisinya. “Tidak bisa! Satu tahun .. ,” jeritnya. “Satu tahun batas yang bisa kuterima. Tidak lebih!”

“Ok .. ,” Hae Jaeng menyerah setelah berpikir sebentar. Bisa berabe jika gadis ini ditentang terus. Mungkin dia akan membatalkan semua yang sudah bersedia diterimanya kalau dibantah lagi! “Tapi madam juga punya permintaan lain!” Hae Jaeng tidak kehilangan akal.

“Mwo?” tanya Jandi bingung.

“Kau harus pindah ke Goo’s mansion .. “

“Mwo?!” Jandi hampir menanggis. “Tidak mungkin!”

“Jangan tidak adil begitu, Jandya!” ujar Hae Jaeng. “Jalan tengah harus diambil. Madam bersedia menerima batas setahun yang kau berikan karena itu kau juga harus menerima permintaan madam ini. Tinggal di Goo’s mansion selama pertunanganmu dengan Junpyo. TIDAK BOLEH TIDAK!” lanjut wanita itu tegas.

Jandi lemas di tempatnya. Apa yang harus dikatakannya sekarang? Membantah lagi? Tapi senjata apa yang dapat dipergunakannya? Semua sudah dilancarkannya, HABIS SUDAH, dan sekarang .. dia kalah! Junpyo berengsek!! Jeritnya dalam hati. Awas jika terlihat olehku nanti! Akan kupatahkan tulang rusukmu!! Huhhhh!!.


==== oOo ====
 



”Ada apa? Jelaskan padaku?” tanya Junpyo dengan pandangan menyelidik.

“Mwo?” tanya omma.

“Jangan berlagak tidak tahu, bi Geum .. ,” ujarnya tak sabar.

Omma tersenyum. Sikap Junpyo memang terlihat tidak sopan. Dan seharusnya dia marah bukannya tersenyum, tapi menghadapi sikap anak ini, dia sudah terbiasa.

“Menurut kau bagaimana, Junpyo-a?” appa yang duduk di sebelah omma balas bertanya.

“Ada hubungannya dengan Jandi .. ,” tebak Junpyo. “Seperti yang kita bicarakan tadi .. “

“Anak pintar .. ,” puji appa. “Paman yakin otakmu sangat berguna digunakan dalam mengembangkan Shin Hwa.. “

“Paman Geum .. ,” tegur Junpyo. “Bukan saatnya membahas bagaimana cemerlangnya otakku! Sekarang katakan apa mau kalian? Saya rasa madam Kang telah mendiskusikannya dahulu dengan kalian .. “

“Madam Kang?” appa tertawa. “Masih setia dengan panggilan itu?”

“Saya selalu setia terhadap sesuatu yang saya yakini .. ,” jawab Junpyo asal-asalan.

“Bagus!!” seru appa tiba-tiba—Junpyo sampai terloncat dari kursinya. Ditatapnya appa dengan pandangan bertanya. “Kesetiaan sangat diperlukan dalam membina bahtera rumah tangga .. ,” lanjut appa sambil tersenyum penuh arti.

“Mwo?” mata Junpyo melebar.


“Setelah kalian menikah. Kami berharap kau tetap setia, Junpyo-a .. “

Alis Junpyo terangkat. “Rencana pernikahanku dan Jandi? Kalian masih berkeras?”

“Ne .. ,” jawab omma dan appa secara bersamaan.

“TIDAK BISA!!” Junpyo mengibaskan tangannya. “Sudah kubilang saya paling benci terhadap perjodohan. Apalagi dengan Jandi .. tidak mungkin!! Kami tidak saling mencintai. Ide ini mustahil!”

“Kalau begitu kami akan menjodohkan Jandi dengan pria lain .. ,” kata omma tiba-tiba.

“MWO?!!” kali ini Junpyo lebih terkejut lagi. Dia hampir terjungkir dari kursinya. “Apa lagi maksudnya ini?!” tanyanya murka.

“Jandi sudah waktunya menikah .. ,” sahut appa tenang. “Jika memang nak Junpyo tidak bersedia menikahinya, kami akan mencarikan pria lain buat Jandi. Pria yang bertanggungjawab dan berasal dari keluarga terpandang.” Diamatinya Junpyo dengan seksama—berusaha menangkap setiap gerak-geriknya. “Dengan reputasi kami—keluarga Geum, sebagai pemilik dari ‘Korean News’, kami yakin akan sangat mudah mendapatkan pasangan yang cocok buat Jandi .. “

“TIDAK MUNGKIN!!” Junpyo bangkit dari posisinya. Wajahnya terlihat sangat garang saat itu. “TIDAK BOLEH!! Jandi tidak boleh menikah dengan pria lain!!” serunya keras.

Bibir oppa tertarik ke atas. “Mengapa?” tanyanya dengan suara dibuat setenang mungkin.

“POKOKNYA TIDAK BOLEH!!” sahut Junpyo tegas—lurus tanpa koma dan titik.

“Kami tidak akan menerima larangan berbentuk apapun tanpa alasan yang jelas .. ,” ujar appa.

Wajah Junpyo tertunduk. Pandangannya bertemu dengan tatapan appa. Beberapa saat ruangan itu menjadi tegang. Omma memperhatikan mereka dengan khawatir—takut akan terjadi sesuatu yang tidak-tidak. Beliau sangat mengenal sifat Junpyo yang mudah meledak.

“Jadi apa alasannya?” tanya appa lagi.

Junpyo menghembuskan nafas keras-keras. Tangannya terkepal erat. Tanpa bermaksud menjawab pertanyaan appa, dia melangkah kearah pintu.

“Kau mau pergi begitu saja?!” teriak appa. “Kalau begitu terima akibatnya, Junpyo-a!! Jandi akan kami jodohkan sama putra tuan Kim dari Genius Corporation!”

“MWO?!” Junpyo berbalik. “Si playboy kelas bayi itu?”

Appa tersenyum—terlihat seperti ejekkan. “Apa salahnya jika dia seorang playboy? Paling tidak paman mengenal orangtuanya dengan baik. Mereka telah berjanji akan merubah sifat putranya itu jika Jandi menikah dengannya kelak .. “

“Tidak boleh!!” Junpyo kembali ke meja di mana omma dan appa berada. “Kalian akan menghancurkan hidup Jandi!” teriaknya marah.

“Apa urusannya denganmu?” tantang appa.

“Aku .. ,” mata Junpyo berputar ke atas. “Aku .. aku hanya mengkhawatirkan masa depan Jandi, itu saja .. ,” jawabnya agak gugup.

“O ya?” appa menyindir. “Paman kira kau sudah tidak peduli lagi padanya .. “

Junpyo tidak menjawab. Ruangan itu menjadi sunyi seketika itu juga.

“Kalian .. memaksaku? .. menantangku untuk mengambil keputusan yang telah kalian rencanakan?”

“Tidak .. ,” appa mengeleng. “Kami tidak memaksamu. Kami—dan juga ommamu--memberi kebebasan pada kalian untuk memilih. Apapun keputusan itu kami akan menghargainya. Yang kami jelaskan sekarang hanya gambaran-gambaran dari kenyataan yang mungkin terjadi—mungkin kalian harus mempertimbangkannya masak-masak. Jika kalian memang merasa tidak masalah, .. kami tidak bisa berbuat apa-apa. Terserah apa mau kalian .. “

Tubuh Junpyo terhempas ke sandaran kursi di belakang.

“Seperti juga Jandi, kelak kau juga akan dijodohkan. Kau sadar dengan kenyataan ini-kan, Junpyo-a? Semua anak yang hidup dalam keluarga terpandang seperti kalian jalan hidupnya memang seperti itu. Kecuali jika kau dapat mendapatkan pasangan yang benar-benar sederajat denganmu, jika tidak, lupakan keinginan menikah dengan gadis pilihanmu sendiri.”

Junpyo terus membisu di tempatnya.

“Kami sudah mendiskusikannya dengan ommamu sejak kemarin. Jandi akan diyakinkan beliau agar menerima rencana pernikahan ini, sedangkan kau—menjadi tugas kami. Tapi melihat reaksimu, sepertinya kami tidak berhasil .. “

Junpyo mengangkat wajah perlahan.

“Paman tidak mengerti, apa salahnya mencoba rencana ini?” lanjut appa. “Tidak buruk-kan?” ditatapnya Junpyo lekat-lekat. “Kau dan Jandi sudah saling mengenal sejak kecil. Kami yakin hubungan kalian lebih dalam dari siapapun juga. Hanya tinggal bersama—dengan pernyataan tertulis bahwa kalian sudah menikah. Jika memang tidak saling menyukai, jangan melakukan sesuatu yang melewati batas. Setelah waktu yang ditentukan, kalau memang dirasa tidak cocok, kalian boleh putus atau cerai—apa saja. Di jaman sekarang sudah sering terjadi, kami bukan orang kolot. Ini bisa kami terima. Bagaimana? .. “

“Menikah dengan Jandi?” tanya Junpyo pelan.

“Ya .. “

“Menikah?” ulang Junpyo, seakan perkataan itu tidak pernah didengarnya.

“Ne .. ,” jawab appa dengan kening berkenyit.

“TIDAK PERLU SAMPAI MENIKAH .. “

Tiba-tiba pintu ruang VIP itu terbuka. Appa, omma dan Junpyo menoleh kearah pintu. Mereka bangkit secara bersamaan. Hae Jaeng dengan diiringi Jandi masuk ke dalam ruangan.

“Tidak perlu sampai menikah?” ulang appa. “Apa maksudnya?”

Hae Jaeng tersenyum sambil menepuk lembut lengan omma. Dia mengangguk sedikit—memberi isyarat appa untuk duduk kembali ke kursinya. Sedangkan Jandi yang sudah sampai di dekat Junpyo, menjatuhkan diri di kursi sambil menundukkan kepalanya.

“Jandi sudah bersedia menerima rencana kita .. ,” jawab Hae Jaeng. “Tapi bukan menikah, melainkan pertunangan selama satu tahun .. “

“Mwo?! Bertunangan?” teriak omma, appa dan Junpyo.

“Tapi mengapa bertunangan?” tanya omma.

“Mengapa hanya satu tahun?” lanjut appa.

“Siapa yang mengijinkanmu berlaku seenaknya?” Junpyo mendelik kearah Jandi. “Bertunangan selama satu tahun? Apa maksudnya ini?”


Jandi mengangkat wajahnya. Ekspresinya sekelam Junpyo. “Apa kau punya ide lain yang lebih sempurna?” semburnya. “Jika memang ada, kau tolak saja! Aku nggak peduli!!”

Melihat suasana yang mulai memanas, Hae Jaeng segera mengangkat tangan ke atas. “Tenang, Junpyo-a. Karena Jandi tidak ingin dipaksa menikah sekarang ini jadi dia hanya bersedia menerima rencana pertunangan selama satu tahun. Setelah batas waktu itu jika kalian masih merasa tidak cocok, pertunangan tersebut akan dibatalkan. Omma berjanji!”

“Begitu?!” Junpyo mengalihkan perhatian dari Hae Jaeng ke Jandi.

Jandi membuang muka dengan cuek. “Ya!”

Junpyo berbalik pada ommanya. “Lalu sebenarnya apa arti pertunangan ini jika kita sudah tahu jawaban buat satu tahun kemudian?”

Hae Jaeng membalas tatapan Junpyo. “Untuk mengembalikan posisi Shin Hwa di perekonomian Korea. Skandalmu dengan Jaekyung membuat resah para pemegang saham. Banyak pertanyaan yang muncul seiring dengan peristiwa itu sehingga kepercayaan mereka pada Shin Hwa semakin menipis—bahkan bisa dibilang hampir habis.”


Junpyo tertawa hambar. “Ternyata .. demi kepentingan perusahaan .. selalu saja begitu … “ Dia berdiri dari kursi kemudian berjalan ke pintu.

“JUNPYO-A!!!”

Teriakan Hae Jaeng tidak dihiraukannya. Wanita setengah baya itu menghela nafas perlahan. Kepalanya mengeleng dengan penuh penyesalan. “Anak itu .. “

Jandi mengamati mereka. Dari Junpyo yang bayangan punggungnya menghilang dari pandangannya, dia beralih kepada Hae Jaeng. Kesedihan terisyarat dari wajah yang mulai keriput itu. Jandi mengerutkan alis perlahan. Untuk kedua kalinya dia melihat ekspresi yang belum pernah dilihatnya dari wanita itu. Madam Kang kelihatan benar-benar sedih. Perlahan, Jandi berpaling pada omma dan appa. Mereka tersenyum dan mengangguk bersamaan kepadanya—seperti memberi dukungan yang sebenarnya tidak diperlukannya. Dukungan untuk bertunangan dengan Junpyo? Huhh dia sama sekali tidak membutuhkan itu!!!!


==== oOo ====
 



Pertunangan Junpyo dan Jandi dilaksanakan tiga hari kemudian. Jandi terus-terusan mengutuk diri sendiri buat kesalahan yang sekali lagi dilakukannya. Karena tidak ingin pertunganannya dengan Junpyo diselenggarakan secara besar-besaran, Hae Jaeng memanfaatkan kesempatan ini—mendesak supaya acara tersebut dimajukan dari waktu telah yang ditentukan. Jadi, di sinilah dia sekarang. Berada di Goo’s mansion—di antara para undangan yang sudah direncanakan semula kedatangannya oleh Hae Jaeng dan orangtuanya—Jandi menebak. Memang tidak banyak seperti persetujuan mereka, tapi tetap saja keadaan ini membuatnya kikuk dan marah. Acara pertunangan yang termasuk sederhana itu menjadi saksi bisu penderitaannya.

“PUAS?!” teriak Jandi pada Junpyo, yang tidak berhenti melirik kesal ke arahnya.


Beberapa undangan berpaling ke arah mereka. Wajah orang-orang itu berkerut. Ya, tidak mengherankan. Sejak awal acara, mereka memang sudah bertanya-tanya apa yang terjadi terhadap pasangan ini? Acara yang seharusnya membahagiakan ini seperti acara pemakamam saja. Kemurungan dan kesuraman menghiasi wajah mereka sepanjang acara tersebut.

Junpyo berdecak, kemudian membuang muka ke arah lain. Malas rasanya meladeni Jandi saat ini. Dia tidak ingin berdebat. Berpuluh-puluh pasang mata sudah mengamat-amati mereka sejak tadi jadi lebih baik dia membungkam saja.

“Tidak berani memandangku?!” ejek Jandi dengan nada keras. Tangannya menarik kerah jas Junpyo. “Jika bukan kau yang memulainya—bermain-main dengan api, keadaannya tidak akan jadi begini .. “

Junpyo mengibaskan tangan Jandi dengan kasar. “Hoho—kau menyalahkanku sekarang?” katanya berang. “Lalu siapa pikirmu yang telah membantuku mendekati api itu?”


“Mwo?!” mata Jandi melebar. “Kau .. ,” telunjuknya menunjuk hidung Junpyo dengan ekspresi tak percaya, “.. menyalahkanku?”

“Bukannya begitu?!” Junpyo menyeringai.

Jandi mengepalkan tangannya. “Jangan melempar kesalahan seenak perutmu!!” ketusnya sambil berusaha memendam kemarahannya.

“Jika Jaekyung bukan bekerja di perusahaanmu, saya tidak akan mengenalnya. Dengan begitu saya juga tidak mungkin mengejarnya. Saya tidak akan meminta bantuanmu dan dia tidak akan menjadi pacarku. Peristiwa .. ,” Junpyo menyerocos terus sampai tinju Jandi mendarat di wajahnya. “Yaishhhhhhhh!!!” teriaknya antara kesal dan kesakitan. “GEUM JAN DI!!”

“Sungguh tak bisa dipercaya! Alasan-alasan yang terlalu dipaksakan!” geram Jandi. Ditatapnya Junpyo tajam-tajam. “Jangan memutar-balikkan fakta lagi. Jika tidak, kau akan mati mengenaskan!” ancamnya sambil meraih piring dari atas meja.

Junpyo langsung menyusut dari kursinya. “Yaa—letakkan piring itu!!”

“Shido!!” tolak Jandi. “Sebelum kau minta maaf buat semua perbuatanmu!”

“Tapi .. apa kesalahanku?” tanya Junpyo polos. Pandangannya tidak beralih dari piring yang dipegang Jandi. Agak ngeri juga membayangkan piring itu melayang ke arahnya. Gimana nasib wajah gantengnya jika piring tersebut sampai mencium sedikit saja wajah sempurnanya ini? Lol

Jandi mengerakkan piring di tangannya—seakan bersiap melempar piring tersebut.

“GEUM JAN DI!!” teriak Junpyo ketakutan.

“Minta maaf!!”

“Antwee!!” tolak Junpyo. “Semua karena kau … “

“Mwo?”

“Ne. Memang kesalahanmu!” Junpyo berkeras. “Jaekyung bekerja padamu. Seharusnya kau tahu apa yang terjadi padanya—penyakit yang dideritanya, jadi mengapa masih memperkenalkannya padaku? Dasar gadis bodoh!!!” bentak Junpyo.

“GOO JUN PYO!!”

Suara Jandi melengking hingga mengetarkan seisi ruangan. Sumpah, piring di tangannya sudah sejengkal saja hampir dilayangkan jika tidak ada sebuah tangan yang menariknya kembali.

“Sudah cukup bermainnya, anak-anak!” kata Hae Jaeng dengan nada gusar—yang berusaha disembunyikan dibalik senyumnya.

Perlahan dia menghadapi para undangan yang menyaksikan pertunjukkan tersebut dengan tampang melongo.

“Sosoengheyo jika perselisihan kecil ini mengejutkan tuan-tuan dan nyonya-nyonya .. ,” dia tertawa, kemudian berdeham halus—membersihkan tenggorokannya yang agak tersumbat. “.. maklum, anak muda .. ,” lanjutnya. “Bumbu-bumbu cinta yang tidak kita mengerti .. “

Para undangan saling berbisisk.

“Mereka tidak apa-apa kok.” Hae Jaeng tersenyum. “Memang sering terjadi, tapi justru ini memperkuat tali cinta mereka .. “

Sudah cukup berbohongnya!!!” Jandi ingin berteriak, tapi .. tentu saja dia tidak melakukannya. Sambil membungkam, dia melotot kearah Junpyo. Setelah semua undangan semakin tertarik terhadap hubungannya dengan penerus Shin Hwa, apa lagi yang bisa diperbuatnya?

Para undangan menganggukkan kepalanya.

“Ternyata begitu .. ,” salah seorang undangan berkata sambil mengelus-ngelus dagunya.

“Iya, memang. Pertengkaran-pertengkaran kecil akan menjadi bumbu-bumbu penyatu rumahtangga yang baik. Hubungan yang terlalu kaku justru membosankan dan terasa hambar. Banyak rumahtangga yang hancur karena sesama pasangannya terlalu menjaga jarak .. ,” sahut seorang nyonya di sebelahnya.

“Benar .. ,” yang lain mengiyakan.

Oh come on—saya dan Junpyo hanya bertunangan, bukan menikah! batin Jandi putus asa.

“Ehmm—maaf tuan-tuan dan nyonya-nyonya .. ,” sela Junpyo. “Saya dan Jandi hanya bertunangan, bukan menikah .. ,” katanya—seakan mendiktekan seluruh isi hati Jandi.

Gadis itu sangat terkejut. Secepat kilat ditariknya Junpyo ke arahnya.

“Mwo?!” tanya Junpyo tak mengerti.

Jandi membungkuk kearah para undangan. “Sosoengheyo, permisi sebentar .. “

Tanpa menghiraukan protes-protes lebih lanjut dari Junpyo, dia menarik tubuh jangkung tersebut ke belakang. Junpyo mundur dengan kesusahan karena Jandi menarik kerah jasnya seenaknya.

Hae Jaeng tertawa. “See—mereka baik-baik saja .. “

“Ne .. ,” para undangan ikut tertawa.

Kemudian mereka bersulang buat pasangan yang sekarang sudah menyusut di sudut lain ruangan itu.

“Kau sudah gila ya?!” kesal Jandi.

“Weeyo?”

“Apa berkata-kata seperti itu bisa membantu?” lanjut Jandi. Suaranya dibuat sepelan mungkin.

“Apa maksudmu?” tanya Junpyo semakin tak mengerti.

“Maksudku, perkataan tadi. Tentang .. hanya bertunangan dan bukan menikah .. “

“O itu .. ,” Junpyo tertawa. “Tapi kan benar .. ,” lanjutnya kalem.

“Iya, memang benar .. ,” Jandi memejamkan matanya. Susah benar bicara ama orang tolol ini!! Dia sungguh-sungguh tidak mengerti atau hanya berpura-pura tidak mengerti?.

“Lalu?” tanya Junpyo lagi. Mata beningnya berkejap-kejap begitu menanti jawaban dari Jandi.

“Dasar si keriting bego .. ,” perkataan itu yang bisa dikeluarkan Jandi.

“Mwo? Si keriting?” mata Junpyo melebar. “Yaa—Geum Jan Di, sejak kapan kau belajar sekurang-ajar ini?”

Jandi tertawa geli. “Ha .. ha .. aku baru sadar istilah itu cocok buatmu .. “

“Geum Jan Di, jangan main-main!! Rambut keriting ini kebanggaanku, tahu?” Junpyo menyentuh rambutnya dengan dada dibusungkan. “Ini anugerah terbesar buatku--yang membedakanku dari pria lain dan yang membuat semua wanita tergila-gila padaku .. “

“Kegeeran .. ,” Jandi mencibir.

“Apa kau tidak merasa begitu?”

Junpyo mencondongkan tubuh ke depan. Tangannya menekan dinding di belakang Jandi, menjadikannya terpojok dan tak dapat bergerak ke mana-mana. Jarak di antara mereka hanya beberapa inci sekarang. Jandi segera menyilangkan tangannya di depan dada.

“Kau mau apa?” dia berusaha mendorong tubuh Junpyo tapi tak berhasil. Pertahanan pemuda itu sangat kokoh. “Yaa—Goo Jun Pyo!!”


Bibir Junpyo tertarik ke atas. “Makanya jangan main-main denganku .. “ Perlahan dia mundur ke belakang. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis.

Dia memutar tubuh perlahan. Dengan gaya cool yang sangat dibenci Jandi, dia berjalan ke tengah ruangan--bergabung kembali dengan para undangan yang kebanyakan berasal dari para pemegang saham Shin Hwa.

“Yaishhh!!”

Jandi melayangkan tinjunya ke udara. Perasaan kesal, marah, kalah sebelum perang, ingin menanggis dan semuanya, bercampur jadi satu. Saat itu hanya satu hal yang ingin dilakukannya, yaitu melayangkan tendangan berputar ke arah wajah Junpyo. Biar dia terkapar dengan wajah yang tercetak alas sepatunya yang berhak tinggi!!! Biar dia rasakan itu!!


Jandi tertawa membayangkan ini. Wajah sok ganteng itu pasti akan terlihat mengelikan.    


==== oOo ====
 



Hari ini Jandi resmi tinggal di Goo’s mansion. Barang-barangnya sudah dipindahkan oleh para pembantu sejak tadi pagi atas perintah omma dan appa. Tidak ada lagi alasan baginya untuk merengek dan membantah terus—memohon pada omma supaya membahas ulang point ini. Keputusan sudah diambil, DIA HARUS TINGGAL DI GOO’S MANSION SELAMA SATU TAHUN!

Jandi menyusuri lorong lantai dua dengan diantar dua orang pembokat. Tampangnya terlihat kusut. Sesekali bibir mungil tersebut memanjang ke depan—cemberut. Sampai di depan sebuah kamar yang dia tahu kamar milik Junpyo, rautnya berubah kesal.

“KEMANA BARANG-BARANGKU?!”

Teriakan keras tersembur dari kamar tersebut. Langkah Jandi terhenti seketika. Antara terkejut dan penasaran, dia menjulurkan leher ke dalam kamar.

“Ada apa?” tanyanya pada Junpyo.

Pemuda itu menoleh ke arahnya. Matanya terbelalak lebar—bukan terkejut melainkan melotot dan sangat marah. Tanpa mempedulikan pertanyaan Jandi, dia berteriak lagi.

“KEMANA BARANG-BARANGKU, PEMBOKAT-PEMBOKAT BERENGSEK?!!”

Dua orang pembantu yang mengantar Jandi tergopoh-gopoh memasuki ruangan. Wajah mereka terlihat pucat dan ketakutan.

“Sosoengheyo, doronim .. ,” mereka membungkuk secara bersamaan.

“Nyonya besar memberi perintah supaya semua barang doronim dipindahkan ke kamar lantai atas. Yang bersebelahan dengan kamar nyonya muda. Dua kamar yang dihubungkan langsung oleh sebuah pintu .. ,” jawab salah seorang dari mereka.

“MWO?” teriak Junpyo.

“Tunggu sebentar!” Jandi melangkah masuk. “Apa maksud perkataanmu tadi? Nyonya muda?” telunjuk Jandi menunjuk dirinya sendiri. “Maksud kalian, saya?”

“Ne .. ,” jawab mereka.

“MWO?” teriakan Jandi lebih keras lagi. “Yaa—kami belum menikah .. “

“Ini atas perintah nyonya besar, nyonya muda .. ,” mereka membungkuk. “Sosoengheyo .. “

“Tidak bisa .. ,” seru Jandi. “Namaku bisa rusak oleh panggilan itu .. dan .. “

“Minggir!!”

Junpyo yang sama sekali tidak memperhatikan protes-protes di antara ketiga wanita tersebut, sampai di depan Jandi. Didorongnya gadis itu dengan kasar ke samping, kemudian ditendangnya pintu yang terbuka setengahnya itu.

“Ada apa dengannya?”

Jandi mengikuti kepergian Junpyo dengan pandangannya, lalu beralih kepada kedua pembantu muda itu. Keduanya mengangkat bahu secara serempak.

“Tidak tahu, nyonya muda .. “

“Yaa—sudah kubilang jangan memanggilku nyonya muda .. “

“Sosoengheyo, nyonya muda .. “

“Aishh!!” seru Jandi kesal.

Dia berlari keluar ruangan. Masih sempat dilihatnya bayangan Junpyo di anak tangga terakhir yang menuju lantai atas.

“Dia mau kemana?” tanyanya pada pembantu yang sudah sampai di sebelahnya.

“Mungkin doronim ke kamar barunya, nyonya muda .. “

“Benar kamarnya itu bersebelahan dengan kamarku?” tanya Jandi tak bersemangat.

“Ne … ,” jawab pembantu yang lebih pendek.

“Atas perintah nyonya besar .. ,” sambung yang lebih tinggi.

Jandi menghela nafas, lalu mulai menaiki tangga menuju ke kamarnya.


==== oOo ====
 



Begitu sampai di dalam kamar, Jandi tertegun. Junpyo sedang duduk di atas ranjangnya dengan raut kesal.

“Kau .. menyingkir dari ranjangku?”

“Ini kamarku .. ,” jawab Junpyo cuek.

“Mwo?”

“Sosoengheyo, nyonya muda .. ,” salah seorang pembantu menengahi. “Kamar ini memang kamar doronim .. “

“Mwo?!”teriak Jandi. “Lalu mana kamarku?”

“Kamar nyonya ada di seberang kamar ini. Ikut kami .. “

Kedua pembantu itu berjalan ke arah sebuah pintu yang terletak di tengah kamar besar itu. Jandi mengikuti mereka sambi sesekali mendelik ke arah Junpyo. Pemuda itu cuek saja—membuang muka kemudian merebahkan dirinya di atas ranjang.

Pembantu yang lebih tinggi membuka pintu yang memisahkan kamar Junpyo dengan kamar di sebelahnya.

“Ini bukan kamar mandi?” tanya Jandi penasaran.

“Bukan, nyonya muda. Ini kamar yang dihubungkan langsung dari kamar doronim. Jalan keluarnya hanya pintu ini, jadi setiap nyonya keluar masuk harus melewati kamar doronim .. “

“Apa?” Jandi sangat terkejut. “Saya tidak menyukai kamar ini.” Dia mengeleng. “Ganti dengan kamar lain .. “

“Tidak bisa, nyonya .. ,” pembantu yang lebih pendek tersenyum. “Nyonya besar sudah memerintahkannya .. “

“Di mana dia sekarang? Saya ingin menemuinya?” tanya Jandi dingin.

“Nyonya besar sudah terbang ke Amerika tadi pagi. Jadi maaf, nyonya muda tidak memiliki kesempatan menyampaikan permintaan ini .. “

Untuk kesekian kalinya selama beberapa hari terakhir, Jandi kehilangan semangat hidupnya. Kekalahan yang dialaminya sangat telak. Dan dia tidak menyukainya. Mungkin benar kata Madam Kang bahwa dia sama keras kepalanya seperti Junpyo. Tapi dia tidak punya pilihan lain, tinggal serumah dengan Junpyo sama saja membiarkan umurnya pendek beberapa tahun.

“KEMANA KIMONOKU?!”

Pintu di belakang mereka tiba-tiba dihempaskan dari luar. Junpyo masuk dengan tampang sangar.

“Yaa—kau bisa ketuk pintu dulu tidak?” jerit Jandi. “Bagaimana jika saya sedang berganti pakaian?”

Junpyo tidak menghiraukan Jandi. Dia sampai di depan kedua pembantu yang menunduk ketakutan tersebut. Posturnya yang tinggi menjulang terlihat menyeramkan.

“Ki .. kimono doronim .. ada di .. di sini .. “

Tergesa-gesa salah seorang dari mereka berlari ke lemari, mengeluarkan kimono handuk dari dalam kemudian menyodorkannya pada Junpyo. Tangannya bergetar hebat.

“Mengapa ditaruh di situ?” suara Junpyo terdengar tajam.

“Atas .. “

“Perintah nenek sihir itu lagi?” teriak Junpyo. Membuat kedua pembantu itu mundur ketakutan.

“Ne .. “

“Oh—saya bisa gila terus-terusan begini!!”

Junpyo menarik rambutnya. Disambarnya kimono dari tangan pembantu itu, kemudian melangkah pergi dengan tangan terkepal erat.

“Yaa—“

Teriakan Jandi tidak diubrisnya.

Brakk,,, sekali lagi pintu penghubung itu dihempaskan Junpyo dengan keras.

“Si keriting sialan!!” omel Jandi.

Ketika berbalik, dia menangkap sinar keheranan terpancar dari mata kedua pembantu muda itu.

“Weeyo?”

“Anhiyo .. ,” jawab mereka serempak.

Jandi mengangkat bahu. “Saya capek dan lengket. Ingin mandi dan beristirahat ..,” katanya sambil menguap.

“Ne .. “

Pembantu yang lebih tinggi berlari ke lemari. Beberapa detik dia kembali lagi dengan sebuah daster tipis. Jandi mengangguk, lalu menerima daster tersebut.

“Di mana kamar mandinya?” tanyanya sambil melirik ke sekeliling kamar itu. Tidak didapatnya pintu lain selain pintu penghubung yang menghubungkan kamarnya dengan pintu keluar di kamar Junpyo.

“Kamar mandinya hanya satu, nyonya muda. Itu kamar mandi di kamar doronim .. ,” jawab pembantu tersebut sambil menunjuk ke kamar sebelah.

“MWO?!”

Jandi hampir pingsan. Ya, sudah terlalu banyak kejutan-kejutan yang didapatnya hari ini. Dan kejutan kali ini sudah keterlaluan. Terlalu besar dari yang bisa diterimanya.

“Rumah sebesar ini masih memiliki kamar mandi yang lain, kan?” katanya berusaha merendam kemarahannya yang sudah diubun-ubun.

Kedua pembantu itu saling berpandangan.

“Memang ada .. ,” jawab salah seorang dari mereka. “Tapi .. “

“Nyonya besar hanya mengijinkan nyonya memakai kamar mandi doronim .. “

“Ok .. cukup ..,” Jandi mengangkat tangan ke atas.

Secepat kilat dia menghambur ke luar—menuju kamar mandi. Tanpa berpikir panjang digedornya pintu yang tertutup itu. Samar-samar dapat didengarnya bunyi shower menyala. Tapi dia tidak peduli. Gedoran-gedorannya sangat keras dan memekakkan telinga.

“KELUAR BERENGSEK!!” teriak Jandi.

Bunyi shower berhenti. Hening sebentar, lalu terdengar balasan dari Junpyo.

“MWO?!”

“KELUAR KATAKU!! BADANKU SANGAT LENGKET DAN INGIN SEGERA MANDI!!”

“PAKAI KAMAR MANDI DI KAMARMU!” sahut Junpyo cuek. Shower dihidupkannya kembali.

“YAA—“ Bukkk,, Bukkk ,, Jandi mengedor lagi. “KAMARKU TIDAK ADA KAMAR MANDINYA, JADI KELUAR SEKARANG JUGA!!”

“YAISSHHH—“

Shower dimatikan. Jandi menunggu. Lima menit kemudian Junpyo keluar dengan rambut basah dan tubuh terbalut kimono handuk. Dada bidangnya terlihat jelas dari balik celah yang terbelah di bagian tengah kimono.


“Kamu selalu menyusahkan saja!!”

Jandi membuang wajahnya.

“Menyingkirlah!!”

Dia mendorong Junpyo dengan kasar sehingga tubuh jangkung itu hampir terpelanting ke lantai.



“YAA—GEUM JAN DI!!”

Brakk .. pintu kamar mandi ditutup dengan keras oleh Jandi. Suara Junpyo tenggelam dalam suara pintu yang lebih keras darinya.


==== oOo ====
« Last Edit: December 04, 2010, 10:04:35 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
note : ga gw periksa ulang jadi mohon maaf buat semua kekurangannya [sweat]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
mi makasih dah update [flowers]
waooow jundi kamarnya sebelahan + kamar mndinya cuma 1 ? [on] [on] [on]
widiiiih bahaya donk [devil2] [devil2] [hmpfh]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

fara

  • Guest
Mami gomawo udh diupdate [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]
ak baca dulu ya mi [lovestruck]

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
vay, dari jalan2 di luar [biggrin] elu ngapain di tret ini? bukannya elu ga baca UL ya? [hmpfh]

[shock] [shock] [shock] [shock] [shock] [shock]  Huh jahatnyo.... mentang2 gw lom baca neh ff  [head break] [head break] [head break] padahal gw kan udah baca  [dry] judulnya doank  [hmpfh]