Author Topic: My Everything II (That's My Promise), chapter 5 FINAL updated 7 Agustus 2010  (Read 20306 times)

Offline Amira

  • Police
  • Senior
  • *****
  • Posts: 613
  • Location: East kal
    • View Profile
Mami : Kenapa yah banyak reply FF yang nyasar ke board dreamland di tretnya Lee Min Ho ?
Aku sudah sms mak nem, untuk minta di cekkan..Mak nemmmmm *teriak2x panggil mak nem* cari tahu noh penyebabnya...
 
FF nya Liko yang OA itu updatean chap 2nya nyasar ke sono tuh, gimana cara mindahinnya ya mam ? Aku gak bisa mindahinnya nih aka gak tahu [laughing], klo mami tahu tolong kasih tahu caranya ya ...atau mami aja yang mindahin hehehe tapi tetap kasih tahu caranya..

Mami...cepat ya di update jangan pake lama..

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile







Janpyo menyelusuri lorong bawah, menuju ruang makan yang terletak di sudut kanan ruangan itu. Begitu sampai di depan pintu ruang makan, seorang pelayan menghentikan langkahnya.



"Doronim! .. tuan dan nyonya besar, begitu juga Jundi agashi beserta tamu-tamu yang lain sudah pindah ke ruang keluarga di lantai atas .. ", katanya dengan sikap hormat.

Janpyo tidak mengucapkan apa-apa terhadap pemberitahuan pelayan itu. Dia hanya mengangguk halus, kemudian memutar tubuhnya, menuju tangga putar yang terletak di seberang ruangan itu. Pelayan itu memperhatikannya sejenak, setelah itu kembali lagi ke pekerjaannya, membereskan meja makan yang penuh dengan peralatan kotor, beserta pelayan yang lain.

Janpyo sampai di anak tangga bawah dan mulai menaiki tangga unik dari pualam putih mengkilat itu dengan tenang dan berwibawa. Tangga tersebut merupakan satu-satunya sarana penghubung lantai bawah dan lantai dua. Janpyo menapakkan kakinya di lantai anak tangga terakhir, dan terus berjalan sampai ke ruangan paling ujung, lorong lantai tingkat dua itu. Begitu memasuki ruang keluarga yang pintunya tidak ditutup, suara berisik langsung memasuki telinganya.

Janpyo menarik nafas perlahan, kemudian menghembuskannya. Pandangannya menyapu seisi ruangan. Para orangtua sedang berbicara serius di sofa yang terletak di tengah ruangan itu. Janpyo mencari Jundi dengan pandangannya. Beberapa saat kemudian, dia mendapatkan dongsengnya itu sedang bermain dengan Jaebin, Gajeong dan Edys di sudut kanan ruang keluarga itu. Michael juga terlibat dalam permainan tersebut. Jundi melirik Janpyo dengan sudut matanya, ketika melihat pemuda itu memasuki ruangan. Dia agak  memanjangkan bibir ke depan, sebelum akhirnya memusatkan perhatian kembali ke game dihadapannya.

Mereka semua sedang mengelilingi sebuah botol yang diletakkan di atas meja. Janpyo melihat Jundi memutar botol tersebut. Dahi Janpyo agak berkenyit. Dia tidak tahu permainan apa itu. Dan dia juga tidak tertarik dengan permainan itu. Suara ketawa riuh terdengar ketika Edys mengatakan sesuatu yang tidak terdengar olehnya. Janpyo agak mengangkat kepalanya dan memperhatikan mereka. Kelihatannya muda-mudi yang mengelilingi meja panjang itu sangat menghayati permainan mereka. 'Apakah sangat menarik?'. Janpyo mengeleng perlahan.

"Heiiii .. Janpyo-ya!!", Jaebin mengangkat tangan pada Junpyo ketika menyadari kehadirannya dalam ruangan itu. "Ayo kemari, kita main bersama!!", teriaknya.

Janpyo tidak bergerak dari kursi kayu yang didudukinya. Dia tersenyum halus dan mengeleng pelan.

"Jangan hiraukan dia, Jaebin oppa!! .. Manusia langka seperti oppaku tidak akan pernah tahu permainan anak muda!!", sahut Jundi, keras. Wajahnya masih cemberut karena dia masih kesal dengan kejadian di taman luar rumah besar Goo lima belas menit yang lalu. Michael, yang duduk disampingnya tersenyum kecil.



Sedangkan Jaebin dan Gajeong tertawa keras mendengar perkataan Jundi. Edys juga mengulum senyumnya. Dia melirik sekilas kearah Janpyo. Pemuda itu terlihat tenang dan tidak memperlihatkan perasaan apa-apa terhadap perkataan ketus dari dongsengnya. 'Pemuda aneh .. ', lagi-lagi perkataan itu muncul dalam benak Edys.

Kemudian mereka melanjutkan kembali permainan itu tanpa memaksa atau memperdulikan Janpyo lagi. Sesekali Edys masih mencuri pandang kearah Janpyo dan itu tanpa disadarinya. Pemuda jangkung berpakaian rapi itu tampak sedang memusatkan perhatian ke koran bisnis dalam tangannya. Paras sempurna itu terlihat sangat serius. Edys menjadi tegang. Dia merasa capek melihat tampang serius itu. Segera, dia menjatuhkan perhatian kembali ke botol dihadapannya tanpa berani berpaling kearah Janpyo lagi.

Sepuluh menit kemudian, seorang pelayan memasuki ruangan. Dia membungkuk hormat pada orang-orang dalam ruangan itu, lalu berjalan ke tempat Janpyo.
"Doronim, mr. Choi sudah tiba dan beliau berada di ruang tamu lantai bawah sekarang .. "

Janpyo melipat koran dalam tangannya dan segera berdiri dari kursi.
"Bawa dia ke ruang kerjaku!", perintahnya.

"Dee, doronim ..". Pelayan itu membungkuk, kemudian berlalu dari ruangan itu.

Janpyo menarik ujung jasnya ke bawah, mengibaskannya sehingga terlihat rapi. Kemudian dia berjalan ke sofa.
"Omma, appa, bibi-bibi dan paman-paman sekalian, saya pamit dulu, ada yang harus saya kerjakan sekarang .. ". Janpyo membungkukkan badannya.

Para orangtua yang masih sibuk dengan pembicaraan mereka langsung menghentikan suara. Mereka mengalihkan perhatian kepada Janpyo.

"Ada apa, sayang? .. Ada yang serius?", tanya Jandi. Dia kelihatan agak khawatir.

"Tidak, omma ..". Janpyo membungkukkan badan kearah Jandi dan mencium pipinya. "Hanya ada sedikit pekerjaan yang harus saya selesaikan dengan mr. Choi .. ", lanjutnya.

"Apakah tidak bisa ditunda, sayang? .. Malam ini sangat istimewa buat kita, lagipula hari ini hari libur, .. kamu tidak perlu bekerja mati-matian begitu .."

Janpyo tersenyum. Dia menepuk pelan bahu Jandi.
"Miane, omma .. mr. Choi sudah menungguku di ruang kerja, jadi saya harus segera ke sana ..". Dia menoleh kearah yang lain dan membungkukkan badannya lagi, "Permisi .. ". Lalu dia berjalan ke pintu.

Junpyo mengelengkan kepala melihat sikap Janpyo.
"Anak itu selalu begitu!! .. Tidak pernah mau mendengar perkataan orang!!"

Jandi memegang tangan Junpyo, berusaha untuk menenangkannya.
"Mungkin memang ada masalah serius, Junpyo-ya! .. Jangan emosian begitu!"

Junpyo mendecak keras. Setelah itu mereka melanjutkan kembali pembicaraan yang tadi tertunda.

Ketika melewati meja panjang yang terletak dekat pintu, dimana para anak muda sedang bermain dengan gembira, Janpyo terdorong ke samping oleh seseorang yang memundurkan kursinya secara mendadak. Wajah Janpyo berkenyit perlahan. Orang itu ternyata Edys. Dia sangat terkejut. Sepasang mata hijau bundarnya terbelalak lebar.

"Sosoengheyo ... ", ujarnya dengan bibir bergetar.

"Ohh mampus kamu, Edysya!! ... Banyak yang boleh kamu singgung mengapa harus Janpyo?". Maksud Jaebin untuk bercanda tapi malahan membuat Edys semakin gugup.

"Sosoengheyo .. ", ujarnya lagi, sambil mengigit jemari dan menunduk perlahan.



Yang lain tersenyum simpul melihat kejadian itu. Begitu juga Jundi. Mereka sangat mengenal Janpyo. Pemuda itu tidak akan marah hanya karena urusan sekecil itu. Walaupun sikapnya dingin, mereka tahu kalau pemuda itu berhati lembut.

Tapi Edys, yang sudah lama tidak bertemu Janpyo, tidak mengetahuinya. Dia sangat menyesal dengan kejadian yang barusan terjadi. 'Mengapa harus berurusan dengannya .. ', umpatnya dalam hati. Samar-samar, dia mendapat gambaran serupa dalam pikirannya. Entah kapan, dia lupa! Dia pernah menjatuhkan sesuatu atau .. menumpahkan sesuatu ke pakaian pemuda itu.
"Sosoengheyo .. saya .. saya tidak sengaja ..", Edys mengangkat wajahnya, "Saya tadi bermaksud ke kamar kecil jadi ... "

Edys belum menyelesaikan perkataannya ketika Janpyo tiba-tiba membungkukkan badan dan mendekatkan wajah kearahnya. Gadis itu langsung menutup mata rapat-rapat.
"Kamu lupa padaku, Jilly-ya?", tanya Janpyo dengan suara agak ditekan.

Mata Edys terbuka dan melebar perlahan, "Jilly??", ulangnya dengan pandangan bertanya.

Dia langsung menatap Janpyo. Dan mendapati pandangan pemuda itu melekat ke matanya. Edys menjadi gugup, tapi tetap saja dia tidak mampu menahan rasa penasaran terhadap perkataan Janpyo.
"Siapa itu Jilly?"

"Jilly itu panggilan kami buatmu waktu masih kecil, Edysya .. ". Gajeong mewakili Janpyo menjawab pertanyaan Edys ketika melihat pemuda itu tidak bersuara.

Edys sangat terkejut. Dia berpaling pada Gajeong. Keningnya berkerut dan telunjuknya segera menunjuk diri sendiri.
"Saya?"

"Iya .. ", sambung Jaebin.

"Tapi .. weo?". Edys semakin kebinggungan dengan perkataan mereka.

"Tanyakan pada Janpyo!". Jaebin melirik Janpyo. "Nama itu pemberiannya! ... katanya, kamu anak dari paman Jihoo dan bibi Lily, jadi namamu Jilly .... ". Jaebin berdiri dari kursi dan berjalan ke samping Janpyo. Ditepuknya lengan pemuda itu sambil memandang Edys, dia tertawa keras, "Ha .. ha .. ha .. yang tidak kusangka, dia masih memanggilmu dengan panggilan itu .. ha .. ha ... ", lalu dia menoleh pada Janpyo, "Yaaa Janpyo-ya, apa cintamu tidak terlalu panjang haa ?... ha ..ha .. "

Mulut Edys mengangga. 'Jilly? .. Nama apa itu? .. dan cinta? .. Apa pula maksud perkataan Jaebin?'. Edys kembali memusatkan perhatian pada Janpyo. Dia ingin menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang bermain dalam pikirannya, tapi entah mengapa suaranya tidak keluar. Wajahnya mulai memanas dan dia yakin sepasang pipinya sudah semerah tomat.
"Hmm .. kamu ... "

Sebelum Edys sempat meneruskan perkataannya yang tersendat-sendat, Janpyo sudah memotong dengan suaranya yang khas, serak-serak basah. Dia menarik diri dari Edys dengan pandangan yang masih melekat ke mata gadis itu.
"Ada yang salah dengan panggilan itu?"

Edys tertegun dan tidak mampu menjawab. 'Iya, dimana letak kesalahan nama itu? Ada! Pasti ada! Tapi apa?". Edys mengaruk kepalanya yang tidak gatal.

Melihat tampang gadis itu, bibir Janpyo agak tertarik ke atas. Edys memandanginya dengan cemberut. 'Lagi-lagi ekspresi itu!! .. HUhhhh menjengkelkan! .. Jika ingin tersenyum, mengapa dia tidak tersenyum saja? Mengapa harus dengan sudut bibir sebelah ditarik ke atas? ..  Memangnya tampang itu menarik?!!', teriak Edys dalam hati. 'Iya .., sangat menarik!', jawaban dari sebuah suara dalam hati, membuatnya terkejut. Dia mengeleng keras. 'TIDAK!! TIDAK MENARIK!!!', Edys berkeras.

"Saya permisi sekarang!". Perkataan Janpyo membuat Edys sadar dari lamunannya. "Dan .. saya menanti jawaban darimu!", sambung Janpyo, sambil menatap Edys.

"Deee?", Edys mengedipkan mata berkali-kali.



Tapi Janpyo sudah tidak menghiraukannya. Pemuda jangkung itu meneruskan langkah yang tadi tertunda gara-gara terdorong Edys, keluar dari ruang keluarga yang masih ramai, menuju ruang kerjanya, yang terpisah beberapa ruangan di lantai itu.


----------------------------------------------



Janpyo membuka pintu ruang kerjanya dan mendapati Mr. Choi sudah berdiri di sana, menghadapi meja kerja yang terbuat dari kayu tua berkilat. Mendengar suara pintu dibuka, Mr. Choi langsung memutar badannya. Janpyo memasuki ruangan. Mr. Choi membungkuk perlahan.
"Anyongheseyo, tuan muda ... "

"O sudah sampai ..", ujar Janpyo pendek.

Tangannya terulur pada Mr. Choi, yang segera menyerahkan file warna kuning yang sejak tadi dipegangnya.

"Ada berita baru?", tanya Janpyo, sambil menjatuhkan diri ke kursi kerjanya yang tinggi dan empuk.

"Tidak ada yang benar-benar baru, doronim ... ", jawab Mr. Choi.

Janpyo mulai membuka file dihadapannya. Memperhatikannya dengan seksama. Kemudian menatap Mr. Choi dengan tajam.
"J.M. corporation?", tanyanya pelan, yang tidak terdengar seperti sebuah pertanyaan. Sepasang telapak tangannya saling melipat, tertumpu di atas meja.



"Seperti yang kita duga semula, doronim ... "

Janpyo mengangguk perlahan.
"Tahu siapa pemimpinnya?"

"Tidak, tuan muda .. tapi .. ", Mr. Choi berhenti sejenak.

Janpyo memperhatikannya dengan seksama.
"Ada masalah lain? Apakah Mr. Mark Wills?"

Mr. Choi mengeleng cepat, "Bukan, tuan muda! .. Sepertinya Mr. Wills tidak ada sangkut-paut dengan pembelian saham Shin Hwa secara besar-besaran akhir-akhir ini, .. dia hanya bertugas di J.M cabang Amerika .. akan tetapi .. ", Mr. Choi menghentikan laporannya lagi.

Janpyo melihat keragu-raguan dalam suara asisten pribadinya itu. Dahinya agak berkenyit. Lalu dia mengangkat tangan ke atas dan menjentikkannya. Mr. Choi menangkap isyarat dari Janpyo. Majikannya ini ingin dia segera meneruskan perkataannya, apapun resiko dari laporan itu, baik atau buruk, dia ingin tahu. Mr. Choi sangat mengenal sifat Janpyo, karena dia sudah melihat pemuda ini berkembang sejak kecil. Dia paling tidak suka dengan perkataan dan pekerjaan yang tertunda. Dia sangat menghargai waktu karena prinsipnya waktu adalah uang dan kesempatan.

Sambil menarik nafas, Mr. Choi meneruskan laporannya.
"J.M corporation akan membuka perusahaan di Korea dan peresmiannya akan dibuka dua minggu lagi, kita sudah mendapat undangan resmi untuk itu ..", Mr. Choi merogoh ke dalam saku jasnya. Dia mengeluarkan sebuah amplop segiempat berwarna krem dan menyodorkannya pada Janpyo.  "pusat perusahaannya juga akan dipindahkan ke sini .."

"Saya tahu itu!". Setelah meletakkan amplop yang diterimanya ke atas meja, Janpyo memajukan file dihadapannya kearah Mr. Choi. Tangannya menunjuk laporan yang terketik rapi dalam file itu, "Semua tertulis jelas di sini!", lanjutnya, sambil menatap pria setengah baya itu, "Jadi masalahnya?"

"Tuan muda Jang Geun Suk, direktur utama J.M. corporation cabang Korea ..", jawab Mr. Choi, agak membungkukkan badannya.

"Jang Geun Suk?", mata Janpyo melebar, "Mengapa dia bisa menjadi direktur utama dari J.M. corporation?"

"Tidak jelas, doronim ..".

Janpyo mendorong kursinya ke belakang, kemudian memutarnya, menghadap ke luar jendela. Mr. Choi memperhatikan majikan mudanya dengan seksama sambil menghembuskan nafas panjang. Dia tahu perasaan apa yang sedang berkecamuk dalam hati pemuda yang sedang membelakanginya itu. Seperti diketahui, dia mengenal Janpyo sejak kecil. Boleh dikatakan, dia lebih akrab dengan pemuda ini daripada Junpyo, appanya sendiri. Apa yang telah terjadi antara Janpyo dan Geunsuk diketahuinya dengan jelas.

Janpyo dan Geunsuk bersahabat sejak sekolah menengah pertama. Mereka sangat akrab satu sama lain. Hal itu sangat mengherankan, karena Janpyo dikenal sebagai anak pendiam yang suka menyendiri. Dia jarang bergaul dengan teman-teman satu sekolah. Yang dilakukannya setiap hari hanya berkutat dengan buku pelajaran dan berita-berita bisnis dari koran dan media massa lain. Hanya Geunsuk satu-satunya orang yang mampu menarik perhatiannya.

Geunsuk adalah seorang pemuda ceria berpenampilan menarik. Dia suka bercerita dan bermain. Sifat ini sangat bertolakbelakang dengan sifat Janpyo, sehingga seringkali Mr. Choi juga tidak mengerti mengapa tuan mudanya itu bisa bersahabat dengan Geunsuk.

Keluarga Geunsuk cukup terkenal di Amerika. Dan Jang's Capital juga mempunyai hubungan kerjasama yang cukup lama dan erat dengan Shin  Hwa Group. Tujuan Geunsuk berteman dengan Janpyo tidak hanya karena dia merasa nyaman dengan Janpyo, alasan utama dari hubungan itu ternyata kerjasama antara keluarga mereka. Hal ini diketahui Janpyo setelah dia menyelesaikan kuliahnya dan mulai menangani Shin Hwa Group. Janpyo tidak keberatan ketika mengetahui maksud Geunsuk berteman dengannya. Tapi setelah pengkhiatan Mr. Jang terungkap, Janpyo tidak bisa berbuat lain selain melakukan tindakan yang akhirnya merobek persahabatannya dengan Geunsuk.

Selama hubungan kerjasama selama delapan tahun, ternyata Jang's Capital selalu melakukan penyelundupan di belakang Shin Hwa Group. Korupsi itu tidak dilakukan secara besar-besaran, hanya dilakukan di belakang layar dengan melibatkan beberapa pemimpin tinggi perusahaan bersangkutan. Pada masa kepemimpinan Junpyo, semua itu tidak terungkap karena Junpyo memang tidak begitu memperhatikan hal-hal kecil seperti itu. Tapi setelah berada di tangan Janpyo, semua kejanggalan itu tercium olehnya. Dia merasa curiga dengan laporan-laporan keuangan yang disodorkan padanya, dan ini tidak mengherankan karena Janpyo memang  sangat teliti dan cermat dalam melakukan segala hal. Dia meminta Mr. Choi menyelidiki semuanya dan akhirnya semua permainan kotor itu terbongkar. Otak dari penyelundupan itu ada di tangan Jang's Capital, perusahaan ayah Geunsuk.

Janpyo yang terkenal sangat tegas dalam menangani masalah segera mengambil tindakan. Dalam sekejap semua saham Jang's Capital dibeli dengan perantara perusahaan-perusahaan kecil lain yang berada dalam kuasa Shin Hwa. Dan ini tidak diketahui atau disadari Mr. Jang. Dia mengira sudah mendapat siraman air besar dari luar karena dalam sekejap harga saham Jang's Capital melesat di pasaran. Setelah mengetahui kalau semua itu hasil kerja Janpyo, itu sudah terlambat, karena semua kekayaan Jang's Capital sudah berpindah ke tangan Shin Hwa.

Mr. Jang sangat terpukul waktu itu. Penyakit mental yang diwarisi dari keluarganya langsung kumat dan dia harus dimasukkan ke rumah sakit jiwa dan mendapat perawatan khusus di sana. Setelah kejadian itu, Geunsuk pernah datang dan memohon pada Janpyo untuk mengembalikan semua milik keluarganya, tapi Janpyo tidak mengabulkannya.

"Kesalahan yang telah dibuat harus ditanggung sendiri, seharusnya appamu mengetahui itu sebelum memutuskan untuk melakukannya! ... Saya menganggapmu sebagai sahabatku karena itu bersikaplah dewasa, jaga ayahmu baik-baik dan jangan mengikuti jejaknya.. ", kata Janpyo pada Geunsuk waktu itu.



Geunsuk sangat murka, dia langsung mencaci-maki dan menghujani Janpyo dengan perkataan pedas.
"Kamu akan menyesal melakukan ini, Janpyo-ya!! Saya bersumpah akan membuat hidupmu dalam neraka! .. Terima pembalasanku nanti!!".

Setelah itu Janpyo tidak mendengar kabar Geunsuk lagi, sampai .. malam ini. Apakah dia menyesal dengan tindakannya itu? Sahabat karib satu-satunya, selain Michael (persahabatan ini berbeda karena Michael berasal dari keluarga biasa. Mereka tidak pernah membicarakan atau mempermasalahkan masalah bisnis, hanya berkutat dalam mata pelajaran dan perbincangan biasa layaknya pemuda kebanyakan), pergi meninggalkannya begitu saja dengan ancaman maut karena ketegasan sikapnya yang tidak bisa diganggu-gugat? Mr. Choi juga tidak tahu. Janpyo tidak pernah menunjukkan perasaan terhadap semua tindakannya.

"Mr. Choi .. ", panggil Janpyo, pelan.

"Ya, doronim .. "

"Tentang Jilly .. ". Janpyo berhenti sampai di situ.

"Iya, doronim?"

Janpyo memutar kursi kerjanya sebesar delapan puluh derajat, menghadapi Mr. Choi.
"Carikan informasi tentang tempat-tempat wisata menarik di kota Seoul ini dan berikan laporan secepatnya padaku!", katanya tegas.

Mr. Choi membungkukkan badannya.
"Dee, doronim .. ". Mr. Choi berdiri sempurna di tempatnya sambil menunggu perintah Janpyo selanjutnya.

Janpyo tidak mengeluarkan suara selama dua menit. Dia sibuk berkutat dengan pikirannya. Setelah sadar, dia mengibaskan tangan perlahan, menyuruh Mr. Choi berlalu dari ruangan itu. Mr. Choi membungkukkan badannya, kemudian berbalik kearah pintu.

"Satu hal lagi, Mr. Choi .. "

Panggilan Janpyo menghentikan langkah Mr. Choi. Dia membalikkan badannya lagi, dan membungkuk dengan hormat.
"Iya, doronim .. "

"Selidiki Geunsuk dan juga rahasia J.M. Corporation! Saya ingin tahu semuanya! Termasuk jumlah aset perusahaan itu,  .. Jika ada kabar, segera menghubungiku!", perintah Janpyo, tegas.

"Dee,doronim .. ". Sekali lagi, Mr. Choi membungkukkan badannya. Dia keluar dari ruangan sederhana yang hanya disejajari beberapa rak buku tinggi dari kayu tua bermutu bagus, sebuah meja kerja yang juga terbuat dari kayu dan sebuah kursi kerja tinggi dari kulit hitam itu dan menutup pintunya.

Janpyo memutar kursi yang didudukinya, menghadap ke luar jendela lagi. Pandangannya terarah ke atas. Sinar bintang-bintang yang gemerlapan di langit tinggi nan jauh di sana tidak mampu untuk mengambarkan perasaannya sekarang. Entah mengapa ..  dia seperti melihat masa depan Shin Hwa. Bahaya? Kehancuran? Janpyo mendesah sambil mengeleng perlahan. Matanya mulai menyipit karena kepalanya terasa berat. Dia menutup sepasang matanya dan alam bawah sadar merayap masuk ke dalam pikirannya. Janpyo tertidur di kursi kerja dengan kepala menyandar ke sandaran kursi yang tinggi.



------------------------------


Janpyo sedang menandatangani tumpukan dokumen yang disodorkan Mr. Choi ketika pintu ruang kantornya diketuk dari luar.

tok .... tok .... tok ....

"Masuk!", teriak Janpyo, tanpa beralih dari tumpukan dokumen dihadapannya.

klik ..... pintu dibuka. Seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahun dengan kacamata bergagang hitam dan pakaian resmi memasuki ruangan. Dia berjalan ke meja kerja Janpyo dengan badan tegak. Wajahnya terlihat serius. Dia membungkuk kecil kearah Mr. Choi, kemudian kepada Janpyo ketika sudah berada di depan mereka.

"Pak direktur! Jundi agashi dan tuan Michael sudah berada di luar .. ", lapornya dengan sikap hormat.



Janpyo mengangkat wajahnya. Dia memperhatikan wanita itu sejenak. Setelah berdeham pendek, dia mengangguk perlahan. Wanita itu membungkukkan badannya lagi. Kemudian mundur ke belakang. Setelah beberapa langkah, dia membalikkan badannya, menuju pintu ruangan kantor yang sangat luas itu.

"Ga In-ssi!!"

Panggilan tersebut membuat wanita itu menghentikan langkahnya. Dia berbalik, dan melihat Janpyo mengangkat tangan padanya. Ga In membungkuk perlahan.

"Biar saya saja .. ". Janpyo bangkit dari kursinya, dan berjalan kearah pintu. Sebelum itu, dia memberi isyarat pada Mr. Choi untuk menunggunya di situ. Song Ga In, sekertaris pribadinya, mengikuti dari belakang.

Janpyo sampai di depan pintu. Dia meraih gagang pintu dari perunggu dan membuka pintu ruang kantor yang terbuat dari kayu pilihan itu. Begitu keluar dari ruang kantor, Janpyo berjalan ke sofa, dimana Jundi dan Michael berada.

"Ikut saya ke dalam, Mike!", perintah Janpyo pada Michael. Kemudian, dia berpaling kepada Jundi yang terlihat cemberut di tempatnya, "Kamu tunggu di sini, Jundiya! Ingat, jangan kemana-mana! ... Nanti ikut oppa ke universitas Shin Hwa, sudah saatnya kamu mendaftarkan diri ke sana!"

"Yaaaaa, mengapa secepat itu?", protes Jundi. Dia langsung berdiri dari sofa dengan pandangan menantang.

Janpyo memperhatikannya sejenak. Dia tidak bersuara. Lalu dia membalikkan badan, berjalan kembali ke ruang kantor yang pintunya terbuka.
"Michael, masuk!!", kata-kata itu diucapkan tanpa memalingkan wajah ke belakang.

"YAAAAAAAAA OPPAAAAAAAAA!!!"

Jundi berpaling pada Michael dengan kesal. Pemuda itu mengangkat pundaknya sambil tersenyum memelas. Kemudian dia mengikuti Janpyo yang sudah lenyap dalam ruang kantornya. Setelah berada di dalam, terdengar sebuah perintah memasuki telinganya.

"Tutup pintunya!!". Janpyo berkata sambil meneruskan kegiatan menandatangani dokumen-dokumen yang belum selesai.



Michael mengangguk pelan. Ditutupnya pintu itu. Kemudian dia berjalan ke depan Janpyo, bersebelahan dengan Mr. Choi yang tersenyum kecil padanya.
"Anyongheseyo, Michael-ssi!"

Michael menganggukkan kepala perlahan.
"Anyong Mr. Choi, bagaimana kabar anda?"

"Baik!", jawab Mr. Choi pendek, masih dengan senyum di bibir.

"Duduklah!!", perintah tegas itu membuyarkan pembicaraan kaku antara Mr. Choi dan Michael. Janpyo mendorong tumpukan dokumen yang sudah selesai ditandatangani ke pojok kanan meja kerjanya, kemudian dia menghadapi Michael. Memandang pemuda itu dengan tampang serius.

Michael mengenyitkan alisnya. 'Ada apa dengan Janpyo? Dia tidak ingin pembicaraan ini terdengar Jundi! Pasti ada sesuatu yang serius!'. Michael menarik kursi di depan Janpyo, kemudian duduk di situ.
"Ada yang tidak beres, Janpyo-ya?"

"Jang Geun Suk sudah kembali!!", jawab Janpyo, tanpa basa basi.

"MWO?", mata Michael terbelalak lebar, "Maksudmu Geunsuk?"



Janpyo mengangguk pelan.

"Tapi .. mengapa bisa begitu? .. Setelah bertahun-tahun, .. Apakah ancamannya dulu itu beneran, Janpyo-ya?", tanya Michael bertubi-tubi.

"Entahlah!", jawab Janpyo. Dia mengalihkan perhatian ke pen berlapis emas dalam genggamannya. Diputarnya pen itu dengan tangannya.

Michael memajukan badan ke depan dan menatap Janpyo tak berkedip.
"Apa yang harus kita lakukan?", tanyanya.

Janpyo segera mengangkat wajahnya.
"Tidak ada!", jawabnya cepat, "Kita tidak tahu maksud kedatangan Geunsuk, jadi tidak ada yang bisa kita lakukan!", lanjut Janpyo. "Jaga Jundi baik-baik! Jangan membiarkannya berkeliaran seorang diri!"

Michael menganggukkan kepala tanda mengerti. Jadi itu yang mengkhawatirkan Janpyo hari ini. Sahabat yang sekarang merangkap majikannya ini nekad memintanya datang ke perusahaan Shin Hwa, sesuatu yang tidak pernah dilakukannya, karena ingin memberitahukan bahaya yang mungkin mengancam Jundi. Janpyo sangat mencintai adik semata wayangnya itu. Walaupun dia tidak pernah memperlihatkan perasaannya, Michael tahu pasti kalau Janpyo benar-benar menyayangi dongsengnya. Dia sangat mengenal pemuda yang di luar kelihatan dingin dan tidak tertebak padahal di dalam berhati selembut salju ini. Dia rela menjadi pengawal pribadi Jundi juga atas permintaan Janpyo.

"Kamu boleh keluar sekarang, Mike! tapi jangan kemana-mana! tunggu saya di luar! Saya akan mengantar kalian ke universitas Shin Hwa. Kita pergi bersama karena saya ada rapat penting dengan Mr. Kim setengah jam lagi ..", perkataan Janpyo membuyarkan Michael dari lamunannya.

Dia agak tersentak. Janpyo sempat melihat itu tapi dia tidak mengeluarkan suara. Michael menjadi risih. Dia terkekeh perlahan dan segera bangkit dari posisinya. Dia mengangguk kecil kearah Janpyo.
"Saya permisi ... ". Michael membungkuk pada Mr. Choi, kemudian berlalu dari situ.

Janpyo menghembuskan nafas perlahan. Semenit kemudian dia mengambil tas kerja dari kulit yang tergeletak di atas meja dan memeriksa isinya.
"Kita berangkat ke universitas Shin Hwa sekarang, Mr. Choi dan ... ", perkataannya terpotong ketika pandangannya menangkap sebuah amplop warna krem lembut terselip di antara dokumen-dokumen yang akan dibawanya ke acara rapat dengan para pengurus universitas Shin Hwa.

Amplop itu berisi kartu undangan peresmian J.M. Corporation Korea yang diberikan Mr. Choi kemarin malam yang belum sempat dibukanya. Karena terburu-buru berangkat dari rumah tadi pagi, dia memasukkan amplop itu begitu saja ke dalam tas kerjanya. Dan semua itu terlupakan sampai terlihat olehnya detik ini.

Janpyo mengambil amplop segiempat tersebut dari dalam tasnya. Dibukanya amplop itu dengan pisau pembuka surat. Kemudian dia mengeluarkan sebuah kartu dengan warna senada dari dalam amplop. Dibukanya kartu itu dan mengamatinya dengan seksama. Keningnya langsung berkerut.

"Mr. Choi! Ini .. ". Janpyo menyodorkan kartu ditangannya ke depan Mr. Choi. Telunjuk kanannya mengarah sebuah nama di atas nama Jang Geun Suk.

Mr. Choi memajukan badan ke depan, matanya agak menyipit untuk memperjelas pandangan ke nama yang tertera di atas kartu undangan itu.
"Lee Jae Min?", bacanya dengan pandangan bertanya-tanya.

"Anda mengetahui siapa dia?", tanya Janpyo.

"Anniyo .. ", jawab Mr. Choi.

"Di sini tercetak 'President of J.M. Corporation, .. Mr. Lee Jae Min'! ... Bukankah pemilik J.M. Corporation itu Mr. Mark Wills? Lalu siapa Lee Jae Min ini?"

Mr. Choi hanya membisu. Dia tidak mampu menjawab pertanyaan Janpyo karena dia benar-benar dibuat binggung dengan semua masalah ini.

"Mr. Choi!", tegur Janpyo.



"Sosoengheyo, doronim .. Saya terlalu ceroboh sehingga melewatkan data sepenting ini. Saya akan mengeceknya sekarang juga!"

Janpyo segera mengibaskan tangannya.
"Lupakan saja! Kita tidak punya waktu sekarang!".

Janpyo meraih tas kerja yang telah diperiksa ulang dan berjalan dari tempatnya. Mr. Choi membungkukkan badan dengan perasaan bersalah ketika Janpyo lewat di sampingnya.
"Soseongheyo, Janpyo doronim .. "

"Waktu kita tinggal dua puluh menit lagi, Mr. Choi!", kata Janpyo, seakan mengingatkan Mr. Choi untuk tidak membuang waktu percuma dengan semua penyesalan yang dirasakannya.

"Dee, doronim ..". Mr. Choi bergegas mengikuti langkah Janpyo.

Begitu sampai di luar, Jundi dan Michael langsung berpaling kearah mereka. Jundi masih kelihatan kesal. Bibirnya mengembung karena cemberut. Berlagak tidak melihat kekesalan itu, Janpyo melewatinya begitu saja, menuju meja kerja Ga In.
"Tidak ada penambahan jadwal untuk hari ini, Ga In-ssi!!", perintahnya tegas.

Ga In tersentak kaget. Laporan yang sedang digelutinya langsung terjatuh ke lantai. Dia segera berdiri dari kursi dan membungkuk hormat.
"Arasso pak direktur .. "

Janpyo berlalu dari hadapan Ga In, seakan tidak melihat kekagetan wanita itu. Dia melewati Jundi dan Michael, yang masih tidak beranjak dari posisinya.
"Kalian ikut dengan mobilku!", perintahnya, tanpa berpaling sedikitpun.

"MWO?", teriak Jundi, "Mengapa harus ikut mobil oppa? SAYA TIDAK MAU!!"

Janpyo menghentikan langkahnya. Tapi dia tidak berbalik. Dengan posisi yang sama, dia menjawab pertanyaan Jundi.
"Itu akan mengurangi polusi udara .. ", lalu dia meneruskan langkahnya lagi.

Sepasang mata Jundi langsung terbelalak lebar.
"Yaaaaaaaaa saya tidak pernah menimbulkan polusi udara!!! Saya selalu naik kendaraan umum!!"

Teriakan-teriakan keras dari Jundi tidak mampu menghentikan langkah Janpyo. Pemuda itu masih terus melangkahkan kakinya menuju lift yang terletak beberapa meter dari meja resepsi.
"Lalu apa bedanya dengan naik mobil oppa?"

Pertanyaan yang terlontar dari mulut Janpyo membuat Jundi membungkam. Dia ingin membalas tapi tidak bisa. Dia benar-benar dibuat mati kutu sekarang. 'Ya, lalu apa bedanya? Pasti ada! .... Huhhh tidak ada! Naik mobil Janpyo bahkan akan lebih cepat daripada naik kendaraan umum!'. Jundi mengigit bibirnya keras-keras sampai terasa nyeri.



Michael dan Mr. Choi yang melihat pertengkaran itu hanya tersenyum simpul. Apalagi Mr. Choi, dia terkekeh pelan ketika melihat Jundi terpojok oleh sikap Janpyo. Dia hafal sifat Jundi yang keras kepala dan tidak mau mengalah. Gadis muda enerjik ini selalu menang dalam segala hal. Tidak ada seorangpun mampu mengalahkan kekerasan hatinya, termasuk omma dan appanya, Jandi dan Junpyo.

Tapi dalam menghadapi seorang Janpyo, yang hanya berkata sekadarnya, tanpa gampang terpancing emosi, Jundi benar-benar tidak berkutik. Janpyo tidak pernah mau melayani sifat kekanak-kanakannya. Pemuda tenang dan berwibawa ini satu-satunya orang yang mampu mengendalikan sepak terjang Jundi.

------------------------------------


Mercedes hitam keluaran terbaru itu memasuki pelataran parkir sekolah Shin Hwa dan berhenti tepat di depan universitas Shin Hwa yang luas dan megah. Sekolah Shin Hwa terbagi dalam lima bagian, taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, menengah atas dan universitas Shin Hwa.

Bagi mereka yang berhasil memasuki sekolah Shin Hwa, boleh berbangga dan berlapang dada, karena selain merupakan sekolah paling bergengsi di Korea, sekolah Shin Hwa juga menyediakan fasilitas sekolah satu baris. Artinya, bagi para siswa yang berhasil memasuki sekolah Shin Hwa, tidak perlu lagi memikirkan pemilihan tingkat ke jenjang selanjutnya. Otomatis mereka akan diterima ke jenjang lebih tinggi, misalnya dari taman kanak-kanak ke sekolah dasar, sekolah dasar naik ke sekolah menengah pertama dan seterusnya.

Janpyo keluar dari mobil, diikuti Michael dan Jundi yang pintunya dibuka dengan sikap hormat oleh Mr. Choi. Dia berjalan menuju gedung universitas Shin Hwa yang saat itu sudah dipenuhi para siswa. Yang lain mengikutinya dari belakang. Suasana mulai heboh ketika para siswa wanita melihat kehadirannya di situ. Teriakan-teriakan keras terdengar. Janpyo berjalan tanpa terpengaruh kehisterisan itu. Kepalanya agak tertunduk, seakan tidak melihat keberadaan orang-orang di sana.



Di belakangnya, Michael tersenyum simpul melihat reaksi sedasyat itu terhadap kemunculan Janpyo, Mr. Choi berjalan dengan tenang dan badan ditegakkan, sedangkan Jundi dari tadi hanya cemberut saja. Sampai di depan pintu masuk gedung universitas Shin Hwa, Janpyo tiba-tiba menghentikan langkahnya. Dia berpaling ke belakang dengan wajah datar.

“Kalian tidak perlu mengikutiku ke dalam! Mr. Choi dan saya ada rapat penting dengan pengurus sini … Kalian bisa mengelilingi tempat ini sendiri!”, Janpyo mengalihkan perhatian pada Jundi, “Oppa akan membicarakan pendaftaranmu di sini dengan Mr. Kim!”

“Tidak perlu!!”, kata Jundi keras, “Saya bisa melakukannya sendiri!”

“Sudah oppa bilang kami ada rapat penting!!”

Janpyo memasuki gedung megah dihadapannya, tanpa berpaling terhadap teriakan keras Jundi.

“OPPAAAAAAA .. YAAAAAAAAA!!!”

“Sosoengheyo, agashi … tapi rapat ini memang sangat penting .. “. Mr. Choi membungkukkan badan, kemudian bergegas mengikuti Janpyo, yang sudah menghilang di tikungan lorong dalam gedung itu.

---------------


Dua jam kemudian ... Janpyo keluar dari ruang rapat dengan diantar Mr. Kim, rektor dari universitas Shin Hwa. Mr. Choi mengikuti mereka dari belakang dengan sikap sempurna. Tangan kanannya menjinjing tas kulit Janpyo, sedangkan tangan kirinya memengang sebuah file berisi dokumen hasil rapat tadi.

Mereka menyelusuri lorong panjang penghubung antar ruangan dalam kebisuan. Tidak ada yang mengeluarkan suara. Hanya bisikan-bisikan keras terdengar ketika mereka melewati para siswa yang berkerumun di sekitar situ. Para siswa wanita langsung berpaling dan mengerling penuh arti pada Janpyo.



"Mr. Kim!!". Janpyo tiba-tiba menghentikan langkahnya, tepat di samping ruang perpustakaan yang pintunya tertutup.

"Iya, direktur Goo ... ". Mr. Kim membungkuk perlahan.

"Pastikan semua berjalan lancar! Anda harus mengawas ketat pelaksanaan proyek ini! .. Saya tidak ingin terjadi kesalahan sedikitpun, terutama pendirian auditorium itu!", perkataan tegas dari Janpyo agak mengejutkan Mr. Kim. Sebenarnya masalah ini sudah dibahas dalam rapat tadi dan semuanya sudah sangat jelas. Dia tidak mengerti mengapa direktur muda ini menekankannya lagi.

"Arasso direktur Goo ... ", jawab Mr. Kim akhirnya.

"Satu hal lagi, arena iceskating akan dipindahkan ke ... ", perkataan Janpyo terpotong oleh suara halus di sebelahnya ... ceklikkkk .... Janpyo, Mr. Kim, dan Mr. Choi langsung berpaling ke samping. Pintu ruang perpustakaan terbuka dari dalam.

"OPPAA?", teriakan keras langsung terdengar ketika tiga orang gadis keluar dari sana. "Ottoke? Mengapa oppa bisa berada di sini?", Shinhye membelalakan matanya. Dia sangat terkejut, sekaligus gembira melihat kehadiran Janpyo di situ. Pemuda itu melirik sekilas padanya. Kemudian kepada Chaeyeong yang sedang tersenyum simpul, lalu berhenti selama beberapa detik ke mata Edys, sehingga membuat wajah gadis itu memerah perlahan.



"Ehemmmmm .. ". Mr. Kim mengangkat tangan ke bibir dan berdehem pelan.

Ketiga gadis itu segera menoleh padanya. Secara serempak mereka membungkukkan badannya.
"Mr. Kim .. ", sapa mereka bersamaan.

Lalu Shinhye melingkarkan tangannya ke lengan Janpyo. "Apakah oppa sudah makan siang? Bagaimana kalau kita makan siang bersama?", tanyanya manja.

"Oppa ada pembicaraan penting dengan Mr. Kim!". Secara halus, Janpyo menyingkirkan tangan Shinhye dari lengannya.

"Oppaa ... ". Shinhye langsung cemberut. Edys berusaha menariknya ke belakang. Tapi, Shinhye tidak bergerak dari posisinya.

"Ayo pergi, Shinhye-ya! Saya sudah sangat lapar!". Edys berkata penuh harap. Dia kembali menarik tangan Shinhye. Tapi gadis itu tetap tidak bergerak dari tempatnya.

Janpyo mendesah pelan melihat keteguhan sikap Shinhye. Dia lalu melirik Edys. Gadis itu terlihat pucat.
"Baiklah, kalau begitu tunggu oppa di luar!", kata Janpyo, tanpa mengalihkan perhatian dari Edys.

"HOREE!!". Shinhye langsung bersorak kegirangan. Dia meraih tangan Edys dan Chaeyeog untuk diajaknya berjalan ke halaman depan. "Saya tunggu oppa. Ingat jangan lama-lama!", teriak Shinhye dari pintu utama.



Janpyo menganggukkan kepalanya. Sesaat kemudian ketiga gadis itu sudah lenyap dari pandangan. Janpyo memusatkan perhatiannya kembali kepada Mr. Kim.
"Tentang arena iceskating itu ... ", lanjutnya, "akan dipindahkan ke atas bukit, sesuai dengan hasil rapat semula ... kalau Goo Jun Di, anda bisa memperlakukannya seperti murid biasa!"

"Ne direktur Goo .. "

"Ya, segitu saja!". Janpyo bermaksud melangkah dari situ tapi langkahnya segera berhenti ketika mendapati Mr. Kim masih mengikutinya, "Anda tidak perlu mengantarku, Mr. Kim!!"

Mr. Kim membungkuk hormat, "Ne direktur Goo, hati-hati di jalan .. "

Janpyo mengangguk kecil. Dia memutar tubuh kearah pintu utama dan menuju ke sana. Mr. Choi berjalan di belakangnya.

"Mr. Choi, bagaimana jadwalku?", tanya Janpyo, tanpa berpaling kepada orang di belakangnya.

Mr. Choi memindahkan map file ke tangan kanan dan merogoh ke dalam jasnya dengan tangan kiri. Dia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dan mempelajarinya dengan seksama.
"Tidak ada jadwal penting sampai rapat jam tiga sore, tapi ada janji makan siang dengan tuan Han dari A&G .. ", lapor Mr. Choi.

"Batalkan janji itu!!"

Mr. Choi tidak terkejut lagi dengan pembatalan janji mendadak yang dilakukan Janpyo. Majikannya ini sudah sering melakukannya kalau dia merasa janji itu tidak penting.
"Ne doronim .. "

Mereka meneruskan langkah sampai keluar dari gedung Shin Hwa. Edys, Shinhye dan Chaeyeong tampak menunggunya di halaman depan bangunan itu.

"Mr. Choi! Telepon Michael dan tanyakan padanya apakah mereka akan bergabung dengan kami atau tidak!", perintah Janpyo, sambil meneruskan langkah ke tiga gadis di depannya.

"Iya, doronim!". Mr. Kim berhenti tepat di depan pintu utama dan mulai melakukan perintah Janpyo.

"Oppa .. ". Shinhye berlari kearah Janpyo dan dia kembali melingkarkan tangannya ke lengan pemuda itu. "Oppa mau makan apa? Bagaimana kalau makanan Jepang kesukaan oppa?"

Janpyo tersenyum perlahan. "Kita makan makanan Perancis hari ini!"

"Weo? Bukankah oppa paling suka makan sashimi?". Shinhye memandanginya dengan pandangan bertanya.

"Siang ini oppa tidak ingin makan makanan mentah!", jawab Janpyo sambil melirik Edys.

Yang dilirik sama sekali tidak menangkap arti jawaban itu. Edys tidak menyadari kalau Janpyo melakukan itu demi dia. Pemuda itu tahu kalau dia tidak menyukai makanan mentah.

"Oppa aneh .. ", gumam Shinhye pelan.

Janpyo tidak menanggapinya. Pemuda jangkung itu berpaling kepada Mr. Choi, yang sekarang berjalan kearah mereka. Janpyo menaikkan alisnya, sebagai tanda pertanyaan pada Mr. Choi.

"Michael dan Jundi agashi sudah meninggalkan tempat ini setengah jam yang lalu, doronim ..", jawab Mr. Choi.

Janpyo menganggukkan kepalanya. Lalu tangannya terjulur ke depan.
"Kunci mobil!"

Mr. Choi merogoh ke dalam saku celana dan memberikan seuntai kunci pada Janpyo.

"Kamu pulang saja dulu! Saya akan kembali sebelum pukul tiga! Dan .. pesan ruangan khusus di restoran Amba untukku!".

"Baik doronim .. ". Mr. Choi membungkukkan badan, kemudian berlalu dari situ.

 Janpyo membuka pintu jok belakang dan mempersilahkan para gadis itu masuk ke dalam mobil. Yang pertama bergerak adalah Edys. Gadis itu mengangguk halus. "Gumawo ..", ucapnya pelan. Janpyo tersenyum, "Sama-sama .. ". Edys masuk ke dalam mobil dengan wajah memerah. Dia segera menundukkan wajah dan mengigit bibir keras-keras. Dia benci sekali kepada diri sendiri, terlebih lagi pada pemuda ini. BENCI ... SANGAT MEMBENCINYA, .. dia seperti orang idiot kalau sudah berhadapan dengan pemuda ini ...

Akhhhh ....

Teriakan keras itu membuat Edys mengangkat wajahnya. Keributan terjadi ketika Chaeyeong mendorong Shinhye ke belakang. Setelah berhasil menyingkirkan Shinhye, Chaeyeong segera membuka pintu samping kemudi dan duduk di bangku dalam mobil itu.

"YAAAAA HAN CHAE YEONGGGG!!!", teriak Shinhye. Dia langsung menoleh pada Janpyo, "Oppaaaaa ... ", rengeknya.

"Apakah kamu ingin menghabiskan waktu dengan pertengkaran percuma ini?", tanya Janpyo datar.

"Oppa .. ". Rengekan Shinhye memelan. Wajah Janpyo terlihat sangat serius sehingga membuatnya agak gentar.

"Masuklah!!", perintah Janpyo, dengan mengerakkan kepalanya sebagai isyarat supaya Shinhye masuk ke jok belakang yang pintunya masih ditahannya, dan duduk di samping Edys.

Shinhye menghembuskan nafas keras-keras. Dia sangat kesal dan marah pada Chaeyeong. Dengan sudut mata, dia memelototi Chaeyeong. Kemudian dia masuk ke dalam mobil dengan lesu.



"Gwencana?". Edys berusaha tersenyum padanya.

"Tidak! .. Chaeyeong selalu begitu!! Egois!", teriaknya keras.

Chaeyeong yang tidak terima dikatai begitu, langsung menoleh ke belakang.
"Enak saja! .. siapa yang egois? Saya duduk di bangku depan karena saya gampang mabuk!!", teriaknya tidak mau kalah.

"Lalu bagaimana dengan saya? Saya juga gampang mabuk?", balas Shinhye.

Plappppp ............ suara pintu ditutup dengan keras langsung menghentikan pertengkaran antara kedua gadis itu. Janpyo sudah duduk di bangku kemudi. Wajahnya terlihat kaku. Dia memasang sabuk pengaman, kemudian menghidupkan mesin mobil. Pandangannya terarah ke depan.
"Bisa berangkat sekarang?!". Pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban. Karena sekejap saja mercedes hitam itu sudah melaju ke depan. Suara mesinnya meraung-raung memekakkan telinga.

----------------------------------


Sepanjang perjalanan menuju restoran Amba, semua tenggelam dalam kebisuan dan pikiran masing-masing, kecuali ... Chaeyeong, yang dengan gencarnya melancarkan pertanyaan bertubi-tubi pada Janpyo.

Edys melirik Shinhye, yang duduk di sebelah, melalui ekor matanya. Tampang gadis itu sangat kusut dan pandangannya terarah keluar jendela. Dia duduk dengan agak merosot dari bangku mobil.



Edys mendesah perlahan. Dia merasa kasihan pada Shinhye, tapi di sudut lain dia juga bisa memahami kelakuan Chaeyeong. Dia sangat mengenal sifat dan keadaan keluarga Chaeyeong yang pas-pasan. Kehidupannya lain dengan dia dan Shinhye. Dia bisa memperoleh sesuatu hanya dengan usaha keras. Jika tidak, semua kesempatan akan terbang dari hidupnya. Karena itu, Edys tidak bisa menyalahkan gadis ini begitu saja.

Bertemu dengan seorang pemuda seperti Janpyo mungkin akan dianggapnya sebuah kesempatan. Kesempatan untuk terbang ke tingkat yang lebih tinggi. Menjadi bagian dari keluarga-keluarga terhormat se-Korea, bahkan sedunia. Bukan saja kekayaan Shin Hwa yang menarik perhatian Chaeyeong, Edys tahu pasti kalau kekayaan bukan satu-satunya syarat temannya ini memilih seorang pria, tapi juga parasnya. Seorang pemuda kaya dan tampan, itu yang menjadi incaran Chaeyeong. Dan Janpyo memenuhi semua syarat itu. Selain kaya, dia juga pintar dan sangat tampan.

"Ohhh, Tidakkk!!!". Edys mengigit bibir bawahnya keras-keras. "Sekarang dia mengakui ketampanan pemuda itu!!!".

Edys melirik Janpyo lewat kaca spion depan. Pandangan pemuda jangkung itu terpusat ke depan, tanpa terpengaruh sedikitpun dengan keberisikan Chaeyeong. Dia mengendarai mobilnya dengan tenang dan teliti. Setiap tikungan dan belokan dilaluinya dengan mulus. Cara mengemudinya sesuai dengan kepribadiannya yang penuh rahasia.



"Mengapa harus dia yang menjadi pemicu perselisihan Shinhye dan Chaeyeong? Andaikan orang itu bukan dia, Shinhye tentu tidak akan semarah ini! Dia tentu tidak keberatan dengan semua tindakan Chaeyeong!!", sesal Edys dalam hati.

"Janpyo-ssi, apa hobimu? Olahraga, ..  atau kamu suka mengikuti perkembangan fashion? Saya lihat semua pakaianmu bermerk terkenal dan keluaran terbaru .. ". Chaeyeong mengeser tubuhnya ke samping sehingga lengannya menempel ke lengan Janpyo.
"Janpyo-ssi!!"

Janpyo tidak bergeming. Pandangannya tetap tertuju ke depan.

"Kamu suka wanita tipe yang bagaimana?". Chaeyeong semakin mendekatkan tubuhnya.



"Saya sedang menyetir, Chae Yeong-ssi!!", ujar Janpyo datar, tanpa berpaling atau melirik sedikitpun ke gadis di sampingnya.

Chaeyeong terkekeh pelan. Lalu, tiba-tiba .. tangannya melingkar ke lengan Janpyo yang sedang memegang setir. Janpyo langsung berpaling padanya. Alisnya berkenyit dan pandangannya sangat tajam. Chaeyeong segera mengangkat tangan ke atas.
"Ok, fine! Saya tidak akan menganggumu menyetir .. "

Semua tingkah-laku mereka tertangkap jelas lewat kaca spion depan. Edys berpaling ke samping dan melihat api amarah memancar keluar dari mata Shinhye. Tapi itu hanya sesaat. Detik berikutnya, Shinhye melemparkan pandangan keluar jendela lagi.

Edys menghembuskan nafas perlahan. Mercedes hitam yang mereka tumpangi mulai melambat lajunya ketika rambu lalu lintas di persimpangan jalan yang mereka lalui memerah. Edys melemparkan pandangan ke depan lagi.  Secara naluriah perhatiannya terpusat ke kaca spion depan.

Dan, dia melihat sesuatu yang mengerikan sedang terjadi di jok depan. Chaeyeong merapat ke badan Janpyo dan mendaratkan bibirnya ke bibir Janpyo. Bibir mereka menempel selama beberapa detik. Ciuman kilat, tapi cukup membuat dunia Edys terguncang hebat. Sepasang mata hijaunya terbelalak lebar dan mulutnya mengangga. Edys langsung berpaling kearah Shinhye, dan .. fuhhhh dia langsung bernafas lega ketika melihat Shinhye masih dalam posisi semula. Pandangannya masih terarah keluar jendela.

----------------------------------


Keluar dari restoran Amba, atmofir di antara mereka menjadi tegang. Edys tidak mengerti mengapa bisa begitu. Janpyo, itu bisa dimaklumi karena pemuda itu memang dasarnya pendiam. Shinhye juga begitu. Dia masih marah dengan tindakan Chaeyeong. Kalau Chaeyeong, ini yang tidak dipahaminya. Sejak pertengahan acara makan siang sampai meninggalkan restoran Amba, tampang Chaeyeong sangat keruh. Tidak ada senyuman terhias di wajahnya yang runcing dan cantik. Dia berjalan mendahului mereka dengan tangan terkepal erat dan diam seribu bahasa. Sangat berbeda dengan Chaeyeong ceria yang dikenalnya.

"Saya akan mengantar kalian sampai ke rumah!". Janpyo memecahkan kebisuan antara mereka dengan suara khasnya yang agak serak dan dalam.



"Tidak usah!!!". Chaeyeong berbalik menghadapi Janpyo dengan sikap menantang. "Saya tidak memerlukan bantuanmu!! Saya bisa pulang sendiri!!". Chaeyeong berlari meninggalkan mereka dengan kecepatan luar biasa. Dalam sekejap, sosoknya sudah menghilang di balik tikungan sebuah toko kacamata. Dari tempatnya, Edys memandangi kepergian sahabatnya itu dengan pandangan bertanya.

"Naik ke mobil, - Kita berangkat sekarang!!"

Perkataan tegas dari Janpyo membuat Edys berpaling. Masih dalam kebinggungan, dia masuk ke jok belakang yang pintunya sudah dibukakan pemuda itu. Plappp ... Janpyo menutup pintu mobil dan masuk ke bangku kemudi bagian depan.

Dalam sekejap, mercedes hitam itu kembali membelah jalan kota Seoul yang cukup ramai siang itu. Limabelas menit kemudian, mobil itu berhenti di depan sebuah rumah besar bercat putih yang dikelilingi taman mawar yang sangat luas.

Shinhye keluar dari mobil dengan dibantu oleh Janpyo. Edys memperhatikan mereka berdua dari bangku belakang. Shinhye masih terlihat cemberut. Bibirnya maju hampir secenti ke depan. Sekali lagi, Edys menghembuskan nafasnya.

"Kamu tunggu di sini, saya akan segera kembali!". Janpyo tiba-tiba menjulurkan leher kearah Edys. Gadis itu sangat terkejut. Dia tidak bisa berkata apa-apa terhadap perbuatan mendadak itu, selain mengangguk gugup.

Detik berikutnya, Janpyo menjajari langkah Shinhye. Dia tidak bersuara sampai mereka berhenti tepat di depan pintu rumah Shinhye.

"Masuklah!", suruh Janpyo.

"Oppaaa .. ". Shinhye kembali merengek. Dia memandangi Janpyo dengan sikap memelas. "Mengapa oppa tidak bantu saya menghadapi Chaeyeong?"

"Masuklah sekarang juga! Oppa tidak punya waktu menjelaskannya padamu!". Janpyo melirik jam channel dari kulit yang melingkari tangan kirinya, pukul 2 lewat 30. Setengah jam lagi dia harus kembali ke gedung Shin Hwa. Dan dia masih mempunyai tugas mengantar Edys ke Yoon's mansion. Waktunya terlalu mendesak untuk meladeni semua sikap kekanakan Shinhye.

"Oppaaa ...". Suara rengekan itu terdengar lagi. Shinhye mengoyangkan badannya berkali-kali. Dia terlihat seperti anak kecil.

"Oppa akan meneleponmu nanti malam!". Setelah mengatakan itu, Janpyo berbalik ke mercedes hitam yang terparkir sekitar duapuluh meter dari situ.

"OPPAAA!!"

Teriakan Shinhye tidak dihiraukannya. Janpyo membuka pintu mobil dan menjatuhkan diri di bangku kemudi.

"Heiii ... Shinhye memanggilmu!". Sebuah suara terdengar dari belakang.

Janpyo menoleh pada Edys. "Pindah ke sini!", perintahnya, pendek dan jelas.

"Mwo?"

Janpyo berdecak halus. Dia memajukan badan ke pintu mobil yang bersebelahan dengan pintu kemudi, dan membukanya. "Masuk dan duduk di sini!"

"Mengapa? Untuk apa?", tanya Edys tajam.

"Saya tidak ingin terlihat sebagai sopirmu!", jawab Janpyo. Sambil memusatkan perhatian ke depan, dia mulai menghidupkan mesin mobil.

Edys mendesah keras. 'Alasan yang sangat bagus, Janpyo-ssi!!', jeritnya dalam hati. Dia berpindah ke bangku depan dengan langkah lemas.



Mercedes hitam itu kembali melaju di jalan raya. Sepanjang perjalanan tidak ada yang mengeluarkan suara. Edys tenggelam dalam pikirannya, sedangkan Janpyo memusatkan perhatian ke gagang kemudi. Tujuh menit kemudian, mobil itu memasuki halaman depan Yoon's mansion. Mereka keluar dari mobil secara bersamaan.

"Ehmmm .. mengapa kamu melakukan itu?". Pertanyaan Edys memecahkan kebisuan antara mereka.

"Mwo?", tanya Janpyo dengan pandangan tajam.

"Shinhye dan Chaeyeong! Mengapa menyulut pertikaian antara mereka?"

"Apa saya yang memulainya?". Janpyo balas bertanya.

Edys semakin kesal. Dia mendelik pada Janpyo.
"Saya bertanya padamu, mengapa kamu selalu balik bertanya padaku?"

Kali ini Janpyo tidak membalas pertanyaan Edys. Pandangannya dialihkan ke depan, dan dia mulai melangkahkan kaki menuju rumah besar Yoon. Edys mendesah perlahan, dan mengikutinya dari belakang. Kebisuan kembali menyelubungi keduanya.

"Mengapa mencium Chaeyeong?". Edys mengajukan pertanyaan lagi. Suaranya terdengar bergetar. 'Apa bukan kesalahan mengajukan pertanyaan itu?', Edys mengeleng perlahan.

Janpyo menghentikan langkahnya dan menatap lekat ke mata Edys.
"Saya tidak menciumnya!"

"Ok .. ok, kamu tidak menciumnya!", Edys mengerakkan tangan berkali-kali, "Tapi mengapa kamu tidak menolaknya? Kamu tahu bagaimana perasaan Shinhye padamu kan?"

"Apakah kamu lebih memilih saya mempermalukan sahabatmu itu secara langsung, dengan cara menolaknya dan mengatakan perbuatannya itu tidak pantas?"

Edys langsung terdiam. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Chaeyeong jika Janpyo melakukan semua itu, menolaknya secara langsung. Seorang gadis sesempurna Chaeyeong tentu akan merasa itu penghinaan besar.

Mendadak keadaan sekitar Edys menjadi redup. Sinar matahari siang yang tadi bersinar terik terhalangi oleh sesuatu yang tiba-tiba hadir dihadapannya. Edys segera mengangkat kepala ke atas. Sosok itu membuatnya terpana. Janpyo sekarang berdiri begitu dekat dengannya.

"A .. a .. pa .. yang .. akan .. ka .. kamu lakukan?", tanya Edys gugup. Dia berusaha mundur ke belakang, tapi sepasang kakinya tidak bisa digerakkan.

Janpyo menundukkan wajahnya sehingga jarak antara mereka semakin dekat. Hanya terpisah 5 senti. Pandangan mereka bertemu dan desah nafas yang teramat halus terdengar jelas.

"A .. a .. pa .. maumu?"

"Mengembalikan ciuman itu padamu ...", kata Janpyo pelan.

Mata Edys terbelalak lebar. Sedangkan wajah Janpyo semakin mendekat ke wajahnya. Sepasang mata pemuda itu terpejam. .. 5 cm ... 4 cm ... 3 cm ... 2 cm .... dan ... entah kekuatan apa yang mendorong Edys ikut memejamkan matanya. Sesuatu yang lembut dan hangat mendarat di bibirnya. Tubuh Edys langsung menegang. Sepasang lututnya lemas dan dia merasa akan tersungkur ke depan jika bukan gengsinya tidak mengijinkan untuk itu. Dia bertahan di posisinya. Tidak bergerak dan tidak membalas ciuman itu. Janpyo mengecup lembut bibirnya, setelah itu dia menarik diri ke belakang.



"Sampai bertemu lagi, Jilly-ya!!"

Salam itu membuat Edys membuka mata perlahan.
"Jilly .. ?", desahnya halus. Tapi tidak terdengar jawaban atau sahutan dari Janpyo karena pemuda itu sudah menuju ke mobilnya. Sebentar saja, mercedes hitam itu sudah meninggalkan halaman rumah besar Yoon.

"Hanya ciuman pendek, tapi mengapa .....", tanpa sadar, Edys mengigit bibirnya. "Saya sudah pernah berciuman lebih bergairah dari itu, tapi mengapa baru kali ini saya merasakan yang seperti ini? Saya hampir tersungkur tadi! .. Tubuhku lemas semua ... GOO JAN PYO!! Kamu benar-benar racun! .. Saya benci sekali padamu! .. Saya tidak suka perasaan ini!!"



Edys berlari ke dalam rumah dengan berbagai pertanyaan dan pikiran yang berkecamuk dalam otaknya.

-----------------------------

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile

karena chp ini kepanjangan and ga kepost dlm satu halaman jd chp terakhir gw post di halaman berikutnya [biggrin] [biggrin]

@sis bultang, bisa ga dicopy ke sini, tar reply di sana di remove aja [biggrin]


ps : sambungan dari chp di atas [hmpfh] [hmpfh]





Edys sedang menekuni sebuah buku tebal tentang anatomi manusia ketika, brukkkkkk ..... setumpuk majalah mendarat tepat dihadapannya. Edys segera mengalihkan perhatian ke tamu tidak diundang itu. Chaeyeong menjatuhkan diri ke salah satu kursi kayu yang mensejajari meja panjang tersebut.

"Apa yang kamu lakukan?", tegur Edys dengan bisikan yang ditahan. Dia segera menangkap pandangan tajam dari kepala perpustakaan akibat keributan kecil tadi. Edys tersenyum perlahan pada wanita berkacamata tebal itu. "Sosoengheyo, Yoona-ssi .. ", ucap Edys pelan.

Kemudian dia beralih pada Chaeyeong lagi, "Ada apa?"

"Semua majalah itu berisi interview tentang Goo Jan Pyo!!", jawab Chaeyeong, tanpa berusaha mengurangi volume suaranya.

"Mwo? Untuk apa kamu mengubek interview tentang dia? Upsss ..". Edys langsung menutup mulut dengan kedua tangan ketika suaranya terdengar mengema dalam ruang perpustakaan itu. Dia segera mengangguk ke Yoona dan mengangkat tangan ke atas sebagai tanda permintaan maaf.

"Saya ingin tahu orang macam apa dia! ...  Apakah kamu bisa menebak apa yang dikatakannya padaku di restoran Amba kemarin siang?", tanya Chaeyeong dengan emosi yang ditahan.

"Mwo?"

"Dia berkata kalau saya bukan tipenya!! ... Apakah kamu bisa membayangkannya Edysya?! .. Seorang pria berkata kalau dia tidak tertarik padaku dan saya bukan tipe wanita yang disukainya!! .. SUNGGUH MEMALUKAN!!"

"Heii .. tenanglah, Chaeyeong-ya ... ". Edys menempelkan tangan ke pundak Chaeyeong dan berusaha menenangkannya. Wajah sahabatnya itu sudah merah padam. Dan ini untuk pertama kalinya Edys melihat Chaeyeong semurka ini.

"Tenang? Bagaimana saya bisa tenang? .. Dia menganggap dirinya hebat, huhhhhhh walaupun .. ", Chaeyeong menyentuh bibirnya, "Walaupun bibirnya sangat sedap, tetap saja dia tidak punya hak berbuat begitu!!!". Emosi Chaeyeong semakin tak terbendung. Sinar matanya seakan siap melahap semua yang tertangkap oleh pandangannya.



Edys mendesah perlahan. Wajahnya menjadi sayu. Masalah yang mereka hadapi semakin rumit dan semua itu gara-gara satu orang, GOO JAN PYO. Chaeyeong, yang melihat perubahan wajah Edys, mulai memelankan suaranya.
"Sudahlah, percuma saya membicarakannya denganmu! Kamu tidak akan mengerti bagaimana perasaanku, ..  saya mulai tertarik padanya karena ciuman itu, tapi setelah itu terpuruk oleh penolakannya ... Kamu tentu tidak bisa membayangkan bagaimana lembut dan lengketnya bibir itu!!"

Edys memejamkan mata perlahan dan mengigit bibir bawahnya keras-keras. Bagaimana mungkin dia tidak mengetahui bagaimana rasanya bibir itu, kalau kemarin bibir itu sudah menempel di bibirnya? Bibir yang lembut dan hangat. Edys mendesah pelan, lalu matanya menangkap sosok Shinhye memasuki ruang perpustakaan.

"Shinhye-ya .. ", panggil Edys sambil melambaikan tangan pada Shinhye.

Gadis itu mendekati mereka. Dan tampangnya langsung cemberut begitu melihat Chaeyeong juga berada di situ.
"Puas sekarang?!!", tanyanya dengan nada sinis.

"Mwo?", balas Chaeyeong.

"Kemarin malam oppa meneleponku dan ... dan untuk pertama kalinya selama kebersamaan kami, oppa mengatakan kalau .. kalau dia hanya .. hanya menganggapku sebagai dongseng. Hanya seorang dongseng, Tidak lebih dari itu! Jadi kamu sudah puas kan sekarang!! Semua ini gara-gara kamu!!", teriak Shinhye keras, sehingga menyebabkan para siswa yang berada dalam perpustakaan itu segera memalingkan wajah kearah mereka.

"Hoo .. kamu menyalahkanku? Paboya, oppamu juga tidak tertarik padaku! Dia menolakku mentah-mentah! ... Sekarang saya jadi berpikir, mungkin oppamu itu gay!!"

"HAN CHAE YEONG!!"

Tampang Chaeyeong mengeras. Dia mengambil tas besar yang diletakkan di atas meja dengan kasar.
"Saya tidak punya waktu bertengkar denganmu!"
Chaeyeong keluar dari ruang perpustakaan dengan langkah lebar.

"HAN CHAE YEONG!!"

"Heii kalian!! Keluar dari sini kalau masih ingin ribut!!". Teriakan Yoona membuat ruangan itu langsung hening.

Shinhye menjatuhkan diri ke kursi dihadapan Edys. Tampangnya sangat kusut. "Han Chae Yeong! Saya benci sekali padanya!!"

Edys menghembuskan nafas kuat-kuat. Pertikaian antara Chaeyeong dan Shinhye semakin hebat. Dan dia tidak yakin bisa menjadi orang tengah yang mampu menyelesaikan pertikaian antara keduanya, karena .... karena sekarang dia juga termasuk dalam kelompok yang bertikai itu. Perang dunia ketiga, keempat atau kelima mungkin akan meledak kalau mereka mengetahui ciuman kemarin siang. Dan semua gara-gara pemuda itu.

"Goo Jan Pyo, mengapa kamu selalu melibatkanku dalam urusanmu?". Pandangan Edys meredup perlahan.


------------------------------






EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline neiya

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1006
  • Location: depoook
    • View Profile
Friiiist

Wow.. Janpyo ternyata diem" menghanyutkan juga ya miii..

Masii bete ni ama junpyo. Kok ya sm janpyo bgitu bgt c :(

Kyknya chapt 3 bakalan ada perang prusahaan ya mi -,- ?? Sm perang persahabatan shinhye,jhae,sm edys 'o'

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
neiya, yup chp tiga konfliknya makin komplit, pembukaan j.m dan kembalinya geunsuk, klu ttg chaeyeong sih lupakan aja dia, dia udah kembali ke seulong gara2 ga diubris janpyo [smiley-dance013] [smiley-dance013]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
holaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa maaaaaaaaaaaaamiiiiiiiiiiiiiiiiiii i'mmmm comiiiiiiiiiiiiingggggggggggggggg  [hmff] [hmff] [hmff] [hmff]

wah wah lama ndak ol eh ada yg update  [hmff] [hmff] [hmff]

gud gud dah mi ada JGS juga  [chin] [chin] [chin] jangan2 ntar terakhirnya ma Shin Hye neh  [hmff] [hmff] [hmff]

mi keren banget ceritanya lebih keren dr ME I  [hmff] [hmff] [hmff] malah disini dah bisa bayangin JP yg dah tuwir n peyutnya ndut  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

mi mi yg 30 days dah di update sekalian lom mi  [head break] [head break] [head break] [hmff]

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
noona b, enak aja minta updatean tdc, nih gw [head break] [head break] [head break] baru hilang puyengnya nih abis bikin chp ini [hmpfh] [hmpfh] ...
my everything kan cuma cerita ringan say, klu ya ini konfliknya lebih komplit and rumit, makanya utk yg ini ga ada M versionnya [hmpfh] [hmpfh] gw cuma mau memusatkan cerita ke pertikaian shin hwa and j.m, dan jg usaha janpyo utk mendptkan edys [biggrin]
wlp edys udah suka ama janpyo, ttp aja susah membuatnya bertekuklutut karena sifatnya emang keras kepala [sweat] [sweat]
shin hye ga bakal dipasangin ama geunsuk [head break] [head break] emangnya ff elu whistling gw lebih sreg ke michael [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Amira

  • Police
  • Senior
  • *****
  • Posts: 613
  • Location: East kal
    • View Profile
Mami, sudah aku kasih tahu si Likonya tuk post ulang aja & nanti yang di sono di remove...
Iya mam, updatean mami yang ini juga nongol di sana lho, tadi aku malah tahu mami update di sono & baru aku kemari, ternyata di mari juga sudah updated.

Aku sebel mi ama karakter Chae Yeong, main nyosor aja tapi ada bagusnya juga sih karena dibalikin ke edys [laughing] sampe edys jadi lemes baru ciuman lembut begitu gimana nanti klo ciuman junpyo yang ganas ya mi..
Bakal banyak masalah nih di chap berikutnya, masalah perusahaan ma pribadi tapi klo pribadi sepertinya tidak terlalu rumit kecuali si geunseuk hadir diantara janpyo & edys...

Mi, chap selanjutnya jangan lama-lama ya [laughing][laughing]...*kabuurrrr sebelum di [hammer] & [head break] sama mami....

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
oalahhhh neh kenape forum jadi aneh ye suka pindah2 sendiri  [hmff] [hmff] [hmff]


mami  [head break] [head break] [head break] [head break] [hmff] tetep pengen nge  [head break] [hammer] loe  [hmff] kuk ma si michael seh mi kl dia mah aku setuju ma si jundi aje lah mam yah yah yah  [cheekkiss] [arms] [hmpfh]

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
sis bultang, tenang saja gw ga bakal mempersulit masalah dengan melibatkan geunsuk dalam hubungan janpyo dan edys [biggrin] [biggrin] pokoknya ff ini cukup membeberkan semua keromantisan janpyo yg kagak terlht selama ini [hmpfh] [hmpfh]

and kira2 si lee jae min tuh siapa ya [chin] [chin] bakal muncul di chp2 akan datang ga nih [hmpfh]

noona b, [nono] [nono] [nono] jundi tuh persiapan buat cerita selanjutnya [hmpfh] lagian si michael cuma menganggap jundi sbg dongsengnya [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

fara

  • Guest
My Everything II
« Reply #175 on: April 22, 2010, 10:18:36 am »
Mami love, thanks ya udh diupdate chap 2nya [clap] [clap] [clap]...

Kyknya geunsuk di sini peran'y jahat ya?
Trus sptnya akan jadi orang ke3 di hubungan jandys ya mi?

Btw, ada part kissing jg mi...
Wuihhh di edys udh pernah kissing yg lbh dahsyat daripada ma janpyo mi?? [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
Mantan'y edys siapa mi??
Yg orang jepang ma amrik itu bukan??

Btw, jadi penasaran sama aksi balas dendam'y geunsuk ke janpyo mi...
[what] [what] [what]   

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
fara, ex si edys bukan cuma org jepang and amrik itu, exnya tuh seabrek [hmpfh] maklum say dia kan sering bertualang dr negara satu ke negara lain [laughing] .. and udah gw jelasin di atas kok klu si geunsuk kagak bakal jd org ketiga dlm hubungan jandys [biggrin] ..
balas dendamnya gimana elu tunggu aja deh [devil2]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
asyik  [jumpy] asyik  [jumpy] asyik  [jumpy] asyik  [jumpy] asyik  [jumpy]

penantian ku akhirnya berakhir juga....

makasih mi buat apdetannya...

tapi belum sempet baca...

mo kekampu nieh...

ada kuliah pagi...

makasih banyak ya mi...

 [cheekkiss] [cheekkiss] [cheekkiss] [cheekkiss] [cheekkiss] [cheekkiss]

 [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
cihuyyyyy udah diupdate thanks mamiku tayank [hug] [cheekkiss]

ni prasaan pd demen ye make geun suk ada dimana2 hehehe [biggrin] [biggrin] [biggrin]

weeeee ada kissu nya jg tp knapa cuma sbentar mam kissu nya pengen yg lebih HOTZZZ lagi kissu nya [kiss] [kiss] [kiss] [on] [on] [on] [on] [on]

bakalan seru ni chap slanjutnya hayulah mam update lagi GPL whistling whistling whistling di [head break] [head break] [head break] sm mami minta update lg


ADAM COUPLE SELCA

Offline Amira

  • Police
  • Senior
  • *****
  • Posts: 613
  • Location: East kal
    • View Profile
Oh gitu ya mi, asyik dah klo bahasannya ttg hubungan jandys aja...
Jadi my everything 3 ttg jundi sama unknown itu ya mi ?