Author Topic: HEAVEN - Chapter Nine of Tomorrow (26th July 2010)  (Read 13338 times)

Offline minyounglee

  • Admin
  • Junior
  • *****
  • Posts: 165
    • View Profile
HEAVEN - Chapter Nine of Tomorrow (26th July 2010)
« on: April 04, 2010, 05:12:51 pm »




***




When it started, there was nothing left but her body. She whose I love and still be loved forever...


HEAVEN
by Minyounglee

“Tadaaaa!! Bagaimana? Ini sempurna kan? Persis seperti yang kau mau!” Aku berteriak semangat setelah membuka kedua tanganku yang menutup matanya.
Hye-Sun berdiri mematung dengan mulut membentuk huruf O. Tak bisa bereaksi apa-apa setelah melihat rumah idaman kami yang kubangun diam-diam setahun terakhir ini.
“Jeong Min-Ho!”
“Um?”
“Apakah ini benar rumah kita?”
“Ya..,tentu saja!! Persis seperti yang kau mau kan?”
Hye-Sun mengganguk pelan, matanya menerawang kagum dari sudut ke sudut. Rumah di hadapan kami ini memang sempurna, jauh dari rumah-rumah lain, begitu tenang dengan banyak unsur kayu, juga natural karena aku sengaja menanam pohon disekitar. Hanya membutuhkan waktu satu tahun rumah ini bisa berdiri sempurna dibawah awan biru seperti sekarang. Aku dan Hye-Sun baru saja menikah minggu kemarin dan kami akan segera pindah ke rumah ini. Kejutan bagi Hye-Sun karena ia tak tahu apa-apa soal rumah ini dan mengira kami akan menumpang sementara di rumah Aboji setelah menikah, padahal aku sudah memperisapkan semua sebelum melamarnya. Oh, awal dari pembangunan rumah ini adalah ketika aku dan Hye-Sun berbincang pada suatu malam, ia bilang ingin sekali tinggal di rumah yang ‘berteman’ dengan alam. Jadi diam-diam aku mewujudkan keinginannya. Melihat dia bahagia, perasaanku menjadi sangat sejuk. Senyumannya membuatku luluh.
“Aku ingin masuk!” Hye-Sun menarik-narik sebelah tanganku tak sabar.
“Araseo…,araseo..,kau ini begitu tak sabar..,”kekehku gembira.
“Eh, salah sendiri kau tidak bilang padaku tentang rumah ini. Makanya sekarang aku jadi begitu bersemangat,” Hye-Sun pura-pura memasang muka cemberut, membuatku ingin mencubit kedua pipi merahnya.
“Yya, kalau aku memberitahumu, ini bukan kejutan lagi,” belaku.
Ia hanya tersenyum tanpa menjawab seiring kami melangkah memasuki halaman rumah. Rumah yang akan menjadi wadah masa depan kami, menjanjikan kebahagiaan sampai hari tua kami esok.
“Pasti Nam-Kyu dan Jae-Hee akan bermain gembira di halaman ini. Benar-benar sejuk dan sempurna.” Hye-Sun menghentikan langkahnya sejenak ditengah hamparan halaman luas rumah kami, ia menutup mata dan menghirup udara dalam-dalam disela angin yang mengembus dengan suara ‘hyuu’ pelan.
Ia pasti sedang berkhayal. Hal yang disukainya berkhayal. Bahkan yang membuat aku tertawa sendiri, ia sampai menciptakan nama untuk anak-anak kami kelak, jauh sebelum waktu kami menikah. Jeong Nam-Kyu dan Jeong Jae-Hee. Sepasang, lelaki dan perempuan.

***

“Aduh! Aku tak bisa menemukan dimana bungkus kopi yang biasa itu!” Hye-Sun mengeluh kesal sambil mengaruk-garuk kepala, alisnya mengeriyit dalam.
Ia memang suka begitu, selalu lupa. Kadang aku mengejekknya dengan panggilan  ‘Old Haelmoni’.
“Wajar saja sih, kau memang dasarnya pelupa. Apalagi kita masih baru pindah kesini selama seminggu. Jadi maklum kalau belum terbiasa menghafal letak-letak barang,” ujarku tenang, rumah ini sangat besar, aku sudah menduga ia pasti akan melupakan sesuatu. Mendengar itu Hye-Sun mendengus sekeras-kerasnya, ia paling tidak suka diingatkan pada kenyataan yang berkata bahwa dirinya adalah pelupa akut sejak entah kapan.
Aku duduk dan mulai memakai dasi sendiri ketika Hye-Sun memekik keras,”Chakamanyo!!”
“Wae?”
“Biar aku yang pakaikan dasi itu,” tampang polos Hye-Sun membuatnya terlihat sangat manis. Ia berlari kecil menghampiriku dan menyambar dasi bermotif kotak-kotak bewarna hitam coklat dari genggamanku.
“Ingat kau sudah punya istri. Mulai sekarang aku tidak akan mengijinkanmu memakai dasi sendiri Jeong Min-Ho,” kata Hye-Sun menegaskan. Kedua matanya terfokus melipat dasi itu melingkari kerah kemeja putihku dengan rapi. Hye-Sun yang serius membuatku menahan tawa, dulu waktu kami pacaran, ia tidak pernah serius, selalu bermain-main, ketika AprilMop masih berani mengerjaiku dengan mengatakan ‘Kita putus’. Membuat orang jantungan saja. Tapi makin diingat-ingat, kejadian itu terasa semakin konyol sekarang.
“Selesaiiiiiiiiii!!!Yeay,” Hye-Sun mengangkat kedua tangan bangga seolah ia baru memenangkan lotere, baginya pekerjaan mengikat dasi adalah hal yang susah, percaya atau tidak. Memasak juga begitu, beserta semua pekerjaan rumah tangga lain, Hye-Sun adalah wanita tomboy dengan tampang lembut, jadi jangan tertipu melihat muka malaikatnya, apalagi kalau ia tersenyum. Tampang yang sangat menipu.
Aku tertawa melihat kelakuannya dan ia membalas dengan senyum simpul. Aku bangkit dan ,membawa dirinya kedalam pelukanku.
“Apakah hari ini akan lembur?”tanyanya cemas, ia benci ditinggal di rumah sendirian.
Aku memasang tampang bingung menunjukkan ketidakpastian, “Tidak tahu juga. Memang kenapa?”
Hye-Sun menggeleng. “Tidak, hanya bertanya.” Aku bisa melihat gurat-gurat wajahnya berkata ‘Kau memiliki ribuan karyawan, mengapa harus lembur?’ tetapi tentu saja ia menahan kata-kata itu untuk keluar dari mulutnya.
Kecupan kecil mendarat di pipiku, sambil lalu Hye-Sun bertanya lagi,” Jadi kau pulang jam berapa?”
“Em, secepatnya,” janjiku.
“Bohong?” Hye-Sun menuding, bibirnya membentuk U terbalik.
Aku mencubit sebelah pipi Hye-Sun dan mengacak rambut panjangnya gemas, “Secepatnya untuk bertemu istriku yang cantik, baik, manis.. Begini sudah bisa?”
Mata Hye-Sun menyipit, lalu senyuman mulai mengembang di wajahnya. Ia mengedipkan sebelah mata dan berkata, “Mungkin. Tapi masih kurang. Bayarannya nanti malam saja, aku juga punya kejutan untukmu. Sudah kau bisa terlambat. Sana pergi..Shoo..Shoo!!” Hye-Sun melepaskan dirinya dari pelukanku dan mendorongku keluar dari ruang makan.

***


Hari menjelang malam ketika aku sedang menandatangani proposal kontrak yang datang selama aku cuti seminggu terakhir. Aku sudah lelah tapi dicegat pulang oleh pekerjaan. Sebagai CEO Perusahaan ayah, tentu aku bertanggung jawab atas banyak hal.
“Tuan, istri anda menunggu di line 3,” Miss Kim sekretaris pribadiku memberi tahu dari balik pintu, lalu ia cepat-cepat kabur karena malam ini atau lebih tepat setiap malam, semua karyawan terlalu sibuk untuk bersantai-santai tidak jelas.
Sebelah tanganku meraih gagang telepon dengan segera tanpa berhenti menandatangani lembaran kertas kontrak,”Yeobseo!?”
Yya Jeong Min-Ho!
Aku mengeriyitkan dahi, Hye-Sun pasti sedang siap-siap mengoceh karena aku belum pulang. Lalu ia akan pura-pura marah, lalu aku harus membujuknya dengan seribu satu jurus, lalu..lalu.. Oh tidak, jangan sekarang, waktunya tidak tepat, pekerjaan ini sudah cukup membuatku pusing..!!!!!
Jemput aku di Mini Market 7,” pinta Hye-Sun, suaranya terdengar datar.
Hah? Hanya itu? Sejenak aku mengira pendengaranku telah salah, tapi kelihatannya tidak. Dugaan itu meleset, ia tidak mengoceh, tetapi memintaku untuk menjemputnya di Mini Market 7. Masuk akal? Sesimpel itu permintaannya malam ini? Apa ia mau mengerjaiku?
“Tapi, aku sedang sibuk. Kau kan tahu, aku sudah cuti selama seminggu dan pekerjaanku sekarang menumpuk dengan gila. Miyane, Hye-Sun kau bisa pulang sendiri kan tentu,” jelasku berusaha selembut mungkin agar terhindar dari amukannya. Ia pasti bisa pulang sendiri, ia selalu bisa, Hye-Sun adalah wanita yang mandiri sejak dulu, mungkin sekarang ia hanya ingin bermanja-manja denganku saja. Aku yakin itu.
Min-Ho,”ia memanjangkan suaranya dan menghela nafas. Pertanda buruk.
“Em?”
Aku lupa jalan ke rumah baru kita.”
Dan ya itu buruk, sifat pelupanya terus kambuh sejak kami menikah.
“Tunggu aku.”

***

Kami terdiam tidak mengucapkan sepatah katapun. Mobil sport merah yang kami tumpangi sudah berhenti tepat di depan halaman rumah dari tadi, tetapi kami tidak segera masuk, hanya berdiam diri didalam mobil tanpa melakukan apa-apa. Bulan purnama bersinar sempurna tanpa bantuan bintang malam ini, cahaya lembutnya menerangi muka putih Hye-Sun dari balik kaca mobil, sekarang ia benar-benar terlihat seperti malaikat yang bercahaya. Aku tidak berani menatapnya terlalu lama, tatapan itu akan merangsangku dengan begitu hebat, sungguh ini terjadi ketika kami berbulan madu di Venice seminggu kemarin. Tapi kami tidak benar-benar melakukan sesuatu yang ‘berarti’, setiap malam hari kami pulang ke hotel, Hye-Sun sudah terbaring lemas karena terlalu lelah berjalan seharian, beberapa menit setelah itu dengkuran keras akan terdengar. Jadi bisa dibilang itu bukan bulan madu sepenuhnya, hanya jalan-jalan saja.
“Em…, kau benar-benar sibuk tadi? Miyane, aku menggangu.” Hye-Sun memulai pembicaraan dengan kaku. Kalau ia belum nyaman dengan suatu keadaan, maka Hye-Sun membutuhkan beberapa menit sampai ia bisa mengobrol dengan tenang, bahkan denganku, suaminya sendiri.
“Yah…Lalu bagaimana denganmu di rumah? Bosan?” kekehku. Sudah pasti ia akan bosan setengah mati. Aku tahu benar karakter Hye-Sun yang selalu aktif tak bisa diam. Sebelum menikah denganku, Hye-Sun menjabat posisi penting di perusahaan ayahnya, sibuk bekerja siang dan malam, sekarang ia telah berhenti dan ingin memfokuskan diri sebagai ibu rumah tangga padahal aku sudah bilang padanya untuk tidak memaksakan hal yang menyiksa dirinya sendiri, tetapi ia terlalu keras kepala,
“Kau sudah tahu jawabannya Jeong Min-Ho, tidak perlu bertanya!” dengusnya dingin, ia menatap cemberut keatas langit gelap, tepatnya kearah bulan purnama malam.
Tawaku meledak seketika, “Araseo…araseo..,” Aku menepuk pelan punggung Hye-Sun, ia sangat mungil, aku merasa seperti raksasa yang dapat menhancurkan tubuh rapuhnya kapan saja. Tapi tentu itu tidak benar, Hye-Sun bisa menggebuki preman sekalipun sampai ia puas. Waktu kuliah dulu, Hye-Sun bercerita bahwa ia disegani satu kampus karena terkenal dengan ‘Pukulan Maut Si Malaikat’. Entah kenapa aku bisa jatuh cinta dengan wanita garang macamnya? Mungkin karena ia berbeda, dimana lagi bisa kau menemukan wanita cantik berlapis baja sepertinya!? Menurutku Hye-Sun itu barang langka di dunia ini.
“Kenapa kau terus melihat kearah langit? Apakah aku kurang menarik untuk dipandang?” godaku sembari melepas jas hitam yang membalut tubuhku lalu melemparkannya ke belakang mobil, berharap ia segera menatapku.
Hye-Sun tertawa pelan lalu mendesis, “Shh! Tidak. Aku sedang berpikir!”
Biar kukoreksi, ia pasti sedang berkhayal. Aku mengenalnya terlalu baik.
“Tentang?” Aku bertanya polos, benar-benar tidak tahu apa yang dipikirkan Hye-Sun karena daya jangkau imajinasinya sangat luas.
“Anak kita. Apakah dibalik langit sana ada anak kita?” matanya melebar tak luput dari langit hitam luas di atas sana. Wajahnya sangatlah polos seolah tidak tahu apa yang harus diperbuat selanjutnya.
“Seo Hye-Sun!!” nadaku terdengar seperti memohon. Ya ampun ia memikirkan anak tanpa melakukan apa yang seharusnya dilakukan pasangan yang sudah menikah. Seks! Mungkin aku terdengar seperti cabul tapi senang atau tidak ini kenyataan yang membuat ku gemas karena Hye-Sun tak kunjung menyadarinya!
“Yaaaa,” Hye-Sun merespon dengan malas.
“Lihat aku!”
Hye-Sun sedikit tidak rela mengadahkan mukanya dari langit hitam, sekarang ia menatapku dengan kedua mata besarnya yang mencerminkan banyak tanda tanya.
“Apa?”
“Kau ingin Jeong Nam-Kyu dan Jeong Jae-Hee cepat datang kan?” tanyaku dengan raut serius.
“Errr.., yaaa!” Hye-Sun menjawab bak anak TK yang baru ditanya ‘Apakah kau sudah makan, nak?’
“Dengar!” Aku mencengkram kedua bahunya dengan erat lalu mulai menguraikan satu persatu, “Mereka tidak akan datang sampai kita membawanya kesini. Okay!”
Nah begitu saja, Hye-Sun pasti mengerti.
“Membawanya? Membawa mereka? Bagaimana bisa, apakah kita harus mengambil mereka dari panti asuhan. Aku ingin anak kandung bukan adopsi!” Hye-Sun meringis pedih.
Demi Tuhan, apa yang harus kubilang. Ia benar-benar tidak tertarik dengan hal macam ini. Bola, softball, game, mobil, dan motor balap adalah hal yang diminatinya. Dan untuk menjadi seorang ‘wanita seutuhnya’ benar-benar susah bagi Hye-Sun. Apalagi sejak ia menjadi istriku. Aku sampai heran walaupun sudah mengenal Hye-Sun lama, maksudnya, ia benar-benar seperti seorang wanita, tampilannya, mukanya terbentuk sempurna, kulitnya putih tanpa cacat, rambut panjang Hye-Sun tergerai indah, ia tersenyum sangat manis dengan lesung pipit dalam menghiasi kedua pipinya, lalu jika ia malu wajahnya akan berubah kemerahan seperti tomat. Ia wanita yang sempurna tetapi di dalam dirinya ia adalah lelaki yang sempurna. Aneh. Terkadang fakta ini sempat membuatku kesal, seperti sekarang saja contohnya. Aku sedikit bingung apakah harus meminta dengan terang-terangan? Ia pasti akan malu setengah mati, terlebih diriku.
“Apakah aku benar-benar perlu menunjukkan caranya?” tawarku serius.
Hye-Sun mengganguk putus asa, tak kalah serius denganku. Baik. Kurasa aku benar-benar harus menunjukkan ini padanya.
Aku melekatkan pandangan pada kedua mata besar Hye-Sun. Ia hanya diam membalas tatapanku dengan raut polos. Lalu seperti yang kulihat di film-film Barat, perlahan aku mulai mendekatkan mukaku padanya, sampai jarak antara kami hanya tinggal 2 centi. Dan ini membuat Hye-Sun ketakutan setengah mati sehingga ia menutup mata dan berteriak, “YYAAAA!!! JEONG MIN-HO!!!  TUNGGU”
Teriakan nyaring itu spontan membuatku kaget dan menjauh. “Apa lagi?”
“Ka…,kau ingat tadi pagi aku bilang, kejutan nanti malam?” Hye-Sun berbicara gugup, ia masih belum berani membuka mata dan wajahnya menjadi sangat merah sekarang.
“Em… Kejutan apa?” suaraku terdengar parau, sedikit menyesal usahaku harus berakhir begini.
Hye-Sun cepat-cepat membuka pintu mobil dan berlari melesat masuk kedalam rumah, meninggalkanku sendirian. Hah?
Aku masih diam termenung di mobil, apakah tampangku tadi menakutkan sampai-sampai ia ketakutan? Apa yang salah dengan penampilanku?
Aku meraba-raba wajah sendiri bak orang gila, siapa tahu di wajahku ada coretan hitam yang membuatku terlihat seperti monster mengerikan.
“Jeong Min-Ho,” suara lembut Hye-Sun menyadarkanku akan keberadaannya di samping pintu mobil yang masih terbuka.
Aku menghentikan gerakan tanganku yang sedang meraba-raba, lalu memiringkan kepala dan melihat raut wajah Hye-Sun yang mendadak bersemangat. Ia menyembunyikan kedua tangannya di belakang punggung.
Hye-Sun tersenyum lalu ia menyuruhku menutup mata dan tentunya aku menurut.
“Jangan buka sampai kau merasakan sesuatu.” Pinta Hye-Sun. Kepalaku mengganguk pelan tanda mengerti.
Satu menit, dua menit, tiga menit. Tidak terjadi apapun, aku tidak sabar untuk segera membuka mata saja tapi ini pasti akan membuatnya marah. Sebenarnya apa kejutannya, kenapa lama sekali?
Pikiranku terus menggerutu sampai aku merasakan sengatan luar biasa yang menjalari seluruh tubuhku dengan hebatnya.
Sekarang aku mulai bisa merasakan nafas panas Hye-Sun yang memburu gugup di sekujur wajahku, ia mendekat dan memberi satu kecupan kecil di bibirku. Aku tidak tahan untuk membawanya lebih jauh pada kesempatan selangka ini, satu kecupan kecil sangat menggoyahkan birahi yang tak bisa kuhindari. Aku menyesap pelan bibir bawah Hye-Sun yang terasa sangat lembut dan licin. Darah yang mengaliri nadiku berlari kuat, mendorong untuk mengunci tubuhnya kedalam pelukanku. Ketika aku mulai melumat bibirnya beberapa kali secara cepat, respon Hye-Sun sungguh tidak kuduga. Aku membuka mulut, mencari ciuman yang lebih dalam, tapi ia mengagetkanku dengan menyodorkan lidahnya masuk menjelajahi mulutku. Ooh, akal sehatku mulai termakan sedikit demi sedikit. Rangsangan itu terlalu kuat bahkan Hye-Sun aku yakin ia tidak bisa menahannya. Ia mendorong tubuhku ke belakang mobil, mencari ruang yang lebih luas. Tentu saja melakukan hal macam ini di dalam mobil terasa sangat sempit, tapi semakin sempit, desakkan itu makin terasa antara tubuhku dan dia. Karena badanku besar, alhasil bukannya terjerembab ke kursi belakang, aku malah terjebak diantara dua kursi depan. Hye-Sun tidak memperdulikan ini, ia pasti sudah kehilangan akal sehat juga. Ia berpindah, duduk di perutku dan mulai menciumiku dengan liarnya dari leher berpindah ke bibir lagi.
“Lepas bajumu,” pinta Hye-Sun memohon dengan nada tersengal.
Aku tak bisa mengelak, pada akhirnya kedua tanganku merobek kemeja dengan paksa. Hye-Sun tersenyum samar ketika aku memperlihatkan dada bidangku yang bewarna kecoklatan muda, bersinar dibawah guyuran cahaya bulan purnama.
Tangannya dengan lembut menelusuri sekujur tubuhku, ia terkagum. Sedikit bangga, aku hanya bisa tersenyum kecil. Juga bernafas lega karena kami menunjukkan progress hasil yang menyenangkan untuk malam ini.
“Jadi apa tadi kejutan yang ingin kau berikan?” tanyaku ketika Hye-Sun sudah mulai lelah dan menyenderkan kepala mungilnya di dada bidangku yang hangat.
Hye-Sun mengambil sebuah boneka kucing bewarna pink berambut keriting hitam, lalu melemparkan ke mukaku.
“Itu!” seru Hye-Sun, ia sedikit terkekeh. “Aku mencoba membuatnya. Belajar menjahit mati-matian sampai boneka itu tercipta. Lihat ini!” Hye-Sun menggerakkan jemarinya yang penuh perban. Aku tidak memperhatikan perban itu dengan seksama, rasa bersalah mulai menembus hatiku.
“Kau tidak perlu repot-repot seperti ini.” Bisikku pelan sambil membelai rambut panjang Hye-Sun yang menutupi sebagian wajahnya.
“Tidak repot.”
Kami terdiam beberapa saat, aku merasa Hye-Sun masih ingin berbicara maka aku hanya diam menunggunya.
“Tidak repot juga tidak sakit dibandingkan dengan apa yang akan kudapat.” Ia tersenyum manis memamerkan sederet giginya.
“Hah?”
“Jadi ketika kau menatap boneka itu. Kau akan terus mengingatku. Meningat istrimu.”
Aku tertegun, tak tahu kenapa ia berbicara seperti ini.
“Jadi kalau tiba-tiba aku mati,”
“Seo Hye-Sun,” aku memotong pembicaraannya dengan tegas. “Jangan berbicara seperti itu.”
Tapi ia terus melanjutkan, “kau akan terus meningatku setiap kali melihat boneka yang kubuat. Ini kan hanya perumpamaan saja kau bodoh!”
Hye-Sun tertawa keras. Tapi aku tidak bisa ikut tertawa dengannya, suasana hatiku menjadi tegang setelah pembicaraannya tadi.
“Kenapa kau Jeong Min-Ho?”
Aku menggeleng pelan.
“Tertawalah..,lagipula momen ini sudah datang. Masa kau tak senang?” goda Hye-Sun.
“Momen apa?”
“Omong-omong, apakah kau tak ingat, ini adalah kali pertama kita berciuman?”
Ooh! Benar. Aku baru meningat kalau kami tak pernah berciuman selama pacaran dulu, yang ada hanya kecupan pipi dan bergandeng tangan.
“Jadi kau harus bahagia. Juga tertawa!” kata Hye-Sun mencubit pipiku yang berkedut tegang.
Ya, seharusnya aku bahagia. Tapi kenapa suasana hatiku menjadi mendung diliputi awan tebal? Entah.- END CHAPTER



« Last Edit: July 25, 2010, 02:19:04 pm by minyounglee »
"One of my top escapades is to dive through this infinite world of imagination." - Me

Just tweeting...

Share on Bluesky Share on Facebook


Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
Re: HEAVEN
« Reply #1 on: April 04, 2010, 05:47:36 pm »
Fanfic baru ya min?? Cihuuyyy.. [smiley-gen013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-gen013]
Setelah sekian lama hiatus akhirnya muncul juga... [hmpfh] [hmpfh]
Btw yg HEAVENLY ANGEL LULLABY itu gimana lanjutannya sist..? [chin]
Kok gak pernah diupdate...?  [chin] [sweat]
Penasaran nih ama kelanjutan kisah Hyun Ae... [chin] [chin]
Ayo donk min dilanjutin atuh...  [lovestruck][hmpfh] [hmpfh]

Offline pink_girly

  • Full
  • ***
  • Posts: 341
  • <3 MinSun
    • View Profile
Re: HEAVEN
« Reply #2 on: April 04, 2010, 07:54:18 pm »
HOREEEEEEEEEEEEEE........ [smiley-gen013] [smiley-dance013] [smiley-gen013] [smiley-dance013]
Akhirnya Miny buat new FF lgi,...
Makin hr mkn banyak FanFic makin seneng aku bacanya... [hmpfh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: HEAVEN
« Reply #3 on: April 04, 2010, 11:59:30 pm »

HOREEEEEEEEEEEEEEEEE AKHIRNYA MINY KEMBALI DARI HIATUSNYA [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

coming soon [what] [what] sesegera mungkin ya miny [hmpfh] [hmpfh] AS SOON AS POSSIBLE, ARASSO [laughing] [laughing] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline pink_girly

  • Full
  • ***
  • Posts: 341
  • <3 MinSun
    • View Profile
Re: HEAVEN
« Reply #4 on: April 05, 2010, 06:21:47 am »
wah,...
kerennnnnnnnnnn... CHP 1nya sumpah keren banget... [smiley-gen013] [smiley-dance013]
tapi...penesaran banget sma yang entah kenapa tuh...? [what]

CAHYO MINY........... [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
Re: HEAVEN
« Reply #5 on: April 05, 2010, 06:32:38 am »
[clap] [clap] [clap] wow,, happy bgt niy aq bsa mnikmati ff c miny dongseng lgi....  punk punk punk wah mang maknyuzz dah min niy ff,, tp feeling aq ko jd iktu sedih di ending yaa?? kyna niy sad story yaa min?? duh2 hyesun jgn smpe mati dg dsni min  [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
Re: HEAVEN
« Reply #6 on: April 05, 2010, 06:46:26 am »
MINNY NEH ANAK PASTI GARA2 FEELING BLUE KEMAREN NEH  punk punk punk

TAPI HOREEEEEEE FINALLY BISA MENIKMATI KARYA DIKAU MESKIPUN NYESEK BACANYA BLEH

NEH FEELING DAKU DARI JUDUL N BACA CHAPTER PERDANA PASTI BAKALAN ONE LITTLE OF TEARS NEH  [AddEmoticons04241] BENER2 BISA NANGIS BENERAN NEH BLEH  [hmff] [hmff] [hmff]

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^

Offline avonturir_fitri

  • Newbie
  • *
  • Posts: 51
  • ordinary
    • View Profile
Re: HEAVEN
« Reply #7 on: April 05, 2010, 07:02:53 am »
walah....
si miny piye toh....
kok akhirnya rada rada ga enaak gitchu.......
tapi OKELAH !!

AKHIRNYA ....
kamu bikin ff lagi. Emoticons0423 Emoticons0423 [AddEmoticons04225] [AddEmoticons04225]


_______still minsun in our HEART________

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: HEAVEN
« Reply #8 on: April 05, 2010, 07:09:12 am »
yaaaa si miny nih sukanya yg sedih2 mulu [head break] [head break]
si hyesun pasti dpt penyakit mematikan kan? itu lho penyakit pikunnya pasti ada apa2nya deh, apakah itu kanker ganas [what] [what] ohhhh noooooo [cry] [cry]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline pink_girly

  • Full
  • ***
  • Posts: 341
  • <3 MinSun
    • View Profile
Re: HEAVEN
« Reply #9 on: April 05, 2010, 07:13:48 am »
Aduh aku jg udah berfirasat kyk gtu mknya dy meninggalkan tanda" gtu bhwa ajalnya udah deket (sotoy.com)... aku jdi pengen [AddEmoticons04241] juga, miny mami HS jgn ampe mti ya  [nono]...

Offline avonturir_fitri

  • Newbie
  • *
  • Posts: 51
  • ordinary
    • View Profile
Re: HEAVEN
« Reply #10 on: April 05, 2010, 07:24:57 am »
Huwawwaaaa... miny!!!!!!!!!!!!! jangan sampe mami mati ya!!!!!!!!!!! [AddEmoticons04268] [AddEmoticons04284] [AddEmoticons04219]

Buat yang bahagia bahagia ajaaaaaa :)


_______still minsun in our HEART________

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
Re: HEAVEN
« Reply #11 on: April 05, 2010, 10:10:31 am »
yuhuuuuuu bleh akhirnya bikin ff lagi horeeee [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] haduh bakalan tangisan bombay kucai ni Emoticons0429 [AddEmoticons04241] [AddEmoticons04219] siap2 tissue dah ini


ADAM COUPLE SELCA

Offline minyounglee

  • Admin
  • Junior
  • *****
  • Posts: 165
    • View Profile
Re: HEAVEN
« Reply #12 on: April 05, 2010, 11:24:06 am »
yeh kalian maunya nangis mulu..mau dikasih yg lucu jg *mungkin lucu sih  [hmff] tunggu saja.. whistling whistling
"One of my top escapades is to dive through this infinite world of imagination." - Me

Just tweeting...

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: HEAVEN
« Reply #13 on: April 05, 2010, 12:26:03 pm »
yeh kalian maunya nangis mulu..mau dikasih yg lucu jg *mungkin lucu sih  [hmff] tunggu saja.. whistling whistling
emang bukan yg sedih2 ya min [jumpy] [jumpy] habis biasanya elu suka yg sedih2 sih [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline minyounglee

  • Admin
  • Junior
  • *****
  • Posts: 165
    • View Profile
Re: HEAVEN
« Reply #14 on: April 05, 2010, 02:02:05 pm »
yaaaa si miny nih sukanya yg sedih2 mulu [head break] [head break]
si hyesun pasti dpt penyakit mematikan kan? itu lho penyakit pikunnya pasti ada apa2nya deh, apakah itu kanker ganas [what] [what] ohhhh noooooo [cry] [cry]

mam, emg pikun bs jd kanker ya!!!!!!! dikau nakutin aku  [head break] [head break] , ni dah tau daku pikunan, gmn nih!! [heh]

emg aku suka yg sedih2, ga enak seneng2..waksss gawat haha
"One of my top escapades is to dive through this infinite world of imagination." - Me

Just tweeting...