Author Topic: Be Strong, Jan Di ~ masih bukan chapter masih bukan spoiler..OMG ~  (Read 53132 times)

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 1, 31 Juli 210 ~
« Reply #45 on: August 09, 2010, 10:25:40 am »
Chapter 2


“Yya! Kau pikir siapa dirimu! Sudah seenaknya menghadang mobilku sekarang malah berani minta tumpangan” makian darinya ku terima dengan lapang dada.

Aku tidak berani membalas ucapan maupun tatapan pria di sampingku. Omelannya aku ladeni dengan membenamkan wajah sedalam mungkin. Hanya sekejap saja pria ini berkoar-koar. Mungkin dia kira bentakannya menakuti ku. Saat mulutnya sudah berhenti bergerak, gantian wajahnya yang bergerak mendekati wajah tertunduk ku.

“Kau ... bukankah kau gadis yang tidak bisa naik sepeda tadi pagi?” pertanyaan pria ini memaksa ku membalas tatapannya.

Saat wajahku berpaling ke arahnya, aku teringat sesuatu. Sepeda ku dan mobilnya pernah bertabrakan, tapi bukan karena aku tidak bisa naik sepeda.

“Ne, aku adalah orang yang tidak bisa naik sepeda itu” kelemahan ku kembali muncul.

“Tuan, tolong antar aku pulang ke rumah. Waktuku tidak banyak” aku langsung to the point.

“Mwo?! Memangnya aku supirmu, enak sekali kau memerintahku” tolaknya.

“Aku benar-benar diburu waktu. Jadi tolonglah, kali ini saja” bujukku.

“Kau bisa naik taksi jika ingin cepat sampai ke rumah. Jangan merepotkan ku. Cepat turun” usirnya.

“Uangku tidak cukup untuk bayar taksi” jawabku

“Suruh siapa uang pemberianku kau hibahkan pada 2 anak berandalan itu?” tanyanya lagi.

“Ne?” aku tidak paham dengan perkataannya barusan.

“Oh ... itu ... maksud ku ... “ dia terlihat grogi seolah aku baru saja memergokinya melakukan hal aneh.

“Tuan cepatlah jalankan mobilmu, rumahku kebakaran!” kali ini aku membentaknya.

Pria keriting ini terkejut mendengar alasan ku. Setelah bertanya alamat rumah ku, dia langsung menginjak pedal gas sekuat tenaga. Sebelum mobilnya meroket di jalan raya, dia kembali mendekatiku. Dengan spontan ku silangkan kedua tangan di depan dada karena ku pikir dia akan melakukan hal yang tidak-tidak. Tapi ternyata tuan ini hanya mau memasangkan sabuk pengamanku saja.

*******

Lima belas menit kemudian, kami tiba di kawasan pemukiman padat penduduk. Mobil yang mengantar ku berhenti 300 meter dari lokasi kebakaran. Begitu aku ke luar dari mobil, bau asap, hawa panas dan kobaran api langsung terhirup, terasa dan terlihat oleh 3 indera ku secara bersamaan. Aku segera berjalan menyusuri kerumunan warga sambil menoleh ke kanan dan kiri.

“Jan Di-a! Andwe!” lalu “Jan Di-a! Berbahaya!” cegah para tetangga yang melihat ku mendekat ke sumber kebakaran. Larangan mereka tidak tergubris sama sekali karena hanya ku dengar berupa ngiangan semata.

“Omma, Appa, Gang San ... di mana kalian?” suara ku tercekat di tenggorokan. Seluruh area kebakaran sudah ku lalui tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan mereka.

Jantung ku semakin berdetak kuat saat kulihat lidah api melahap ganas rumah petak ku. Bangungannya nyaris ludes karena terus dijilati si jago merah. Atap rumah ku hampir runtuh dan sudah siap menimpa segala sesuatu yang ada di bawahnya. Mwo?! Menimpa?! Andwe! Runtuhan itu dilarang menimpa apa pun.



“Bos, ada 3 orang terperangkap di rumah itu” seorang petugas pemadam melaporkan hasil temuan pada pimpinannya sambil menunjuk ke sebuah rumah.

“Cepat lakukan evakuasi” perintah si ketua pemadam.

Obrolan tersebut berlangsung persis di depan mata ku. Darah ku tambah bergejolak saat mengikuti arah telunjuk petugas pemadam. Jarinya mengarah tepat ke rumah ku. Tiga orang terperangkap di dalam katanya? Siapa 3 orang yang dimaksud petugas itu? Mungkinkah mereka ...?

Kalau hanya berdiri di sini aku tidak akan tahu siapa yang terperangkap di sana. Maka kuputuskan untuk masuk ke dalam rumah yang sudah sepenuhnya memerah.

“Agashi, anda dilarang masuk. Di dalam sangat berbahaya” ketua pemadam menahan usaha ku menerobos masuk.

“Biarkan aku lewat, keluarga ku mungkin saja terjebak di dalam” aku tidak tinggal diam dengan halauan petugas. Lima orang petugas bahu membahu menghadang langkah ku. Berbagai trik aku kerahkan untuk mengelabui mereka. Saat aku lolos dari petugas yang satu, petugas lain sudah siap menangkap ku. Tapi karena kegesitan ku, pagar betis petugas pemadam kebakaran berhasil ku terobos. Aku berlari sekuat tenaga ketika tidak ada petugas yang menghalangi ku lagi.

“Yya! Hentikan kegilaan mu!” teriakan itu terdengar begitu menjengkelkan. Aisshh, kali ini siapa lagi yang mencegah ku. Pergelangan tangan ku tercengkram oleh seseorang. Tanpa berpaling ke orang tersebut, aku berusaha membebaskan tangan ku. Tenaga orang ini terlalu kuat, aku tidak bisa menandinginya.

“Lepaskan aku!” kepala ku mendongak. Tangan yang mencengkram ku ternyata milik pria keriting yang memberi ku tumpangan. Sejak keluar dari mobilnya, keberadaan pria ini terlupakan oleh ku. Ucapan ‘Gomawo telah mengantar ku’ belum dia terima. Aku terlalu sibuk mencari omma, appa dan Gang San. Aku tidak sadar kalau dia terus membuntuti ku. Tapi untuk apa? Menunggu terima kasih dari ku? Kurang kerjaan sekali.

“Tuan, tolong lepaskan tangan ku” bukannya berterima kasih, aku malah memukul-mukul tangan pria ini. Dia tidak kunjung mengendurkan cengkramannya meski kekuatan pukulan ku terus bertambah.

“Jangan bertindak bodoh!” omelnya.

“Aku harus menyelamatkan keluarga ku” kepala ku kembali mendongak. Ada semburat kecemasan di wajah pria ini. Air mata pasti telah mengaburkan daya penglihatan ku. Mana mungkin dia sudah punya rasa khawatir di pertemuan kami yang kedua.

“Kau hanya akan menambah masalah jika nekat menerobos ke dalam” ucapnya lagi.

Sekarang dia tidak hanya mencengkram tangan ku tapi juga menarik tubuh ku menjauhi kobaran api. Aku menahan tarikannya hingga kaki ku belum beranjak selangkah pun. Dia menambah kuat tarikannya dan aku juga memperbesar pertahanan kaki ku. Sekitar 10 detik kami main tarik-tarikan sampai akhirnya dia melepaskan tangan ku. Bagus, dia menyerah juga.

Segera saja ku ayunkan kaki menuju amukan api. Tapi lagi-lagi ada yang menahan ku! Kali ini bukan tanganku yang dipegang. Ada yang membekap pinggang ku. Saat aku menunduk, terlihat tubuh jangkung membungkuk di depan ku dan dengan seketika mengangkat diri ku ke atas bahunya. Pria keriting ini membawa tubuh ku menjauhi sumber api. Dia berjalan melewati kerumunan warga sambil memanggul ku tanpa menghiraukan rontaan ku.



Aku diturunkan di dekat parkiran mobilnya. Plak! Tamparan ku langsung mendarat di pipinya begitu dia tidak lagi memanggul ku.

“Aku berterima kasih karena anda bersedia memberikan tumpangan tapi jangan coba-coba mencampuri urusan ku” bentak ku.

“Diam di sini atau kau akan ku ikat!” ancamnya.

Ancaman itu tidak mempan. Niat awal ku tetap tak tergantikan. Ketika aku hendak kembali ke TKP, beberapa tetangga memagari ku. Mereka mencegah ku tapi aku tetap membandel. Jumlah tetangga yang menghalangi ku semakin banyak hingga aku terpaksa diam di tempat.

Tiga puluh menit kemudian si jago merah sudah mulai terlihat jinak. Aku memohon pada para tetangga supaya dibiarkan mendekati lokasi. Mereka mengizinkan karena kebakaran memang sudah terkendali. Aku pun segera berlari. Aku dapat merasakan ada seseorang yang mengekor. Tapi aku tidak mau repot-repot menengok ke belakang hanya untuk mengetahui identitas si pengekor. Pandangan ku tidak bisa dialihkan sama sekali dari TKP.

Aku tidak percaya dengan apa yang ada di depan mata ku. Rumah hasil jerih payah appa selama bertahun-tahun tidak berbekas. Semua habis terlahap api dalam waktu kurang dari setengah hari. Tidak ada lagi rumah mungil yang sudah lama menaungi kami. Aku hanya bisa menatap bongkahan bangunan berwarna hitam bekas kobaran api.



Kondisi tempat tinggal ku tidak terlalu penting. Yang terpenting adalah menemukan keberadaan omma, appa dan Gang San. Di tengah kegalauan ku, enam petugas pemadam keluar dari kepulan asap. Mereka saling berpasangan membawa 3 buah tandu yang berisi jenazah hangus.

“Kami menemukan ini dalam rumah anda. Mianhe, agashi” ketua pemadam menjelaskan asal ketiga mayat tersebut.

“Anhi ... ini bukan dari rumah ku ... mereka ... bukan keluarga ku” tubuh ku lunglai seketika. Beban ratusan ton tiba-tiba menggelayut di pundak hingga membuat tubuh ini tak bisa ditegakkan. Lutut ku lemas. Aku pasti sudah tersungkur kalau saja tidak ada sepasang tangan yang sigap menopang tubuh ku.

“Tabahlah, kau harus kuat” ucap penopang tubuh ku. Suara yang tidak asing. Dugaan ku mengatakan bahwa itu adalah suara pria yang memberi tumpangan gratis. Ternyata benar. Dia masih setia menemai ku. Dia terus saja berada di dekat ku. Dia belum beranjak dari sisi ku. Tapi kenapa? Entahlah, aku tak mau ambil pusing.

“Jan Di-a ...” suara Ga Eul hadir di tengah isak tangis ku. Setelah merapikan toko bubur, Ga Eul pasti langsung meluncur ke sini.

“Ga Eul, ... appa ... omma ... Gang San ... sudah ...” ucapan ku tidak tuntas. Lidah ku tak sanggup menyelesaikannya. Pria tadi tidak lagi menopang ku. Tubuh ku sudah berpindah ke dalam pelukan Ga Eul. Aku menangis sejadi-jadinya ditemani isakan Ga Eul.

*******

Dua Hari Kemudian
Pagi-pagi sekali Jun Pyo sudah meninggalkan kediaman keluarga Goo. Sarapan yang disiapkan pelayan tidak disentuh secuil pun. Gelagat Jun Pyo yang seperti ini hanya akan keluar jika ada hal penting seputar Shinhwa. Nenek dan kedua orang tua Jun Pyo sudah hafal dengan tabiat Jun Pyo yang tidak bisa mengesampingkan urusan Shinhwa. Oleh karenanya mereka tidak heran dengan absentnya Jun Pyo di meja makan. Goo haelmoni dan Mr-Mrs Goo mengira Shinhwa lah yang menyebabkan Jun Pyo tidak turut serta dalam sarapan pagi ini.

Mobil Jun Pyo melipir di bahu jalan depan toko bubur. Jika niat Jun Pyo pergi ke rumah makan itu untuk sarapan maka kedatangannya sia-sia. Toko bubur tempat Jan Di bekerja belum dibuka karena hari masih terlalu pagi. Kalau saja tujuan Jun Pyo ke toko bubur memang untuk mencari sarapan, ia bisa beralih ke rumah makan 24 jam yang banyak beroperasi di sekitar situ. Tapi ternyata mobil Jun Pyo lewat begitu saja tanpa mampir ke salah satu restoran. Kesimpulannya, Jun Pyo datang ke toko bubur bukan untuk makan.

Jun Pyo menjalankan mobil menuju pemukiman yang kemarin malam baru saja diporak-porandakan api. Setibanya di tujuan, langkah Jun Pyo terayun perlahan menyusuri bekas lokasi kebakaran. Beberapa warga bergotong-royong membersihkan puing-puing sisa bangunan. Mereka sempat melirik Jun Pyo tanpa bertanya maksud kedatangannya.

Saat ini Jun Pyo berdiri di depan rumah Jan Di. Tidak ada satu pun yang tersisa di tempat tinggal Jan Di. Semuanya sudah rata dengan tanah. Di depan rumah Jan Di terpampang 3 buah foto. Di bawah foto pertama, kedua dan ketiga terdapat tulisan Geum Il Bong, Na Gong Joo dan Geum Gang San. Warga sengaja memasang foto mereka untuk mengenang tiga korban kebakaran tersebut. Menurut perkiraan warga, saat kebakaran berlangsung orang tua dan adik Jan Di ini sudah lelap tertidur. Mereka telat menyelamatkan diri dari api yang awalnya meletup di rumah tetangga keluarga Geum.

Cukup lama mata Jun Pyo mengamati 3 foto keluarga Jan Di. Pengamatan Jun Pyo terhenti saat ada seorang warga yang menghampiri.

“Anyong. Ada yang bisa saya bantu, tuan?” tanya warga tersebut.

“Oh, anyong. Tidak ada paman, saya hanya kebetulan lewat sini” jawab Jun Pyo.

“Arasseo. Kalau begitu saya permisi” ucap warga berumur 40an ini.

“Paman, chakamanyo ...”Jun Pyo menahan warga itu pergi.

“Ne?” warga tersebut tidak jadi meninggalkan Jun Pyo.

“Ada yang ingin saya tanyakan” ujar Jun Pyo.

“Silahkan” jawab tetangga Jan Di tersebut.

“Ehmm, apa paman tahu putri keluarga Geum sekarang tinggal di mana?” tanya Jun Pyo tanpa menyebutkan nama Jan Di walau sebenarnya dia sudah hafal nama itu.

“Maksud anda pasti Jan Di. Dia tinggal di rumah Ga Eul, sahabat Jan Di” jawab si warga.

“Begitu rupanya. Gomawo atas informasinya” Jun Pyo segera pamit dan berlalu dari lokasi kebakaran. Sebenarnya Jun Pyo ingin menanyakan alamat rumah Ga Eul tapi tidak jadi terlaksana.

Jun Pyo merasa sudah terlalu jauh menyelami kehidupan Jan Di. Kemarin Jun Pyo turut menghadiri pemakaman keluarga Jan Di secara sembunyi-sembunyi. Lalu hari ini ia malah ingin mengunjungi Jan Di di rumah Ga Eul. Bukankah itu berlebihan? Oleh karenanya Jun Pyo mengurungkan niat menanyakan keberadaan rumah Ga Eul. Setelah mengunjungi bekas rumah Jan Di, Jun Pyo pergi ke Shinhwa dan kembali bergelut dengan rutinitas kantor.

*******

Gedung Shinhwa
Pengamanan ditingkatkan begitu mobil Jun Pyo memasuki halaman gedung Shinhwa. Seorang doorman membukakan pintu mobil untuk Jun Pyo. Sekretaris Park menyambut kedatangan Jun Pyo dengan bungkukan badan. Jun Pyo melangkah masuk ke gedung 51 lantai itu diikuti sekretaris pribadinya dan iring-iringan pengawal.



Bungkukan badan dan sikap hormat dari pegawai lain tak henti menghampiri Jun Pyo setibanya dalam lobi utama Shinhwa. Kharisma seorang Goo Jun Pyo sanggup menundukkan setiap staff di gedung itu. Jun Pyo membalas dengan anggukan kecil penuh wibawa sambil terus berjalan menuju lift.

Hari ini agenda Jun Pyo lumayan padat. Meeting demi meeting, lobby demi lobby telah menanti di depan mata. Kegiatan yang menguras tenaga dan pikiran tidak pernah luput dari kehidupan Jun Pyo. Untungnya eksekutif muda berbakat ini sudah terbiasa dengan kinerja yang demikian.

*******

Malam harinya
Jun Pyo meninggalkan Shinhwa lebih cepat dari biasanya. Toko bubur menjadi incaran Jun Pyo sepulang dari Shinhwa. Sebelum memutuskan mengunjungi toko bubur lagi, Jun Pyo sudah memperingati dirinya untuk berhenti memata-matai Jan Di. Tapi peringatan itu berakhir sebagai angin lalu saja.

Mobil Jun Pyo sudah terparkir di depan toko bubur tapi Jun Pyo tetap bertahan di dalamnya. Jun Pyo hanya mengamati toko bubur dari kejauhan. Berdasarkan pengamatan, Jun Pyo mengetahui bahwa hanya satu pelayan yang bertugas pada hari itu dan pelayan tersebut bukanlah orang yang dicarinya.



“Aish, kenapa aku terus-terusan mencari dia” keluh Jun Pyo.

Setelah menanti 60 menit, yang ditunggu Jun Pyo muncul juga. Ga Eul keluar dari toko bubur. Sahabat kental Jan Di ini berjalan menuju halte. Tujuh menit kemudian bis datang dan berhenti sesaat. Setelah semua penumpang naik –termasuk Ga eul– bis kembali berjalan diikuti mobil Jun Pyo.

Dua puluh kilo meter kemudian, bis berhenti. Ga Eul turun dari bis lalu berjalan memasuki gang sempit. Jun Pyo memarkir mobil dan berjalan menguntit Ga Eul dengan hati-hati. Tepat di depan rumah bercat putih, langkah Ga Eul terhenti. Ga Eul membuka pintu lalu masuk ke dalam rumah tanpa sadar ada yang mengikutinya.

Jun Pyo memperhatikan rumah Ga Eul. Ia berharap gadis yang menumpang tinggal di rumah tersebut keluar walau hanya sebentar. Lima belas menit Jun Pyo menunggu tapi yang diharapkan belum juga terwujud. Jan Di tidak keluar rumah seperti yang diinginkan Jun Pyo. Karena hari kian larut, Jun Pyo memutuskan meninggalkan rumah Ga Eul. Lagi pula mustahil Jan Di keluar mengingat malam semakin gelap. Sebelum pergi, Jun Pyo menatap lekat pintu rumah Ga Eul.

“Omma, aku ke apotek dulu. Jan Di terserang demam” seru Ga Eul dari balik pintu.

Jun Pyo terkejut mendengar suara Ga Eul. Ia langsung menghilang dari depan pintu dan bersembunyi di balik semak. Ada 2 penyebab keterkejutan Jun Pyo. Pertama karena Ga Eul tiba-tiba berteriak. Kedua karena isi teriakan Ga Eul. Penyebab terakhir lebih berbekas di hati Jun Pyo. Wajah Jun Pyo suram seketika begitu mengetahui ada yang tidak beres dengan Jan Di.

*******

Ga Eul bilang aku demam. Entahlah, aku tidak perduli dengan keadaan ku. Apa gunanya tubuh sehat jika tanpa kehadiran omma, appa dan Gang San. Sesakit apapun, aku akan tetap merasa fit dengan syarat ada mereka di sisi ku. Setelah ditinggal omma, appa dan Gang San, bernapas saja aku malas. Dunia ku tidak ada artinya lagi.

Sejak upacara pemakaman, aku tinggal di rumah Ga Eul. Orang tua Ga Eul sangat baik padaku. Mereka menyediakan berbagai makanan lezat. Sayangnya hidangan yang disuguhkan mereka tidak ku sentuh seujung pun. Ibunya Ga Eul terus membujukku untuk makan walau sedikit. Dirayu seperti apapun, keinginan untuk makan tidak juga timbul. Sepertinya aku mengecewakan bibi Chu karena enggan melahap masakannya. Miane bibi Chu, nafsu makan ku sedang tidak ada.



Sepanjang hari aku lewati dengan membaringkan diri di kasur Ga Eul. Sehelai foto dengan setia menemaiku. Foto ini selalu menyertai kemana pun aku pergi. Aku tidak pernah meninggalkannya karena foto tersebut begitu penting dalam hidup ku. Sesosok figure yang belum pernah dan tidak akan pernah ku temui diabadikan dalam foto ini. Meski warnanya hampir pudar karena termakan zaman, wajah seorang gadis berkepang dua dalam foto tersebut masih bisa kulihat dengan jelas. Hanya foto ini satu-satunya barang berharga ku yang selamat dari serangan api.

Biasanya jika sedang sedih, aku selalu berlari menuju canvas, kuas dan tinta. Ku tumpahkan semua rasa yang mengganjal hati dalam sebuah lukisan. Hasil karya ku lumayan banyak namun semua sudah ludes dimakan api. Kata appa, bakat ku itu diwariskan dari omma. Tapi untuk saat ini, hobi lukis ku tidak ku lirik sama sekali. Jangankan melukis, menghirup oksigen saja aku tak sudi.

*******

Kediaman Keluarga Goo
Begitu tiba di rumah, Jun Pyo mengunjungi kamar orang tuanya. Tawaran makan malam dari pelayan Jang dijawab dengan gelengan kepala. Lidah Jun Pyo tidak tergiur dengan makanan mewah hasil karya koki kenamaan keluarga Goo. Ia hanya ingin bertemu ommanya sebelum pergi tidur.

Tok ... Tok ... Tok ... “Apa omma sudah tidur?” tanya Jun Pyo dari balik pintu.

“Belum, masuklah” jawab Mrs. Goo.

Jun Pyo membuka pintu kamar. Ia berjalan mendekati Mrs. Goo yang duduk berselonjor kaki di tempat tidur. Wajah Jun Pyo tidak berseri karena bibirnya sedikit tertekuk.

“Omma ... “ panggil Jun Pyo dengan manja sambil merebahkan diri di pangkuan sang bunda.

Wibawa Jun Pyo hanya berlaku di Shinhwa. Jika sudah bertemu ommanya, Jun Pyo akan kembali menjadi ‘Jun Pyo Si Anak Mami’. Julukan ini pemberian Goo haelmoni karena sifat manja Jun Pyo yang ampun-ampunan. Tabiat Jun Pyo yang satu itu sudah terlihat sejak kecil. Posisi sebagai anak tunggal membuat Jun Pyo kebanjiran kasih sayang Mrs. Goo. Perhatian Mr. Goo yang terbagi untuk Shinhwa ditutupi oleh perhatian Mrs. Goo yang hanya terpusat pada Jun Pyo seorang. Pola asuh Mrs. Goo yang kelewat ekstra diimbangi oleh kedisiplinan yang diterapkan Goo haelmoni pada Jun Pyo.

“Waeyo? Sepertinya anak omma ini sedang ada pikiran?” rambut keriting Jun Pyo disapu lembut oleh tangan hangat Mrs. Goo. Mata Jun Pyo terpejam. Ia benar-benar menikmati setiap belaian sayang ommanya.

“Di mana appa?” Jun Pyo coba merubah arah pembicaraan.

“Di situ” Mrs. Goo menunjuk ke kamar mandi.

“Jangan coba mengalihkan perhatian omma. Cepat ceritakan ada apa dengan mu?” desak Mrs. Goo.

“Ada seseorang yang membuat ku resah” pandangan Jun Pyo tertuju pada langit-langit kamar.

“Menyangkut Shinhwa?” terka Mrs. Goo.

“Anhi. Shinhwa baik-baik saja” jawab Jun Pyo.

“Kalau bukan Shinhwa lalu ...” Mrs. Goo mencoba mencari penyebab lain.

“Yeoja?” selidik Mrs. Goo.

Bukannya menjawab, Jun Pyo malah tersenyum malu. Tapi bagi Mrs. Goo, senyuman tersebut sudah lebih dari cukup untuk membaca pikiran putra satu-satunya ini.

“Jeongmal? Jadi putra omma sedang jatuh cinta” Mrs. Goo tampak antusias sementara Jun Pyo terlihat makin tersipu.

“Terlalu gegabah menyebutnya cinta” bantah Jun Pyo.

“Anhi. Tidak biasanya seorang gadis merasuki pikiran mu yang penuh dengan Shinhwa” ujar Mrs. Goo.

“Dan lagi ... lihat wajah mu. Belum pernah omma menyaksikan kau tersipu seperti ini. Jun Pyo-a, ceritakan pada omma, siapa orangnya?” bujuk Mrs. Goo.

‘... Geum ... Jan ... Di ...’ gumam hati Jun Pyo.

“Omma tidak mengenal dia” malah jawaban ini yang diucapkan Jun Pyo.

“Makanya sekarang ceritakan pada omma” sambung Mrs. Goo.

“Ehmm ... Dia ... Seorang gadis lugu yang malang” bayangan Jan Di langsung hadir dalam benak Jun Pyo.

“Mwo? Lugu? Jadi tipe gadis seperti itu yang kau suka” ledek Mrs. Goo.

“Omma! Sudahlah, aku tidak mau bahas ini” protes Jun Pyo.

“Besok aku harus ke Macau” Jun Pyo selalu memberitahu perjalanan bisnisnya pada Mrs. Goo.

“Lalu kau tidak rela berpisah dengan gadis lugu mu itu?” duga Mrs Goo.

“Omma!” protes Jun Pyo lagi.

“Makanya, lekas ikat dia agar kau bisa membawanya kemana-mana” jawab Mrs. Goo.

“Siapa yang harus diikat?” Mr. Goo langsung menyambar ucapan Mrs. Goo sekeluarnya dari kamar mandi.

“Gadis lu ...” mulut Mrs. Goo dibekap Jun Pyo. Kata ‘gadis lugu’ tidak tuntas keluar dari bibir Mrs. Goo.

“Gadis apa kata mu?” tanya Mr. Goo pada Mrs. Goo.

“Appa, jangan anggap serius omongan omma” jawab Jun Pyo. Jun Pyo melirik Mrs. Goo sambil menaruh jari telunjuk di bibirnya sendiri.



“Aku ke kamar dulu. Selamat tidur, omma, appa” Jun Pyo buru-buru bangkit dari ranjang lalu segera melesat ke luar.

“Ada apa dengan anak itu?” tanya Mr. Goo sepeninggal Jun Pyo.

“Kita doakan saja” jawab Mrs. Goo bijak.

*******

Keesokan Harinya
Jun Pyo memeriksa ulang berkas-berkas yang akan dibahas di Macau. Perjalanan menuju bandara, diisi Jun Pyo dengan mengecek kembali beberapa dokumen penting guna memastikan tidak ada yang kurang.

“Jam berapa aku harus tiba di Macau?” tanya Jun Pyo pada sekretaris Park yang duduk di samping kursi kemudi.

“Jam 1 siang, doronim” jawab sekretaris Park sambil membalikkan badan ke arah Jun Pyo.

Jun Pyo melihat sekilas arloji di tangan kanannya. “Kalau begitu masih ada waktu ...” ucap Jun Pyo.

“Maksud doronim?” tanya sekretaris Park.

“Sampai di tikungan depan, kita belok kiri dulu” perintah Jun Pyo.

“Maaf doronim ...” sekretaris Park berusaha mencari tahu tujuan Jun Pyo.

“Lakukan saja perintah ku” Jun Pyo enggan berterus terang pada sekretaris pribadinya itu.

“Ne. Ageshimida” angguk sekretaris Park.

“Lakukan seperti perkataan doronim” ucap sekretaris Park pada supir keluarga Goo.

*******

Mobil Jun Pyo terparkir di depan toko bubur. Ada 3 tamu di rumah makan tersebut. Sayangnya, hanya ada 1 pelayan yang bertugas pada hari itu. Jun Pyo sudah mengamati kesibukan di toko bubur sejak 30 menit yang lalu. Ada kekecewaan di wajah Jun Pyo. Sosok yang ia cari sejak beberapa hari terakhir, tak kunjung muncul ke permukaan.



Setelah menambah toleransi waktu selama 10 menit, Jun Pyo memutuskan menyudahi pengamatan. Ia yakin toko bubur belum didatangi gadis yang dicarinya.

“Kita berangkat sekarang” perintah Jun Pyo lirih.

Roda mobil berputar menuju bandar udara. Jarak Jun Pyo dengan toko bubur semakin lama kian menjauh. Walau demikian, pikiran pria ini masih tertuju pada dia. Jun Pyo begitu panasaran dengan kelanjutan kisah hidup gadis yang ditabraknya tempo hari itu.

Kepala Jun Pyo direbahkan ke sandaran jok mobil. Mata Jun Pyo terpejam. Pikirannya melayang ke pertemuan pertama mereka. Lalu beralih ke peristiwa penipuan oleh 2 bocah nakal. Kemudian berpindah lagi ke malam naas yang penuh kobaran api. Setelah serentetan sketsa hidup tersebut, nasib si gadis lugu yang malang itu kira-kira akan terbawa ke mana? Teka-teki ini tak pernah terhapus dari benak Jun Pyo.



Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 2, 9 Agt 2010 ~
« Reply #46 on: August 09, 2010, 10:51:23 am »
yeahhh update,,,, [smiley-dance013] [smiley-dance013]
hikssss naas banget nasib ortu hyesun dan gangsan. and kasihan si jandi ditinggal pergi oleh mereka.
untung masih ada junpyo yg setia menemaninya [lovestruck] [lovestruck] wahh junpyo udah jatuh cintrong ke jandi nih, jd pingin tahu apa lg yg bakal terjadi ama mereka [lovestruck]
update segera yg liko [hmpfh] [hmpfh] tetep [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 2, 9 Agt 2010 ~
« Reply #47 on: August 09, 2010, 02:30:13 pm »
udah muncul chapter 2 nya.... cihuuuuuuuuyyyyyyyy... keren sist... kasihan banget....

sedih banget perjalanan kehidupan Jandi... tapi karena perjalanan yang menyedihkan itu, akhrinya junpyo jatuh cinta ma jadi... junpyo udah jatuh cintakan ma jandi...? [chin] [chin] [chin]

bener tuh kata omma jun pyo... haru segera diikat, biar bisa dibawa kemana2 n gak lari kemana2  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

thenk u say buat updetannya... [hug] [hug] [hug] [hug]

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 2, 9 Agt 2010 ~
« Reply #48 on: August 09, 2010, 07:22:42 pm »
mami ama ai ga sabaran amat bawaannya langsung jatuh cinta aja. kan jun pyo blng "terlalu gegabah menyebutnya cinta"
jadi bisa aja jun pyo baru kasian ama jandi  [heh]

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 2, 9 Agt 2010 ~
« Reply #49 on: August 09, 2010, 10:10:24 pm »
so sweeet [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]
jun pyo uda mulai ada benih2 cinta ke jan di  [on] [on] [on]
lucu juga kalo disini jun pyo anak mami  [rofl] [rofl] [rofl]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 2, 9 Agt 2010 ~
« Reply #50 on: August 09, 2010, 10:14:21 pm »
 [clap] [clap] [clap] thanks liko udah diupdate [hug] [hug] [hug]

kasian bgt hidupnya jandi kehilangan orang yg disayangi 3 sekaligus [cry] [cry] [cry] [cry] [cry]
mungkin tu junpyo awalnya emang kasian sm jandi tp lama2 kan bs jd cinta jg [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]


ADAM COUPLE SELCA

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 2, 9 Agt 2010 ~
« Reply #51 on: August 09, 2010, 10:17:07 pm »
mami ama ai ga sabaran amat bawaannya langsung jatuh cinta aja. kan jun pyo blng "terlalu gegabah menyebutnya cinta"
jadi bisa aja jun pyo baru kasian ama jandi  [heh]
ga percaya [hmpfh] [hmpfh] kasian kok sampai segitunya [chin] [chin]
no no junpyo-a, dikau sudah cinta mate ama jandi and itu tidak gegabah [laughing] ~arif banget [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Tir_@

  • Newbie
  • *
  • Posts: 84
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 2, 9 Agt 2010 ~
« Reply #52 on: August 10, 2010, 05:45:40 am »
Thankx liko da d update... :-D
kasian jandi d tinggal keluarga tercinta
Bener sist dari kasian kan lama2 jadi cinta :-D
Ok d tunggu sist next chaptx

Offline Tir_@

  • Newbie
  • *
  • Posts: 84
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 2, 9 Agt 2010 ~
« Reply #53 on: August 10, 2010, 05:45:59 am »
Thankx liko da d update... :-D
kasian jandi d tinggal keluarga tercinta
Bener sist dari kasian kan lama2 jadi cinta :-D
Ok d tunggu sist next chaptx

Offline siska

  • Newbie
  • *
  • Posts: 62
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 2, 9 Agt 2010 ~
« Reply #54 on: August 10, 2010, 07:57:43 am »
liko,,,gomawo udah diupdate [biggrin] [biggrin] cerita seru nich,,kasian ya ama jandi harus kehilangan org yg dicintai sekaligus,,,tapi untubg ya ada jun pyo yang perhatian banget,,,dan yg paling aku suka sifat junpyo yang manja,,liko ditunggu ya chapter selanjutnya,,

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 2, 9 Agt 2010 ~
« Reply #55 on: August 10, 2010, 06:38:23 pm »
MARHABAN YAA RAMADHAN

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA
BAGI MEMBER DAN SR CM YANG MENJALANKANNYA

 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

sekilas info: hr ini maghrib jam 17.56 utk wilayah jakarta dan sekitarnya  [biggrin]
« Last Edit: August 10, 2010, 06:40:27 pm by Liko »

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 2, 9 Agt 2010 ~
« Reply #56 on: August 10, 2010, 06:50:54 pm »
aisshin: aku jg mesem2 ndiri pas bikin ttg jun pyo anak mami  [hmpfh]

mak revy: sebenernya sih supaya ga usah repot2 nyeritain keluarga jandi makanya 3 orng itu diilangin sekaligus *teganya diriku  [sweat]

mami: o jd ini kata si arif ya

no no junpyo-a, dikau sudah cinta mate ama jandi and itu tidak gegabah [laughing] ~arif banget [hmff]

kenal arif di mana mam  [what]

tir: next chp blom tau kapan, udh bulan puasa nih sist jd pengen konsen ibadah, tp tetep diusahain bikin deh  [biggrin]

siska: sama kayak aisshin nih demen yg manja2  [hmff]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 2, 9 Agt 2010 ~
« Reply #57 on: August 10, 2010, 10:55:10 pm »
liko,
Quote
kenal arif di mana mam  [what]
hammer2 hammer2 sejak dulu gw udah arif kan [dry] [goodgrief]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Rizkyta_A

  • Junior
  • **
  • Posts: 169
  • my first lovely couple
  • Location: depok
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 2, 9 Agt 2010 ~
« Reply #58 on: August 10, 2010, 11:16:59 pm »
duuh,,,,,,,

jdi.a si junpyo dah mulai gedebrug lope ya ma jandi??????? Emoticons0425 [huglove] [huglove] [lovestruck] [on]

aku tunggu next chapt ya,, kak........ Emoticons0427

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ Chapter 2, 9 Agt 2010 ~
« Reply #59 on: August 10, 2010, 11:30:27 pm »
 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] asiiikk LIKO update,,,, thx ya sizt.... baru mulai ngikutin niy aq,,, jd mau dihayati dlu ah..... [biggrin] [biggrin] [biggrin] [biggrin]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "