Author Topic: THE HOSPITAL-- Chapter 19 (11 Agustus 2011)  (Read 23700 times)

Offline miss_princess

  • Junior
  • **
  • Posts: 141
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 13 (21 May 2011)
« Reply #405 on: May 27, 2011, 10:07:14 am »
Ini kapan mau kawinnya mpok sisicia..
Hahhaha

Kan klo kawin gak perlu waktu 8 bulan..
2 jam juga cukup..

#mulaingawur..
Hahha

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 13 (21 May 2011)
« Reply #406 on: May 27, 2011, 10:13:49 am »
 [hmpfh] [AddEmoticons04263] [AddEmoticons04263] kapan kapan....  [bye] [bye]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 13 (21 May 2011)
« Reply #407 on: May 27, 2011, 10:51:25 am »
yang ini hbs maestro ya sist?..paling suka moment minho hyesun saehyun..kluarga klop dah [smiley-gen013]
[/size][/color][/b]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 13 (21 May 2011)
« Reply #408 on: May 27, 2011, 11:16:45 am »
 [hmpfh] gak janji... [hmpfh] [hmpfh]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 13 (21 May 2011)
« Reply #409 on: May 28, 2011, 12:17:47 am »
update
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME


Offline Adinda lestari

  • Junior
  • **
  • Posts: 249
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 13 (21 May 2011)
« Reply #410 on: May 28, 2011, 10:13:44 pm »
Update,,,,

Offline miss_princess

  • Junior
  • **
  • Posts: 141
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 13 (21 May 2011)
« Reply #411 on: May 29, 2011, 07:58:55 am »
Attention to mpok sisicia..
Please update your FF NOW..

Kawin..kawin..kawin..kawin..
#sambiljogetdiatasmeja..
Hahaha

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 13 (21 May 2011)
« Reply #412 on: May 29, 2011, 09:16:57 am »
 [AddEmoticons04242]


[AddEmoticons04242]



 [AddEmoticons04242]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Alin

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1002
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 13 (21 May 2011)
« Reply #413 on: May 30, 2011, 01:13:19 am »
update dong n langsung kawinin.. [lovestruck] [lovestruck]

Offline zHIe_rIsa

  • Junior
  • **
  • Posts: 151
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 13 (21 May 2011)
« Reply #414 on: May 30, 2011, 01:58:19 am »
UPDATEE!!!!!

  punk [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] punk

Offline Alin

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1002
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 13 (21 May 2011)
« Reply #415 on: May 30, 2011, 11:26:01 pm »
UPDATE..UPDATE..UPDATE..KAWIN..KAWIN..KAWIN.. [smiley-gen013]

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 13 (21 May 2011)
« Reply #416 on: May 30, 2011, 11:34:01 pm »
UPDATE RUMAH SAKIT UPDATE PUSKESMAS

SAE HYUN [smiley-gen013] SAE HYUN [smiley-gen013]
MINHO [smiley-gen013] MIN HO [smiley-gen013]
HYE SUN [smiley-gen013] HYE SUN [smiley-gen013]
[/size][/color][/b]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 13 (21 May 2011)
« Reply #417 on: May 31, 2011, 12:04:11 am »
 [AddEmoticons04254]
 [AddEmoticons04254]
[AddEmoticons04254]
 [AddEmoticons04254]
 [AddEmoticons04254]
 [AddEmoticons04254]
 [AddEmoticons04254]
[AddEmoticons04254]
[AddEmoticons04254]
[AddEmoticons04254]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Adinda lestari

  • Junior
  • **
  • Posts: 249
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 13 (21 May 2011)
« Reply #418 on: May 31, 2011, 09:37:02 pm »
Update,,,

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 13 (21 May 2011)
« Reply #419 on: June 02, 2011, 03:52:35 am »
THE HOSPITAL
Chapter 14



Additional Cast:
Goo Joon Yup as Mr. Goo
GO Hyun Jung as Hye Sun's step mother.



Akhirnya perekrutan tenaga kerja baru di Instalasi farmasi kelar. Beberapa farmasis baru sudah tercatat bekerja di Lee International Hospital. Dan seperti system kaderisasi organisasi lain, pertama-tama yang mereka jalani adalah pelatihan. Kini tampaklah sekumpulan farmasis baru itu ditempatkan di suatu ruangan. Hye Sun sebagai kepala Instalasi Farmasi mulai memberikan pidato pembuka.

“Selamat datang di Lee International Hospital. Sebagai pembukaan saya mengucapkan pula selamat bergabung di Instalasi Farmasi. Pelatihan akan diketuai oleh rekan sejawat kita Yoo Eun Ye,” pidato Hye Sun sambil menunjuk Eun Ye. Dan Eun Ye berdiri kemudian membungkuk hormat.

“Dan Kim Soe Eun sebagai wakilnya,” lanjut Hye Sun lagi. Soe Eun pun melakukan hal yang sama seperti Eun Ye.

“Untuk selanjutnya mereka berdualah yang akan membimbing serta menilai kalian. Mereka juga yang akan membagi jadwal kalian yang sepertinya akan terpecah menjadi dua kelompok. Benar begitu?” Hye Sun menoleh ke Eun Ye. Anggukan kepala dari Eun Ye menjawab pertanyaan Hye Sun.

“Saya rasa pembukaan saya cukup sekian. Untuk waktu selanjutnya saya serahkan pada Eun Ye-ssi dan Soe Eun-ssi. Saya harap farmasis yang sudah terpilih di sini benar-benar farmasis yang tahan banting. Selamat bekerja.”

Seiring berakhirnya pidato itu. Para peserta training berdiri memberi aplaus. Hye Sun berdiri untuk menghargai aplaus tersebut. Dan dari gerak tubuhnya, semua orang tahu kalau dia akan segera meninggalkan ruangan itu. Para sales dari beberapa distributor  memang sudah menunggu di depan ruangannya. Yong Hwa bahkan sudah berkali-kali mengirimkan SMS, pria itu pasti sudah menuliskan di Surat Pesanan, obat-obat yang harus dibeli instalasi farmasi. Tapi surat pesanan tentu tidak berlaku tanpa tanda tangan Hye Sun.

Kini Eun Ye yang mengambil alih acara. Para asisten segera membagikan lembaran jadwal pada para peserta, sementara Eun Ye memulai pidatonya. “Yang kalian terima adalah jadwal kalian selama masa training. Seperti yang tadi dijelaskan oleh rekan sejawat Hye Sun-ssi. Peserta di bagi dua kelompok. Kelompok yang bertugas lapangan di sore hari, harus mengikuti penataran di pagi harinya, sedangkan yang bertugas lapangan pagi hari harus mengerjakan tugas sebaik-baiknya. Jika di hari pertama kalian bertugas sore hari, hari berikutnya kalian bertugas pagi hari, begitu selanjutnya. Arasoo?”

“Arasoo!” seru mereka serempak. Eun Ye meneruskan pidatonya. “Tapi di hari pertama ini, terpaksa kalian berkumpul sama-sama di pagi hari ini untuk pencerahan. Tugas lapangan akan dikoordinir oleh saya dan Asisten Yong Hwa yang sekarang ini tengah membantu di seksi pengadaan. Sedangkan penataran akan dikoordinir oleh rekan sejawat Soe Eun-ssi.”

Para peserta tampak manggut-manggut. Mereka juga membaca lembaran jadwal yang sudah tersusun rapi lengkap dengan nama-nama mereka dan tanggal berapa giliran mereka jaga atau penataran. Sepertinya Eun Ye dan Soe Eun sudah mengatur acara ini sebaik-baiknya. Bahkan mereka sudah menetapkan para narasumber di setiap tema penataran.

“Di penataran, kalian akan bertemu narasumber-narasumber professional di bidangnya yang di datangkan dari beberapa Perguruan Tinggi Farmasi di negeri ini. Mungkin tema di hari pertama, berbeda dengan hari berikutnya jadi saya harap keaktifan kalian untuk mencari tahu dari peserta yang lain jika salah satu tema terlewatkan. Dan waktu berikutnya, saya serahkan pada rekan sejawat Soe Eun-ssi.”

Soe Eun berdiri, para asisten seakan tahu tugas mereka selanjutnya, mereka membagikan selebaran yang kedua. Sama seperti yang dilakukan Eun Ye, Soe Eun pun memberikan pengarahan perihal kertas yang dibagikan. “Lembaran kedua yang kalian terima adalah Visi Misi dari Lee International Hospital serta Instalasi Farmasi. Itu adalah materi kita untuk pagi hari ini. sedangkan halaman ketiga dan seterusnya adalah SOP yang harus kalian taati selama bekerja di lapangan.”

Soe Eun terus saja memberikan pengarahan. Sementara Penataran itu berlangsung, system di instalasi farmasi tetap berjalan. Hye Sun memperketat system pengadaan mau pun pelayanan, sehingga kebocoran obat dapat ditekan. Beberapa saat para farmasis muda itu mulai memasuki bangsal-bangsal. Bertukar pendapat dengan dokter dan perawat tentang kondisi pasien. Bahkan praktek Therapy Drug Monitoring mulai dijalankan dibawah tanggungjawab Eun Ye.

“Untuk sementara, ruanganku berfungsi sebagai basecamp informasi farmasi klinik,” jelas Eun Ye pada anak buahnya. Gedung gudang lama yang nantinya akan menjadi basis info farmasi klinik, sedang lokasi gudang farmasi yang baru, yang dirasa lebih cocok, baru dua hari yang lalu dilakukan peletakkan batu pertama.

Proyek Hye Sun ternyata hampir delapan puluh persen disetujui oleh Lee Corporation, termasuk di antaranya pemasangan Sistem Informasi yang komprehensif di Instalasi farmasi. Beberapa vendor system informasi dikerahkan Lee Corporation untuk mewujudkan impian Hye Sun.

“Saya ingin sistem informasi yang bisa mengcover bukan hanya manajerial tapi juga farmasi klinik. Untuk farmasi klinik, silahkan berunding dengan Yoo Eun Ye-ssi. Sedang untuk manajerial, saya menginginkan system yang mampu memudahkan pelayanan mau pun pengadaan. Ditambah dengan keamanan yang  ketat, dimana hanya orang-orang tertentu yang mampu mengaksesnya. Bukan hanya memuat masalah uang, tapi juga medis serta dilengkapi dengan navigator sehingga saya bisa mengaksesnya di mana pun saya berada.”

Hye Sun terus saja berbicara mengenai system yang dia maksud. Beberapa dari para vendor itu menawarkan blueprint-nya, dan Hye Sun mengamati selama berhari-hari untuk perbaikan. Hingga akhirnya dia memilih salah satu rancangan vendor, pemasangan berjalan beberapa hari. Beberapa orang mengamati dengan harap-harap cemas. Dan ketika uji coba pertama dilakukan, Hye Sun-lah yang harus mencoba di depan para pejabat rumah sakit.

Kini dia duduk di depan computer di apotek rawat jalan. Direktur rumah sakit dan beberapa staf mengelilinginya. Yoo Ah In di ruangannya dijadikan probandus pertama. Ah In harus mengetikkan obat yang diresepkan di computer di ruangannya dan seketika obat terbaca di computer yang ada di apotek rawat jalan. Dengan cara ini, pasien tidak perlu membawa lembar resep ke apotek, cukup duduk di ruang tunggu saja untuk dipanggil namanya.

Bip! Obat yang diketikkan Ah In muncul juga di salah satu computer di apotek rawat jalan. Semua hadirin bertepuk tangan. System bekerja dengan sempurna. Tentu saja perlu pelatihan personel agar pegawai lebih familier dengan system yang berjalan. Tapi setidaknya system jaringan ini berawal dengan cukup baik. Sangat baik malahan. Riuhnya tepuk tangan itu membuat wajah Hye Sun sumringah. Akhirnya setelah gelap terbitlah kecemerlangan di Instalasi Farmasi.


0oooOooo0

Hye Sun baru akan pulang saat seseorang tiba-tiba mengetuk pintu ruang kerjanya. Dengan sekali bersuara menyuruh masuk, Yong Hwa mendekatinya dan duduk sambil menyerahkan sebuah surat. Hye Sun membaca dengan kening berkerut. “Acara piknik tahunan?” gumamnya.

Yong Hwa mengangguk hormat, “Jadwal anda di week end pertama minggu ini.”

Hye Sun tersenyum canggung. Dia sama sekali tidak tahu ada agenda semacam itu di Lee Internasional Hospial. “Kalau aku tidak ikut, bagaimana? Aku rasa aku kurang suka berpiknik, lagi pula, instalasi farmasi sedang berbenah.”

“Jika anda tidak ikut, kami juga tidak ikut, farmasis Goo, tapi akan sangat kasihan bagi staf yang sudah berkeluarga.”

“Maksudmu?”

“Terus terang, acara ini yang paling mereka tunggu. Dengan begini mereka bisa memanjakan keluarga mereka. Jika anda tidak ikut, kami sepakat tidak ikut, walau pun agak kecewa.”

Hye Sun menyandar di kursi dan mengibaskan tangannya,”Ah, siapa juga yang menyuruh kalian melakukan kesepakatan itu?”

“Jadi?”

Hye Sun masih saja menimbang-nimbang sesuatu. “Kau sendiri?”

Yong Hwa menggeleng lemah.”Ada tugas tambahan di kampus pas jadwal saya berpiknik dan saya tidak juga menemukan orang yang mau bertukar jadwal.”

“Bagaimana jika kau bertukar jadwal denganku?”

“Jadi anda memutuskan untuk ikut?”

Hye Sun mengangguk mantap.”Tentu… jadi kita harus berpiknik bergantian?”

“Tentu, farmasis Goo. Seperti tahun-tahun sebelumnya, piknik dibagi empat kloter, setiap kolter berpiknik di akhir pekan di Villa Lee yang berada di pegunungan Bukhasan.”

“Villa Lee di pegunungan Bukhasan?” Hye Sun mengulang pernyataan Yong Hwa. Pria itu mengkernyitkan alis, tidak disangka Hye Sun tidak mengetahui keberadaan villa itu. “Anda tidak tahu kalau keluarga Lee punya villa sekaligus rancha di sana?”

“Rancha?”
“Ne, peternakan kuda.”

Hye Sun menggeleng lemah. Yong Hwa tersenyum tipis. Biasanya wanita mendekati Min Ho karena tahu asset-asset yang dipunyai bos besar itu, tapi Hye Sun malah tidak tahu sama sekali asset keluarga Lee selain rumah sakit dan Lee Corporation. “Keluarga Lee membangun tempat itu untuk peristirahatan karyawan Lee corporation. Bulan lalu giliran karyawan Lee’s Hotel yang kesana, dan sekarang giliran rumah sakit.”

“Anda yakin bertukar jadwal dengan saya?” Yong Hwa berusaha memastikan keputusan Hye Sun.
“Tentu saja. Minggu ini Appaku datang. Jadi aku tidak bisa ke Bukhasan minggu ini. Bisa kau katakan ini pada panitia?”
“Tentu, farmasis Goo. Saya akan ke sana sekarang.”

“Gumawo,” Hye Sun mengiringi kepergian Yong Hwa dengan pandangan terima kasih.

Minggu ini Goo Joon Yup, Ayah Hye Sun akan mengunjunginya. Min Ho juga sudah tahu itu. Bahkan mengatur makan malam bagi  Joon Yop dan Ommanya.

Suasana ruang makan keluarga Lee begitu hangat. Malam ini Hwo Young mengundang keluarga Hye Sun yang baru datang dari Jeju. Adik Hye Sun tidak turut serta di pertemuan ini karena belum libur. Hye Sun senang Appanya datang, tapi saat melirik perempuan yang duduk bersisihan dengan Appanya itu, kesenangannya selalu saja hilang.

Hwo Young memang tuan rumah yang ramah. Wanita anggun itu membicarakan rencana pernikahan yang telah dia susun untuk tujuh bulan mendatang. Sesekali tawa Yo Won dan Jin Woo, suaminya menggoda Min Ho yang akan menjadi pengantin.

“Suit, suit!” Jin Woo bersiul usil, sedangkan Yo Won mendelik pada suaminya,”Kau membuat Min ho malu.” Pria itu mati kutu, tapi masih saja dengan tenangnya mengunyah makanan.

Sae Hyun yang merasa sudah akrab dengan Hye Sun, memilih duduk di samping calon bibinya itu. Dia agak ngambek saat menyenggol lengan Hye Sun sambil berbisik, “Aunty bilang Omma Aunty sudah meninggal. Lalu yang itu siapa?”

Sae Hyun berbisik sambil menunjuk wanita di samping Ayah Hye Sun. Hye Sun menghela nafas panjang. Tentu saja itu ibu tiriku, batin Hye Sun.

“Aku tidak menyangka putri kami akan secepat ini menikah,” kata wanita itu. Hye Sun bertambah muak. Putrimu? Memangnya siapa yang mau jadi putrimu?”

“Tentu saja, Nyonya Goo. Putrimu akan menjadi putri keluarga Lee nantinya. Kau tidak usah kawatir, semuanya sudah kami persiapkan,” penjelasan Hwo Young.

“Ah, senangnya jadi menantu di keluarga ini,” desah wanita itu.
Joon Yup jadi agak risih dengan kelakuannya,”Hyun Jung-a, kau bicara seolah-olah kau yang akan menjadi menantu di keluarga ini.” lalu dia memandang ke arah Hwo Young,”Maafkan kelakuan istriku, Nyonya Lee.”

Hwo Young mengibaskan tangannya. Dia sudah tahu tabiat Hyun Jung dari Min Ho, jadi tidak begitu kaget.”Sudahlah, jangan sungkan. Sebentar lagi kita menjadi keluarga, jadi jangan terlalu kaku.”

“Aunty…,” Sae Hyun menyenggol lengan Hye Sun lagi. Pandangan mata anak itu masih mengamati  Hyun Jung. Wanita itu kini beralih pada Hye Sun. “Oh, iya, Hye Sun-a. Bagaimana kalian bertemu? Setahu Omma dulu kau dekat dengan seseorang di fakultas kedokteran yang bernama, Yo… Yo…

Hye Sun langsung mengangkat mukanya. Tindakan Hyun Jung sungguh keterlaluan dan tidak pada tempatnya. Joon Yup bisa menangkap pandangan horror di muka Hye Sun dan dengan cepat memotong kalimat,”Ah.., biasa, Nyonya Lee. Anak muda memang selalu menjajagi hubungan sampai menemukan seseorang yang cocok.”

“Dan aku yang cocok dengan Hye Sun-ku,” sela Min Ho sambil merangkul Hye Sun.”Bukan begitu, Chagiya?”

Semua yang hadir di situ sontak tertawa, dan agak kikuk Hye Sun menaikkan bibir untuk tersenyum.  Min Ho mengelus lembut pundak Hye Sun, tapi gadis itu melah memandang ibu tirinya dengan marah. Dia memang benar-benar marah. Bahkan saat mereka sudah tiba di rumah Hye Sun, gadis itu mengetuk pintu kamar Appanya. Hye Sun tahu benar jika Hyun Jung-lah yang akan membuka pintu. Sudah kebiasaan Appanya tidur setiap pukul sebelas malam agar darah tingginya tidak kambuh. Dan ternyata benar, saat Hyun Jung membuka pintu, Joon Yup sudah terlelap.

“Ada yang ingin aku bicarakan,” Hye Sun berkata tegas,”Bagaimana jika di ruang tengah.”

Hye Sun langsung menuju ruang tengah. Hyun Jung mengekor dari belakang. Saat Hye Sun sampai diruang tengah. Dia berhenti tepat di jendela yang menghubungkannya dengan pemandangan pantai. Laut sedang pasang waktu itu. Bulan purtama tampak membulat di atas hingga memberikan warna jingga di kelamnya air laut. Dan Hyun Jung berdiri di belakang Hye Sun.

“Apa maksud pertanyaanmu tadi?” tanya Hye Sun. Hyun Jung mengerutkan alis. “Kenapa kau berusaha menanyakan Ah In?” tanya Hye Sun lagi.

“Oh, jadi nama pria yang itu Ah In?” tebakan Hyun Jung. Hye Sun berbalik dengan emosi. Matanya mendelik sebal.”Sebenarnya apa maumu? Kami udah sangat tenang ketika kamu pergi. Kenapa kau datang lagi?”

“Omma minta maaf, Hye Sun-a.”

“Omma! Omma! Omma! Kau bukan Ommaku!” teriak Hye Sun tak karuan. Hyun Jung terisak halus.”Omma benar-benar minta maaf. Semua kesalahan Omma memang banyak.”

“Cukup! Sudah kubilang kau bukan Ommaku. Ommaku hanya satu dan dia orang yang melahirkanku!”
“Aku tahu itu. Aku tidak bisa menggantikan posisi itu di hati kalian. Setidaknya aku ingin mengembalikan sesuatu yang dulu ku pinjam padanya,” terang Hyun Jung masih dengan sesenggukan.

Kini giliran Hye Sun yang mengkerutkan alisnya. “Padanya? Pada siapa?”

“Ah In-ssi…  Omma dulu pernah meminjam uang padanya. sepuluh Juta Won, Hye Sun-a.”

Hye Sun kini lemaslah sudah. Hyun Jung dulu memang maniak kredit. Dia selalu tergoda untuk menggunakan kartu kreditnya, dan ketika jatuh tempo tak bisa membayar. Akhirnya dia berhutang ke sana kemari. Hye Sun pernah memergoki ibu tirinya itu meminjam uang pada Eun Ye. Tapi meminjam uang pada Ah In? baru kali ini dia mendengarnya. “Bagaimana bisa!”

“Miane…,” hanya itu yang bisa Hyun Jung ucapkan.
“Kau benar-benar keterlaluan, Lady Go!”

Hye Sun benar-benar tak habis pikir dengan ulah ibu tirinya. Dia merasa harus menyelesaikan masalahnya dengan Ah In sekarang. Apa lagi jika bukan mengembalikan uang sepuluh juta won itu. Pagi-pagi benar, Hye Sun sudah membongkar rekening tabungannya yang ternyata  hanya  menyisakan satu juta Won dari hutang Hyun Jung, dan menemui Ah In di suatu restoran di pinggir pantai Haende di jam makan siang.

“Ada apa sebenarnya, Hye Sun-ssi,” pria itu sudah bertanya-tanya sejak Hye Sun menelpon pagi-pagi sekali. Di depannya Hye Sun duduk, lalu mengeluarkan amplop coklat yang agak tebal. Ah In menerimanya dengan dahi berkerut.”Apa ini?”

Hye Sun menghela napas. Dengan berat dia menerangkan,”Jumlahnya tepat sepuluh juta won. Hutang Go Hyun Jung padamu.”

Ah In tampak terkejut mendengar kalimat barusan. Dengan lambat, dia menyorongkan amplop itu kembali.”Aku bahkan sudah melupakannya.”

“Tapi aku tidak!” potong Hye Sun. “Aku tidak mau masa lalu itu menggangguku.”

Ah In tersenyum tulus. “Waktu itu ibu tirimu mengetuk pintu apartemenku, dia tampak ketakutan karena debt collector selalu menerornya. Karena itu kuberikan uang itu padanya. aku tahu uang itu tidak akan kembali saat memberikannya jadi sampai sekarang aku tidak mengharapkan lagi.”

“Sepuluh juta Won bukan nilai sedikit, Ah In-ssi!”
“Aku tahu itu.”
“Lalu jika tahu kenapa kau memberikannya?”
“Demi kamu!” Ah In menjawab cepat.
“Mwo?”

“Hanya itu yang bisa kujawab. Jangan tanya kenapa lagi. Kalau memang kau ingin aku menerima uang ini. Oke!” Ah In menarik amplop itu kembali, lalu memasukkan dalam saku jasnya.

“Oke, aku tidak akan bertanya lagi. Terima kasih atas kejutan untukku hari ini. “ Hye Sun berdiri. Lalu membungkukkan tubuhnya untuk undur diri.

Hyun Jung yang dari tadi mengikutinya, melihat Hye Sun keluar dari restoran itu. Saat dia berbalik, Ah In sudah berada di depannya. Pria itu membungkuk hormat dan Hyun Jung pun membalas penghormatan itu, hingga akhirnya mereka berdua duduk berhadapan di meja restoran itu.

“Aku senang bertemu anda lagi, Ah In-ssi,” sapa Hyun Jung. Ah In tersenyum tipis. Dia mengeluarkan amplop coklat yang tadi diberikan Hye Sun.  “Saya sudah lama merelakan itu, Nyonya.”

Hyun Jung menampik uluran amplop itu. “Hutang tetaplah hutang, Ah In-ssi. Saya sudah cukup berterima kasih. Jika saja anda tidak menolong saya waktu itu, saya tidak tahu bagaimana nasib saya, mungkin sudah menjadi pelacur jalanan.”

“Jangan seperti itu, Nyonya. Kita harus saling tolong menolong.”

“Terimalah uang itu, Ah In-ssi. Sudah menjadi niat Hye Sun untuk mengembalikannya.” Hyun Jung tersenyum kemudian.”Sebenarnya dulu aku berharap engkau-lah yang kelak menjadi suami Hye Sun.”

Ah In tersenyum mendengarnya. Bahkan sahabat-sahabatnya dulu mengira kalau pada akhirnya dia dan Hye Sun menikah. “Kita tidak pernah tahu siapa jodoh kita, Nyonya.”

Kita tidak pernah tahu siapa jodoh kita. Begitu juga Hye Sun yang kini berdiri di toproof Lee Internasional Hospital. Masalah yang dia temui di akhir pekan begitu mengejutkannya. Sedapat mungkin dia menyepi, menenangkan diri di antara hiruk pikuk rumah sakit. Tapi dia lupa kalau Min Ho juga mengetahui tempat ini, pria itu sudah berdiri di belakangnya. Menatap punggungnya yang masih asyik melihat pemandangan di bawah.

“Kau tidak takut ketinggian?” tanya Min Ho yang membuat Hye Sun menoleh.”Dhe?”

Min Ho menyunggingkan senyum.”Kau memandang ke bawah. Orang yang takiut ketinggian tidak berani melakukan itu.”

Min Ho melangkah ke arah Hye Sun. kini keduanya berdiri bersisihan, Min Ho jadi ikut-ikutan memandang ke bawah.

“Jika kau berani ke atas, kau harus berani memandang ke bawah,” ucap Hye Sun kemudian.
“Kenapa?”
“Karena kau bisa mengira-ira seberapa sakit jika kau terjatuh.”

Senyuman tersungging lagi di bibir Min Ho. Hye Sun menghela nafas, lalu berucap lembut.”Min Ho-a, haruskah aku jatuh sekarang?”

“Kalau jatuh cinta padaku, sih… harus.”

Hye Sun menampakkan muka manyun dan mencubit perut Min Ho. Pria itu meringis pura-pura kesakitan. “Jatuh bangun di kehidupan itu biasa, Chagiya.” Lalu Min Ho memegang wajah Hye Sun.”Ada apa denganmu. Apa ini karena kedatangan ibu tirimu?”

HYe Sun mengangguk lemah. Min Ho menghela napas. “Sudahlah. Kalau memang seperti itu dia menjalani hidupnya, mau diapakan lagi.”

“Oh, ya.., kau sudah mempersiapkan acara di Villa Bukhasan?” tanya Min Ho kemudian. Wajah Hye Sun berubah sumringah lalu mengangguk cepat. “Kau akan ikut kami, kan?” tanyanya.

“Anhi, ada rapat di malam sabtu. Mungkin aku akan menyusul Sabtu paginya. Kau tidak apa jika naik bis dengan yang lain? Atau perlu ku suruh sopir Yon mengantarmu?”

Hye Sun menggeleng.”Tidak perlu, aku rasa, aku perlu bersosialisasi dengan semua karyawan di rumah sakit. Tapi janji, ya… kau menyusul.”

“Tentu, mungkin aku akan membawa Sae Hyun.”

“Jangan!” tolak Hye Sun keras-kerras.
“Mwo?”
“A… A…aku tidak mau ada SAe Hyun nantinya.”

Min Ho ngakak kemudian. “Kau tidak mau ada yang mengganggu kita, ya?” wajah Hye Sun jadi memerah. Min Ho semakin geli saja.

Kunjungan Joon Yup di Busan hanya berlangsung tiga hari. Dia dan istrinya kembali ke Jeju pada hari Selasa sore hari. Antara Hyun Jung dan Hye Sun saling mendiamkan satu sama lain. Hye Sun belum memaafkan perbuatan Hyun Jung dan Hyun Jung masih takut menyapa Hye Sun.

Hari yang dinantikan karyawan di kloter kedua piknik perusahaan tiba. Hye Sun memasuki bis sambil menenteng travel bag. Dia agak terlambat, karena susah tidur. Alhasil bis sudah dipenuhi karyawan yang memilih sendiri-sendiri tempat duduknya. Bahkan Eun Ye yang diliriknya, kini sedang asyik berbincang dengan Hyun Joong. Mau tak mau, Hye Sun terus melangkah ke belakang.

Saat Hye Sun menemukan salah satu kursi yang kosong, dia segera menduduki kursi itu. Di sampingnya ada pria yang asyik menekuri Koran. Ketika tahu ada seseorang yang menduduki kursi di sampingnya, orang itu menoleh. Keduanya tersentak kemudian.

“Ah In-ssi!”

“Hye Sun!”


BERSAMBUNG
« Last Edit: June 02, 2011, 04:19:34 am by sisicia »


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]