Author Topic: THE HOSPITAL-- Chapter 19 (11 Agustus 2011)  (Read 23709 times)

Offline miss_princess

  • Junior
  • **
  • Posts: 141
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 14 (2 June 2011)
« Reply #465 on: June 12, 2011, 05:21:57 am »
Yaaahh kok kamiss depaan..
Kelamaan..
Pokoknya gak mau tau ntar malem..
Hyesun ama minho harus KawiN..
Gak mau tau titik.

#kaborrrrr

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 14 (2 June 2011)
« Reply #466 on: June 13, 2011, 06:36:40 am »
hari kamis [chin] [chin] [chin] [chin] artinya bersamaan dengan setetes iler dari tret sebelah [flowers] [flowers]
[/size][/color][/b]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 14 (2 June 2011)
« Reply #467 on: June 13, 2011, 07:30:51 am »
hari kamis [chin] [chin] [chin] [chin] artinya bersamaan dengan setetes iler dari tret sebelah [flowers] [flowers]

yang mana???


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Adinda lestari

  • Junior
  • **
  • Posts: 249
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 14 (2 June 2011)
« Reply #468 on: June 13, 2011, 07:51:05 am »
Updatenx skr9 ja eon,,,,

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 14 (2 June 2011)
« Reply #469 on: June 13, 2011, 10:06:55 am »


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 14 (2 June 2011)
« Reply #470 on: June 13, 2011, 01:05:24 pm »
hari kamis [chin] [chin] [chin] [chin] artinya bersamaan dengan setetes iler dari tret sebelah [flowers] [flowers]

yang mana???
joanaaaaa [cry] [cry] [cry]
[/size][/color][/b]

Offline Adinda lestari

  • Junior
  • **
  • Posts: 249
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 14 (2 June 2011)
« Reply #471 on: June 14, 2011, 08:58:51 pm »
Update...

Offline Adinda lestari

  • Junior
  • **
  • Posts: 249
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 14 (2 June 2011)
« Reply #472 on: June 15, 2011, 11:43:30 pm »
Eon,,dach hri kmis nich silahkn d'update.....

Offline aii.d luffy

  • Full
  • ***
  • Posts: 301
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 14 (2 June 2011)
« Reply #473 on: June 16, 2011, 12:17:43 am »
Emang mau update hari kamis ini ya sisi???
Agak banyakan dunk momen minsunnya.
atau langsung tancap,kawin hmpfh
BELIEVE IN HAPPY ENDING--MINSUN

Offline mumu

  • Junior
  • **
  • Posts: 200
  • Tatapanmu mengalihkan duniaku....
  • Location: indonesia
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 14 (2 June 2011)
« Reply #474 on: June 16, 2011, 02:04:50 am »
ada kabar yang eni mau di update malem eni,,,,mau ngasih hadiah karena sipapi kagak apa-apa, setelah kecelakaan laknat...
'laknat?' jadi inget durjana laknat....wkwkwk [laughing] [hmpfh] [smiley-gen013] punk [cheekkiss] [huglove] [hug] [hmff]
DALIMUNTE, PROFESOR MUDA DENGAN ROMANTISME KELUARGA KECILNYA...mau...mau...

Offline Adinda lestari

  • Junior
  • **
  • Posts: 249
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 14 (2 June 2011)
« Reply #475 on: June 16, 2011, 06:24:17 am »
Update donk eon dach hmpir hri jumat nich,,kn janjinx hri kmis...

Offline Adinda lestari

  • Junior
  • **
  • Posts: 249
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 14 (2 June 2011)
« Reply #476 on: June 16, 2011, 06:25:08 am »
Update donk eon dach hmpir hri jumat nich,,kn janjinx hri kmis...

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 14 (2 June 2011)
« Reply #477 on: June 16, 2011, 12:38:30 pm »
THE HOSPITAL
Part 15

Hari yang dinantikan karyawan di kloter kedua piknik perusahaan tiba. Hye Sun memasuki bis sambil menenteng travel bag. Dia agak terlambat, karena susah tidur. Alhasil bis sudah dipenuhi karyawan yang memilih sendiri-sendiri tempat duduknya. Bahkan Eun Ye yang diliriknya, kini sedang asyik berbincang dengan Hyun Joong. Mau tak mau, Hye Sun terus melangkah ke belakang.

Saat Hye Sun menemukan salah satu kursi yang kosong, dia segera menduduki kursi itu. Di sampingnya ada pria yang asyik menekuri Koran. Ketika tahu ada seseorang yang menduduki kursi di sampingnya, orang itu menoleh. Keduanya tersentak kemudian.

“Ah In-ssi!”

“Hye Sun!”

Keduanya saling berpandangan. Perasaan Hye Sun masih tidak enak akibat ulah Hyun Jung dan Ah In agak kikuk juga. Eun Hye yang tahu keajaiban langka ini mendekat lalu agak sedikit menggoda, “Wah…, lagi nostalgia, ya?”

Seketika wajah Hye Sun memerah, dan Ah In semakin serba salah, “Apa kabar, Eun Hye-a?”

Eun Hye memang tidak tahu diri. Wanita ini malah menggelang-gelangkan kepala sambil berdecak, “Ckckckck, jangan mengalihkan perhatian, Ah In-a.”

Melihat keakraban mereka bertiga, Hyun Joong jadi ikut nimbrung juga. “Kalian sudah saling kenal?” tanyanya.

“Tentu sudah, sayangku,” jawab Eun Hye sambil merangkul Hyun Joong, membuat Hye Sun mendelik heran, “Sayang?”

“Ne! Waeyo?” tantang Eun Hye, dia mengedipkan sebelah matanya setelah itu.
Hye Sun Cuma bisa mencibir. Di mana pun dia berada, Eun Hye selalu cepat mendapatkan pria incarannya, tapi melihat pria incaran Eun Hye sekarang? Hye Sun jadi tak habis pikir cowok pendiam seperti Hyun Joong bertekuk lutut juga padanya.

“Ya… Kenapa kau memandangku begitu?” Eun Hye merasa risih dengan tatapan Hye Sun yang seakan menginterogasi.

“Aniyo,” Hye Sun mengibaskan tangannya lalu menoleh pada Hyun Joong. “Dokter Kim, bisa kita tukar tempat?”

“Mola,” bukannya Hyun Joong, malah Eun Hye yang menjawab. Hye Sun jadi mendelik. Merasa tempat duduknya terancam, Eun Hye menyeret Hyun Joong agar kembali ke tempat duduknya. “Ayo kita kembali sebelum ada terror.”

Ah In tertawa garing melihat tingkah mereka berdua. Hal itu membuat Hye Sun yang terheran menoleh ke arahnya. Baru kali ini Hye Sun melihat tawa Ah In lagi setelah sekian lama bertemu. Sejak pertemuan mereka di rumah sakit, yang ada hanya perasaan tegang. Hye Sun menyadari kalau kehadiran Eun Hye setidaknya mampu mencairkan ketegangan tersebut.

“Kenapa kau memandangiku?” tanya Ah In sambil memalingkan muka.

Hye Sun menjadi gugup. Matanya melirik ke sana-kemari, dan mampu membayangkan pipinya sudah sangat merah.”Aniyo.”

“Sudah dua kali kau ucapkan kata itu,”  perkataan Ah In membuat kening Hye Sun berkerut. “Mwo?”

“Aniyo. Kau katakan “aniyo” dua kali. Elakkan yang bisa ditebak.”

Kini giliran Hye Sun yang tertawa dan Ah In yang keheranan. Seperti yang dipikirkan Hye Sun tadi, Ah In juga baru sekarang melihat Hye Sun tertawa lepas lagi di hadapannya.
“Sudah lama kita tidak seperti ini, ya?” desah Hye Sun kemudian. Ah In mengangguk,”Terakhir kali saat acara jalajah alam tahun terakhir di Seoul National Univercity.”

“Ne,” sesaat angan Hye Sun menerawang.
“Dan kau pindah ke Korean Univercity, meneruskan S2-mu,” sambung Ah In. Kali ini tatapan Ah In berubah serius,”Kau bertemu Min Ho di sana?”

Hye Sun menyipitkan mata, membuat pemuda di depannya jadi serba salah. “Miane, kau tidak perlu  menjawab jika merasa tidak nyaman,” elak Ah In.

“Oh… aniyo,” sekali lagi Hye Sun mengibaskan tangan. Keduanya terdiam sebentar, lalu tertawa lagi saat menyadari sudah tiga kali Hye Sun mengucapkan kata yang sama. Lima menit berikutnya suasana semakin santai bagi mereka berdua. Bis yang mereka tumpangi mulai bergerak meninggalkan areal rumah sakit. Eun Hye yang sesekali melirik pada Hye Sun melengkungkan bibir. “Nostalgia dimulai…., ” batin Eun Hye.

“Kau tidak membawa gitarmu?” Hye Sun tahu benar kebiasaan Ah In dengan gitarnya di saat-saat santai seperti ini. Pria itu menunjuk ke desk barang di atas mereka,”Lihat di atas kepalamu.” Membuat Hye Sun menengadah. Benar, gitar Ah In ada di sana. Hye Sun mengangguk sambil tersenyum,”Tidak pernah berubah.” Sekali lagi mereka tertawa.

Kru bis merasa suasana begitu sunyi. Seorang anggota tour menyarankan untuk menyetel DVD, akhirnya bis dengan daya muat lima puluh orang itu jadi ruang karaoke dadakan. Mereka menyanyi bergantian, urut berdasarkan urutan tempat duduk. Hye Sun juga mendapati mereka saling memanggil secara informal, tapi hal ini malah membuat Hye Sun bingung karena dia belum hafal betul nama lengkap mereka. bagaimana tidak? Selama ini Hye Sun mengenal mereka sebagai asisten Kim, perawat Park, atau pun dokter Kim, mendengar mereka saling memanggil nama kecil, Hye Sun mau tak mau harus menghafal nama kembali.
“Lagunya Choi Shi Won, dong?” request salah seorang remaja yang ternyata anak dari perawat Son. Semua orang seketika mendelik ke arahnya. Sudah menjadi rahasia umum perselingkuhan istri Ah In dengan penyanyi tenar tersebut.

“Aku minta lagu…,” belum sempat anak itu meneruskan ocehannya, sang ibu sudah membekap mulutnya. “Miane, Ah In-ssi,” sesal perawat Son.

“Gwencana, Hye Jin-a,” mendengar obrolan itu Eun Hye merasa penasaran.”Ada hubungan apa antara lagu Shi Won dan Ah In?” tanya Eun Hye nyaring, membuat semua orang menoleh. Tapi Hye Sun melirik Ah In dengan dahi berkerut.

“Sssttt!” Hyun Joong memberi isyarat agar Eun Hye diam. Ah In menghela nafas lalu beralih pandang ke luar jendela. Hye Sun semakin penasaran, tentu saja dia dan Eun Hye kurang tahu masalah itu karena mereka tergolong karyawan baru.

------oOo------

Hari merangkak siang. Kesibukan di areal perkantoran Lee Corporation semakin kentara, bunyi deringan telephon dan mesin pencetak saling bersahutan, tapi tunggu… itu hanya terjadi di ruang staff. Tentu saja suasana ini tidak berlaku di ruangan para petinggi perusahaan. Jabatan dan jenjang pendidikan membuat semuanya terpetak-petak, sangat kontras dengan yang terjadi pada anggota tour tadi. Dan Min Ho termasuk orang yang menikmati fasilitas mewah di gedung ini mengingat posisinya sebagai Presiden Direktur. Posisi yang begitu hebat, mengingat usianya masih sangat muda. Posisi yang harus diampunya setelah sang Ayah meninggal.

Di depan Min Ho, akuntan Han menjelaskan perkembangan proyek di Macau. Bagaimana para pekerja dari perusahaan yang mereka akuisisi mulai melakukan unjuk rasa.

“Kerahkan orang untuk berunding dengan serikat pekerja,” perintah Min Ho tanpa berpaling dari layar Lap top-nya. Akuntan Han mencatat perintah itu, lalu pembicaraan beralih pada usulan kerja sama dari Young’s Group untuk proyek jalan layang.

“Kerahkan staff kita untuk menilai keuntungan proyek ini.” sekali lagi Min Ho bersuara tanpa beralih dari depan Lap Top.

“Arasso.”

Min Ho tersenyum. Gambar sebidang tanah tampak di layar Laptopnya. Dalam pikirannya mulai terpampang gambaran gedung yang akan berdiri di atas tanah itu, lengkap dengan fasilitas dan pekerja berseragam putih. “Kau ingat tanah di sebelah barat Pegunungan Bukhasan, Han-ssi?”

Han mengkernyitkan dahi. “Tentu saja, Tuan Lee. Anda merencanakan sesuatu pada tanah itu?”

Min Ho menjentikkan jari. Han memang akuntan yang cerdas, tak salah jika Almarhum Tuan Lee tua mempercayai Han. “Tepat sekali tebakanmu, Han-ssi. Sebuah rumah sakit.”

“Rumah sakit lagi?” Han jadi tak habis pikir. Bukannya masalah Lee International Hospital saja sudah membuat pusing?

“Ne! kali ini rumah sakit khusus. Bisa dibilang pusat terapi dan rehabilitasi penyakit Kanker, dan aku rasa suasana pegunungan di sana cocok untuk proyek ini.”

“Anda yakin?” Han mempertanyakan proyek itu. “Selama ini pegunungan Bukhasan terkenal dengan image pariwisatanya, mendirikan pusat pengobatan Kanker di sana tentu akan mengganggu image itu, apalagi Lee Corporation juga punya obyek wisata di situ.”

Min Ho terkekeh seketika, “Letak antara Villa dan Rancha dengan tanah ini berlawanan arah, Tuan Han.”

“Saya akan mencari orang yang tepat untuk mewujudkan proyek anda, Tuan Lee. Jika anda yakin, pasti semua ini berhasil.”

Min Ho manggut-manggut. Dia memang anti terhadap penolakan. Sudah menjadi gen turunan di keluarga Lee bahwa…,”Bagus! Aku tidak suka adanya kata tidak sebelum mencoba,” puji Min Ho.

“Aku akan bekerja sama dengan peneliti di Seoul National University. Hye Sun pernah bilang bahwa di dunia akademis sudah banyak dilakukan penelitian terhadap herbal mau pun bahan makanan yang mampu menghambat pertumbuhan kanker…

“Tunggu, Tuan Lee. Ini rumah sakit atau pusat pengembangan obat kanker?”

“Bisa dibilang dua-duanya. Seperti contoh rumah sakit di Beijing yang mampu memadukan tehnik pengobatan barat dan timur. Akan seperti itulah rumah sakit ini nantinya.”

“Baiklah, saya mulai mengerti. Secepatnya akan saya tindaklanjuti.”

“Aku ingin proyek ini diumumkan di media massa, untuk lelang tender  tujuh bulan kedepan,” tegas Min Ho. Han hanya bisa mengangguk. “Kau bisa menyiapkan rapat untuk nanti malam sekarang,” perintah Min Ho lagi dengan bahasa tubuh mengusir.

“Pusat pengobatan kanker….,” benak Min Ho. “Tidak ada yang tak mungkin bagi keluarga Lee.”

Min Ho tersenyum tipis. Kanker adalah penyakit yang selama ini manjadi obyek ketertarikannya. Hal ini disebabkan oleh sebuah penelitian. Sebuat tesis yang dilakukan oleh sahabat Hye Sun di Seoul National University, fakultas farmasi. Dan Min Ho hanya sebagai penonton yang tidak tahu apa-apa saat Hye Sun dengan antusias menyeretnya untuk melihat presentasi yang dilakukan orang itu. Bahkan gadis itu sedikit cuek padanya jika sudah di dekat teman-teman farmasisnya.

Hye Sun membaca intisari dari penelitian itu dan mendiskusikannya dengan yang lain selama sang peneliti berpresentasi, dan Min Ho hanya bisa bengong. Saat sesi tanya jawab, Hye Sun membabat pertanyaan yang agak membuat peneliti kewalahan.

“Di sini anda bilang jenis karbohidrat bisa menghambat sel dari kanker, yang saya mau tanyakan adalah… apakah sumber karbohidrat lain juga bisa, dan apa yang membuat saudara memutuskan tomat sebagai bahan yang diteliti,” tanya Hye Sun.

Peneliti itu menampakkan gambaran rumus molekul di LCD-nya lalu menjelaskan.”Karbohidrat mempunyai dua macam ikatan yaitu ikatan beta dan ikatan alfa, saya memilih tomat karena dalam jurnal terdahulu menyebutkan bahwa ikatan karbohidrat pada buah tomat adalah ikatan alfa yang lebih efektif menghambat perkembangan sel kanker.”

“Oke, lalu apa beda antara fraksi A dan fraksi B di sini, sehingga membuat hasil hambatan sel kanker lebih efektif di fraksi B dibanding fraksi A,” tanya Hye Sun lagi. Min Ho semakin pusing mendengar perdebatan ini, tapi setidaknya yang dia tangkap hanya satu, bahwa buah tomat bisa dikembangkan sebagai obat kanker. Inilah peluang bisnis yang bisa Min Ho pegang.

Sekali lagi gambar yang keluar dari layar LCD berubah ke proses fraksinasi, dan peneliti itu mulai menerangkan kembali, “Seperti yang kalian lihat di sini, fraksi B adalah fraksi A dengan  perlakuan lebih lanjut. Saat saya melakukan identifikasi kandungan senyawa yang terdapat di kedua fraksi, fraksi A masih terdapat karbohidrat dalam bentuk polysacharida, beta carotene, bahkan sedikit Licopen. Sedangkan fraksi B, hanya terdapat karbohidrat murni, bahkan dalam bentuk mono, sehingga fraksi B lebih efektif.”

Hye Sun ingin bertanya lagi, tapi ketua sidang melarangnya,”Maaf, mohon beri kesempatan bagi yang lain untuk bertanya.” Min Ho terkekeh dan itu membuat Hye Sun mayun. Orang yang tepat di depan Hye Sun tunjuk jari. “Di sini anda bilang aras kepercayaan yang anda pakai adalah 85 persen, sepertinya hal  ini tidak umum, apa yang mendasari anda memutuskan angka itu.”

“Hal ini bisa dibilang dari hasil trial eror, saya mencoba hasil ini dalam beberapa aras kepercayaan,  hingga saya dapatkan angka yang pas.” Hye Sun jadi mengkernyitkan dahi mendengar jawaban itu.

“Tunggu,” sanggah Hye Sun.”Bukankah aras kepercayaan itu ditentukan sebelum di dapat hasil?”

“Maaf, maksud anda?”

“Cara berpikir ilmiah, menerangkan bahwa semua berawal dari latar belakang masalah, tujuan penelitian, study pustaka, pertanyaan penelitian, metodologi lalu hasil dan kesimpulan. Aras kepercayaan itu termasuk metodologi penelitian, bagaimana bisa aras kepercayaan itu diujicobakan ke hasil?”

Di sini peneliti mulai grogi. Orang-orang di ruangan mulai menggagas persoalan ini dengan masing-masing orang yang berada di sampingnya. Min Ho hanya bisa menepuk-nepuk bahu Hye Sun sambil berbisik,”Jangan terlalu keras dengan temanmu. Kasihan dia.”

“Adakah Jurnal terdahulu tentang kanker?” tanya Hye Sun akhirnya. Orang itu mengangguk. “Berapa aras kepercayaan yang dipakai?’ tanya Hye Sun lagi.

“Jurnal itu menyebutkan 85 persen  juga.”

“Anda bisa menunjukkan pada yang lain tentang jurnal ini di daftar pustaka anda, bukan? Kira-kira apa yang mendasari peneliti di jurnal itu mengambil angka 85 persen?”

Peneliti semakin pusing juga, apalagi Min Ho yang tidak tahu apa-apa. Capek juga punya pacar yang penuh rumus kimia dan Hye Sun tetap saja mengejar peneliti itu dengan pertanyaan-pertanyaan yang lebih sulit jika saja ketua sidang tidak menghentikannya. Tapi setidaknya dengan kepandaiannya, Hye Sun-lah yang membantu Min Ho menyelesaikan tesisnya, tentu saja setelah tesis Hye Sun sendiri selesai. Memang tak mau rugi gadis itu, dan Min Ho melarang Hye Sun menghadiri sidang terbuka tesisnya, takut kalau Hye Sun memberikan pertanyaan-pertanyaan sulit padanya. Hye Sun agak lemah di manajemen dan bisnis, tapi Hye Sun bisa memberi pertanyaan sulit di ‘metodologi penelitian’ yang tentu saja bisa menjatuhkan Min Ho.

Kini Min Ho semakin tertarik pada alternative pengobatan kanker, jika tomat yang murah dan bisa didapat di mana saja itu bisa dipakai untuk pengobatan herbal kanker, apalagi tanaman-tanaman lain yang tidak terpikirkan sebelumnya. Bahkan juga rumput, bukankah sapi jarang yang terkena penyakit kanker? Menurut Min Ho, ini adalah peluang bisnis yang menguntungkan, dan dengan rencana proyek “pusat pengobatan dan pengembangan obat kanker” ini, dia akan mewujudkannya.

----oOo----

“Wah! Indah sekali,” hal pertama yang dilakukan Eun Hye saat menuruni bis setelah sampai di areal Villa Lee adalah berteriak sambil menghela nafas panjang, menikmati bersihnya udara pegungungan Bukhasan. Hyun Joong yang tampak kewalahan menurunkan barang mereka akhirnya protes juga,”Hei, yoja centil! Turunkan sendiri barangmu!”

“Apa kau bilang?” Eun Hye menoleh sambil berteriak, membuat Ah In dan Hye Sun terpingkal-pingkal. Ah In mengacungkan jempolnya ke arah Hyun Jong sembari berujar, “Betul, Hyun Joong-ssi, memang itu julukan Eun Hye di kampus.”

Eun Hye jadi tambah sewot. Hye Sun yang hanya membawa satu travel bag, menyerat bawaannya mendekati Eun Hye. “Tapi hanya Eun Hye yang bisa membuat dokter Kim bercanda seperti tadi,” kata Hye Sun sambil menepuk pundak Eun Hye. Merasa di puji, hidung Eun Hye jadi kembang-kempis dan nyengir narsis. “Bawakan, ya… Hyun Joong-a, awas! Kalau masih protes, tidak ada jatah untukmu nanti.”

Gubrak! Jatah apa memangnya? Ah In dan Hye Sun jadi tak habis pikir sedang Wajah Hyun Joong sudah seperti kepiting rebus saja. Karyawan lain mulai memasuki lobi villa bersama keluarga mereka. sementara para orang tua mengikuti pembagian kamar, anak-anak sudah riang berlarian untuk memenuhi rasa ingin tahu mereka terhadap keindahan kawasan pariwisata ini. sesekali terdengar teriakan dari para ibu mereka, mengingatkan agar tidak lari terlalu jauh dari areal villa. Dan sepertinya Hye Sun juga seperti anak-anak itu, walau pun kakinya melangkah menuju lobi, kepalanya tolah-toleh. “Sepertinya aku pernah ke tempat ini?”

Ah In yang berjalan di samping Hye Sun menimpali,”Tentu saja, jelajah alam mahasiswa pecinta alam SNU di tahun  kedua.”

“Betul, betul, betul!” Eun Hye melonjak gembira,”Aku juga masih ingat Ah In-a.”

“Hm.., rupanya piknik tahunan ini jadi semacam reunion bagi kalian,”Hyun Joong yang tampak menarik dua koper, kopernya dan Eun Hye ikut bicara.  Tapi kekasih barunya memang agak tidak tanggap, bukannya mengambil alih salah satu koper, malah malingkarkan tangan di lekukan siku Hyun Joong. “Iya, sepertinya begitu, Chagi.”

“Tapi kenapa dulu kau tidak bilang kalau ini villa saudaramu? Tahu begini, kita tidak usah camping!” protes Hye Sun, walau pun kejadian itu sudah berlalu. Ah In tersenyum geli,”Sengaja, kau pikir dari mana aku cepat mendapatkan air bersih kalau bukan dari villa ini.”

“Huuu!!! Curang!” teriak Hye Sun dan Eun Hye bersamaan, membuat semua orang yang berjalan seiring dengan mereka menoleh.

“Hei, hei, kenapa kalian protesnya sekarang! Lagian mana ada penjelajah alam tidur di kasur empuk dan makan-makanan enak? Ada-ada saja,” Ah In tidak mau terima. Sementara kedua wanita itu bersungut-sungut, Hyun Joong Cuma geleng-geleng kepala.

Pembagian kamar selesai dalam waktu tiga puluh menit. Karena Hyun Joong dan Ah In termasuk single, dan tidak ingin ada kejadian yang tidak diinginkan [?], mereka berdua satu kamar. Eun Hye akhirnya menerima sekamar dengan suster Park walau pun bibirnya mayun karena rencana sekamar dengan Hyun Joong gagal [?]. Sedangkan Hye Sun dapat jatah kamar sendiri dari panitia karena mereka tahu Min Ho akan menyusul keesokan harinya [?!]. Merasa sudah mendapatkan kamar, personil piknik tahunan kloter kedua yang berjumlah kurang lebih seratus orang itu menuju kamar masing-masing, dan harus menuju ruang makan pukul tujuh tepat untuk makan malam.  Waktu memang sudah beranjak senja, dan break menuju makan malam adalah waktu bebas bagi mereka semua.

Makan malam adalah hal yang dapat menciptakan keakraban di antara mereka. Di sini tidak ada atasan dan bawahan, tidak ada dokter, suster, atau pun OB. Seperti yang disebutkan di atas, mereka saling memanggil nama, bukan pangkat. Hye Sun mulai belajar memanggil Hyun Joong tanpa embel-embel dokter. Hal yang agak canggung dia lakukan, mengingat pria itu termasuk dokter paling jarang tersenyum di rumah sakit. Anehnya, malam ini Hyun joong benar-benar menampakkan pribadi yang lain. Dia terlalu sabar pada Eun Hye yang centil. Entah pellet apa yang dipakai gadis itu. Hye Sun memperhatikan tingkah mereka berdua yang terlihat suap-suapan, sementara angannya melayang pada Min Ho yang entah mungkin saat ini sedang pusing dengan rapat dewan direksi.

“Boleh aku duduk di sini?” Ah In tiba-tiba sudah berdiri di dekatnya, membuat Hye Sun beralih pandang dari pasangan yang sedari tadi dia perhatikan. “Oh, tentu, Ah In –a.”

Ah In tersenyum, makanan yang ada di piringnya diletakkan di meja hingga akhirnya duduk di kursi di samping Hye Sun. Wanita itu memperhatikan Eun Hye kembali sambil memasukkan makanan yang ditusukkan di garpu ke dalam mulut.

“Apa yang kau lihat?” bisik Ah In. Hye Sun menunduk menekuri makanannya kembali. “Tidak ada.”
 Serta merta Ah In menoleh ke arah pandang Hye Sun sebelumnya. “KAu memperhatikan Eun Hye?” Hye Sun hanya menjawab dengan senyuman tipis.

“Memang dari dulu Eun Hye begitu, kan? Mudah akrab dengan namja yang dia sukai walau pun baru kenal,” puji Ah In.

“Bukan Eun Hye yang ku perhatikan?” sangkal Hye Sun.
“Jadi kau memperhatikan Hyun Joong?” tebak Ah In, membuat Hye Sun mengangguk. “Menurutku Eun HYe benar-benar mampu membuat sisi ramah Hyun Joong keluar.”

Ah In menghela napas. Sudah lama dia mengenal Hyun Joong, bahkan terlalu lama, dia dan Min Ho adalah teman Hyun Joong sejak kecil. Dulu Hyun Joong adalah pribadi yang ramah, tapi semenjak kematian Appanya, Hyun Joong berubah menjadi inprovert. Ah In mengira itu karena Hyun Joong harus berperan sebagai kepala keluarga sekarang. “Hyun Joong hanya ingin terlihat berwibawa di depan semua orang di rumah sakit, terutama di depan Soe Eun,” penjelasan Ah In membuat Hye Sun mampu mencerna alasan sikap Hyun Joong.

“Jadi dia seorang Oppa yang sangat mencintai adiknya?”
“Ne!” angguk Ah In.

Audio di ruangan itu mengalunkan music merdu, lalu terdengar suara khas milik seorang penyanyi yang sedang naik daun saat ini, Choi Shi Won. Semua orang sesaat menoleh pada Ah In. Wajah pria itu berubah sendu. “Aku keluar sebentar,” pamit Ah In pada Hye Sun, lalu melangkah ke pintu belakang ruang makan yang langsung menghubungkan dengan hamparan berumput menuju rancha yang berpagar install yang megah.

Hye Sun memperhatikan tingkah Ah In dengan penuh rasa penasaran. Hingga akhirnya kakinya melangkah, mengikuti Ah In di areal belakang Villa. Udara dingin menusuk kulit tipisnya saat Hye Sun berada di alam terbuka, dia terus melangkah mencari sosok Ah In. Sesaat HYe Sun merasakan kaki kirinya yang sering ngilu jika terkena hawa dingin kambuh lagi. Orang yang dicari kini, tengah berdiri berpangku pagar kayu berwarna putih, salah satu kakinya menyampir di palang kayu pagar itu, memandang hamparan di depannya. Tampak kepulan asap keluar dari mulutnya, mungkin hawa dingin yang membuat napas Ah In beruap.

Hye Sun agak memicingkan matanya, tidak! Itu bukan uap pernafasan, tapi memang asap. Ah In merokok? Fakta baru  yang kini diketahuinya. HYe Sun ingat benar kata AH In tentang rokok ketika di SNU dulu,”Rokok adalah benda mahal yang rela dibeli orang bodoh agar cepat mati.” Dan hye Sun tahu Ah In bukan perokok, saat pria yang memunggunginya itu akhirnya batuk-batuk dan membanting kasar puntung rokok yang masih panjang itu lalu menginjak-injak sambil mengumpat.

“Hai,” dengan Canggung Hye Sun menyapa. Ah In menoleh pelan. Pandangannya beralih-alih dari rokok ke Hye Sun berulang-ulang.

“Kau merokok?” tanya Hye Sun. “Sejak kapan?”

Ah In membuang muka, kembali memunggungi HYe Sun, memandang hamparan belakang Villa Lee. HYe Sun berdiri di sampingnya, sesaat angannya melayang di waktu dulu, saat selalu uring-uringan jika Min Ho ketahuan olehnya merokok dan akhirnya menghentikan kebiasaan buruk itu demi dirinya. “Kau tahu? Min Ho dulu juga perokok, tapi setelah aku mengkorokki kupingnya berulang-ulang agar berhenti, akhirnya dia tidak merokok,” urai Hye Sun. Dia menoleh, memandang Ah In yang masih menatap lurus. “Setidaknya jika tidak di depanku,” lanjutnya.

Ah In terkekeh mendengarnya. “Kau masih tidak percaya dia berhenti merokok?”

“Aku yakin dia masih sedikit merokok di belakangku. Ah, sudahlah!” Hye Sun mengibaskan tangan. “Ini bukan tentang Min Ho. Ini tentang kau, dulu kau bilang perokok adalah orang bodoh yang ingin mendekati maut, tapi kenapa sekarang kau merokok?”

Ah In menyunggingkan senyum manis. Bisa dibilang Min Ji-lah yang membuat dia jadi perokok. Kegagalan rumah tangganya, membuat dia selalu menyalurkan uneg-uneg pada benda berasap itu, tapi dia tidak ingin memberi tahu HYe Sun, kegagalan itu adalah aib baginya. Aib juga jika sampai Hye Sun mengetahuinya. “Semua orang berubah, Hye Sun-a,” hanya itu yang Ah In katakan.

“Perubahan yang jelek kalau begitu,” sahut HYe Sun, lalu mengacungkan telunjuknya sambil berkata,”Satu lagi… kenapa tiap ada hal yang berhubungan dengan Choi Shi Won, orang-orang di dalam sana memandang empati padamu?”

Ah In tersenyum, “Aku tidak tahu. Sungguh!” hanya itu yang dia ucapkan, lalu kembali memasuki villa demi menghindari pertanyaan lebih lanjut. Hye Sun hanya bisa memandang kepergiannya dengan kening berkerut, “Aneh sekali dia.”

“HYe Sun!” teriak seseorang. Hye Sun menoleh ke sumber suara. Ah In pergi, Eun Hye pun menghampiri. “Kau lihat Ah In?”tanyanya dengan nafas turun naik. Tampak Eun Hye memegangi perutnya yang tegang karena berlarian tadi.

“Dia sudah masuk ke villa. Kau tidak lihat?” heran juga HYe Sun padanya. HYe Sun jadi mengamati mata EUn HYe. Pantas… tidak pakai softlense, sih…

“Memangnya ada apa?” tanya Hye Sun.
“Ternyata gossip itu benar.”
“Gosip? Gosip yang mana?”

Eun Hye mengibaskan tangannya. “Ah, kau ini! Makanya jangan obat saja yang kau urus, kau tahu… di dalam sana, ada yang bilang padaku kalau istri Ah In selingkuh dengan seorang penyanyi, dan kau tahu siapa penyanyi itu?”

Hye Sun berpikir sejenak, setiap ada hal mengenai Choi Shi Won, wajah Ah In berubah murung. “Choi Shi Won,”tebak Hye Sun akhirnya.

“Yap, kau benar!” sahut Eun Hye. Dia memandang Hye Sun dalam. “Bagaimana menurutmu sekarang? Seminggu setelah aku diterima kerja di rumah sakit, kau bilang Ah In memutuskanmu karena ibunya ingin dia beristrikan dokter, tapi ternyata istri dokternya itu berselingkuh sekarang.”

“Aku… itu bukan urusanku, Eun Hye-a,”
“Bukan urusanmu?”

“Ne, bukan urusanku,” Hye Sun berjalan meninggalkan Eun Hye.
“Tapi, tidakkah kau pikir kalau sekarang ini mungkin dia malu padamu?” Eun Hye bertanya setelah mensejajari langkah Hye Sun. “Sangat malu malah, aku bisa lihat dari sikapnya. Dia ingin merahasiakan masalah ini darimu, bukan?”

Hal itu membuat Hye Sun berhenti dan menatap Eun HYe.”Baguslah jika Ah In merahasiakan semua itu. Sudah kubilang tadi, itu semua masalah pribadinya. Aku juga tidak mau berbagi masalah pribadi dengan orang lain.”

“Termasuk denganku?” tanya Eun Hye. Hye Sun mengangguk. “Aku bukan lagi remaja yang suka menggosipkan pasanganku, Eun Hye-a. Kau tahu sendiri, kan? Sekarang ini aku bahkan tidak pernah berbicara tentang Min Ho padamu.”

“Jadi Cuma begitu persahabatan kalian?” Eun Hye memang masih berjiwa lima tahun yang lalu. HYe Sun memutar-mutar bola matanya. “Memangnya kalau sahabat, aku mau apa? Menghiburnya? Bisa-bisa Min Ho menggantungku nanti,” jawab Hye Sun sambil lalu. Kakinya semakin ngilu saja, dia butuh minyak angin untuk sedikit menghangatkan agar rasa ngilu itu reda.

“Hei!” teriak Eun Hye yang tidak dihiraukan oleh Hye Sun. Wanita itu jadi mayun dan memandang sebal,”Dasar sahabat tidak tahu diri!” cibirnya.



----oOo----

Ah In mempercepat laju kudanya. Suasana pagi yang sejuk di pegunungan Bukhasan membuatnya ingin berkuda saat ini. Secepat laju kuda, secepat pula angannya berloncatan. Saat dia pertama menginjakkan diri di SNU, dan Hye Sun adalah mahasiswa pertama yang dia kenal di orientasi.

“Goo HYe Sun Imnida,”sahutnya saat bekenalan, dan akhirnya persahabatan mereka berlanjut semakin dekat. Apalagi keduanya terlibat di organisasi kampus pecinta alam, tahun kedua mereka camping di pegunungan ini, dan gadis itu begitu senang saat dia akhirnya cepat membawa air yang diperlukan buat memasak. “Cepat sekali kau bawa air ini dari danau?” tanya Hye Sun waktu itu, dan AH In mulai narsis, menyingkap lengan bajunya, memperlihatkan otot bisepnya, “Tentu saja, Yoo Ah In gitu, loh.”

Ah In jadi geli di tengah laju kudanya. Bagaimana tidak cepat? Tinggal mutar kran saja dari Villa Lee. Hentakkan kaki kuda mengiringi lamunannya, namun walau begitu, matanya masih awas mengamati laju di depannya.

Hyun Joong yang mampu menyalip, berteriak-teriak senang, “Yuhuuu!!! Akhirnya.”  Ah In bersungut, dipercepat laju kudanya kembali untuk menyusul Hyun Joong, tapi terlambat sang lawan sudah mencapai finish yang mereka sepakati sebelumnya, yaitu pagar putih tepat di depan istall dan disambut Eun Hye dengan pelukan dan ciuman mesra.

“Hebat sekali, chagi!” puji Eun Hye nyaring. Hyun Joong membusungkan dada. HYe Sun bertepuk tangan riuh.

“Hahaha, entah apa yang dia lamunkan hingga kalah denganku,” kata Hyun Joong sambil menatap AH In yang menuruni kudanya. “Biasanya dia tidak pernah kalah,” sambungnya sambil merangkul Eun Hye.

HYe Sun mendekati kuda Ah In dan mengelusnya puncak kepala hewan itu. Pekikan yang dikeluarkan kuda itu membuat Hye Sun terkaget. “Kau mau menungganginya?” tanya Ah In. dia melihat Hye Sun begitu tertarik dengan makhluk di depannya.
“Apakah boleh?” tanya Hye Sun sangsi.
“Tentu saja.”
“Tapi aku tidak mahir.”

“Kau bisa menungganginya pelan, Hye Sun-a,” saran Hyun Joong.
“Ne,” angguk Ah In.
“Benar?”

“Aku juga boleh menungganginya, kan?” Eun Hye tidak mau kalah.
“Tentu, kita ambil dua kuda lagi, Ah In-a.”

“Yup!” sepertinya Ah In juga setuju usul Hyun Joong. “Kita pilih kuda yang jinak agar bisa ditunggangi mereka dengan tenang.”

----oOo----

“Tuan Lee,” sapa salah seorang penjaga Villa saat Min Ho sampai di tempat itu. Min Ho memandang sekeliling. Tampak beberapa anak riuh di beberapa sudut, dan beberapa karyawan akhirnya berdiri menyambutnya. Min Ho tersenyum tipis. “Jangan sungkan! Ini waktu kalian bersantai, jangan sampai kedatanganku membuat suasana berubah formal dan mengganggu kesenangan kalian,” sapa Min Ho pada mereka panjang lebar. Hal yang membuat wajah-wajah formal itu akhirnya mencair.

Min Ho berjalan menuju kamar yang selalu ditempatinya jika berada di sini. Di belakang bisik-bisk terdengar seperti, “Tumben dia ikut?”

Dan kemudian suara mendesis,”Sssttt, tentu saja dia ke sini, tunangannya juga di sini.”

“Kenapa dia tidak mengajak tunangannya berlibur ke eropa saja?”
“Tahu-ah, gelap!”

Dan Min Ho hanya tersenyum simpul. Saat dia memasuki kamarnya, dia agak terheran. Ada beberapa barang wanita di situ, dengan dahi berkernyit, dipegangnya benda itu satu persatu hingga ketika sampai di meja rias, dia menyemprotkan parfum yang tergeletak di situ, aroma menyegarkan menyeruak di udara. “HYe Sun,” desisnya kemudian.

Seorang pelayan yang mengantarkan kopernya akhirnya urung meninggalkan kamar saat Min Ho memanggil dan bertanya,”Hye Sun juga tidur di sini?”

“Maksud anda Goo agashi?”
Min Ho mengangguk.
“Sepertinya begitu. Panitia menempatkan nona itu di kamar ini.”

Min Ho jadi geli mendengarnya. “Ada yang aneh, Tuan?” tanya pelayan itu. Min Ho terpaksa berbohong dengan mengatakan,”Tidak ada, sekarang dimana dia?”

“Tadi saya lihat nona itu berkuda berempat, bersama yang lain.”

“Oh,” Min Ho membulatkan mulutnya.
“Ada yang bisa saya bantu lagi, Tuan Lee?”
“Tidak, kau boleh pergi sekarang,” usir Min Ho sambil menyodorkan uang tips pada pelayan itu yang diterima dengan malu-malu.

Min Ho menduduki sofa. Sesaat dia terkekeh kembali. Bagaimana bisa panitia berkesimpulan kalau mereka akan sekamar? Min Ho semakin geli memikirkan hal ini. Sekamar dengan Hye Sun? Sekali pun mereka belum pernah melakukannya. Apa yang akan dia lakukan sekarang?
Min Ho berdiri lalu menyeret  travel bag-nya. Serta merta dia keluar dari kamar itu, menuju kamar yang selalu digunakan orang tuanya jika mereka sekeluarga menginap disini.

Ini lebih baik, pikir Min Ho saat memasuki kamar. Tidak boleh terjadi hal yang merusak kesucian pernikahanku dengan Hye Sun walau pun itu dilakukan karena sama-sama suka. 

“Tadi saya lihat nona itu berkuda berempat, bersama yang lain,” Min Ho teringat kata-kata pelayan itu tentang Hye Sun. Dia memutuskan menyusul HYe Sun ke Istall. Semua orang yang dilewatinya tidak seformal tadi, mereka bercengkrama dengan keluarga masing-masing.

Min Ho memilih salah satu kuda di Istall untuk ditunggangi. Sementara empat sekawan yang sudah menduhuluinya masih berkuda menikmati hijaunya pegunungan Bukhassan. Awan berarak keperrakan tepat di atas mereka, udara semakin hangat dan Hye Sun bersyukur ngilu di kakinya berangsur-angsur hilang.

“Indah sekali!” teriak Eun Hye. Entah berapa kali anak itu meneriakkan kata yang sama setiap menemui obyek yang menarik.

“Bagaimana bisa keluarga Lee memiliki semua ini?” tanya Hye Sun. Hyun Joong yang merespon pertanyaan itu. “Ini belum seberapa, HYe Sun-a. Kau harus melihat tanah mereka yang di sebelah barat.”

“Sebelah barat?”

“Ne!” sahut Ah In.”Masih berupa tanah kosong, entah apa yang akan mereka rencanakan pada tanah itu.”

HYe Sun hanya tersenyum simpul. Semua urusan Min Ho di bisnisnya tidak pernah masuk hitungannya. Mereka memang seperti terisolir satu sama lain jika menyangkut masalah pekerjaan.

Ular meliuk-liuk setengah meter di depan mereka. kuda-kuda yang mereka tunggangi terus melaju tanpa menyadari bahaya menghadang. Senyum dan gelak tawa masih terdengar, hingga salah satu kuda memekik keras, lalu melonjakkan kedua kaki ke atas, kemudian melaju sekencang-kencangnya.

“Hye Sun!” teriak mereka berempat. Kuda HYe Sun kaget karena ular yang sekarang sudah hilang entah kemana. Ah In mengejar kuda itu  dengan kepanikan yang tinggi.

Hye Sun kalang kabut. Dia berusaha menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh, tapi kebingungan memberi aba-aba agar kuda itu berhenti. Tubuhnya menghentak-hentak ke belakang saking cepatnya lari kuda itu.

“Hye Sun!” teriakkan Ah In semakin dekat terdengar. Hye Sun menoleh ke belakang. Keputusan yang bodoh kerana pada akhirnya tubuhnya oleng dan terjerembab. Tapi kakinya masih menyangkut di pedal kuda, sehingga tubuh mungil itu bergelantungan di sisi kuda yang berlari kencang dalam keadaan terbalik.

“HYe Sun!” suara  teriakan lagi. Hye Sun sudah pasrah. Kuda itu sama sekali tidak mau berhenti. Tubuhnya masih menggantung dan akhirnya dia tak sadarkan diri.

Seseorang berhasil memperlambat laju kuda. Melepaskan kaitan pedal dari kakinya, hingga tubuh Hye Sun meluncur dan segera ditangkap sebelum bertemu dengan tanah. Ah In yang baru sampai menenangkan laju kudanya. Hye Sun sudah terkulai di gendongan dada Min Ho. Ah In menuruni kuda, dan memberikan pertanyaan konyol yang membuatnya menyesal telah menanyakan pada Min Ho.”Apa dia baik-baik saja?’

“Kau pikir apa dia baik-baik saja?!” semprot Min Ho. “Terseret begitu jauhnya seperti itu dan kau masih tanya apa dia baik-baik saja?! Dokter macam apa kau ini?!”

HYe Sun menggeliat lemah. Teriakkan Min Ho membuat dia agak tersadar, “Min Ho… .”

Min Ho mengalihkan pandangannya yang berkilat pada Ah In ke Hye Sun. serta merta pandangan itu meredup. “Chagiya…”

“Kakiku sakit sekali,” Hye Sun meringis. Min Ho jadi teringat kaki HYe Sun yang agak mengalami kelainan. “Kaki kirimu?”

Hye Sun masih mendesis-desis. Sama sekali tidak ada jawaban.

“Jawab, Hye Sun-a! Kaki kirimu?” Min Ho semakin panic. Hyun Joong dan Eun Hye yang baru tiba terheran melihat kepanikan Min Ho.

“Ada apa dengan kaki kirinya, Min Ho-a,” tanya Ah In. Min Ho tidak menjawab. Susah payah dia mendudukkan Hye Sun ke kuda. Hyun Joong akhirnya turun dari kuda untuk membantu. Saat Min Ho sudah siap untuk melarikan Hye Sun dia memerintah,”Telpon dokter Jo supaya cepat kemari!”

Hyun Joong yang merasa diperintah mengangguk. Mereka bertiga memandangi kepergian Min Ho dengan pandangan panic. “Apa yang terjadi Ah In-a? Kenapa dengan kaki kiri Hye Sun?” tanya Eun Hye.

Hyun Joong segera menghubungi dokter Jo seperti yang diinginkan Min Ho, “Halo, dokter Jo. Anda di mana? Ada masalah pada kaki Hye Sun dan Min Ho ingin kau ke BUkhassan sekarang!”

“Ne! Sudah ada helicopter yang menjemputku!” sahut dokter Jo dari telephon. Hyun Joong jadi menutup telephon dengan raut wajah heran.

“Hyun Joong-a. Gwencana?” tanya Eun HYe sambil menggoyang-goyang lengan Hyun Joong. Pria itu Cuma menampakkan wajah bengong sambil menggaruk-garuk rambut. “Aneh, bagaimana mungkin secepat itu helicopter datang menjemput?”

BERSAMBUNG, Ah… Capek….


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 15 (17 June 2011)
« Reply #478 on: June 16, 2011, 03:11:01 pm »
thanks updatex..
Eunhye slain agresif,ceplos,genit jg ya..tp cocok jg agres n pndiam.Duh sanG mantan saling kikuk2an..bhs paan tu.
Sumpe,presentasi itu bkin puyeng sm bingungx dg minho.btw kalimat yg dibu2hi tnda tanya itu lucu jg.wkwk.Harapnku kmr yg dit4ti minho runtvh biar dy g punya kmr lg,nah trpaksa da tdur breng hyesun smbil mijit kaki ngilunya tanpa toel2 tapi.terakhr gw sm bingungx dg hyunjoong ,secepat ituka helicop jempt dr jo?
[/size][/color][/b]

Offline el_minoz

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
  • upssss.....
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL-- chapter 15 (17 June 2011)
« Reply #479 on: June 16, 2011, 05:00:27 pm »
waduh baru mo mulai liburan kok dah d insiden!hehehehehe
si minho cepet amat tanggep y!
hye sun baek2 j kn sist?
d tunggu lanjutannyaaa