Author Topic: Man is equal in God's eyes (One Short at page 2)  (Read 4483 times)

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Man is equal in God's eyes (One Short at page 2)
« on: March 14, 2011, 05:34:42 am »
Something to remember
(One Short )


Huft, udara begitu lembab. Sepertinya akan turun hujan. Kalau saja tidak karena pacarku, Eun ye minta di antar ke asrama mahasiswa, yang merupakan lokasi  South Korean Medical student organization conference, mungkin aku tidak akan terdampar di sini. Sekalinya ku sanggupi permintaannya, aku malah dicuekin. Dia ngeloyor pergi ke dalam gedung dan gak balik-balik sejak setengah jam yang lalu. Anehnya, dia mengirim sms,”tunggu, Chagiya. Sebentar lagi kelar.”

Menyebalkan! Sudah sejak lama aku ingin memutus dia kalau tidak karena kakaknya yang satu grup band denganku itu. Alasannya sederhana, karena aku rasa makin lama dia makin menyebalkan, terlalu manja. Setiap detik selalu mengkontrol lewat sms. Kemana pun aku manggung, dia selalu ada. Bikin risih menurutku.

“Kau yakin mau keluar sendiri?” lagi enak-enak ngedumel tentang Eun Ye, dua orang cewek lewat di depanku. Salah satunya bertanya pada temannya, seakan tidak yakin temannya itu mempunyai keberanian pergi sendiri.

“Mau bagaimana lagi? Aku butuh film buat dokumentasi di rapat nanti, Shin Ye-a,” jawab temannya, yang berkulit putih dan berambut pendek.

“Tapi, Sun-a…. kamu belum tahu daerah sini,” sanggah orang yang dipanggil Shin Ye. Gadis itu lalu menatapku, dia berhenti sebentar sambil tangannya menahan gadis yang dipanggil Sun agar tidak meneruskan langkah.

Shin Ye melangkah ke arahku, lalu dengan agak ragu menyapa,”Anyong, Sunbae.”
“Anyong,” balasku. Sesaat Shin Ye menoleh lagi ke temannya yang masih berdiri di tempat semula, menatap heran kami berdua. “Sunbae panitia di sini, kan? Bisa tolong antar temanku ke studio foto yang dekat-dekat sini?”

“A…”
“Pleaseeee…”

Baru saja aku mau menyanggah kalau aku bukan panitia, dia sudah memohon. Melas banget kelihatannya. Aku jadi tidak tega dan akhirnya mengangguk. Wajah Shin Ye jadi berubah senang lalu memanggil temannya,”Sunbae ini mau mengantarmu, Sun-a.”

“Kacha!” ajakku pada Sun, ah… siapa sebenarnya namanya. Aku segera menghampiri motor dengan Sun yang mengekoriku sedangkan Shin Ye sudah masuk kembali ke gedung asrama. Baru mau ku naiki motor, ku ingat kalau kunci motorku di bawa Eun Ye. Satu lagi kebiasaan jelek Eun Ye, tidak mau ku tinggal, jadi sebagai jaminan, kunci motorku di bawanya.

“Ada masalah, Sunbae?” tanya Sun.
“Anyi, kunciku dibawa pacarku ke dalam,” jawabku gugup. Lho, kenapa aku sejujur itu, ya? Ngaku kalau sudah punya pacar. Tampak Sun membulatkan mulutnya. “Antarnya jalan kaki saja, Sunbae.”

Kali ini giliran mulutku yang menganga.”Apa tidak capek?”tanyaku.
“Anyi. Sudah biasa. Aku terbiasa jalan kaki pulang-pergi kampus,” jawab Sun.

Well, akhirnya perjalanan di mulai. Lebay! Cuma jalan sebentar saja, kok. Tentu saja diselingi obrolan. “Namaku Lee Min Ho,” aku perkenalkan diri juga padanya. Tidak enak, sudah bicara banyak tapi tidak tahu identitas orang yang kau ajak bicara.

“Goo Hye Sun Imnida,” balas gadis itu dengan senyum malaikat yang mebuatku melumer seketika. Aneh, waktu pertama kali aku bicara dengannya di dekat motor tadi, rasanya dia tidak semanis ini, tapi kenapa sekarang wajahnya begitu menarik, ya? Lengsung pipitnya itu, aigo…. Jadi pengen nyium, deh.

“Kau sepertinya bukan orang Seoul, ya?” tebakkanku asal. Tapi tidak asal banget, ding… orang Shin Ye tadi nyata-nyata bilang kalau Hye Sun tidak kenal daerah sini.

“Ne, kami dari Bussan.”

“Oh, peserta conference, ya?” tebakku lagi. Memang konferensi itu dihadiri mahasiswa kedokteran se Korea selatan. Gadis itu Cuma mengangguk. Rambutnya yang pendek bergoyang-goyang seiring anggukan kepalanya. Ih… so cute…

“Ini studionya!” teriak Hye Sun saat kami sampai di depan studio foto.
“Kacha!” Aku menarik tangannya agar segera masuk. Ku biarkan dia menemui pelayan studio sendiri. Lima menit kemudian dia kembali dengan raut wajah kecewa yang membuatku bertanya,”Waeyo?”

“Film yang sesuai dengan tustel ini habis, Sunbae,” jawab Hye Sun sambil menunjukkan tustel di tangannya padaku. Oh my God! Jaman sudah digital gini, masih saja pakai tustel yang perlu diisi roll film. Tentu saja tidak ada studio foto yang sedia. “Uni tadi bilang kalau studio foto yang sebelah barat masih punya,” sambung Hye Sun lagi. Studio sebelah barat? Itu berarti berlawanan arah dari gedung asrama. Aku tahu betul itu. Aku jadi senang karena kebersamaanku dengan Hye Sun jadi lebih lama.

“Kacha!” ajakku sambil menarik tangannya. Lalu setengah berlari aku keluar dari studio foto itu.

“Hai! Pelan-pelan jalannya, Sunbae!” teriak Hye Sun. Aku memang lupa diri. Saking senangnya aku mengambil langkah lebar-lebar. Tentu saja Hye Sun agak kewalahan menandingi jalanku sehingga dia jadi agak berlari. “Oh, miane,” sesalku.
------<*>-------

“Pokoknya sekarang kita putus!” teriak Eun Hye tepat di mukaku. Pada waktu itu, dia datang ke kampusku. Marah-marah tak jelas. SEdikit berbagi rahasia, sudah sebulan aku mencuekkan Eun Hye. SMSnya tidak ku balas, telpon juga tidak kuangkat. Sengaja, sih… Menurutku, buat apa harus mempertahankan hubungan yang saling menyiksa diri masing-masing.

“Oke, siapa takut!” sahutku cuek. Secepat kilat dia enyah dari depanku dan terus terang angin surga mulai bertiup ke mukaku. Yuhuuuuu! Akhirnya bebas juga dari nenek lampir itu.

Goo Hye Sun, ku ketik nama emailnya di pencarian friendster. Nah, ini dia. Segera ku add akun Hye Sun dengan harapan dia bersedia mengapprove permintaan pertemananku. Tidak sampai sepuluh menit, dia sudah merespon. Well…. Senangnya aku.
-----<*>-----

Lima tahun kemudian……

“Lee Min Ho-ssi, sebagai seorang penyanyi solo terbaik tahun ini. Saya dengar, anda juga berhasil dalam studi anda. Dan kabarnya rancangan gedung hasil skripsi anda di beli oleh pengembang asing. Is it true?” tanya reporter KBS TV pada seorang penyanyi terkenal, Lee Min Ho. Para Minoz yang hadir di studio semakin kagum. Teriakan histeris terdengar lagi.

“Saya berusaha sebaik mungkin,” jawab Min Ho.

“Bisa kami tahu rancangan gedung apa itu?” tanya reporter itu lagi. Lee Min Ho tampak mengingat-ingat karena sudah tiga tahun yang lalu dia diwisuda.”Judulnya Something to remember.”

“Something to remember? Maksudnya?”

“Saya punya teman di dunia maya. Dia selalu berkeliling dunia untuk aksi sosial karena tugasnya sebagai ketua South Korean Medical student organization. Dia selalu update foto di blognya dengan latar belakang bangunan-bangunan khas Negara yang dia kunjungi. Bangunan-bangunan itulah sumber inspirasi ‘something to remember’. Perpaduan arsitektur kontemporer dan tradisional dengan bahan-bahan yang ramah lingkungan,” jelas Min Ho panjang lebar.

“Oh, great! Bisa saya tahu juga nama blognya?” tanya iseng reporter. Min Ho hanya tertawa.”Dia sudah lama tidak mengupdatenya.”

Penonton menyuarakan kesedihan hati Min Ho juga. “Jadi bisa dibilang anda kehilangan kontak dengannya?”

Min Ho mengangguk.

Sejak saat itu para Minoz jadi bertanya-tanya siapa sebenarnya teman maya seorang Lee Min HO. Tak heran jika akunt jejaring social Min Ho jadi rame dikunjungi Minoz. Anehnya tidak ada apa-apa yang bisa mereka dapat. Bahkan yang di follow Min Ho di Twitternya kosong. Ya iyalah… akunt itu kan dibuat setelah Min Ho terkenal, lagian  yang diadd Min Ho kan Friendster, bukan Facebook.

Hari-hari Min Ho pun berlalu seperti biasanya. Gossip dia sedang dekat dengan artis A, artis B, artis C….sudah biasa! Resiko jadi penyanyi terkenal memang begitu. Manggung sana-sini, itu pula rutinitas Min Ho selama ini. Belum lagi pekerjaannya sebagai arsitek lepas di perusahaan pengembang asing. Sungguh menyita waktu hingga ketahanan tubuhnya down dan terjadi gangguan pada pita suaranya.

Sekarang di sinilah dia. Di Seoul International Hospital dengan suara serak-serak becek, diantar Ommanya buat periksa ke dokter (?)

“Makanya punya tubuh itu jangan diforsir!” omel Sang Omma saat mereka menunggu giliran di ruang tunggu. Mereka menunggu di eksecutive lounge sehingga tidak ada penggemar rese yang teriak-teriak tak jelas memanggil Min Ho. Min Ho Cuma bisa meringis tanpa pembelaan. Kalau lagi sakit memang sikap manja Min Ho kambuh. Tidak bisa lepas dari perawatan lembut Ommanya.

“Kau seharusnya sudah cari pendamping hidup, Min Ho-a. Kalau sakit begini, istrimu kan bisa merawatmu. Jadi Omma tidak perlu datang jauh-jauh dari Jeju,” Mulai deh ni Omma nagih menantu.

“Apa tidak ada satu pun gadis yang dekat denganmu yang kau sukai?” Oh, please…., sudah, dong Omma.

“Tuan Lee Min Ho?” panggil salah seorang perawat.
Yuhuu… save by the bell! Ups, salah! Save by the nurse!

“Ne, suster!” jawab Min Ho.
“Dokter Jang sedang cuti, anda akan diperiksa oleh penggantinya. Silahkan masuk!”

Min Ho memasuki ruangan yang ditunjuk suster itu. Tentu saja masih diikuti sang Omma. Dan…

“Goo…. Goo Hye Sun!” teriak Min Ho dengan suara seraknya. Ommanya jadi kaget melihat tingkah konyolnya yang bagai melihat hantu di siang bolong. Di depan mereka, dokter muda itu menyunggingkan senyum manis, lengkap dengan lesung pipit yang masih membuat Min Ho ingin mencium.

“Silahkan duduk, Lee Min Ho-ssi.”

Oh, senyum itu lagi. Gadis ini tambah manis saja, apalagi dengan rambut panjangnya sekarang ini, batin Min Ho.

Sang Omma jadi menyenggol lengannya. Bagaimana tidak? Sudah di suruh duduk, itu anak masih melongo saja. Tergagap, Min Ho menduduki kursi pasien.

“Maaf, Apa keluhan anda?” tanya Hye Sun. Min Ho berdehem sebentar dan mencoba menjawab. ****! Kenapa suaraku tambah lenyap begini? Umpat Min Ho dalam hati saat mendengar suaranya sendiri yang seperti terjepit dan membuat sang Omma ngakak.

Dengan mengulum senyum, Hye Sun mendekat, lalu menduduki kursi di depan Min Ho. “Coba buka mulut dan julurkan lidah!” perintahnya.

“Aaa…,” jadilah pasien yang penurut, Min Ho. Setelah mengamati rongga mulut Min Ho dengan penerangan senter kecil, Hye Sun memasang stetoskop di telinga dan mulai menempelkan alat itu di dada Min Ho. Detak jantung sang pasien semakin tidak karuan. Tapi bukan detak jantung yang di dengar sang dokter saat ini, lebih ke suara paru-parunya. Ada mur-murkah?

Setelah dirasa cukup. Hye Sun memasang pengukur tensi di lengan Min Ho. Nah, yang ini tentu saja bikin Min Ho keki, mau tidak mau Min Ho menatap mata bulat Hye Sun yang nampak serius mengamati letak alat itu agar pas.

“Bagaimana, Dok?” tanya  Omma Min Ho saat Hye Sun mulai menuliskan sesuatu di lembar resep.

“Lee Min Ho-ssi terkena radang tenggorokan,” jawab Hye Sun. Min Ho hanya bisa menelan ludah, pantas saja sakit sekali rasanya.

“Berapa lama sembuhnya?” tanya sang Omma lagi.
“Saya tadi mendapati ada pembengkakan di pita suara, jadi agak lama. Saya sarankan jangan menyanyi dulu.” Setelah menyobek kertas resep itu, Hye Sun menyerahkan pada Omma Min Ho,”Silahkan obatnya diambil di apotek.”

“Gomawo, dokter.”

Itulah perjumpaan Min Ho dengan Hye Sun kembali. Setelah itu kesibukan Min Ho bertambah satu, yaitu menjadi pengunjung tetap Seoul International Hospital. Tentu saja bukan sebagai pasien. Penyakitan amat! Tapi benar juga, sih… ada saja alasan Min Ho untuk pedekate sama Hye Sun. Mulai dari sakit perut, lah… gigi tanggal… kesleo… desmorhoe.. ups! Ya gak mungkin lah yao… orang Min Ho gak punya rahim, kok… mau dismorhoe dari mana?

Seorang Lee Min Ho yang digilai para Minoz itu harus berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan cinta Hye Sun. Perjuangannya berat karena banyak juga dokter-dokter kece yang sudah mengincar Hye Sun jauh-jauh hari, bahkan sejak gadis itu kuliah tingkat pertama. Apalagi saat Min Ho tahu kalau direktur rumah sakit itu berniat menjodohkan Hye Sun dengan putranya, yang sedang mengejar gelar doktor di bidang ilmu forensik di Amerika, tambah puyenglah kepala Min Ho.

Kalau waktu pacaran dengan Eun Ye dulu, Min Ho risih karena nenek lampir itu selalu mengikutinya manggung. Kali ini Min Ho yang kelabakan. Hye Sun hampir tidak pernah  bisa menemaninya manggung karena kesibukannya di rumah sakit. Kalau sudah begini, pikiran Min Ho jadi tambah tidak tenang, mikirin ceweknya dikelilingi dokter-dokter tampan di rumah sakit itu.
-----< * >------

Satu tahun kemudian (Malam ini)

Kami sampai di tempat tujuan tepat pukul tujuh malam. Sebenarnya para orang tua itu tidak mengijinkan kepergian kami malam ini. Alasannya simpel saja, tetamu masih berdatangan walau pesta sudah berakhir. Yap… benar dugaan kalian. Aku dan Hye Sun menikah pagi tadi dan sekarang aku adalah lelaki paling bahagia di dunia.

Ku lirik wanita mungil di sampingku ini, yang menatap bangunan di depan kami dengan sorot kekaguman,”Aigo… indah sekali!”

“Kau suka?” tanyaku. Dia mengangguk-angguk riang, persis enam tahun yang lalu. “Bangunan apa ini?” tanyaku lagi.

“Joglo!” jawabnya sepontan lalu menoleh ke arahku, kali ini dengan sorot heran,”Joglo adalah salah satu rumah adat Indonesia tepatnya Jawa Tengah, bagaimana kau bisa tahu?”

Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. Tentu saja aku tahu dari salah satu foto yang ada di blognya, tapi aku masih ingin menggodanya dengan teka-teki hingga aku menjawab,”Rahasia.”

Sekarang dia memonyongkan bibirnya. Aku jadi geli.”Ayo masuk!” ajakku.

Mata Hye Sun tambah melebar setelah berkeliling dalam rumah. Jika dari luar rumah ini tampak seperti ‘Joglo’, interior di dalamnya lebih menunjukkan kesan Korea. Tentu saja, kami orang Korea. Kenyamanan suasana dalam negeri masih kami butuhkan karena itu aku mendesain kesan korea di rumah ini.

Hye Sun menjatuhkan tubuh capeknya di ruang tengah. Aku juga ikut-ikut, lalu dia menoleh ke arahku dengan menampakkan senyum malaikatnya.”Sejak kapan kau persiapkan rumah ini?” tanyanya padaku.

“Rahasia,” godaku lagi yang sekali lagi membuatnya mengkerucutkan bibir. Kali ini aku tidak tinggal diam. Ku cumbu bibir yang meruncing itu dan membuatnya agak terkejut. Sesaat aku menginginkan lebih, hingga akhirnya tubuh mungil itu agak terpojok di sofa karena ketidaksabaranku.

“Mau menikmati kenyamanan kamar tidur utama?” tanyaku setelah agak tidak rela melepaskan ciuman panas kami. Wajah Hye Sun sudah merah padam, membuat aku semakin bersemangat menggodanya. Tanpa menunggu jawaban darinya, yang menurutku sebenarnya terlalu lama karena aku sudah tidak tahan, kuangkat tubuh mungilnya untuk memasuki ruangan yang ku sebutkan tadi. Istriku tertawa-tawa senang dengan perlakuan itu.


Aku benar-benar melakukan niatanku, memanjakannya sekaligus memuaskan diri atas Hye Sun-ku yang manis. Hatiku sangat bahagia mendengar desahan lirihnya. Itu bukti kalau aku begitu mengagungkannya. Di setiap sentuhan itu, aku berdoa agar Tuhan memberkati pernikahan kami hingga usia kami sama-sama senja nanti. Aku berdoa akan kehadiran anak-anak kami, anakku dan Hye Sun, dan aku berjanji akan melakukan apa saja demi kesejahteraan hidup mereka. Hingga akhirnya dia terkulai lemah di dadaku dan masih bergumam dengan desahan memujaku. Ku kecup ubun-ubunnya yang kini agak basah oleh peluh akibat perlakuanku tadi. Dia tersenyum dengan pandangan mata yang semakin berbinar. Membuatku semakin memujanya.

“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” tanyanya. Dia memandang serius ke arahku. Aku yakin ekspresi wajahku sekarang ini menunjukkan mimic heran. Rupanya dia benar-benar melupakan pertemuan pertama kami.

“Kau begitu keras mengejarku, padahal kita sama sekali belum pernah kenal sebelumnya,” katanya lagi. Dia benar-benar lupa dan aku masih ingin membuatnya penasaran.

“Cek saja friendstermu,” jawabku. Sontak istriku itu bangun. Aku jadi kaget.”Mau kemana?” cegahku sambil memeluk tubuh polosnya erat.

“Mengecek friendsterku!” jawabnya seketika. ****! Kenapa tidak besok saja, sih? Aku jadi membatin. “Anhi, Chagiya. Tidak perlu,” sanggahku.

“Makanya jangan membuatku penasaran terus,” sewotnya. Aku jadi mempererat pelukan, menciumi leher dan punggungnya. Sesaat ku dengar dia mendesah, memendam hasratnya yang timbul kembali. “Please, Husky… jawab dulu,” pintanya  tersengal-senggal. Ku tarik tubuhnya agar berbaring kembali lalu kulakukan sentuhan yang membuat gairahnya meletup-letup. Sesaat dia melupakan pertanyaannya karena pada akhirnya kami melakukannya lagi.

Saat dia merasa lemas kembali, aku masih berada di atasnya. Memperhatikan wajah cantiknya dengan  kedua tangan yang kupakai sebagai penopang tubuh. Dia benar-benar tersenyum sekarang. Senyuman yang kurindukan selama ini, akhirnya menjadi milikku seutuhnya. Ku dekatkan wajahku ke telinganya untuk berbisik,” South Korean Medical student organization conference tahun 2005.”

Kulihat dia mulai mengingat-ingat sesuatu dan aku yakin betul apa yang coba dia ingat. “Jadi kau?” teriaknya kemudian.  Aku mengangguk,”Ne, Chagiya! Aku mencarimu selama ini. Saranghe, istriku.”

“Sarangheyo…” balasnya sambil melingkarkan lengan ke leherku. Well, sekali lagi dia membangunkan ular yang sedang tidur. Tak perduli dia sudah lemas atau tidak?.... Kalian tahu, lah… apa yang terjadi selanjutnya….

----THE END----
« Last Edit: May 02, 2011, 10:05:04 am by sisicia »


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Share on Bluesky Share on Facebook


Offline el_minoz

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
  • upssss.....
    • View Profile
Re: Something to remember (One Short)
« Reply #1 on: March 14, 2011, 07:03:31 am »
wah sist sisi bikin short FF wkwkwk
pas baca kok friendsterr jadulll amat eh ternyata mreka married y 6th kemudian kok hoaha9 y jlz g d FB lah he9
so sweet he9 si minho ngerasain kelabakan mikirin hye sun he9
bikin lagi dong sist hoaha9

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: Something to remember (One Short)
« Reply #2 on: March 14, 2011, 07:09:04 am »
wah sist sisi bikin short FF wkwkwk
pas baca kok friendsterr jadulll amat eh ternyata mreka married y 6th kemudian kok hoaha9 y jlz g d FB lah he9
so sweet he9 si minho ngerasain kelabakan mikirin hye sun he9
bikin lagi dong sist hoaha9

coba aja cari akun friendster minho, siapa tahu minsun berhubungan di dunia maya lewat friendster


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Mawar Jingga

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
    • View Profile
Re: Something to remember (One Short)
« Reply #3 on: March 14, 2011, 08:04:46 am »
Wah, neng Sisicia ini bener2 memanjakan para fakir Minsun....Seneng banget ada 1 shot ini....bener2 sweet...Hyesun bener2 gak nyadar yak kalo Minho adalah salah satu fans gelapnya. Tak kirain Hyesun nyadar, karena 10 menit setelah Minho meng-add Hyesun, Hyesun langsung balas... [clap]...

Thanks ya Sisicia...ditunggu ya produksi lainnya  [lovestruck]...

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: Something to remember (One Short)
« Reply #4 on: March 14, 2011, 08:48:58 am »
RUPANYA DI UPDATE DIMARI, TD GW BCNYA DI FB. 1 kata keren and i like it,eh itu lebih dr 1 kata ya,heheh. Minho tu love @ 1st sight ya ama hye sun dan sialnya cintanya br berbls 5 thn kemudian coz yg ditaksir bener2 lupa ama minho. Minho cweet banget ya cintanya tulus bgt apalg stelah pertemuannya lg dgn hye sun yg da jadi dokter cantik. Dulu minho yg diekorin pacrnya eh malah kebolak si minong yg ngekorin cewe cantiknya. "something to remember was the person that had captivate minho's heart and that person was Goo Hye Sun". Jadi pgn cek friendster minho,hehehh. Dasar minho kgk dimana2 bwaannya nepsong, penganten baru lgsg tiga ronde,hmpf hmpf. Boleh minta update The Maestro*kabooorrrr sblm dilempar ke Wonwon*


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: Something to remember (One Short)
« Reply #5 on: March 14, 2011, 08:58:50 am »
Wah, neng Sisicia ini bener2 memanjakan para fakir Minsun....Seneng banget ada 1 shot ini....bener2 sweet...Hyesun bener2 gak nyadar yak kalo Minho adalah salah satu fans gelapnya. Tak kirain Hyesun nyadar, karena 10 menit setelah Minho meng-add Hyesun, Hyesun langsung balas... [clap]...

Thanks ya Sisicia...ditunggu ya produksi lainnya  [lovestruck]...
well, dulu pas getol2nya friendster kan tiap jam makan siang, para mahasiswa ke warnet, mgkin minho add pas makan siang, jd lsg diapp ma hye sun. lagian yg add hye sun byk, sakg sibuknya dia gak ngecek 1 per 1 dulu.


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: Something to remember (One Short)
« Reply #6 on: March 14, 2011, 09:02:24 am »
RUPANYA DI UPDATE DIMARI, TD GW BCNYA DI FB. 1 kata keren and i like it,eh itu lebih dr 1 kata ya,heheh. Minho tu love @ 1st sight ya ama hye sun dan sialnya cintanya br berbls 5 thn kemudian coz yg ditaksir bener2 lupa ama minho. Minho cweet banget ya cintanya tulus bgt apalg stelah pertemuannya lg dgn hye sun yg da jadi dokter cantik. Dulu minho yg diekorin pacrnya eh malah kebolak si minong yg ngekorin cewe cantiknya. "something to remember was the person that had captivate minho's heart and that person was Goo Hye Sun". Jadi pgn cek friendster minho,hehehh. Dasar minho kgk dimana2 bwaannya nepsong, penganten baru lgsg tiga ronde,hmpf hmpf. Boleh minta update The Maestro*kabooorrrr sblm dilempar ke Wonwon*
waduh, apalagi pas pgantin baru, it lg getol~getolnya.


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
Re: Something to remember (One Short)
« Reply #7 on: March 14, 2011, 10:35:30 am »
ini baru panjang..........!!!!!!! [hmpfh] [hmpfh] love it.. [lovestruck] sisi,,,proses bobonya ga dicritain tuh detailnya?? [on] [on]

Love you more than I can say

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: Something to remember (One Short)
« Reply #8 on: March 14, 2011, 05:31:51 pm »
ini baru panjang..........!!!!!!! [hmpfh] [hmpfh] love it.. [lovestruck] sisi,,,proses bobonya ga dicritain tuh detailnya?? [on] [on]
hahaha, biar aja pada ngira2 sendiri


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

iiuuu

  • Guest
Re: Something to remember (One Short)
« Reply #9 on: March 14, 2011, 11:09:46 pm »
chukae sist sisi..
wah ternyata si hyesun lupin ama minho..
untung mino berhasl dptin sun...

ckckck malam pertama aja lgsg 3ronde..
cepet dpt baby deh kalo gtu..
sering2 ya sist bkn short kyk gni.. hehe hmpf lol

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: Something to remember (One Short)
« Reply #10 on: March 15, 2011, 02:42:40 am »
chukae sist sisi..
wah ternyata si hyesun lupin ama minho..
untung mino berhasl dptin sun...

ckckck malam pertama aja lgsg 3ronde..
cepet dpt baby deh kalo gtu..
sering2 ya sist bkn short kyk gni.. hehe hmpf lol
gak janji lah, ya... hehehe.


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Winda Minsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 679
    • View Profile
Re: Something to remember (One Short)
« Reply #11 on: March 26, 2011, 07:06:37 pm »
kak sisi,mian kak baru komen coz baru baca
keren kak , hahaha itu si hyesun bener2 gak inget apa sama minho ?? Oh iya hye sun jadi dokter apa tuh ?
lucu bgt sih minho , bisa aja ngelesnya sakit bermacam2 padahal mau ketemu hye sun
keren keren i like it

[lovestruck] and in another life, we believe... love never die [lovestruck]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: Something to remember (One Short)
« Reply #12 on: March 27, 2011, 03:29:26 am »
kak sisi,mian kak baru komen coz baru baca
keren kak , hahaha itu si hyesun bener2 gak inget apa sama minho ?? Oh iya hye sun jadi dokter apa tuh ?
lucu bgt sih minho , bisa aja ngelesnya sakit bermacam2 padahal mau ketemu hye sun
keren keren i like it

karena Min Ho bisa ngeles macem2 gitu... bearti hye sun masih jadi dokter umum, kalau hye sun dah jadi dokter spesialis penyakit dalam... dah pasti Min Ho agak kesulitan cari2 alasannya. masa alasan kena serangan jantung, diperiksa jantungnya masih baik2 saja...


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: Something to remember (One Short)
« Reply #13 on: April 01, 2011, 06:27:01 am »
GOOD BYE, BRAD PITT !

(Cerita ini hanya fiksi belaka. Jika ada kesamaan di kejadian nyata, sekali lagi bukan factor kesengajaan)


Siapa yang tidak mengenal Brad Pitt? Pria tampan bermata biru, berambut pirang dengan tubuh atletis itu. Aktor tersebut memang selalu digilai wanita walau umurnya tak muda dan sudah beristri. Tak terkecuali bagi Hye Sun. Mahasiswi asal  Korea yang sedang menempuh pendidikan master-nya di Harvard University. Alhasil, pacar-pacar Hye Sun pun tipenya tak jauh-jauh amat dari Brad Pitt. Tengok saja si James dengan matanya yang biru. Atau Luke dengan rambut pirangnya. Belum lagi Howard yang atletis dan tinggi itu. Kok bule semua, sih? memang! Apa tidak ada cowok Korea yang naksir dia? Ada, sih… tapi selalu ditolaknya mentah-mentah. Selalu bikin ilfill, katanya….

Sebenarnya kuliah Hye Sun tinggal menyusun tesis saja tapi karena kesibukkannya sebagai model, membuat tesis agak terbengkalai.

Hye Sun : What? Apa kau bilang? Ho ho ho, jangan salah, author… tesisku satu bulan lagi kelar…..

Author : Hush! Aktris dilarang ikut ngomong!

Sekali lagi… tesisnya agak terbengkalai.

Kalian pasti heran kenapa dia bisa jadi model kalau dilihat dari badannya yang pendek itu. Jangan salah, dia memang bukan model yang berjalan di atas catwalk, tapi fotomodel. Agencynya selalu memakainya karena wajahnya yang oriental selalu menarik para pembuat iklan. Hal itu pula yang memudahkan Hye Sun menggaet cowok-cowok bule itu. Ho ho ho….

Hye Sun : Terus… terus… jelekkin aja aku terus…

Author : Apa Hye Sun tidak ngeri? Kita tahu kan kalau cowok bule itu suka main… main… apa, ya? Pokoknya kalau sudah suka ma suka langsung tubruk aja,lah….

Hye  SUN : Ho ho ho,jangan salah, author. Aku punya jurus andalan. Kalau cowok-cowok bule itu sudah mulai menunjukkan gelagat intim, langsung saja aku putusin. Bikin aja alasan yang dia mau gak mau melepaskan hubungan. Seperti… aku sudah dijodohkan dan di Korea sana sudah ada cowok yang menungguku… hahahaha…

Author : Tunggu! Ni yang buat ff aku  atau kamu, sih…. (Ngambek made on)

Hye Sun : Ye….

Author : MAkanya jangan ikut ngomong!

Sekali lagi. Hye Sun punya jurus andalan yaitu… yah…. Males aku ngulang lagi. Baca ja coment dia tadi.

Hingga suatu hari….

“We are break now!” teriak Hye Sun di suatu malam. Suara bantingan pintu terdengar kemudian, diikuti suara pria yang mengumpat dalam bahasa inggris. Teman sekamarnya, Kim Soe Eun yang sebenarnya sudah tidur sejak sore jadi terbangun. Dengan malas membuka mata untuk mengamati sobatnya yang kini mencopot sepatu asal sambil bersungut-sungut.

“Ada apa lagi, Goo Agashi?” tanya Soe Eun jengkel.

“Brian ngajak aku begituan,” ceplos Hye Sun. Soe Eun jadi menghela nafas, resiko pacaran sama bule memang seperti itu, batinnya.

“Jadi kau putus lagi untuk kesekian kalinya?” pasti Soe Eun.
“Ne,” angguk Hye Sun.
“Kali ini apalagi alasanmu?” tanya Soe Eun menginterogasi.
“No reasonable!”

GUBRAK ! Cowok diputus gitu saja tanpa alasan? Ckckckckckck…..

“YA… ngapain geleng-geleng kepala begitu? Pokoknya virginitas adalah hal yang ku junjung tinggi! Tak ada begituan sebelum menikah!”

SOe  Eun jadi mencibir.”Mana bisa kau menikah kalau cowok yang kau incar selalu bule. Setahuku tuh… bule paling alergi ma yang namanya pernikahan. Maunya hubungan tanpa komitmen.”

“Pasti ada!” elak Hye Sun.

“Ah!!! Terserah kaulah. Aku ngantuk, mau tidur lagi!”

Kali ini giliran bibir Hye Sun yang meruncing. Huh, dasar sok suci…awas besok Jum’at kalau memohon-mohon padaku supaya pergi agar bisa menguasai kamar karena pengen begituan sama Kim Bum. Antwe! Tidak ada begituan buat Bum So besok Jum’at malam. Hahahaha….

Begitulah mereka berdua. Yang satu setia ma pacar dan ehm.. ehm… sudah tidak perawan… yang satu gonta-ganti pacar tapi masih kinclong, Hohoho….

Reputasi buruk Hye Sun terdengar juga oleh Appanya di Korea. Semua itu bikin Appanya berang. Bagaimana tidak? Appanya adalah Diplomat kenamaan Korea. Karir politiknya terkenal bersih sejak dulu. Tentu tidak terima jika putri satu-satunya itu bikin skandal. Sudah banyak ancaman yang dilontarkan beliau buat Hye Sun agar mau pulang ke Korea. Mulai dari pemblokliran kartu kredit, sampai pura-pura sakit jantung. Tapi percuma juga. Kartu kredit diblokir, Hye Sun sudah bisa cari uang sendiri. Pura-pura sakit jantung? Hye Sun sudah tahu kalau jantung Appanya itu seratus persen sehat karena Ommanya yang dokter spesialis penyakit dalam itu selalu memprotek kesehatan Sang Appa. Hohoho….

Hye Sun benar-benar tidak tahu apa yang direncanakan Appanya, saat sang Omma tiba-tiba menelpon sambil menangis,”Huhuhuhu, Sun-a, Omma dan Appa akan bercerai…”

“Mwo?” Hye Sun kaget setengah mati mendengar kabar itu. “O… o..otoke? Bagaimana bisa? Emang apa yang terjadi, Omma? Apa Appa berselingkuh?”

Ommanya tidak menjawab. Malah semakin memperdengarkan tangisan pilu di telephon.

“Oke! Oke! Hye Sun pulang sekarang!” kata Hye Sun geram. Sambungan terputus kemudian. “Huuuhhh! Awas kau, Appa! Tidak akan ada maaf bagimu kalau kau menghianati Omma!”

Akhirnya, pulang juga playgirl ini ke Korea. Kepalanya celingak-celinguk saat sampai di bandara Incheon. Menunggu sopir yang tak datang-datang. “Huh… supir Song kemana, sih?”


Saat kaki mulai capek. Hye Sun duduk lagi di kursi ruang tunggu. Iseng-iseng menoleh ke arah bapak-bapak di samping kirinya yang sedang membaca Koran. Yap, bisa dibayangkan apa yang terjadi. Matanya akhirnya menelusuri tulisan demi tulisan di Koran itu. Numpang mbaca ceritanya. “Mwo!” matanya mendelik saat membaca salah satu artikel di Koran itu lalu merebutnya begitu saja dari sang empunya Koran,

“DIPLOMAT GOO AKAN SEGERA BERBESANAN DENGAN DIPLOMAT LEE. KOALISI POLITIK DI BALIK CINTA”

GUBRAk!

“Apa-apaan ini ?” wajah Hye Sun sudah  merah padam gak karuan. “Siapa juga yang mau menikah?”

“Hei, Agashi…. Itu Koran saya!” kata yang punya Koran sambil merebut kembali korannya yang sudah kucel karena di remas-remas Hye Sun.

“Goo Agashi?” panggil dua orang pemuda tegap berjas hitam. Ya… ya… ya… siapa lagi kalau bukan pengawal keluarga Goo. Hye Sun memainkan mata jengkelnya sambil mendengus. Dia selalu risih jika diperlakukan seperti tamu kehormatan seperti itu. Kaya pejabat elit saja, dia jadi ngedumel dalam hati.

Di Goo Manshion….

“Antwe!” teriak Hye Sun. Dia menolak rencana keluarganya mentah-mentah. Sang ayah terlihat kesal.”KAu tidak bisa menolak lagi, Sun-a… keluarga Lee sudah mengajukan lamaran dan kami menyetujuinya.”

“Bo? Salah sendiri! Siapa juga yang suruh terima lamaran tanpa  minta pendapatku. Lagian aku juga tidak kenal sama… siapa tadi namanya? Lee Min Ho? Cih… pasaran banget namanya… sok artis…,” cerca Hye Sun tanpa ujung pangkal.

“Jangan ngomong gitu, Sayang,” kali ini Mrs. Goo yang bicara. “Min Ho anak baik. Dia pasti bisa jadi suami yang baik untukmu.”

“Omma… kemarin Omma bilang di telepon kalau kalian akan bercerai, rupanya itu akal-akalan kalian saja biar aku pulang… Aduhhh…. Sebel!  Coba Omma pikir, cowok macam apa yang mau saja dijodohkan seperti itu, tidak punya pendirian sendiri,” cibir Hye Sun.

“Cukup olok-olokmu, Sun-a. Min Ho anak patuh dan berbakti. Dia juga sudah lama menyukaimu,” bentak Mr. Goo.

“B…b…bo?”  Hye Sun jadi gelagapan mendengar fakta itu. Anak itu… kapan juga kami ketemu?  Huh… dasar Namja aneh…


“Jika kau menolak! Appa akan mencabut paspormu supaya kau tidak bisa kembali ke Amerika!” ancam Sang Appa.
“Mwo? Antwe!” tolak Hye Sun mentah-mentah.
“Makanya… pasrah sajalah… nanti malam dua keluarga bertemu. Appa harap kau menjaga sikap di depan calon mertua dan calon suamimu.”

GUBRAK!!!

Huhhhh, sebel, sebel, sebel. Batin Hye Sun tersiksa di ruang makan yang megah itu. Senyum manis yang selalu tersungging di depan kamera lenyap malam ini. Dalam hati menggerutu. Keempat orang paruh baya di sekelilingnya nyerocos saja tanpa ujung pangkal, membicarakan rencana pernikahan. Sedangkan pria jangkung di depannya memperhatikan sambil senyum-senyum sendiri. Kadang Hye Sun mencibir ke arah pria itu. Senyum-senyum sendiri kaya orang gila, cih…


Kalau dilihat-lihat, pria itu tampan. Apalagi untuk ukuran bangsa Korea. Sangat tampan malah. Tapi tidak bagi Hye Sun yang di otaknya selalu menganggap Brad Pitt-lah yang tertampan. He… he… he…

“Mau tambah steaknya?” tanya pria itu basa-basi. Hye Sun menjawab dengan hembusan nafas dan membuang muka. “Kau sedang diet, ya?” sambung pria itu lagi.

Hye Sun masih saja membuang muka. Orang tua mereka masih terlibat obrolan seru hingga tak memperhatikan dua anak muda ini.

“Aku suka berat badanmu sekarang. Tidak perlulah berdiet untuk pernikahan kita,” Kata-kata pria itu membuat Hye Sun mendelik. Anehnya pria itu masih saja tersenyum.

Hye Sun berdiri dan memohon diri,”Miane, saya undur diri dulu.”

Keempat orang tua itu jadi kaget. Hye Sun bahkan belum menyentuh makanan sedikit pun.
“Kau belum makan, Sun-a,” tanya Mr. Goo.

“Miane, Appa. Hye Sun capek. Ingin tidur.” Lalu ngeloyor pergi ke kamar sebelum Appanya bersuara lagi.

Hoahmmm…. Kenyataan itu sungguh membuat Hye Sun lemas. Bawaannya ngantuk saja. Tak disangka alasan yang selalu dia lontarkan untuk putus hubungan dari cowok-cowok bule itu kejadian juga. Dan kini mulailah dia menapaki alam mimpi. Tunggu… mimpi apa ini? Pernikahan? Pria itu? Lee Min Ho? Anak kembar?

Huwaaaaa!!! Antwe… antwe… antwe…

Hye Sun terbangun dan berteriak-teriak. “Huhuhuhu, kenapa tidak Brad Pitt yang menikah denganku. Anyi! Aku harus kabur dari sini.”


Hye Sun benar-benar melakukan niatannya. Mengendap-endap seperti maling di rumahnya sendiri. Busyet! Penjagaannya ketat banget. Hye Sun sama sekali tidak menyangka karier Ayahnya semelesat itu sehingga ruang gerak Hye Sun jadi terbatas. Berkali-kali dia harus menghindari kamera CCTV, dan…

Hup! Tangan kekar menarik tubuh mungilnya hingga agak oleng. Pria itu merapatkan tubuh Hye Sun ke dinding dan mengunci dengan kedua lengannya. Hye Sun agak memundurkan kepala, saat pria itu mendekatkan wajah ke wajahnya. Pria itu… Lee Min Ho.

“Mau kabur?” tanya Min Ho.
Huft, Hye Sun menahan nafas. Udara yang keluar dari hidung mancung Min Ho berhembus di wajahnya. Aroma mint tertangkap di indera penciuman Hye Sun.

“Kau memang benar-benar nakal,” kata Min Ho.”Tak akan kubiarkan calon istri yang kucintai kabur.”

“Mwo!” mata Hye Sun mendelik. Belum sempat membela diri, Min Ho sudah mengunci bibir yang agak terbuka itu dengan ciuman. Semula Hye Sun terkejut, tapi sepertinya dia memutuskan untuk mengikuti permainan Min Ho. Membalas lumatan demi lumatan bibir padat itu, hingga nafas keduanya tersenggal-senggal.


“Saranghe, Hye Sun-a,” aku Min Ho seketika. Hye Sun jadi memicingkan mata tak habis pikir. “Kau wanita yang membuatku gila selama ini dan akan kulakukan apa saja untuk memilikimu. Termasuk memaksa Appa segera melamarmu untukku.”

Hye Sun semakin tak habis pikir. Bagaimana mungkin? Padahal bertemu saja baru malam  ini.

“Menurutmu ini bodoh, bukan?” tebak Min Ho. “Aku adik kelasmu waktu di senior high school, kau ingat?”


“Mwo? Ya… jadi kau lebih…
“Lebih muda darimu? Ne… dua tahun selisih usia kita. Tapi itu tidak masalah buatku. Mau, ya.. jadi istriku?”

GUBRAK!

Para pengawal yang mencari Hye Sun hadir di antara mereka. Min Ho terpaksa melepas kungkungannya atas gadis itu. Membiarkan para pengawal membawa Hye Sun ke kamarnya setelah membungkuk hormat di depannya. Pria itu tersenyum melihat Hye Sun yang masih saja menoleh ke arahnya walau pun sudah mulai berjalan menjauhinya.

Sesampai di kamar, Hye Sun jadi tidak bisa tidur. Bukan karena kepikiran pengen kabur lagi tapi lebih tertuju pada kejadian yang dialaminya bersama Min Ho barusan. Ciuman panas itu, aroma mint nafas Min Ho. Semuanya tentang Min Ho merajai otaknya. Belum lagi usia Min Ho yang lebih muda dan pengakuan pria itu  tentang cintanya yang terpendam sejak SMA.


Pernikahan pun terlaksana. Bagaimana lagi? Hye Sun tak bisa mengelak. Sementara Min Ho selalu menyunggingkan senyum bahagia di pesta, Hye Sun selalu menampakkan ekspresi datar. Di otaknya masih memikirkan lakon hidupnya yang dia sendiri tidak mempercayainya.

Kim Soe Eun yang jauh-jauh pulang ke Korea untuk menghadiri pernikahannya Cuma cengar-cengir. Sambil bersalaman dengan Hye Sun, dia berbisik,”Sudah ganti selera, rupanya?”

Cleguk! Hye Sun jadi menelan ludah sendiri.

Dua minggu sesudah pernikahan, Hye Sun kembali ke Amerika. Kali ini tidak sendiri. Min Ho yang berencana meneruskan studinya di Harvard juga ikut. Hye Sun harus rela berpisah dengan Soe Eun karena Min Ho memboyongnya ke apartemen yang dipersiapkan keluarga Lee untuk mereka.

“Ini rumah kita untuk dua tahun mendatang,” kata Min Ho saat pertama kali mereka menginjakkan kaki di rumah itu.  Min Ho memeluk punggung istrinya lalu mencium tengkuk wanita itu.

Kalian pasti bertanya-tanya bagaimana bisa Hye Sun pasrah saja diperlakukan seperti itu. Well, sepertinya benih-benih cinta mulai merajai benak Hye Sun. Selama dua minggu kebersamaan mereka di Korea, Hye Sun mampu melihat kebaikan dan besarnya cinta Min Ho padanya serta memutuskan untuk belajar mencintai pria itu.

“Kaulah yang berhak mengatur apartemen ini, Yeobo… jika tak suka dengan desain interiornya, kau bisa menggantinya,” terang Min Ho.

Hye Sun menggeleng lemah. “Anyi, Min Ho-a. Aku suka kok.”

“Kita lihat ruangan lain?” tawar Min Ho yang diiyakan oleh istrinya. Satu persatu ruangan di apartemen itu pun segera mereka sambangi dan ruangan yang terakhir yang kini mereka masuki adalah kamar tidur utama.

Ada kegugupan kecil di benak mereka saat melihat tatanan ranjang di ruangan itu. Dua minggu di Korea mereka belum melakukan ‘itu’ karena pesta demi pesta yang diselenggarakan orangtua mereka. Dan kini ranjang di depan mereka itu tertata begitu romantis.

Untuk menghilangkan kegugupan, Hye Sun membuka pintu menuju lobi, lalu menikmati malam kota itu melalui lobi. Wanita itu memejamkan mata saat angin bertiup ke wajahnya. Aroma wine menyeruak di hidungnya yang membuat matanya terbuka. Segelas wine ternyata di sodorkan Min Ho tepat di hidung mungilnya. “Acara selamatan rumah baru?” ujar Min Ho.

Hye Sun menerima gelas piala itu. Sesaat mereka melakukan tos dan menegak minuman itu. Tampak setetes wine belepotan di bibir Hye Sun dan Min Ho segera menyekanya dengan telunjuk kanannya.

Waktu seakan berjalan lambat. Hye Sun begitu menikmati usapan tangan Min Ho di bibirnya, sedangkan Min Ho tak lepas memandang bibir yang ranum itu. Seakan terbawa suasana, mata Hye  Sun memejam saat kepala Min Ho semakin mendekat. Akhinya kedua bibir itu bertemu saling menuntut hasrat masing-masing agar semakin dalam. Min Ho meletakkan gelas wine yang dipegangnya di dinding balkon agar kedua tangan itu lebih leluasa menarik Hye Sun lebih dekat ke tubuhnya. Sedangkan gelas yang dipegang Hye Sun sudah jatuh pecah dari tadi. Tangan wanita itu bergelayut di leher suaminya, meremas-remas rambut lebat Min Ho hingga membuat keduanya semakin tak kuasa menahan diri.

Hye Sun sama sekali tidak protes saat Min Ho menggendongnya ke ranjang. Semuanya sudah diserahkannya pada sang suami. Hatinya bahkan kini keperawanan yang selama bertahun-tahun dia pertahankan.

Dengan lembut, Min Ho melepaskan satu per satu pakaian Hye Sun lalu menutupi ketelanjangan istrinya itu dengan kecupan dan belaian yang semakin lama semakin membuai. Saat kedua tubuh polos itu bersentuhan  bebas, tanpa sehelai benang yang menghalangi. Angin sorga seakan bertiup, memberi berkah bagi hubungan yang terikat pernikahan yang syah ini. Keintiman semakin merajai keduanya.

“Aku mohon sekarang, Sayang… sekarang…,” Min Ho tersenyum mendengar permohonan Hye Sun. Wanita itu memekik, menahan sakit saat Min Ho mengabulkan permintaannya. Min Ho pun mendesah, merasakan sensasi yang belum pernah dirasakan sebelumnya itu, saat otot kewanitaan Hye Sun mencengkeram, menolak di awal namun pasrah di akhir.

Diamatinya wajah sang istri yang memandang lurus ke arahnya, berbinar bagai telah berhasil memenangkan sesuatu, lalu memberi ciuman panas lagi sebelum akhirnya melakukan gerakan instens, yang membuat keduanya benar-benar dimabuk cinta.

Keduanya sama-sama mendesah saat berada di puncak lalu berpelukan setelah Min Ho memberikan ciuman di kening istrinya, mengucapkan terima kasih akan kisah yang indah di peraduan cinta pertama mereka.

“Apakah aku bisa cepat hamil, Min Ho-a?” tanya Hye Sun di dada suaminya. Min Ho menatap bola mata yang berbinar itu.”Kau tidak ingin menundanya?”

“Anyi, Min Ho-a. Aku ingin cepat hamil saja.”

Min Ho tersenyum saat mempererat pelukan.”Berdoalah, Yeobo. Kita hanya bisa berusaha dan tuhan yang menentukan.” Dan Hye Sun mengecup dada bidang itu. Agak memberikan sensasi menyakitkan yang membuat Min Ho memekik hingga hasrat lelaki itu kembali. Sekali lagi mereka melakukan hal itu lagi. Kali ini dengan harapan kemunculan anak-anak mereka.

DUA TAHUN KEMUDIAN…

Acara wisuda. Min HO menerima ijazahnya di acara itu dengan raut wajah cemas. Hye Sun merasa mulas-mulas tadi pagi. Alhasil wisuda ini dia lakukan tanpa Hye Sun yang sudah diangkut ke rumah sakit. Di kehamilan yang kedua ini, Min Ho selalu memprotek istrinya habis-habisan, takut kalau istrinya mengalami keguguran lagi seperti setahun yang lalu.

Min Ho segera melajukan mobilnya ke rumah sakit tempat Hye Sun berada, Toga wisuda masih menjadi kostumnya saat memasuki ruang perawatan Hye Sun. Orang tua dan mertuanya mondar-mandir cemas di depan kamar, membiarkan Min Ho untuk memasuki kamar istrinya begitu saja.

“Sayang…,” panggil Hye Sun lemah sambil menahan sakit di perutnya. Min Ho segera menghampiri dan mengecup kening istrinya. “Masih lama,kah, suster?” tanya Min Ho dalam bahasa Inggris pada perawat yang ada di situ.

“Tinggal dua centi lagi, Tuan,” jawab perawat itu. Min Ho menggenggam tangan Hye Sun, sesekali terasa Hye Sun meremas kuat, melawan rasa sakit.

“Operasi Caesar saja, Yeobo.. aku tidak tega melihatmu,” Hye Sun menggeleng lemah, menolak permintaan suaminya. “Aku kuat, Min Ho-a, percayalah… Akh!...

Min Ho jadi panic melihat Hye Sun berteriak. Suster segera melihat bagian bawah tubuh Hye Sun lalu menelpon dokter. Saat dokter tiba, akhirnya Min Ho harus keluar kamar itu karena proses persalinan segera dimulai.

Doa syukur mereka panjatkan saat tangisan bayi terdengar. Bukan hanya seorang, tapi dua orang bayi… laki dan perempuan yang menambah kegembiraan pasangan itu.

Kini mereka dikelilingi keluarga tercinta, memamerkan bayi-bayi mungil mereka di depan para tamu yang menghadiri pesta syukuran kecil-kecilan yang mereka adakan. Lagi-lagi Kim Soe eun ada di pesta itu, menyalami Hye Sun yang sedang menggendong salah satu si kembar sambil berbisik,”Otoke? Bagaimana kabar Brad Pitt?”

Hye Sun tertawa seketika lalu menjawab mantap,”Good Bye, Brad Pitt!”

Author : Hehehehe, ternyata produk dalam negeri juga tak kalah tampan dan hot dari luar negeri. Iya kan, Hye Sun?

Hye Sun : Ne…. (muka merah, menahan malu - made on)


THE END

(FF teraneh yang pernah kubuat)


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Mawar Jingga

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
    • View Profile
Re: Good BYe Brad Pitt (One Short)
« Reply #14 on: April 01, 2011, 06:59:21 am »
Sisicia,...thanks yaaa, buat FF yang ini....Gag aneh kok. Romantis abes... [hmpfh]...Apalagi si Hyesun dah lupa ama Brad Pit..Minho jauh lebih guanteng deh dari Brad pit...  whistling...BTW, si Hyesun ceritanya umurnya berapa tu lagi nikah ama Minho?

Ada lanjutan lagi kan? FF one shot lainnya.... [sweat]. hehehe....