Author Topic: I CAN’T CALM MY HEART ″ending super LONG″  (Read 37677 times)

Offline Adinda lestari

  • Junior
  • **
  • Posts: 249
    • View Profile
Ntar yg laen nyusul sist...update skarang ja yak...

Offline Alin

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1002
    • View Profile
Ntar yg laen nyusul sist...update skarang ja yak...
iya...sok atuh segera diupdate udah kering updatean minsun ni...pokoknya semua ff minsun ane suka..cuma kadang2 klo sweet moment minsunnya blm ada suka gregetan...jd monggo diupdate.. [biggrin]

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
CHAPTER 3








Kediaman keluarga Yoon


Jandi :   “Oppaa… mianhe…”

Jandi menatap jihoo penuh rasa bersalah, menggenggam kedua tangannya erat, ia menunggu reaksi jihoo dengan penuh harap. Jihoo -dengan raut tanpa ekspresi- hanya terdiam, ia sebenarnya tidak mempunyai kekuatan menatap jandi, seluruh kata mungkin tidak ada gunanya lagi sekarang.

Kebetulan junpyo datang berniat untuk bicara dengan jihoo setelah kejadian di bar tempo hari. Namun langkahnya terhenti saat mendapati keberadaan jihoo dan jandi dalam keadaan seperti ini. Perlahan tanpa suara, ia bersembunyi, sedikit menyelipkan tubuhnya di antara dedaunan sekitar pintu masuk hingga  jihoo dan jandi tidak menyadari keberadaannya. Dinding kaca di sekelilingnya sama sekali tidak menghalangi pandangan junpyo, ia diam dalam kegelapan, memperhatikan gerak gerik -yang di pikirnya- sepasang kekasih itu.

Jandi :   “Oppaaaa…. Aku tau, kau mencemaskanku, semua ini memang tidak adil. Tapi Appa tidak bicara padaku berhari-hari hanya karena hal ini. Aku tidak bisa melihat appa dan omma bersedih karena aku. Apa yang bisa aku lakukan...”

Airmata yang jernih itu mulai berhamburan keluar membasahi pipinya, hidungnya merah, begitupun mata indahnya. Terpancar ketidakberdayaan disana, namun ia bahkan tak berkedip sedikitpun, menatap jihoo, berharap lelaki ini menoleh padanya, merangkulnya seperti biasanya, mengerti keterpurukannya.

Junpyo mendengar kegundahan hati jandi kata demi kata, tiba-tiba hatinya dingin, seolah gadis ini menularkan seluruh kegelisahan itu pada dirinya. Ia bahkan lebih galau lagi. Junpyo tidak tau harus melangkah kemana setelah mendengar tangis pilu seorang gadis yang terpaksa menerimanya sebagai seorang suami.

“Gadis Bodoh!” gumamnya pelan.

Jika jaekyung saja dapat mengerti, kali ini  -tanpa di sadari- dalam lubuk hatinya yang paling dalam, junpyo berharap jihoo juga bersedia untuk mengerti posisi jandi. Apakah ia terlihat seperti dalam paksaan menikah?

Junpyo bergelut dengan fikiran dan perasaanya sendiri. Huft.. ia menghela nafas panjang, bagaimana mungkin jihoo akan menerima semua ini setelah mengetahui apa yang telah junpyo rencanakan untuk masa depan perkawinan mereka. Bagaimana bisa jihoo menyerahkan gadis yang dicintainya itu pada lelaki brengsek -yang jelas-jelas- akan menyakiti gadisnya kelak. Jihoo tentu tau seperti apa sahabatnya ini, dan jelas sudah baginya mengenai niat busuk junpyo setelah mereka menikah.

Junpyo beranjak dari sana, ia merasa menjadi seorang pencuri yang telah merampas sesuatu paling berharga dari Jihoo. Menjadi seseorang yang berada di antara jihoo dan jandi, bukanlah posisi yang layak untuk seorang Goo Jun Pyo. Dia pun berlalu tanpa ada seorang pun yang menyadari kehadirannya.

Jihoo :   “Jandi-yaa.. Jaga dirimu!”

Jihoo tetap tidak bisa menatap jandi, sulit baginya untuk merelakannya. Meski pada sahabatnya sendiri.

Jandi :    “Oppa, kau tahu aku kan? Saat ini aku merasa seperti sedang berlari dengan mata tertutup. Gwenchanayo oppa, akan lebih baik jika aku tidak melihat dan juga tidak merasakan apapun.” :’)

Jandi tersenyum manis pada jihoo, meyakinkannya bahwa dirinya akan baik baik saja. Dia memang tidak menginginkan junpyo, begitu juga sebaliknya, setidaknya untuk saat ini. Walau itu tidak mengurangi beban perasaan jihoo.

Jihoo :   “Aku akan menggenggam tangan mu seperti ini! Jangan lepaskan genggamanmu. Arasso?” Akhirnya jihoo membalas genggaman jandi dengan erat.

Tak perduli apapun, ia akan selalu melindungi jandi. Sampai sekarang jandi tidak tahu perasaan jihoo yang sebenarnya, karena ternyata dia sama sekali belum pernah mengungkapkannya. Meski mereka tinggal bersama di Boston, tapi perasaan itu jihoo sembunyikan rapat-rapat, dan tampaknya kesalahan terbesarnya adalah ia tak akan pernah yakin untuk mengungkapkannya. Ini karena sikap jandi yang berkembang penuh kepercayaan padanya, hingga jihoo takut cintanya justru akan membuat jandi merasa terhianati. Jihoo selalu berharap suatu saat sang waktu akan memberinya kesempatan, tapi tak disangka dia malah terlambat tanpa sadar harus berlomba dengan takdir.


            =======================



Di kediaman keluarga Goo, junpyo duduk sendiri di kamarnya sambil melamuni apa yang dilihatnya barusan. Rautnya begitu khawatir, duduknya pun tak tenang, ia menopang sikunya di kedua lutut sambil menutupi wajahnya. Terbayang olehnya, sikap lembut jandi pada jihoo, gadis itu bahkan memanggilnya oppa. Sikap dan tatapannya sangat berbeda ketika berhadapan dengan dirinya. Membayangkan selama dua tahun mereka berdua tinggal bersama, junpyo jadi salah paham.

“Mungkin seharusnya dia menjadi istri Yoon Jihoo.” Pikirnya konyol. Lebih gila lagi, sempat-sempatnya dia membayangkan jandi dan jihoo mengenakan pakaian pengantin.

 
*my fav pic :p


“Aiiiissshhh... apa perduli ku? Kenapa dada ku jadi sesak begini? Huuuhft....” memukul-mukul dadanya sendiri.
 
Telililililit..... ponselnya berdering panjang. Sontak junpyo loncat dari tempat duduknya saat melihat layar ponsel, dia jadi panik tak karuan. Orang yang baru saja melayang-layang dalam pikirannya, kini wajahnya terpampang di layar ponsel.

Apa maksudnya dia harus sepanik itu? Toh jihoo tidak bisa membaca pikirannya melalui telepon. +_+’

Junpyo membersihkan tenggorokan lebih dulu untuk meredam emosinya.

Junpyo :   “Ehem... yeoboseyo? Ah.. jihoo?? Ne... ada apa? ne!”

Wajahnya berubah serius, dari nada suaranya sepertinya jihoo ingin bicara serius. Ia meminta junpyo segera menemuinya di suatu tempat.


            =====================


Angin berhembus kencang, dingin. Sedingin tatapan Junpyo dan jihoo yang bertemu di gedung olahraga sekolah Shinwa, bicara empat mata sebagai laki-laki. Pandangan keduanya tajam lurus ke depan tanpa saling menoleh, bersikap dingin satu sama lain.

Jihoo :   “Junpyo-yaa, Jangan sakiti dia.”

Junpyo :   “Jadi, kita bertemu hanya untuk ini?”

Kali ini jihoo menoleh pada junpyo di sisinya, tatapannya serius. Tapi sayang, junpyo tetap memandang lurus ke depan.

Jihoo :   “Aku tidak melepasnya untuk kau sakiti.”

Junpyo :   “Kau ingin mengancamku lagi?”

Jihoo :   “Goo jun pyo, jika kau inginkan jaekyung maka lepaskan jandi. Atau sebaliknya.”

Junpyo menoleh, tersungging senyum angkuh di bibirnya. Dia sungguh kekanakan, sengaja tak memperdulikan keseriusan jihoo, meski padahal dia tertarik.

Junpyo :   “Wah, kau sekarang memerintah ku? Jihoo-yaa, ini mudah saja.. cukup lakukan seperti yang ku katakan. Maka tak akan ada yang berubah.”

Jihoo :   “Kau pengecut Goo Jun Pyo! Kau akan menyakiti mereka berdua sekaligus.”

Junpyo :   “Aku yakin dia pasti setuju. Apa harus aku katakan ini padamu? Aku melakukanya demi appa, begitu juga dengannya. Persetan dengan pernikahan.”

Jihoo terdiam, ia tau maksud junpyo, lelaki ini sama sekali tidak akan berubah. Tidak ada gunanya diajak kompromi.



            =====================


--Wedding--

Hari itu tiba, hari dimana sepasang pengantin seharusnya merasa menjadi manusia paling bahagia. Ketika dua insan diikat dalam satu ikrar suci, tapi kesakralan itu malah ternodai oleh hati yang tidak tulus dan justru menjadi muslihat. Apalagi junpyo, dia tidak pernah berniat menikah semuda ini, meski umur 25 tahun sudah pantas, tapi junpyo sama sekali belum tertarik untuk hidup berdampingan dengan siapa pun.

Apa lagi yang bisa diperbuat? para undangan sudah memenuhi ruangan. Acara yang didominasi oleh petinggi Negeri dan rekan bisnis ini bisa dibilang sungguh irit, bahkan terkesan pelit untuk seukuran milyader Goo. Tidak ada pesta mewah yang menyusul, -tidak heran- ini bagian dari kesepakatan mempelai dan negosiasi yang alot dengan para orang tua. Tak ada yang mengharapkan pernikahan ini kecuali mereka.

Jihoo, woo bin dan yijung sudah bersiap menjadi pengiring. Hanya jaekyung yang tidak menampakkan batang hidungnya, junpyo pun tidak berniat mengundangnya. Di sisi lain kedua keluarga tampak sangat bahagia.

Jandi, adalah bidadari tercantik dengan sayap yang patah, selangkah demi selangkah menyusuri altar. Tanpa bersedia menatap ke depan, kepalanya tertunduk nanar sambil menggenggam tangan appanya. Gaun pengantinnya tampak indah membalut tubuh mulus nan mungil itu, paras cantiknya tertutup kumpulan awan mendung, seperti pelangi ketika mulai hujan. Tetap saja perasaannya hambar.

Junpyo pun demikian, tidak menampakkan senyumnya sedikitpun. Sekilas, mata mereka bertemu saat junpyo mengambil alih genggaman tangan jandi dari appanya. Tangan mungil itu dingin, ntah gugup atau sangat tertekan, yang jelas junpyo merasakannya. Junpyo melirik ragu tanpa bisa menampik kecantikan jandi, mata bulat berwarna cokelat indah itu begitu jernih, jantung junpyo berdetak tak menentu meski senyumnya terlalu mahal, enggan merekah.

Junpyo dan jandi mengikat sumpah di hadapan pendeta…

Pendeta :   “Goo Jun Pyo, bersediakah kamu menikah dengan nona Geum Jandi, berjanji untuk selalu mencintai dan menyayanginya dalam keadaan senang maupun susah, sehat maupun sakit, setia sampai akhir?”

Junpyo :   “Aku bersedia…” Jawabnya cepat dan lancar. *Halloooooo… kesannya ngebet baaaang*

Pendeta :   “Nona Geum Jandi, bersediakah kamu menikah dengan tuan Goo Jun Pyo, berjanji untuk selalu mencintai dan menyayanginya dalam keadaan senang maupun susah, sehat maupun sakit, setia sampai akhir?”

Tak ada jawaban –senyap-

Jandi terus tertunduk, tatapannya kosong.

Pendeta :   “Nona Geum?”

Pendeta itu berbisik pelan, tapi jandi tak juga bereaksi. Junpyo tidak berniat menoleh padanya, namun hatinya menunggu, timbul sedikit kengerian dalam dirinya kalau sampai gadis ini berkata ‘tidak’. Suasana mulai riuh dengan bisik-bisik para tamu. Sang pendeta mengira jandi tak mendengarnya, maka ia mengulang panggilannya sekali lagi.

Pendeta :   “Nona?”

Jandi bukannya tak mendengar, dia juga tidak tahu sedang memikirkan apa, hanya saja, keraguan begitu mengganjal hatinya.

Jandi :   “Ne, aku bersedia”

Akhirnya, suara yang lebih terdengar seperti bisikkan putus asa itu melegakan hati junpyo. Tiba-tiba saja jandi merasa sangat berdosa. Berbohong atas nama Tuhan.

Secara resmi, keduanya telah mennjadi suami istri. Jihoo tertunduk kaku, hatinya perih luar biasa. Namun bukan jihoo namanya jika tidak mampu menyembuyikan perasaannya di balik wajah tanpa ekspresi itu. Melihat gadis yang dicintainya mengenakan gaun pengantin seperti yang selalu ada dalam bayangannya selama ini, terasa miris ketika mendapati seseorang yang menggandeng tangannya adalah sahabatnya sendiri. Yijung dan woo bin tampaknya mengerti, mereka menepuk-nepuk punggung jihoo dan hanya berharap ini mampu memberinya kekuatan. Keluarga keduanya terlihat lega dan bahagia.

Tiba saatnya sepasang mempelai berciuman, ciuman pertama sebagai suami istri. Seharusnya begitu, tapi toh Jandi sama sekali tidak berniat memberikan ciuman pertamanya pada junpyo.

Pendeta : “Baiklah, silahkan kalian saling berciuman sebagai suami dan istri.”

Huuuuuu……….. sorak sorai…. Berasal dari para undangan…..

Junpyo merasa risih harus berciuman di hadapan jihoo, ntah itu penting baginya, tapi rasanya sangat terbebani. Junpyo melirik jandi yang langsung menunduk, perlahan mulai mendekatkan wajahnya. Jandi terdiam, tertunduk sedalam-dalamnya. Hatinya kalut, mendadak dia tidak tahu bagaimana caranya lari, hanya menutup mata dan bibirnya rapat-rapat.

Jari-jari jihoo terkepal geram, matanya mulai merah, ingin rasanya ia mendaratkan tinju di wajah junpyo dan membawa jandi pergi dari mimpi buruk ini.
‘Berhenti goo jun pyo, apa mau mu…’ hatinya berteriak. Ia tidak rela junpyo menyentuh jandinya, bukankah mereka sudah sepakat, tapi bisa-bisanya junpyo mengambil kesempatan.

Woo bin dan yijung saling menatap cemas.

Wajah junpyo semakin mendekat pada jandi, menatap wajah mulusnya dari jarak yang sangat dekat, hanya beberapa inchi sebelum akhirnya ia mendaratkan sebuah kecupan di pipi jandi, membuat jandi terhenyak. Mendadak membuka matanya yang langsung bertemu dengan tatapan maut junpyo. Deg deg deg…. Junpyo segera memalingkan wajahnya penuh gengsi.



            ====================



Junpyo dan jandi tinggal di kediaman keluarga Goo yang selama ini junpyo tempati sendirian karena orang tuanya nyaris tidak pernah pulang. Namun karena hari ini adalah hari pernikahan putra mereka, maka orangtua junpyo berniat menghabiskan waktu seminggu di Seoul. Mereka hanya mengantisipasi karena sadar pernikahan ini bukanlah pernikahan yang diinginkan keduanya. Oleh karena itu, orangtua mereka merasa khawatir dan berusaha mengawasi.

Malam pertama, harusnya menjadi malam yang tidak terlupakan bagi sepasang pengantin baru. Tapi bagi jandi ini adalah malam yang menakutkan, ia harus berada satu kamar bersama seorang pria asing yang jelas latar belakangnya –sebagai- playboy.

Kamar junpyo asing baginya, jika saja kamar ini bukan milik junpyo, sudah pasti akan menjadi tempat yang sangat nyaman. Kamar junpyo baru saja di design ulang khusus untuk pengatin baru, setiap detailnya sangat indah. Ornamen timur tengah yang menghiasi dinding-dindingnya meninggalkan kesan romantis. Kamar ini di dominasi warna gelap, remang-remang. Ranjangnya yang besar dan hangat itu sangat menarik perhatian jandi.

Apa ini? taburan mawar? Love? Cih, tidak ada cinta di sini. Tubuhnya lemas, jandi ingin sekali berbaring –mengingat- sudah hampir rubuh karena kelelahan. Tapi ia takut kalau tiba-tiba junpyo masuk ke kamar dan…. ntahlah! Jandi menggeleng kuat.

Sampai saat ini junpyo masih berada di luar bersama orangtuanya, dia bahkan belum mengganti pakaianya setelah upacara tadi.

Jandi berkeliling menyusuri ‘kamar barunya’, sangat luas dan mewah. Meski kamar di rumahnya cukup luas, tapi tidak seluas ini.

Saat menemukan bathroom di salah satu sudut kamar itu, tanpa basa-basi dia langsung masuk. Jandi mengamati sekelilingnya, ada dua buah kimono handuk berwarna merah muda dan putih yang terlipat di lemari kaca. Yakinlah, mereka sudah menyiapkan segalanya. Dia memutuskan untuk menyegarkan tubuhnya yang penat dengan shower yang cukup dingin.

Air dingin yang mengguyur tubuh jandi membuatnya lebih tenang. Sekejap saja bathroom junpyo penuh dengan semerbak wewangian wanita. Biasanya aroma yang melekat di kamar ini sangat melambangkan junpyo, tapi sekarang berbeda, ada seorang wanita disini.

Junpyo memasuki kamarnya dan mendengar suara shower. Cuek saja. Ia memperhatikan seisi kamar, kenapa sangat berbeda. Tempat tidurnya bertabur bunga mawar berlambang love, dekorasinya sangat berciri kamar pengantin baru. Sejak kapan kamarnya disulap? Junpyo memicingkan matanya pertanda risih dengan semua ini, seingatnya baru semalam dia tidak tidur disini. Karena stress memikirkan pernikahannya, junpyo bermalam ntah di hotel mana, -sudah lupa- ntah bersama siapa, dia pun tak tertarik mengingatnya. Matanya terpejam, menghembuskan nafas kuat. Dia tidak mengiginkannya. Junpyo melanjutkan jalannya menuju closet, diamatinya sebentar lemari-lemari yang tertutup itu sebelum membukanya, benar saja-isinya pun kini berbeda. Beberapa tempat terisi perlengkapan serba wanita, semuanya tampak baru, dia pun yakin jandi pasti belum menyentuhnya.

Junpyo mengacak asal-asalan pakaian disana, tapi seketika terhenyak saat mendapati beberapa gaun tidur supersexy yang tergantung rapi. Dia jadi teringat sesuatu-‘malam pertama?’ Junpyo membayangkan bagaimana jika jandi mengenakan gaun itu, pikiran nakal itu muncul begitu saja. Ah, jangan mimpi!
Suara pintu bathroom menyadarkan junpyo dari lamunan bodohnya, dia buru-buru menutup closet dan menghampiri jandi.

Di lihatnya Jandi sedang menyibak rambutnya dengan handuk, tubuh mungilnya terbalut piyama tertutup, sangat berbeda dengan yang baru saja ia bayangkan. Sepertinya jandi benar-benar berfikiran negatif tentang dirinya. Meski begitu, meski tanpa gaun malam sexy, kulit mulus dan putih itu melambangkan keseksian bagaimanapun keadaannya. Junpyo menatap lekat, tanpa bisa berpaling, lagi-lagi terpesona. Jandi belum menyadari keberadaan junpyo yang sedang memperhatikannya dengan mata tak berkedip, sampai akhirnya lelaki itu mengeluarkan suaranya.

Junpyo : “Ehem...”

Jandi terkejut bukan kepalang mendapati junpyo sedang menatapnya, refleks ia menutup bagian dadanya dengan kedua tangan. Tubuh jangkung junpyo tersandar nyaman di dinding dengan jari-jari yang terselip di saku celana. Dahinya terhenyit menatap jandi, memangnya tampangnya seperti setan, bisa sampai membuat gadis ini begitu terkejut.

Jandi :   “Yah, ada apa?”

Junpyo :   “Dengar! Selama kau menumpang disini, tolong jaga privasi ku. Jadi ku beri tahu, aku tidak ingin keadaan berubah sedikitpun, termasuk kamarku.”

Tampang angkuhnya membuat jandi semakin muak.

Jandi :   “Goo Jun Pyo-ssi, tempat ini sangat tidak nyaman untukku. Jadi kau tak perlu khawatir.”

Junpyo :   “Benarkah?” dengan nada meremehkan, membuat jandi semakin kesal.

Jandi :   “Baiklah, sebaiknya aku pulang!!” ancamnya.

Keduanya tidak ada yang mau mengalah, sangat dingin dan saling menatap tajam.

Junpyo : “Kau harus ingat, semua mata sedang tertuju pada kita. Bahkan media massa baru saja memampang wajah kita dimana-mana, jangan bersikap konyol.”

Jandi memalingkan wajah penuh kekesalan.

Junpyo : “Banyak hal yang perlu kau taati, pertama, kau harus terseyum di depan omma dan appa juga di depan publik.
Kedua, kau tidak boleh mencampuri urusanku. Itu yang paling penting.
Ketiga, kau tidak boleh bertindak apapun tanpa seijin ku, dan jaga sikap mu! Sebagai gantinya, aku akan membiayai hidupmu. Arasso???”

Jandi menganga menatap junpyo tidak percaya, ia merasa sama sekali tidak di hargai. Lelaki brengsek ini tidak berhenti mempermainkanya, kata-kata junpyo membuatnya kehilangan harga diri, memandang rendah dirinya. Menganggapnya seperti gadis mayoritas yang hijau dengan harta Shinwa Group. Junpyo sendiri tau percis gadis ini sangat mandiri dalam urusan financial, tapi –sungguh- ia tidak mengenal cara lain untuk menundukkan seseorang.

Jandi :   “Cukup! Bagaimana bisa kau berkata seperti itu? Apa kau begitu bodoh? Aku sama sekali tidak tertarik pada kehidupan pribadi mu, dan aku… Putri Presdir Independent group. Aku tidak butuh uang mu!”

Wajahnya mulai merah, lelaki ini cukup menguras emosinya. Tidak biasanya jandi mengatakan sesuatu yang terdengar sombong, tapi kali ini mungkin saatnya junpyo harus terkena batunya.

Junpyo : “Yah, kau pikir aku akan membiarkanmu? Kau tidak boleh menggunakan uang mu! Aku bisa berbuat segalanya sesuai keinginanku, jadi jangan macam-macam.”

Jandi tau, menghadapi orang angkuh seperti junpyo bukan perkara mudah. Jandi sudah kehilangan kesabaran, kali ini junpyo benar-benar bertemu lawan seimbang. Jandi mencampak handuknya ke wajah junpyo.

Junpyo :   “YAH.. Aiiisssh….” Semberaut menyingkirkan handuk di wajahnya, handuknya wangi sih.

Jandi :   “Minggir.” Jandi mendorong tubuh junpyo yang menghalangi jalannya menuju ranjang.

Junpyo :   “Wae? Ingin tidur di ranjang bersamaku, huh” tersenyum siniz.

Jandi :   “Jangan mimpi goo jun pyo! Minggir, atau kaki mu tak akan selamat.”

Junpyo terkejut, ia takut bukan main, sepertinya tendangan jandi waktu itu menimbulkan trauma mendalam. Buktinya dia langsung menyingkir dengan tampang bodoh. Jandi dengan cepat mengambil bantal dan selimut dari tempat tidur, kemudian kembali ke sofa dan berbaring disitu. Menutup seluruh tubuhnya dengan selimut sampai ke kepala. Junpyo hanya memperhatikannya dengan tampang kesal. Malam pertama yang mengharukan (-__-“)



            =====================



Setelah menikah, kehidupan semakin semberawut, dingin! Rumah tangga hanya image. Di depan public mereka tersenyum namun saat di rumah mereka seperti sedang perang dingin.

Malam ini jandi dan junpyo menghadiri pesta ulang tahun salah satu relasi bisnis, -kecuali junpyo- senyum mengembang ramah menyapa para undangan lainnya. Junpyo mengait lengan jandi, disekap kuat dalam genggamannya. Sejujurnya junpyo merasa bangga membawa jandi bersamanya. Bagaimana tidak, ia gadis tercantik malam ini. Tapi caranya membuat jandi risih. Keduanya membuat iri siapapun yang memandang, junpyo begitu tampan dan rapi elegan, tubuhnya tinggi profosional. Sedangkan jandi, cantik mungil dengan gaun pink minimalisnya. Terlihat seperti couple paling hot, ya -memang hot- dimanapun berada, pasti ada pertengkaran.

Jandi menyapa ramah pada siapa saja yang dikenalnya. Sedangkan junpyo, dia mana perduli. Lama-lama jandi sudah terbiasa dengan sikap angkuhnya. Orang-orang juga sudah memakluminya.

Jandi :   “Anyeong ahjjushi…” menyapa lembut rekan bisnis ayahnya.

Mr. lee :  “oooh.. Anyeong jandi-yaa, kau cantik sekali nak.” tersenyum. “Oh, ini pasti suami mu, Halo Goo Jun Pyo-ssi... kalian terlihat sangat serasi”

Junpyo sedikit membungkukan tubuhnya dan tersenyum hambar.

Junpyo : “Anyeonghaseo”

Jandi merasa tidak nyaman dengan sikap suaminya, hatinya sangat kesal. Dia ingin segera memberinya pelajaran.

Jandi :   “Apa kabar paman? Bibi? Sudah lama tidak bertemu.”

Mrs. Lee : “ah, Biasalah orang tua seperti kami seharusnya sekarang sudah tidur di rumah. hahaha. Oh, kalian ini pengantin baru.. Bagaimana bulan madu kalian?”

Junpyo : “Kami tidak bulan madu.” Jawabnya nyerobot aja, ketus, sikapnya acuh tak acuh. Mr dan Mrs Lee memandang satu sama lain heran.

Jandi : “Ahh, ahjuma.. suamiku sangat sibuk, kami belum pergi berbulan madu.”

Jandi memainkan perannya dengan sangat baik. Junpyo terkesan dengan actingnya, menatapnya tak percaya penuh kejengkelan.

Mr. Lee :   “Benar, Tuan Muda Goo pasti sangat sibuk.”

Mrs. Lee : “Junpyo-ssi, luangkanlah sedikit waktu untuk isrtrimu. Seorang wanita pasti menanti moment-mement indah saat bulan madu, hanya saja terkadang kami tidak mengungkapkannya. Benarkan jandi-yaa? ” ;)

Jandi :   “Dhe?”

Wajah jandi mendadak merona merah, seperti maling ketangkap basah. Tentu saja yang dikatakan si ahjuma itu benar, tapi bulan madu bersama goo jun pyo? Lupakan saja!

Mrs. Lee :   “Aku jadi ingat saat kita muda dulu yeobo, bulan madu di Eropa, disana banyak tempat yang sangat indah.” Tersenyum genit.

Jandi menyambut baik kata-kata Mrs. Lee dengan senyuman, berbeda dengan junpyo yang langsung memalingkan wajahnya.

“Apa bagusnya Eropa? Bahkan gadis disana tidak lebih hot dari gadis Korea..” Batinnya.

Tidak lama berselang, tiga wanita datang mendekat ke arah mereka. Wajahnya tidak asing, kecuali bagi jandi. Seorang di antaranya adalah Miss Korea, dua lagi adalah putri pemilik pesta dan anak rekan bisnis junpyo.

“Anyeonghaseo...” tegur mereka bersamaan.

Jandi dan junpyo menoleh ke belakang tempat suara berasal, Mr. dan Mrs. Lee tersenyum menyambut wanita-wanita cantik yang sedang membungkukkan tubuh mereka ini. Junpyo tetap bersikap dingin, jandi yang tidak mengenal ketiganya ikut menundukkan sedikit kepalanya menyambut teguran mereka.

Jandi   “Anyeong..”

Junpyo menatap mereka sekilas kemudian beralih ke arah lain, tidak tertarik.

Jeeny   (puteri pemilik pesta) : “Hai Goo Jun Pyo-ssi, terimakasih sudah datang ke pesta ultah ayah ku. Paman dan Bibi lee, apa kabar?”

Junpyo hanya meliriknya tanpa ekspresi di wajah tampannya, tidak menyahut.

Mrs. Lee :   “Baik sayang…” 

Mr.Lee :   “Kau sudah besar nak, sudah menjadi gadis yang sangat cantik, tidak di sangka aku sudah sangat tua sekarang.”

Mereka tertawa, sejenak gadis itu melirik ke jandi.

Jeeny :   “Dia?”

Sebenarnya dia sudah tau siapa gadis yang bersama junpyo, tapi ntah ada maksud apa sampai mereka berkelompok mendatanginya. Jandi tersenyum dan menjulurkan tangannya untuk berjabat.

Jandi :   “Aku Geum Jandi, Istri Goo Junpyo.”

Junpyo langsung menoleh, bibirnya membentuk huruf O, dia tak percaya jandi selugas ini. Haruskah ia mengatakannya? Hei, semua orang sudah tau itu, pikirnya.

Jeeny :   “Oh, anyeong geum jandi-ssi. Aku tahu, hanya saja junpyo-ssi belum mengenalkannya kami. Benarkan Hyera?”

Hyera? Kenapa harus bertanya pada hyera? Si Miss Korea ini. Junpyo meliriknya, sedangkan gadis yang bernama hyera itu terus memandangi junpyo. Jandi mencium sesuatu antara mereka, terlihat jelas sepertinya mereka saling mengenal dengan baik.

Jeeny :   “Paman Lee, ayo berdansa denganku, boleh ya bi? Aku pinjam paman sebentar.” ;)

Mrs. Lee :      “Tentu sayang”

Yenaa (puteri relasi junpyo) : “Geum Jandi-ssi, ayo kita minum, ayo bi…” gadis ini menggandeng jandi dan bibi lee ke arah meja hidangan, dengan maksud meninggalkan junpyo dan hyeraa berduaan. Jandi mengerti dan mengikuti permainan mereka. Lagipula, dia tidak tau apapun tentang junpyo, sebaiknya lihat saja apa yang akan terjadi.

Hyera :   “Junpyo-yaa, mau berdansa dengan ku?”

Junpyo dengan malas menoleh padanya, mata mereka bertemu, ada pengharapan di wajah gadis cantik itu.

Junpyo :   “Sadarlah, semua mata mengarah pada kita, termasuk istri ku!”

Hyeraa malah tak memperdulikan kata-kata junpyo, ia langsung menarik tangan junpyo dan merapatkan tubuhnya untuk berdansa.

Hyera :   “Wae? Jangan bilang kau mau menjaga perasaan istrimu. Aku terlalu mengenalmu Goo Jun Pyo.” Ia sedikit menjinjit mendekatkan bibirnya di telinga junpyo.

Junpyo :   “Jangan sok tau nona, kau hanya tidur denganku sekali, tapi berlagak begitu mengenal ku.” Kembali berbisik di telinga wanita itu.

Jandi memperhatikan mereka dari kejauhan, hatinya berdesir, tertunduk malu ketika beberapa pasang mata menoleh ke arahnya akibat ulah suaminya yang brengsek itu.

Hyeraa :   “Junpyo-yaa, kau belum berubah. Aku semakin merindukan mu.” Bisiknya.

Junpyo :   “Aku tidak tertarik berkencan dengan wanita yang sama lebih dari satu kali.” Menatap gadis itu dengan tatapan meremehkan.

Hyera :   “Kau tetap si brengsek Goo Jun Pyo.”

Bukannya mendaratkan gamparan, gadis ini malah semakin memeluk junpyo, tindakannya tidak sinkron dengan kekesalannya. Junpyo sendiri benar-benar merasa terjebak, gadis ini menempel seperti lintah. Aiiisshhh... kesalnya dalam hati.


Sementara jandi memandang mereka dari kejauhan, teman gadis yang bernama hyera itu mendadak jadi sok akrab dengan jandi. Dia menyodorkan segelas minuman pada jandi sambil mengoceh.

Yeena :   “Mianhe jandi-ssi, temanku itu hanya ingin bernostalgia. Kau tidak cemburu kan? Sekarang junpyo suami mu, ia milik mu.” mengedipkan matanya pada jandi, kata-katanya seolah memaksa untuk disetujui.

Jandi :   “Nostalgia?”

Yeena :   “Ne. Kau tidak tahu? Ah ne, aku dengar istri goo jun pyo tinggal di luar negeri. Dulu itu mereka sepasang kekasih. Beritanya sangat heboh saat pertama kali junpyo menggandeng hyera ke publik.”

Bodoh, dia yang tanya, dia juga yang jawab. Jandi tau maksud anak ini, ia hanya diam sambil tersenyum tipis.

Yeena :   “Mereka sangat serasi, hyeera itu miss.Korea, banyak fansnya yang patah hati saat mereka berkencan.”

Bla bla bla~~~~~~


            =========================



Selesai pesta, keduanya pulang dengan kejengkelan masing-masing. Jandi tidak banyak bicara, ia diam seribu bahasa. Sesampainya di rumah, dia langsung masuk ke kamar. Orangtua junpyo masih makan malam di luar bersama relasi. Junpyo bertanya-tanya dengan sikap aneh jandi, ia merasa tidak nyaman jandi memperlakukannya seperti itu. Junpyo mengikutinya ke kamar.

Junpyo : “Yah, malam ini aku tidak pulang!”

Jandi diam tidak perduli.

“Kau bisa tidur disana.” Menunjuk ranjangnya, sebenarnya junpyo Cuma cari perhatian.

Jandi tetap tidak bergeming, dia sibuk memilih gaun tidur di dalam closet. Junpyo sempat melihat tangan jandi meraih gaun yang lumayan terbuka, membuatnya yakin kalau jandi sebenarnya mendengarkan ucapannya. Karena jandi tidak mungkin mengenakan gaun itu jika dirinya ada di sisinya.

Junpyo :   “Yah... kau dengar tidak?!” mulai sedikit mengeraskan suaranya karena merasa dicuekin.

Jandi kehilangan kesabaran, ia menutup closet dengan keras, berputar menghadap junpyo yang  berdiri di belakangnya, dan menatapnya tajam.

Jandi :    “Dengar Goo jun pyo-ssi, aku tidak mau tau kau pulang atau tidak. Sejak kapan kau merasa perlu mengatakannya padaku?!”

Junpyo :  “Kau... aku hanya.... mengatakannya agar kau bisa menjelaskan saat ditanya appa dan omma.” Katanya berbata, dan kebetulan mendapatkan alasan yan tepat.

Jandi :   “Ne. Bagus kalau kau tau! Kalau begitu jaga sikap mu.”

Jawabnya sinis sambil beranjak melewati junpyo. Membuat junpyo kesal karena merasa tidak diperdulikan, dia menarik tangan jandi dengan kasar.

Junpyo :   “Kau ini kenapa...”

Jandi :      “Lepaskan!” jandi menghempas tangan junpyo namun gagal.

Junpyo :   “Berhenti bersikap konyol!” matanya yang gelap menusuk lurus ke  mata coklat jandi.

Jandi :   “Mwo? Goo junpyo, kau bilang jaga sikap di depan publik dan tidak ingin omma dan appa tau hubungan kita yang sebenarnya, tapi lihat apa yang kau lakukan tadi. Sikap mu sungguh kekanakan. Jika kau tidak suka bersama ku, kau bisa membawa wanita manapun yang kau inginkan. Termasuk Miss.Korea itu. Jangan berkata seolah-olah hanya aku yang harus menjaga sikap.”

Rahang junpyo mengatup, dahinya terhenyit, tak ada seorangpun yang berani bicara seperti itu padanya. Ia menyipitkan matanya memojokkan jandi dengan pandangan menyidik.

Junpyo :   “Kau sedang cemburu?”

Jandi :   “Kau sudah gila, mana… mana mungkin aku cemburu.”

Wajahnya merona, untuk menghindar jandi langsung mendorong tubuh junpyo yang menghalangi jalannya. Tapi dengan kasar junpyo malah menarik tangannya lagi dan menyudutkan jandi ke dinding, gadis ini kembali berontak. Seolah tak gentar, Junpyo semakin menghimpit tubuh mungil jandi dengan tubuhnya, membuat jandi ketakutan.

Jandi :   “Lepaskan Goo jun pyo!!” berteriak tertahan.

Ia kesulitan bernafas, berusaha mendorong tubuh junpyo sekuat tenaga, namun tubuh jangkung lelaki ini terlalu kokoh.

Junpyo : “Kau tau sedang bicara dengan siapa?” tanyanya dingin, berbisik tepat di hadapan jandi yang hanya berjarak beberapa cm.

Mata mereka bertemu, bahkan hidungnya hampir menyentuh satu sama lain. Keduanya dapat merasakan hembusan nafas yang sedikit memburu sakin gugupnya.

Jandi menangkap tatapan tajam junpyo, tapi justru wajah tampannya menggetarkan hati jandi. Gerakan lelaki ini kasar, namun tetap terasa hangat setiap kali junpyo menyentuhnya. Tatapannya dingin namun malah menyejukkan hatinya. Dia mulai kehilangan konsentrasi untuk melawan, terbius oleh tatapan junpyo yang menghanyutkan.

Seketika tubuh jandi melemah tak melawan, menyadarkan junpyo atas apa yang sedang ia lakukan. Ditatapnya mata bulat indah itu, deg... tiba-tiba saja ada getaran hebat yg bereaksi dalam dirinya. Gadis ini, kenapa tidak melawan? Apa mungkin ini terlalu menyakitinya? Mata jernih itu, memaksa junpyo mengakui seolah dirinya menjadi manusia paling berdosa sedunia.

Pandangan junpyo menurun pada bibir merah penuh yang sedikit terbuka itu, tanpa sadar ia menggigit bibir sendiri. Menyadari itu, jandi semakin gugup. Hati keduanya berdebar-debar, deg deg deg, suara detak jantung seolah terdengar keluar. Oh tuhan, betapa gengsinya jika ketahuan.

Jandi buru-buru mendorong junpyo dengan keras, tidak seperti sebelumnya, kali ini junpyo membiarkan tubuhnya terdorong begitu saja. Dia masih hanyut dalam pesona gadis ini. Jandi dengan cepat pergi dari hadapan junpyo, tapi langkahnya terhenti saat junpyo mengatakan sesuatu padanya.

Junpyo : “Karena kau istriku, karena itu kau harus ikut bersamaku.”

Jandi terdiam, ia merasakan hatinya berdesir ketika junpyo berkata bahwa dia adalah istrinya. Ntah kenapa, kata-kata itu sangat nyaman di telinganya.

Junpyo segera pergi meninggalkan jandi yang masih terdiam, ia membanting pintu kamar tanpa perduli telah membuat jandi dan pelayan di rumah itu kaget setengah mati. Kebetulan appa dan ommanya baru pulang, mereka mendapati mobil junpyo melaju kencang. Terlihat jelas emosinya, wajar saja omma dan appanya selalu mencemaskan jandi.

Mrs. Goo berinisiatif menemui jandi di kamarnya.

Mrs. Goo :   “Jandi-yaa..” mengetuk pintu kamar jandi.

Krek… jandi membukanya dan menyambut Mrs. Goo dengan senyuman terbaiknya.

Jandi :    “Omma… sudah pulang.. bagaimana makan malamnya?”

Mrs. Goo :   “Semua lancar sayang, kau sudah makan?”

Jandi :    “Sudah.. Omma, Sepertinya cuaca malam ini sangat  dingin. Omma dan Appa harus menjaga kesehatan..” dia merangkul lengan mertuanya manja dan membawa wanita paruh baya itu memasuki kamarnya. Mrs. Goo mengamati setiap sisi kamar putranya ini.

Mrs. Goo :   “Ne, jandi... kau juga jangan terlalu lelah bekerja, biarkan junpyo yang membereskan semuanya. Ngomong-ngomong, kamar ini banyak berubah setelah kehadiranmu sayang. Eh, omma tidak melihat junpyo, kemana dia?” tanyanya pura-pura tak tahu kepergian junpyo.

Jandi :    “eh.. dia.. bersama teman-temannya.” Jandi berusaha mengatakanya tanpa memperlihatkan ekspresi apapun.

Mrs. Goo :   “Jandi-yaa.. omma tau pernikahan kalian bukanlah seperti pernikahan orang kebanyakan, jadi omma mengerti jika kau kesulitan menghadapi junpyo. Kalian masih sangat muda, katakan saja pada kami jika kau menemui masalah.”

Jandi :    “Omma, kami baik-baik saja.” Damn, jandi sangat benci harus membohongi orangtua.

Mrs. Goo :   “Junpyo itu anak kami satu-satunya, kami tau dari awal dia sangat kesepian. Salah kami meninggalkannya sendiri bersama serketaris jung saat dia masih berusia 8 tahun. Dimana seharusnya anak-anak pada usia itu sangat membutuhkan orang tuanya. Namun sukurlah dia tumbuh menjadi anak yang mandiri. Setelah kalian menikah, omma berharap dia tidak kesepian lagi karena ada kau di sisinya. Jandi-yaa...” 

Jandi terdiam, merasa semakin berdosa, ia sadar sepertinya Mrs. Goo dapat merasakan apa yang terjadi antara mereka. Tapi jandi tidak berniat membahasnya, ia yakin omma junpyo memiliki seribu satu alasan untuk membuatnya memaklumi sikap putranya.

Jandi :    “Ne omma, jangan khawatir.. Junpyo tidak pernah berbuat salah padaku.”

Jandi tersenyum kalem, sebenarnya jandi terkadang ragu harus bersikap bagaimana dengan junpyo. Hanya saja dia benci dengan cara junpyo bersikap kepada orang lain.

Mrs.Goo :   “aah… syukurlah.. omma sangat senang karena kaulah yang menjadi menantu omma. Kami tau, jandi adalah seorang yang tepat untuk junpyo.”

Jandi mulai miris, merasa seperti sedang membohongi seluruh dunia. Ingin sekali mengatakan kalau dirinya bukanlah istri yang baik, bukan seseorang yang tepat untuk junpyo. Karena selama ini junpyo hanya membencinya, pikirnya.

Mrs. Goo :   “Jandi-yaa, omma sudah tidak sabar menggendong seorang cucu.”

Jandi :    “Mwo??”

Kata-kata omma junpyo menyadarkan jandi dari lamunannya. Mata bulatnya membesar, bibirnya kaku tidak tahu harus menjawab apa.

Mrs. Goo :   “Baiklah, sudah waktunya tidur. Selamat malam sayang.”

Mrs. Goo tersenyum penuh arti sambil mengedipkan matanya, sementara jandi masih melongo, dia hanya mengangguk-angguk tak jelas.

Jandi :    “Ne, selamat malam omma.”


            =======================



Malam semakin larut, membawa jandi tidur senyaman mungkin di ranjang junpyo. Sejak dia masuk ke rumah ini, baru kali ini tidurnya terasa nyenyak. Tidak ada lelaki asing di kamarnya. Tidak, sebenarnya lelaki itu suaminya sendiri.

Kreeeek....

Suara pintu kamar terbuka. Dalam lelapnya yang baru sebentar, jandi merasakan seseorang sedang memandanginya, matanya terbuka perlahan. Ia menoleh ke sekitarnya, betapa shocknya saat mendapati seseorang sudah berdiri tepat di depan tempat tidurnya.

Ternyata junpyo, dengan tubuh sempoyongan. Matanya gelap, nanar dan lusuh. Pakaiannya tidak karuan, menyerbakkan bau alkohol yang menyengat.

“Bukankah dia bilang tidak pulang ?” batin jandi.

Jandi :    “Yah, Goo jun pyo, kau…?” tanyanya ragu sambil memperhatikan junpyo dengan pandangan menyidik.

Junpyo : “Mwo?” tubuhnya masih sempoyongan. Matanya lurus menatap tubuh jandi yang hanya mengenakan gaun tidur tipis “Kau... terlihat sexy.” Dia tidak sadar dengan apa yang diucapkan.

Jandi :    “Kau mabuk? Tadi kau bilang tidak pulang.”

Junpyo tak sempat menjawab, alkohol telah menguasai dirinya, dia bahkan tidak sanggup menahan tubuhnya sendiri. Gubraaaak... junpyo ambruk ke lantai. Jandi yang panik langsung loncat dari tempat tidur, berlari kearah junpyo.

Jandi :    “Yaaah… Junpyo-yaa... bangun! Oh my god kau berat sekali.”

Jandi berusaha menopang tubuh junpyo ke tubuhnya, meski tertatih dan terseret-seret, akhirnya ia berhasil menjatuhkan tubuh junpyo di ranjang. Bahkan dia pun hampir tersungkur sakin beratnya beban bobot tubuh junpyo. Tarikkan nafasnya terasa berat, putus asa menatap junpyo yang sudah tertidur tak berdaya. Tidak pernah sekalipun terbayang olehnya mendapatkan suami pemabuk seperti ini. Mendadak hidupnya terasa kacau, sejak junpyo hadir dan berperan sebagai suaminya.

Jandi :   “Kau ini benar-benar.. Huuuffhh..” katanya pelan.

Ikhlas tak ikhlas, mau tak mau, jandi mencopot sepatu junpyo, kemudian melepas beberapa kancing kemeja junpyo yang sudah seperti kain pel, ya -kain pel- bau alkohol dicampur macam-macam wangi parfum wanita, miris.
Jandi terhenyak menatap dada bidang junpyo yang membuatnya segan untuk bernafas. Menggigit bibir bawahnya tanpa sadar, berusaha menahan gejolak yang tak pernah dirasanya. Tubuh jangkung junpyo padat berotot, dipadu wajah tampan yang terpahat sempurna. Benarkah sempurna? Memang. Mata junpyo terpejam nyaman, ia lebih terlihat seperti ‘malaikat’, bukan ‘pria bejat’ yang baru saja berkencan dengan wanita selain istrinya.

Jandi membenarkan posisi tidur junpyo dengan susah payah, sebelum kemudian beranjak pergi, tapi tiba-tiba sesuatu menghentikannya. Junpyo menhentakkan tangan jandi hingga terjatuh tepat di dadanya. Junpyo memeluknya erat, membuat jandi sulit bangkit.

Jandi :    “Goo jun pyo lepaskan. Atau aku…” jandi tidak sempat menyelesaikan kata-katanya saat mendengar junpyo menyebut sesuatu.

Junpyo :  “Jaekyung-yaa..”

Jandi terdiam, memastikan telinganya, apa yang didengarnya? Benarkah nama seorang wanita? Tiba-tiba saja seluruh darahnya berdesir, ia bahkan harus menahan nafas untuk memastikan apa yang terjadi di dalam hatinya. Kenapa terasa ngilu di bagian dada? Tapi dia tak mampu menemukan jawabannya.

Siapa wanita itu? Kenapa junpyo memanggilnya? Bahkan di saat junpyo tak sadarkan diri, di saat junpyo memeluknya sekalipun. Siapa gadis ini? Mendadak jandi merasa bodoh ketika pertanyaan ini mempermainkan hatinya, bukankah ini hal yang biasa. Mungkin saja salah satu di antara gadis-gadis yang di kencani junpyo. Tidak! mungkin lebih special dari itu.

Belum selesai jandi berulat dengan pikirannya, lagi-lagi lelaki ini mengoceh. Sementara tubuh jandi belum lepas dari dekapan junpyo.

Junpyo : “Mereka sangat membosankan. Kenapa wanita-wanita itu jadi sangat menyebalkan?”

Senyap beberapa saat dalam posisi seperti itu.

Jandi :   “Kenapa kau mabuk seperti ini? Apa kau semenderita itu?”

Perlahan jandi bangkit dan menatap junpyo dalam-dalam, terselip sesal dalam dirinya. Ternyata ada seorang wanita di hatinya, tidak heran dia begitu menderita dengan pernikahan ini.

Jandi :     “ Apa karena aku? Mianhe..” Bisiknya lirih.

Junpyo sudah tidak bergerak, ia telelap. Perlahan jandi menutupi tubuh junpyo dengan selimut, memandangnya lekat. Ia jadi putus asa dengan kehidupan rumah tangganya.


            
=====================



Perlahan mata junpyo terbuka, kepala dan kelopaknya terasa berat. Jari-jarinya meremas kuat rambut hitamnya. Dia berusaha duduk, otot-ototnya terasa menegang. Jam masih menunjukkan pukul 5.30 pagi. Junpyo memandang sekitarnya dengan kesadaran yang mulai pulih.

Seingatnya, dia tidak berencana pulang, tapi kenapa sekarang malah sudah berada di kamarnya. Bukankah seharusnya dia sekarang berada di sebuah hotel bersama seorang wanita? Kepalanya sedikit berdenyut, junpyo melempar pandangannya mengitari kamar, jangankan gadis, seorang pun tak dilihatnya.

Ia beranjak mencari sesosok yang sebenarnya sudah diduga sedang berada di sofa. Dilihatnya jandi sedang tertidur pulas disana. Gayanya tidur membuat junpyo tersenyum tipis, tak di sangka dia bisa senyaman ini tidur di sofa. Seperti malaikat kecil yang terlelap damai. Junpyo menatap jandi dari ujung rambut sampai ujung kaki, Dub dub dub…. Jantungya berdetak kencang. Oh my god, kulitnya mulus bersinar. Beruntung bagi junpyo, selimut yang seharusnya menutupi tubuh jandi sudah tidak beraturan, sehingga jelas terlihat lekuk-lekuk tubuh indahnya. Gaunnya yang sedikit terbuka di bagian dada membuat junpyo sesak nafas. Tentu saja bukan karena gaun itu, tapi dadanya yang mulus menantang, tubuh mungilnya semakin membuat junpyo bernafsu untuk menyetuhnya.

“Huuufft…” junpyo menghembuskan nafas berat sambil menepuk-nepuk dadanya. Dia benar-benar menginginkannya, haruskah hari-hari selanjutnya akan sangat tersiksa seperti ini. Ingin rasanya saat ini juga dia menarik jandi ke ranjang, sungguh gila.

Karena terlalu lama junpyo terpaku di situ, jandi jadi merasakan kehadirannya, perlahan matanya terbuka. Junpyo panik, dia terlalu gengsi untuk membiarkan jandi tahu kalau dirinya benar-benar sudah memeleh dibuatnya.

Jandi terkejut mendapati junpyo di hadapannya, ia langsung bangun. Junpyo terdiam kaku, matanya berkedip berkali-kali.

Jandi :    “Apa yang kau lakukan?”

Dengan tampang angkuhnya junpyo menjawab ketus.

Junpyo :  “Kau pikir apa? Bagaimana aku bisa berada di sini?”

Jandi terdiam, mengingat kejadian semalam. Mata mereka bertemu, tapi yang dipikiran jandi hanya satu kata ‘jaekyung’.

Jandi :        “Kau mabuk. Aku juga tidak tau bagaimana kau bisa pulang.” acuh tak acuh.

Melihat reaksi jandi, junpyo jadi heran. Kenapa tiba-tiba gadis ini bersikap begitu ketus. Junpyo berusaha mengingat sesuatu, tapi nihil. Ia menatap ragu pada jandi yang terlihat kesal, kemudian junpyo berlalu begitu saja menuju bathroom. Jandi menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskanya kuat, seperti merasa lelah luar biasa,  bahkan tidak tau kenapa dadanya terasa sesak.




            =====================



Junpyo, jandi dan kedua orangtua junpyo menikmati sarapan mereka dengan tenang. Jandi dan junpyo tetap saja tidak saling bicara. Junpyo memperhatikan jandi yang begitu akrab dengan omma dan appanya.

Mr. Goo :   “Jandi-yaa, apa kau harus bekerja? Appa tak ingin kau kelelahan.”

Jandi :   “Aniyo Appa, aku tidak lelah.”

Mrs. Goo :   “Bagaimana junpyo, apa kau mengizinkan jandi bekerja?”

Junpyo :   “Terserah saja.” Jawabnya acuh sambil menghabiskan sarapanya.

Jandi :   “Independent group membutuhkanku. Kasihan appa, dia seharusnya lebih banyak istirahat.”

Mr. goo :   “Ya, Appa juga dengar appa mu bersusah payah mengajakmu bergabung. Tapi sekarang berkat kerja keras mu sayang, Independent group sudah cukup kukuh, shinwa selalu siap membantu dalam hal apa pun.”

Mrs. Goo :   “Ah, jandi-yaa, kau memang gadis yang cerdas. Tapi sayang, ingat yang semalam omma katakan? Kami sudah tidak sabar menimang cucu, jadi kau tidak boleh kelelahan. Arasso?”

Huk huk huk… suara batuk langsung menyambut kata-kata mrs.goo, yang ternyata berasal dari Junpyo. Kontan dia tersedak mendengar kata-kata ommanya. Jandi sudah menduganya, ia sudah lebih dulu terkejut semalam. Junpyo merasa risih dengan apa yang barusan didengarnya, bagaimana mungkin? Dia bahkan sama sekali belum menyentuh jandi.

Mr. Goo :    “Benar sayang, appa sudah mengatur bulan madu kalian, semuanya sudah beres” ;)

Junpyo :   “Mwo?” matanya membulat lebar :O

Mr. Goo :   “Junpyo-yaa, kalian bisa pergi kemana saja kalian mau. Tidak perlu khawatir dengan perusahaan karena appa sudah mengatur semuanya dengan serketaris Jung.”

Junpyo :   “Andwe.” Jawabnya ketus.

Mrs. Goo :   “Jandi-yaa.. pujuklah junpyo untuk meluangkan waktunya. Anggaplah ini hadiah dari kami.” Menggenggam tangan jandi dengan penuh harap.

Yap, mrs. Goo jenius, jelas ini jurus jitu, mana mungkin jandi berani menolaknya.

Jandi :   “Omma… tapi…”

Mrs. Goo : “Jangan menolak sayang, omma akan sedih jika kalian tidak pergi bulan madu.”

Jandi melirik junpyo ragu-ragu, melihat tatapan jandi itu junpyo jadi terpojok. Sekarang semua mata mengarah padanya menunggu keputusan. Akhirnya ia menyerah.

Junpyo :   “Ok, ok… terserah kalian saja”

Mrs. Goo :   “HAHAHA... ne, ne...”

Mereka tertawa lepas kecuali junpyo dan jandi. Tidak pernah dia melihat appa dan ommanya tertawa sekeras ini, sampai hampir menitikkan air mata. =___=

Wajah junpyo memerah malu, jandi menyadarinya, hanya saja jandi tidak tertarik dengan apapun saat ini. Mengingat kelakuannya semalam ntah kenapa jandi masih merasa hambar.

Tiba-tiba seorang pelayan datang, menyodorkan sebuah ponsel pada junpyo.

Pelayan :   “Maaf tuan muda, ini ponsel anda.”

Tampang cueknya jadi bingung, mulutnya terbuka cengo sambil menerima ponselnya begitu saja. Tapi bukan berarti dia sudah selamat…..

Mrs. Goo :    “Bagaimana bisa ponsel pribadi tuan muda ada pada mu?”

Pelayan :   “Maaf nyonya besar, semalam nona Han jaekyung…..”

Belum sempat si pelayan menyelesaikan kata-katanya junpyo langsung berdiri. Ia melihat ke arah jandi dengan tampang kaku, berkedip-kedip bingung mencari alasan, sambil memastikan jandi tidak mendengar nama itu.
Tapi terlambat, detak jantung jandi sudah terlanjur membalap, wajahnya tampak tegang. Begitu juga dengan yang lainnya. Jandi hanya tertunduk diam tanpa ekspresi sedikitpun sementara semua mata tertuju padanya, ia pura-pura tidak tahu, terus melahap sarapannya, berusaha menyembunyikan sesuatu.

Mr dan Mrs Goo saling bertatapan bingung campur cemas, mendengar nama wanita lain bersama puteranya yang sudah menikah, di depan jandi pula. Junpyo sendiri lebih khawatir jika hubunganya dengan jaekyung diketahui omma appanya, oleh karena itu dia memutuskan untuk segera kabur sebelum pertanyaan demi pertanyaan menyerangnya.

Junpyo :   “Aku sudah selesai, aku berangkat.”

Membungkukan tubuhnya lalu pergi tanpa memberi kesempatan orangtuanya untuk bicara.



FLASHBACK

Setelah sedikit bersitegang dengan jandi, junpyo pergi ke bar untuk minum-minum karena frustasi dengan sikap jandi terhadapnya malam itu. Ia berkencan, dikerumuni oleh gadis-gadis, meski tak meladeni mereka, namun juga tidak menolak. Biasanya gadis-gadis itu tidak punya nyali untuk mendekati junpyo, tapi kali ini dia mabuk berat, gadis-gadis itu mengambil kesempatan mendekatinya. Saat kesadaran junpyo sudah tipis, untung saja woo bin menghubunginya, dia bahkan sudah tidak mampu menjawab panggilan itu. Seorang dari gadis yang mengerumuninya mengambil ponsel di saku jas junpyo dan memberanikan diri bicara pada woobin. Mendengar suara wanita di seberang sana woobin langsung menghubungi jaekyung menyuruhnya membawa junpyo pulang. Ini bukan hal yang luar biasa, mengingat sudah berkali-kali jaekyung mengantar junpyo pulang saat dia mabuk berat di kedainya. Hanya dua kemungkinan... jika bersama gadis lain maka junpyo akan berakhir di tempat tidur sebuah hotel, atau jika dia bersama jaekyung maka gadis itu akan mengantarnya pulang. Tidak heran para pelayan di kediaman Goo sudah mengenal jaekyung dengan sangat baik, junpyo juga beberapa kali membawanya ke rumah untuk sekedar makan bersama maupun nonton film.

END OF FLASHBACK


Mr dan Mrs Goo mencemaskan jandi, mereka sepertinya tau bagaimana tingkah putranya itu.

Mrs.  Goo :  “jandi-yaa, gwenchanayo?”

Jandi : “ah, ne. gwenchana omma..” 

Mr. Goo :   “Jandi-yaa, sayang sekali pagi ini kami harus kembali ke New York. Appa mencemaskan kalian, jaga dirimu baik-baik nak. Beritahu kami jika ada yang menganggumu sayang.”

Jandi :   “Secepat ini appa?” tampangnya putus asa.

Mrs. Goo :   “Ne jandi. omma harus merawat halmoni di New York.”

Jandi :   “Arasso, Omma, Appa, jaga kesehatan kalian di sana. Aku akan mengantar ke Bandara.”
 
Mrs. Goo :   “Anyi jandi-yaa, tidak perlu, kami tau kau harus segera ke kantor, omma minta tolong, jaga junpyo kami jandi-yaa..”

Jandi :   “Jangan khawatir omma, kami akan baik-baik saja.” Menggenggam tangan mrs. Goo 




            =======================



Shinwa Group

Junpyo sedang bergegas pulang, dia sedikit terburu. Bersama dengan serketaris Jung, junpyo memasuki elevator pribadi. Tiba di lobi, ponselnya berdering lagi untuk kesekian kalinya. Ternyata jandi, yang menghubunginya lagi setelah setengah jam yang lalu sudah menghubunginya namun di reject karena junpyo sedang meeting.

Junpyo :   “Yeoboseyo.. Aku baru selesai meeting. Kau tunggu saja.” Langkahnya lebar.

Jandi :   “Junpyo, kenapa sulit sekali menghubungi mu.”

Junpyo :   “Aku segera kesana.” Jawabnya acuh tak acuh.

Jandi :   “Goo Jun Pyo.” Sedikit keras, namun ntah junpyo mendengarnya atau tidak, sambunganya sudah diputus.

Serk jung :   “Tuan muda, haruskah seperti ini? Presdir tadi berpesan…”

Pak Jung ragu-ragu protes, dia merasa khawatir karena rencana Presdir Goo melenceng gara-gara junpyo.

Junpyo :   “Kalau begitu lupakan, kita batalkan saja semua ini.” Ancamnya.

Serk. Jung : “Dhe?”

Junpyo :   “Kalau kau terus cerewet, aku tidak akan pergi.”

Serk. Jung : “Ah, maaf tuan muda.”

Junpyo :   “Terserah kami mau berbulan madu dimana, apa untuk itu juga harus bersyarat? Atau kau harus mengawasi ku sampai semua ini selesai?”

Serk. Jung :  “Maaf tuan muda.”

Junpyo :   “Kalau begitu jangan cerewet.”


-- Dalam perjalanan --

Jandi :   “Kau mau menbawaku kemana?”

Supir :   “Maaf nona, ini perintah tuan muda.”

Jandi :   “Tapi….” Huuftt… Jandi mulai kesal, junpyo selalu berbuat sesukanya. Bahkan jandi tidak bisa menghubunginya untuk sekedar bertanya apa yang terjadi.

“laki-laki ini.. benar-benar…” celetuknya kesal >.<

Supir :   “Kita hampir sampai nona.”

Jandi :   “hah? ini…………?” Memandang sekelilingnya dari dalam mobil.



            =======================



Shinwa Ski Resort
Pukul 10 pm

Suuurrrppp….. brrrrr…….

Hembusan kencang angin pegunungan es di sebuah ski resort milik shinwa menusuk raga. Terdengar gelak tawa memenuhi salah satu ruangan yang terhangatkan oleh api unggun melalui cerobong asap.

Hahahahahaha…..

Woobin :   “Kemudian yijung datang dan memaki ku, hahahaha…. Seharusnya kau berterimakasih. Wkwkwkkkk…” Semua yang ada di ruangan itu tertawa terbahak-bahak kecuali yijung.

Yijung :   “Yah, hentikan. Itu sudah cukup memalukan.” Melempar woobin dengan bantalan sofa.

Woobin :   “Aku masih menyimpan fotonya.” Mencoba mencari foto yang dimaksud dalam ponselnya.

Yijung :   “Andweee…” yijung yan panic lansung merampas ponsel woobin.

Wkwkwkwkwkwkkkkkk…..

Junpyo :   “Aku masih mengingat jelas wajahnya” Tertawa geli.

Yijung :   “Yah, Yoon Jihoo, kau sudah puas sekarang?” mendengus pada jihoo.

Jihoo tertawa, manis.

Jandi :   “Oppa, bagaimana kau bisa melakukan itu? Kurasa itu sangat keterlaluan.” Sambil tertawa.

Jihoo :   “Mianhe yijung-aa, waktu itu aku sedikit bosan.” Memamerkan deret gigi rapinya :D

Yijung :   “Mwo? Aku bersumpah tidak akan tidur di dekat mu lagi.”

Hahahahaha........ Mereka kembali menertawai yijung.

Woobin :   “Tapi gadis-gadis itu tidak mengejar mu lagi”

Yijung :   “Lebih tepatnya mereka lari semua.”

Junpyo :   “Yah, lihat ini!” Sambil menunjukan ponselnya pada semua orang, ternyata junpyo masih menyimpan satu fotonya.

wkkwkwkwkwkwkkwkwkkkkkk

Terpampang jelas seseorang, oh tidak, badut? Sumpah tidak akan ada yang mengira kalau badut di dalam foto itu adalah So Yijung. Mengenakan jas rapi, rambut sedikit acak-acakan. Tapi yang paling menggelikan, bibirnya, lipstik merah membentuk bibir yang sangat kecil (bibir jengkelin :p). Kedua pipinya juga merah oleh lipstik, alisnya tebal oleh lipstik juga. Tidak heran kalau dibilang gadis-gadis yang dikumpulkan woobin lari semua saat melihat dirinya. Malangnya, kejadian itu terjadi saat malam pesta kelulusan mereka, yijung yang kelelahan karena baru tiba dari Prancis sedang tertidur pulas di mobil jihoo yang menjemputnya di Bandara. Disinilah sifat jail jihoo kumat.

Jandi :   “Hahahaha....... Jelas kau bukan pelukis yang berbakat oppa, kenapa kau malah melukis di wajahnya.” Jandi tertawa geli air matanya keluar di ujung matanya.

Yijung :   “Yah, Jandi-yaa, kelihatannya puas sekali menertawai ku?”

Jandi :   “Ahaha... mianhe yijung oppa...” memegangi perutnya yang terguncang karena tawa yang keras.

Malam semakin larut….

Di tengah dinginnya hamparan salju dimana-mana, jandi melangkah pelan di beranda berlantai kayu itu. Dengan secangkir coffee di tangannya, Huufft.. helaan nafasnya membumbungkan asap pertanda sangat dingin. Di ujung jalannya, terlihat junpyo sedang berbicara dengan serk. Jung.

Serk.Jung :   “Tuan muda, presdir sudah menyiapkan sepaket bulan madu khusus untuk anda, ke Eropa, Timur Tengah, Amerika, ataupun paling tidak, ke Pulau Jeju.”

Junpyo :   “Aku tidak berminat, kenapa rupanya dengan Resort ini? kita bisa kembali kapan saja ke rumah, bukankah sangat bagus?” sebenarnya dia sedan menancam lagi.

Serketaris jung pasrah dengan sifat tuan mudanya ini, benar, sudah sukur dia mau ‘pura-pura’ bulan madu demi tidak menolak permintaan orangtuanya sebelum kembali ke Amerika kemarin.

Serk.jung:  “Teman-teman anda…..”

Junpyo :   “Ah, mereka tidak tau kenapa kita kesini, jadi aku harap kau jangan cerewet. Arasso?”

Serketaris jung membungkuk untuk kemudian pergi. Jandi mendekat, tapi tiba-tiba berhenti ketika mendengar ponsel junpyo berdering.

Junpyo :   “Yeoboseyo... jaekyung-yaa...”

Jandi terperanjat, lagi-lagi nama itu. Semangatnya hilang, matanya yang berbinar seketika meredup. Ia menyentuh dadanya perlahan, jantungnya berdegup tak menentu, dia bahkan tidak tau apa yang terjadi pada dirinya, belum pernah merasakan hal seperti ini.

Jandi terpaku selama beberapa menit di tempatnya berdiri, tanpa sadar junpyo sudah berdiri di depannya, menatapnya heran.

Jandi :   “Omona..” matanya terbelalak, refleks mundur selangkah.

Junpyo :   “Waeyo? Gwenchana?”

Jandi :   “Oh, gwenchana, gwencana” jawabnya gugup tak berani membalas tatapan menyidik junpyo.

Junpyo :   “Lalu kenapa wajah mu pucat? Seperti melihat setan saja.”

Jandi :   “Yah, kau tiba-tiba di hadapan ku, tentu aku terkejut.” Memonyongkan bibirnya.

Junpyo :   “Itu karena kau melamun. Lagipula, kau sedang apa? Disini dingin, masuklah!”

Junpyo melangkah berniat masuk.

Jandi :   “Goo jun pyo, siapa wanita itu?” jujur dia sangat ragu menanyakan hal ini.

Langkah junpyo terhenti.

Junpyo :   “Mwo?” berbalik ke arah jandi.

Jandi :   “Ja-e-kyung…” Jandi mengejanya, takut salah ucap.

Junpyo :   “Wae? Bukankah sudah ku bilang jangan ikut campur.” Katanya datar.

Jandi :   “Arasso, hanya saja, appa dan omma bisa mengetahuinya jika kau tidak menyimpanya rapat.” Mendengar jawaban ketus junpyo membuat jandi kesal.

Junpyo :   “Kau tenang saja, aku sudah melakukannya selama belasan tahun.”

Jandi :   “Mwo?” menyipitkan matanya, tak percaya. Mungkin saja ia salah dengar.

Junpyo :   “Bukan urusan mu!”



            =======================



Jandi :   “Huh, siapa yang perduli? Aku kan hanya tanya, tidak bilang juga tidak apa-apa. Dasar, uuugggh.. kalau bukan karena omma dan appa, aku tidak sudi melihat mu setiap hari. Kau bawa aku ke tempat ini untuk bulan madu? Lihat, kau bahkan menipu orangtua mu. Eeerrrggghh....”

Bla bla bla~~ Jandi mengoceh sendirian sepanjang jalan, ia terus berjalan di lingkungan perumahan sekitar resort.

“Yah, nona.. kenapa bicara sendiri malam-malam begini?”

Jandi :   “Omo… siapa itu?” sekali lagi ia terkejut, memegangi dadanya, celingak celinguk mencari asal suara.

Jihoo muncul tersenyum pada jandi.

Jandi :   “Oppa? Ohh... aku nyaris terkena serangan jantung dua kali dalam waktu satu malam.”

Jandi menepuk-nepuk dadanya, ia semula tidak melihat keberadaan jihoo karena malam yang sangat gelap.

Jihoo :   “Sepertinya tadi aku mendengar kau sedang bulan madu?” tersenyum jail.

Jandi :   “Yah, oppa.. berhenti mengejek ku.”

Jihoo terkekeh melihat reaksi jandi.

Jihoo :   “ummm... kau lapar?”

Jandi :   “Mwo?”

Jihoo :   “Aku lapar sekali” memegang perut, memelas meminta simpati. Jandi tertawa.
   

         ======================



Mereka duduk di dalam sebuah mini market sambil menikmati secangkir kopi berasap yang sama sekali tidak terasa sepanas itu di lidah, sedangkan di luar sedang hujan salju. Jandi dan jihoo menatap kedepan, cuacanya sangat dingin hingga menitikkan embun-embun air di kaca minimarket tersebut.

Jihoo :   “Kau baik-baik saja?”

Surrrppp…Jandi terlihat sangat menikmati suasana tenang saat ini sambil menyeruput coffee di genggamannya.

Jandi :   “Ne, aku bai-baik saja. Semuanya tidak ada yang berubah.” Senyumnya hambar, tatapannya menerawang kedepan.

Jihoo memperhatikannya, sepertinya jandi tak mengetahuinya.

Jihoo :   “Dia benar-benar melakukannya.” Katanya pelan sambil menatap jandi di sisinya.

Jandi :   “Dhe?” menoleh pada jihoo, ia tak mengerti maksud kata-kata jihoo itu.

Tapi jihoo hanya tersenyum.

Jihoo :   “Aku beli payung dulu, setelah itu kita kembali ke resort.”

Jihoo berjalan ke si kasir, saat ia mengeluarkan dompet dari saku jasnya tiba-tiba jandi berlari keluar secepat-cepatnya. Jihoo terkejut, tanpa sempat ba bi bu ia langsung mengejar jandi.

Jihoo :   “JANDIIIII….” Mimiknya ngeri.  



               End of Chapter
            =======================

ps: sebenernya ini chap udah dari tgl 30 ama aku  whistling kalo gak di sms mak mungkin juga belon ane post  [laughing]
happy reading [smiley-gen013]

« Last Edit: July 05, 2011, 08:59:59 am by virna yuniar »

Offline Alin

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1002
    • View Profile
wah bener2 long chap,ane puasssss bnget...ntu si jp n jd uda mulai ada rasa cinta ya? Tpi si jp itu gengsinya gede bnget kasian jd korban perasaan terus,si jp tu cinta bkn ma jaekeong gw sebel klo dnger nama dia? Trus kpn jp n jd mulai lop lop an masi lama kah? Dan kpn mau update next chap jgn lama2 ya?...mian bnyk nanya.. [biggrin]

Offline Adinda lestari

  • Junior
  • **
  • Posts: 249
    • View Profile
Gumawo dah update...tu si jun pyo gengsi nya gk brubah egoiznx jg gk brubah dia bleh mlakukan pa sj sesuai keinginanny tp jandi kgk bleh...tuh keong satu makin lama mkin nyebelin dah tau jun pyo dah punya istri masih nempel ja kyk linta,,sbenarnx hubungn jun py0 keong tuh sperti pa sich ko' intens b9t gtu kn ksian jandi dah mulai merasakan cemburu ke suaminx,,,oh ya bwt ja ji hoo nempel truz ma jandi biar tau rasa si jun pyo...sist kl0 bleh usul jgn bwt jandi jtuh cinta duluan ke jun pyo yah ksian jandi nanti mlah makin makan hati truz biar jun py0 memperjuangkn cintany ke jandi....next jgn lma2 ya updatenx...

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Knapa setiap junpyo nyebut jaekyung ati gue panas.


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Cud na

  • Junior
  • **
  • Posts: 100
  • Love Minsun
    • View Profile
All, gomawo yaaaa komen'a..  [flowers] Kayak'a pada sebel sm junpyo [hmpfh] Sebenarnya dari pertama ketemu junpyo'a udah terpesona sm jandi, tapi mian ntar emang jandi yg duluan jujur sm perasaannya... Jandi Gak bisa nahan hatinya, ngeselin sih emang, tp sbenar'a junpyo'a udah suka kan, Bukti'a dia cemburu sm jihoo..

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
JUNPYOOOOO nyebelinnn da kawin msh nyebut nama cewe laen eh dan lbh kurang ajarnya msh aja berkeliaran cari cewe walau da kawin#hammer ampe benjol. Jandi akhrnya tau atau lbh tepatnya mengira jika junpyo sdh memp.kekasih bernama jae kyung,ckckckck. Gw sangat menantikan junpyo jealousy liat bini cantiknya tengah menikmati kopi hangat bersama sahabatnya,hahaha#ketawa setan. Biar junpyo semakin menyadari jandi's quality. Ncudddd,thanx say da diupdate


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Cud na

  • Junior
  • **
  • Posts: 100
  • Love Minsun
    • View Profile
JUNPYOOOOO nyebelinnn da kawin msh nyebut nama cewe laen eh dan lbh kurang ajarnya msh aja berkeliaran cari cewe walau da kawin#hammer ampe benjol. Jandi akhrnya tau atau lbh tepatnya mengira jika junpyo sdh memp.kekasih bernama jae kyung,ckckckck. Gw sangat menantikan junpyo jealousy liat bini cantiknya tengah menikmati kopi hangat bersama sahabatnya,hahaha#ketawa setan. Biar junpyo semakin menyadari jandi's quality. Ncudddd,thanx say da diupdate

Eon, wlwpun junpyo nya sm cwe kan tp dia gak sampe kencan, udah ilfil dia sm cwe2 lain, makanya ngawur ngomong cwe2 ituu sudah membosankan  sleep1
Ngerasa kata2nya berantakan bgt nih hadeeeeeeeh  [sweat]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
heran ama junpyo,, sebnrnya apa maunya sih? sikapnya menujukan seolah dia mencintai jae kyung, dlm tdrnya aja dia mengigau ttg gadis itu. ga heran klu jandi eneg ama dia,, btw, jp lum pernah tidur bareng jae kyung kan [what] jgn ampe deh [sweat]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
thank you updatannya sist [lovestruck] [lovestruck] senang deh tiap kali update selalu looong  [clap] [clap]
akhirnya pernikahan terjalin juga ya  [biggrin] [biggrin] sekeras apapun mereka meonolaknya tetap tidak bisa menghindarinya lagi  [sweat] [sweat] jadi kasian sam jiho  [cry] [cry] bertahun" menyimpan persaan nya untuk jandi tapi.. akhirnya harus melepasnya dengan sahabtnya sendiri [cry] [cry]
semapt gugup juga tadi baca bagian jandi menolak ucapan pendetanya  [bored] [bored] tapi.. pernikahan ini yang sangat rdi sayangkan jandi karna dia harus menikah denga junpyo yang sudah sering berkencan dengan banyak gadis  [smiley-dance013] [smiley-dance013] mulai dari orang awam, model, sampai miss korea yang semuanya berakhirn di tempat tidur  [kiss] [kiss] beda sama jandi  [dry] [dry] .
jun pyo masih bergantung dengan ja kyung tidak bisa lepas  [briggin] [briggin]
apa jandi mulai merasakan  [love eyes] [love eyes] dengan jun pyi  [what] [what]
di akhir chap bikin penasaran   jandi kenapa sist  [what] [what] kecelakaan ya  [bored] [bored]
di tunggu next lagi yang loooong [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
kasian ya jandi..sepertinya udah agak mulai suka ama junpyo eh g taunya malah junpyo ngigau jaekyung [cry]
huwah ini honey moon'a kapan? moso ga jd? [chin]
eman bgt lho, pdhl kan suasana lg duingin [hmpfh]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
makasih y sist akhrx diupdet jg panjang n lama,puas bacanya.junpyo gengsinya gak bgt egoisx jg selangit,lama lama ma dy hyesun bisa kurus kering mesti sabar ngadepin suami aneh bin langkanya.terbukti junpyo sayang bgt ma jaekyung mpe mabok aj namax yg disebut,jaekyung sengaja tuh gangguin bvlan madu bohonganx jundi.btw jandi mau kemana tuh?
[/size][/color][/b]

Offline kelinci_hilang

  • Senior
  • ****
  • Posts: 518
    • View Profile
Sedih baca chapter ini [cry]  poor Jandi. Tapi masa dari sekian byk namja cuma ji hoo yg tertarik  sama jandi? Pasti masih ada lg dong ya lain? Thanks dah update [flowers]

Offline Cud na

  • Junior
  • **
  • Posts: 100
  • Love Minsun
    • View Profile
heran ama junpyo,, sebnrnya apa maunya sih? sikapnya menujukan seolah dia mencintai jae kyung, dlm tdrnya aja dia mengigau ttg gadis itu. ga heran klu jandi eneg ama dia,, btw, jp lum pernah tidur bareng jae kyung kan [what] jgn ampe deh [sweat]

Mamiiiiii.. Jp ngigauin jk krn dia sering mabuk di tempat jk, and kan sebelum'a dia diantar pulang sm jk.
Beluuum mam, jp gak mau tiduuur sm jk wlwpun bbrapa kali jk pernah nyerahin diri dia. Jk pun gk prnah maksain
Klw ditolak dia nurut ae, gak pernah pake muslihat bwt tidur sm jp, krn pd dasar'a dia cwe yg penurut.