Author Topic: A Face Over The Windows--CHAPTER 4--update 15 Mar'12  (Read 10049 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: A Face Over The Windows--SPOILER--
« Reply #210 on: February 20, 2012, 07:02:12 pm »
mian gw ada masalah keluarga,, chp kali ini yg sebnrnya dah gw buat belum sempat diedit so ga bisa diupdate dulu,, mohon perhatian and pengertiannya yah, mungkin 2 minggu atau 3 minggu kemudian gw baru bisa update [sweat] [sweat]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: A Face Over The Windows--SPOILER--
« Reply #211 on: February 21, 2012, 12:52:06 am »
mian gw ada masalah keluarga,, chp kali ini yg sebnrnya dah gw buat belum sempat diedit so ga bisa diupdate dulu,, mohon perhatian and pengertiannya yah, mungkin 2 minggu atau 3 minggu kemudian gw baru bisa update [sweat] [sweat]

mommy what happen??? semoga cepet kelar ye masalahnya [heh] and comeback buat up date semua ffnya [hmpfh] [hmpfh]

okay mammy take u're time , qta tetap setia menantinya kok mam, yang penting jangan lupakan qta #apaansihgw [hmpfh] [lovestruck] [hug] [huglove]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Dindin

  • Newbie
  • *
  • Posts: 76
    • View Profile
Re: A Face Over The Windows--SPOILER--
« Reply #212 on: February 23, 2012, 04:59:36 am »
Hai. . . Salam kenal :-)

ceritanya keren :)
hye sun masih remaja bgt

update lagi :D

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: A Face Over The Windows--SPOILER--
« Reply #213 on: February 23, 2012, 09:29:59 am »
Hai. . . Salam kenal :-)

ceritanya keren :)
hye sun masih remaja bgt

update lagi :D
salam kenal jg,mian bgt blum bisa diupdate [sweat]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Dindin

  • Newbie
  • *
  • Posts: 76
    • View Profile
Re: A Face Over The Windows--SPOILER--
« Reply #214 on: February 23, 2012, 07:20:31 pm »
Hai. . . Salam kenal :-)

ceritanya keren :)
hye sun masih remaja bgt

update lagi :D
salam kenal jg,mian bgt blum bisa diupdate [sweat]

ok lah :D
tak tunggu sampai kapanpun
lol

Offline Roxanne

  • Full
  • ***
  • Posts: 259
    • View Profile
Re: A Face Over The Windows--SPOILER--
« Reply #215 on: February 23, 2012, 08:26:26 pm »
ikut panggil mami boleh ya??  [AddEmoticons04233] [AddEmoticons04233]

mary disini..  [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]

ok deh smoga masalahnya cepat selesai ya mam..tak tunggu chap selanjutnya.. [AddEmoticons04261] [AddEmoticons04261] [AddEmoticons04261]

shileehye

  • Guest
Re: A Face Over The Windows--SPOILER--
« Reply #216 on: March 02, 2012, 09:29:24 am »
[smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]semangat update, update [smiley-gen013] [smiley-gen013]

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: A Face Over The Windows--SPOILER--
« Reply #217 on: March 12, 2012, 03:04:37 am »



 [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234]

 Emoticons0431 Emoticons0431 Emoticons0431


JONAT JONAT JONATTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT
[/b]

 Emoticons0425 Emoticons0425 Emoticons0425 Emoticons0425 Emoticons0425


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline My My

  • Junior
  • **
  • Posts: 165
    • View Profile
Re: A Face Over The Windows--SPOILER--
« Reply #218 on: March 12, 2012, 08:11:22 pm »
I see the light , ..Maybe udah update ,sekarang giliran update yang ini dunk...abiz ntu update hot couple FSTP,TLC,TDC,UL,strawberry, [rofl] [rofl] [rofl] [rofl] [rofl] [rofl] [rofl] di  [guns] [guns] [guns] [guns] [guns] [guns] [guns] sama mami gara-gara kebanyakan request deh  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]  [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: A Face Over The Windows--SPOILER--
« Reply #219 on: March 14, 2012, 10:35:49 am »
CHAPTER 4





Em memanjat pohon-pohon yang tumbuh mengelilingi rumahnya dengan tergesa-gesa hingga mencapai atap gudang. Dia menginjakkan kaki dengan nafas tersengal. Kehadirannya di situ ,yang menimbulkan sedikit keberisikan akibat gesekan alas sepatu dengan jerami pengalas gudang, menarik perhatian Stan.

Stan mengangkat kepala yang sejak beberapa waktu lalu tersusup di antara sepasang lututnya. Mata Stan terbelalak melihat kehadiran Em.

"Em!!" Stan terburu-buru bangun dan menarik Em, membantunya untuk duduk di sebelahnya. "Apa yang terjadi? Dari mana saja kau? Apa maksud orang itu membawamu pergi?"

Diserang pertanyaan bertubi-tubi dari Stan membuat Em tidak kuasa menahan senyum. Tangannya terjulur, menepuk lengan Stan buat menenangkan. "Tenanglah. Aku tidak apa-apa."

"Tenang bagaimana?" tukas Stan cepat. Mukanya mengeras dan menjadi merah. Stan terlihat sangat marah sehingga membuat Em sedikit heran. Aneh rasanya mengingat orang yang biasanya berpembawaan tenang seperti Stan akan seresah ini. "Orang itu membawamu pergi begitu saja. Bagaimana? Kau tidak diapa-apakan, kan?" tanya Stan kembali, seraya memeriksa kalau-kalau Em benar-benar tidak kekurangan sesuatu-pun.

Em mengeleng. "Tidak. Aku baik-baik saja." Em mengulangi jawabannya semula.

"Aku heran, mau apa orang itu?" Stan bergumam sambil melepaskan tangannya dari lengan Em, untuk kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas atap yang beralas jerami. "Dia pasti tidak waras!" dengus Stan kesal.

"Ehm--" Em mengangguk. "Semula, aku juga berpikir begitu--"

Stan berpaling menatap Em. "Semula?" Alisnya berkenyit, tidak mengerti maksud Em.

"Ya, semula--" Em mengiyakan. "Semula aku juga berpikir dia orang tidak waras, akan tetapi ... " Em menerawangkan pandangannya ke arah ujung desa dan tepat pada saat itu_dilihatnya seberkas cahaya memantul keluar dari rumah besar di lantai dua jauh di depan mereka. Baru menyala di jam segini? Tanpa sadar Em mengenyitkan alisnya.

"Akan tetapi apa?"

"Eh???" Em berpaling kepada Stan.

"Tadi kau bilang, .. kau juga berpikir pria yang 'menculik' mu itu orang gila, tapi kemudian kau berubah pikiran, benar begitu?"

"Hn--" Em mengangguk perlahan-lahan.

"Kenapa? Apa alasannya?" berondong Stan.

Em berpikir keras. Sesungguhnya, dia juga tidak begitu mengerti mengapa dia beranggapan begitu. "Aku ... aku tidak tahu, hanya saja ... aku rasa, dia bukan orang jahat. Dia hanya ... hanya tidak begitu pandai mengutarakan perasaannya, hanya itu--"

"Dia melakukan sesuatu?" tanya Stan curiga.

"Ti .. tidak," Em berusaha melepaskan diri dari pandangan menyelidik Stan. "Kenapa kau berpikir begitu?"

"Aku mengenalmu dengan baik, Em--" Stan menatap Em tanpa berkedip. "Kau tidak akan membela seorang asing yang tidak kau kenal kalau bukan telah terjadi sesuatu."

"Ha .. ha .. ha .. " Em tertawa hambar. "Aku tidak mengerti maksudmu."

"Kau tahu. Aku yakin kau tahu." Stan bersikukuh dengan prasangkanya.

Em tidak menjawab. Pandangannya diarahkan ke depan kembali, mengapai sinar lemah yang terpantul dari lantai dua rumah besar yang terkesan angker di ujung desa. "Stan ... ," ujar Em pelan.

"Ya?" tanya Stan, dengan perhatian yang tidak beralih dari Em, sedetikpun. Sungguh, dia ingin tahu, atau jika bisa … hanya sekedar menebak_sedikitttt saja, apa sebenarnya yang ada dalam pikiran gadis ini saat ini.

"Ada keperluanmu mencariku?"

"Hah?" Stan membulatkan matanya, seolah baru disadarkan akan maksud kedatangannya ke rumah Winston.

"Siang itu, kau mengatakan ... akan membicarakan sesuatu padaku malam ini .. " Em menoleh pada Stan. Menatapnya seakan menuntut jawaban.

Stan mengatupkan kelopak matanya perlahan-lahan, "Itu .... " Entah mengapa, kerongkongannya mendadak jadi kering. Stan kehilangan kata-katanya.

"Ya? Apa itu?" Em membenarkan posisi duduknya dan mendengarkan dengan seksama.

"Hn--" Stan membuang muka, mengarahkan pandangannya ke langit kelam. "Kapan Uncle and Aunty Wins kembali dari Paris?" tanya Stan, mendadak membelokkan pembicaraan kearah lain.

"Hah?"

"Aku dengar ulangtahun seorang relasi uncle_akan membawa mereka pulang minggu depan," lanjut Stan, tanpa memberi kesempatan Em sadar dari keterkejutannya.

"Mom and dad pulang?" tanya Em tak percaya.

"Ya," Stan mengangguk. "Aku sudah menghubungi mereka dan, ... mereka berjanji akan membantuku ... "

"Membantumu?" Em semakin bingung. "Membantu apa? Apa yang kau bicarakan ini?"

Stan tidak memandang Em, tapi dia tersenyum ketika menjawab. "Kau akan tahu setelahnya."

"Stan!!!" tegur Em kesal. "Kau jadi makin bertele-tele dan suka berteka-teki. Sama sekali tidak sepertimu!!"

Stan mengangkat pundaknya. "Ada kalanya, menghadapi sesuatu yang kita tidak tahu jalan keluarnya, akan membuat kita berubah--"

"Tapi tidak dengan kau!!" sergah Em.

"Terserah apa katamu .. " Masih dengan senyum terkembang di bibir, Stan memejamkan sepasang matanya.

"STANN!!" Em membungkuk dan menguncang pundak Stan, namun cowok itu tidak bergeming. Stan berlagak tidur, mengacuhkan Em yang mencak-mencak kesal. "Huhh!!" Em mendorong pundak Stan keras-keras. Merasa tidak dihiraukan, dia lalu menghempaskan tubuhnya di atas jerami. Bibir mungil miliknya meruncing hingga hampir menyentuh cuping hidungnya.

Em sedikit memiringkan kepala hingga dapat melihat jelas bayangan yang bergerak pelan dari balik jendela di kejauhan sana. Em menghela nafas, tersenyum kecil buat kenyataan yang diyakininya kini.

Karna tidak mendengar pergerakan sekecil apapun dari Em, Stan membuka matanya. Sepasang mata yang tidak bisa dikatakan besar itu menyipit begitu melihat gadis itu berbaring dalam diam di posisi yang bersisihan dengannya.

"Kau tidur?"

Em bergerak pelan dan berpaling pada Stan. "Apa?"

"Apa yang kau pikirkan?" Stan balas bertanya.

Em tersenyum sambil mengangkat bahunya. "Tidak ada. Hanya saja, aku percaya kini ... "

"Percaya?" Stan mengenyitkan alis tak mengerti.

Em mengangkat tangan dan menunjuk ke depan. "Itu--ternyata benar berpenghuni. Manusia seperti kita .. "

Alis Stan berkenyit semakin dalam. Kepalanya berputar mengikuti arah telunjuk Em. "Sampai sekarang kau masih memikirkan hal itu? Sepertinya, kau penasaran sekali--"

"Itu dulu," Em menjawab dengan nada ringan. "Mulai sekarang, aku tidak akan memikirkannya lagi ... "

Em memejamkan mata, merasakan angin sepoi-sepoi yang membawa aroma khas musim gugur perlahan-lahan memasuki hidungnya. Hm--musim panas sebentar lagi akan berakhir, kelembaban musim gugur semakin terasa. Em menghirup udara dalam-dalam. Dia membuka kelopak mata sedikit dan melihat Stan sudah memejamkan mata di sebelahnya. Em menghela nafas pelan-pelan, dia benar-benar tidak mengerti akan dikemanakan hubungannya dengan Stan sampai berakhirnya musim panas tahun ini. Sepertinya, hubungan mereka akan sama saja dengan tahun-tahun sebelumnya, tanpa adanya kepastian.



*******




Em berlari menuruni anak tangga di ruang tengah ketika sebuah suara berseru menegurnya.

"EM!!"

Gladys yang berdiri di ruang tengah dekat jendela meletakkan gagang telepon yang dipegangnya dan berjalan mendekati Em.

"Barusan dapat telepon dari ayah dan ibumu. Kata mereka, mereka akan kembali hari minggu nanti. Kau diminta membatalkan semua janji dan acara pada hari itu dan mereka akan membawamu menghadiri sebuah pesta ... "

Em menginjakkan kaki di lantai bawah dan mengenyitkan alisnya. "Pesta?"

Glay mengangguk. "Ya."

"Pesta apa?"

Glay mengangkat bahunya seraya menepuk pundak Em dan berjalan melaluinya. "Tidak tahu."

"Glay!!" Panggil Em sambil berbalik kearah Glay. "Apa mom and dad tidak bilang apa-apa lagi?"

"Tidak!" sahut Glay tanpa berbalik. "Mereka hanya memintamu untuk tidak kemana-mana pada hari itu, dan ... ," tiba-tiba Glay menghentikan langkahnya. "O ya, Stan akan menjemputmu hari itu--"

"What??" Em berlari mendekati Glay. Ditepuknya punggung cewek itu, untuk memastikan apa yang didengarnya. "Kau bilang Stan akan menjemputku? Apa dia ke pesta itu juga?"

Glay berbalik menghadapi Em. Dia mengangguk. "Ya. Itu yang dikatakan Tuan Winston tadi."

"Dad ada bilang itu pesta apa?"

"Tidak!" Glay mengulangi jawabannya tadi. "Mungkin relasi kerja yang punya hubungan kerjasama dengan Mr. Mervil juga. Yah, Siapa tahu--" Glay mengedikkan bahunya.

"O, begitu--" Em manggut-manggut, begitu mengingat apa yang dikatakan Stan padanya kemarin malam di atas atap gudang.

"Ada sesuatu?" tanya Glay mendadak. Mengejutkan Em yang terlihat termenung sejenak.

"Hah?" Em membulatkan matanya.

"Sepertinya ada yang memusingkanmu," tebak Glay sambil menatap Em penuh selidik.

"Ah, tidak!" Em tertawa hambar sembari membuang muka, berusaha melepaskan diri dari pengamatan Glay yang sudah terkenal sebagai seorang pengamat yang cermat. Em berdehem pelan dan membelokkan pembicaraan kearah lain. "Glay mau kemana?"

Glay masih mengamati Em dengan kening berkenyit ketika menjawab. "Aku harus membersihkan rumput-rumput liar yang tumbuh semakin banyak di taman mawar belakang. Sungguh kau tidak ingin membicarakannya padaku, Em?"

Kembali, Em memperdengarkan suara tawanya yang terdengar sangat menganggu telinga. "Aku tidak apa-apa, Glay. Apa yang perlu kubicarakan--haha--"

Terburu-buru Em meninggalkan Glay yang memandang kepergiannya sambil mengeleng-gelengkan kepala dari tempatnya.

"Anak itu, makin tertutup saja--" Glay menghela nafas, menyesali perubahan yang terjadi pada diri Em. Beberapa saat kemudian dia memutar tubuh, melanjutkan perjalanannya ke taman belakang yang tertunda akibat halangan dari Em tadi.



********




"Ada apa?"

Suara dalam dan datar itu mewarnai ruang kantor yang besar dan luas di pusat kota London itu. Jonathan mendengarkan selama beberapa menit, tanpa memberi respon apa-apa terhadap si penelepon, meskipun apa yang didengarnya dari seberang membuatnya sangat tidak nyaman dan ingin marah. Jonathan mengenggam gagang telepon erat-erat, gerahamnya mengatup keras.

"Aku tidak bisa menolak, karna sudah janji?" Jonathan berujar dengan nada dingin. Dia mendengarkan kemudian mengangguk. "Ya, aku tahu. Aku akan datang sesuai keinginan kalian--"

PLAP, telepon dihempaskan Jonathan ke tempatnya. Matanya yang sudah terbiasa bersinar suram semakin tidak bercahaya. Gerahamnya mengatup makin rapat. Jonathan kemudian menyambar gagang teleponnya kembali dan menekan sebuah nomor. Terdengar nada tersambung, tidak sampai dua detik telepon di seberang diangkat.

"Ya, sir?" Suara Cloris menyapa dengan hangat.

"I want to go out, Cloris. No telepon, no e-mail, and don't disturb me!"

Perintah yang sangat tegas dan jelas dari Jonathan. Sedikit terdengar tidak sopan karna Jonathan mengucapkannya dengan nada agak keras dan tajam. namun Cloris kelihatannya sudah terbiasa dengan kebiasaan Jonathan ini. Sekretaris pribadi itu membalas perintah Jonathan dengan sabar.

"I know, sir. Just be carefull--"

PLAP, Jonathan menaruh telepon di tempatnya dan menghempaskan kepala ke sandaran kursi. Pikirannya melayang, memikirkan kembali apa yang dikatakan ayahnya kepadanya lewat telepon beberapa saat lalu.

Jonathan menghembuskan nafas perlahan-lahan. Tidak punya pilihan, dia tahu. Keputusan yang sudah diambilnya dulu harus dibayar dengan kepatuhan. Cuma ini jalan satu-satunya, karna dia bukan anak durhaka. Walau tindakannya kadang di luar batas, .. tapi dia, Jonathan_tahu, sebuah keputusan harus dibayar dengan mahal jika ingin berhasil.  

Jonathan memejamkan mata, membiarkan otaknya berhenti berpikir, mengistirahatkannya hanya untuk sesaat, … sebelum dia keluar untuk menghirup udara segar. Karna Jonathan sadar, semua ini belum berakhir.



*******




"EM!! SUDAH SELESAI BELUM??!!"

"IYA, IYA!!! TUNGGU SEBENTAR!!" Tergesa-gesa Em menarik, membetulkan tali gaunnya yang melorot di bagian bahu dan merapikan poninya yang sedikit berantakan di depan cermin. "Huhhhh--kenapa mengharuskan aku pergi ke pesta orang-orang tak dikenal!!" gerutu Em sambil mengoleskan lip gloss warna pink ke bibirnya.

"EMMM!!" Panggilan Stan kembali mengema dari lantai bawah.

"YAAAA!!" Em berdecak kesal. High heelsnya yang berwarna putih, yang berwarna seragam dengan gaun pendek tak berlengan yang dikenakannya, dipakai dengan melompat-lompat di tempat.

"EMMM!!! Sudah terlambat nih!!!"

"IYAAA!!" Em menyambar tas kecil yang tergolek di atas ranjang dan berlari ke pintu. Dia menghempaskan pintu itu hingga berdebam keras.

BUMMMM!!

.
.
.

"Kenapa lama sekali?" Stan berdiri dari sofa dan menyambut kedatangan Em dengan kening berkerut.

"Huhh! Kau kira mudah berdandan buat aku!" Em memanjangkan bibirnya. Memprotes teguran Stan atas keterlambatannya.

Stan yang baru disadarkan oleh pernyataan Em terhadap perbedaan penampilan gadis itu dibandingkan kesehari-hariannya, mendadak terpekur kaku. Stan tidak bersuara, hanya bisa menatap Em tanpa berkedip. Em mengejapkan mata, membulatkannya dan mendekati Stan.

"Stan!!" tegur Em seraya mengerak-gerakkan tangannya di depan Stan. "Are you okay? Oh, come on, aku terlambat bukan karna sengaja--" Em merenggek, berharap pengertian dari Stan.

"Eh?!!" Stan tersentak. Guncangan kecil di lengan yang dilakukan Em menyadarkannya dari mimpi yang hanya sesaat. "Hn--" Stan terbatuk kecil membersihkan kerongkongannya yang mendadak seperti tersumbat. "Kau--gaun ini .... cocok untukmu ... " Stan berucap dengan nada yang dibuat sewajar mungkin.

Em tertawa, lalu memutar badan di tempatnya, layaknya seorang model yang sedang memamerkan busananya. Tapi yang justru, terlihat seperti gadis kecil yang sedang memamerkan mainan barunya. Yang malah, semakin membuat Stan pusing tujuh keliling. "Menurutmu begitu? Haha, aku juga sangat menyukai gaun ini--," Em tersenyum manis.

Stan mengacungkan jempolnya. "Indah--"

"Thanks," sahut Em malu-malu. Hatinya berbunga-bunga dipuji Stan seperti ini. Selama kebersamaan mereka sejak belasan tahun yang lalu, yang tidak bisa dikatakan layaknya sepasang kekasih akan tetapi lebih terlihat seperti sepasang kakak beradik, Stan jarang memujinya. Em merasa, ingin berada dalam keadaan ini selamanya.

"Bisa berangkat sekarang?"

Pertanyaan Stan menyadarkan Em.

"Eh, iya." Em melihat berkeliling. "Mom and dad?" tanyanya heran.

"Mereka sudah berangkat--" kata Stan sambil mulai mengerakkan kakinya.

"Berangkat duluan?" Em terburu-buru mengejar Stan yang sudah beberapa langkah di depannya. "Tidak menunggu kita?"

"Kau terlalu lama. Lagipula, ini pesta teman mereka. Tidak boleh terlambat."

Em memanyunkan bibir dan menundukkan kepala perlahan-lahan. "Sorry ... "



******




Pesta ulangtahun rekan kerja Mr. Winston sudah berlangsung setengah jam. Hampir semua tamu sudah hadir dan mengucapkan selamat kepada yang berultah dengan tidak lupa menyerahkan kado-kado mereka yang kebanyakan bernilai tinggi dan mahal.

Em diperkenalkan Mr. Winston kepada tuan rumah begitu menginjakkan kaki di rumah besar keluarga Fair bersama Stan. Em sedikit terkejut ketika melihat wanita yang pernah ditemuinya di sekolah Lambeth berdiri bersisian dengan Mr dan Mrs. Fair. Em baru mengetahui, setelah dikenalkan dengan Mary Fair, ternyata wanita yang waktu itu mendatangi Stan dan membuatnya cemburu setengah mati ini ternyata putri dari rekan kerja kedua orangtuanya. Em berpaling pada Stan dan menatapnya dengan pandangan menuntut. Seolah menegur, kenapa Stan tidak menceritakan hal ini padanya.

Stan mengangkat kedua tangannya. "Aku tidak merasa itu perlu," kata Stan tenang. "Fair hanya mempunyai hubungan bisnis dengan uncle dan aunty. Dan semua itu, tidak ada hubungannya denganmu. Baik dalam hubungan bisnis tersebut, ataupun di sekolah yang kalian tidak berada dalam tingkatan yang sama ..."

"Lalu kenapa hari ini kalian memaksaku menghadiri pesta yang tidak ada hubungannya denganku ini?!" tanya Em sengit. Sambil mengepalkan tangannya, dia berjalan meninggalkan Stan.

"Hei, Em!!" teriak Stan. Namun Em tidak memperdulikannya. Dengan raut ditekuk yang teramat dalam, menandakan bagaimana kesalnya hati Em, dia berjalan semakin menjauhi tempat Stan berdiri.

"Hhhh--kenapa jadi begini?" Stan mengacak-ngacak rambut frustasi. "Kalau marah begini, bagaimana caranya mengungkapkan perasaanku setelah akhir pesta ini?" Stan melangkah kearah yang berlawanan dengan kepergian Em.



********




"Kemana Athan?"

Mrs. Fair menoleh ke kanan dan kiri, berusaha mencari keberadaan orang yang dimaksudnya. Mrs. Mars, yang berdiri di sebelah Mrs. Fair, tersenyum hambar. Dia sudah merasa tidak enak sejak tadi akan keterlambatan putra tunggal yang selalu dibangga-banggakannya. Apalagi kali ini, Jonathan terlambat datang ke pesta ulangtahun ayah dari calon istrinya.

"Mungkin macet, Nyonya Fair. Yah_anda tahu sendirilah, dari London, Athan harus langsung kemari, padahal dia ada rapat sampai jam lima--" Mrs. Mars berujar dengan ramah, berusaha berargumen buat keterlambatan Jonathan.

"Ya, benar juga--" Mrs. Fair mengangguk memaklumi. "Perjalanan dari London kemari, memang tidak bisa dibilang dekat--"

"Yah--begitulah," Mrs. Mars tertawa sambil menghembuskan nafas lega begitu Mrs. Fair tidak bertanya-tanya lagi.

Mary Fair yang berdiri di belakang ibunya, agak menyampir di meja panjang yang digunakan untuk menaruh gelas-gelas champagne yang sudah terisi penuh, tersenyum kecil. Dia mengangkat tangan kemudian menghirup minumannya dengan nikmat.

"Akan sangat bagus jika dia tidak datang," Mary tertawa sambil meminum champagnenya sampai habis.


.
.
.


"Em ... "

"Huh!!" Em membuang muka dari Stan yang menjatuhkan diri duduk di sebelahnya.

"Masih marah?" tanya Stan sambil menatap Em dalam-dalam.

"Apa kau perduli?" tanya Em dingin. "Bagaimanapun, kau tidak pernah memikirkan perasaanku ... ," lanjut Em dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Bukan begitu .. ," Stan berkata lirih, " ... aku .. "

"Sudahlah!" tukas Em cepat. " .. aku tidak ingin mendengar alasan apapun saat ini ... "

"Em .... "

Em tidak bereaksi, tatapannya nanar tertuju ke depan, ke pasangan-pasangan yang sedang berdansa mesra di tengah ruangan.

Sementara itu .....

.
..
...

Mary memanyunkan bibir di ambang pintu. Pandangannya tidak berkedip terarah kepada Em dan Stan yang duduk di sudut ruangan. Dia melihat tatapan Stan tidak berpindah dari Em. Sepasang mata itu redup, tidak bercahaya. Mary menghela nafasnya, merasakan hatinya terpukul dengan perhatian Stan kepada Em.

Mary berada di posisi itu selama beberapa menit. Dia berdiri tak bergerak menyandar ke daun pintu. Sampai keributan kecil yang semakin lama semakin besar dari lorong luar, mengalihkan perhatian Mary.

"Ada apa?" tanya Mary pada seorang gadis muda yang berdiri di belakangnya.

"Entahlah," gadis itu mengangkat bahunya sambil menajamkan pandangannya kearah pintu masuk yang berada beberapa meter di depan mereka.

Keributan yang terjadi semakin terasa. Para wanita yang berada di luar ruang pesta saling mendorong dan berlari ke luar.

"Ada apa?" Gadis yang tadi ditanyai Mary menyambar tangan seorang wanita lain yang berlari melintasi lorong itu.

"Pria keren ... ," jawab wanita itu.

"Hah?" Mary melebarkan mata sambil mengarahkan pandangan ke luar. "Siapa?"

"Kurang tahu!" jawab wanita itu kembali, tanpa menghentikan langkahnya. "Ada yang bilang, pengendara Ferrari perak ... "

"HAH??" Mary makin membulatkan matanya, tidak mengerti. "Siapa?"

"Ayo, kita lihat sendiri!" Gadis muda di belakang Mary tiba-tiba menarik lengan Mary dan memaksanya mengikuti langkahnya.

"Ta .. tapi ... " Mary mengangkat gaunnya dengan linglung. Tersendat-sendat dia tertarik oleh gadis muda yang berubah agresif itu.


.
..
....


"Kyaaaaa--kerennnn!!!"

"WOWWW, gantenggggg!!!"

Teriakan-teriakan membahana dari teras depan rumah Fair yang luasnya dua kali lipat dibanding rumah Winston. Mary menghentikan langkahnya di depan pintu dan menghentak tangannya hingga terlepas dari genggaman gadis muda yang sekarang berteriak sambil menepuk-nepuk kedua pipinya. Seakan ingin menyadarkan diri terhadap pemandangan tidak tersangka yang tersaji di hadapannya saat ini.

Mary menarik nafas tersengal-sengal sambil menekan perutnya. Pergulatan tadi dengan gadis di depannya hampir menguras sebagian tenaganya. Mary belum menyadari dan melihat 'sesuatu' yang menyebabkan kehisterisan para wanita dalam pesta ulangtahun ayahnya tersebut.

"Wowwww, dia keren sekali!!" Seseorang tiba-tiba mencengkram lengan Mary.

"AWWW, sakit!!! Apaan sih?!!" dengus Mary kesal sambil menghempaskan tangan yang mencengkram di lengannya. Dia mendelik begitu mengetahui ternyata orang yang mencengkramnya itu gadis muda tadi.

"DIAAA!! Dia keren sekaliiii!!!" Gadis itu berjingkrat-jingkrat sambil menunjuk ke halaman depan. "Dia tamu ayahmu ya, Fair??!!"

Mary mendengus dan berpaling mengikuti arah yang ditunjuk gadis tersebut. Dia melihatnya sekarang, 'sesuatu' yang menyebabkan para wanita ini berteriak riuh. Seorang pria jangkung yang terbalut tuxedo hitam sempurna menutup pintu Ferrari perak yang terparkir melintang di depan rumah. Rambutnya yang berombak menyala kemerah-merahan di bawah siraman sinar lampu taman. Sepasang matanya tajam, jernih namun bersinar redup. Tertuju ke depan namun tidak fokus pada titik tertentu.

Mary membuka mulut perlahan-lahan, "Mars ... "

"Kau mengenalnya?!!" Gadis muda di sebelah mencengkram lengan Mary kembali.

"Awww!!! Apa-apaan sih?!!" Mary berteriak kesal. "Sakit tahu?!!!" Mary berpaling kembali pada pria jangkung yang sekarang hampir sampai di depannya. "Untuk apa ... "

"Orangtuaku menginginkanku di sini!" Jonathan memutus perkataan Mary. Berhenti sebentar dan menyengir sinis. "Karna itu, di sinilah aku!" lanjut Jonathan sambil meneruskan langkahnya, melewati Mary tanpa meliriknya lagi.

"HEY!!" Mary berputar kearah Jonathan. Namun Jonathan tidak berhenti, pria jangkung itu memasuki rumah Fair dengan langkah tegap yang tidak dipelankan sejengkalpun.


.
..
...



"Athan!! Kau sudah datang!!" Mrs. Mars melambai-lambaikan tangan pada Jonathan yang berjalan dengan langkah berirama memasuki tempat pesta di ruang tengah rumah Fair. "Lihatlah, Athan sudah berada di sini!" lanjut Mrs. Mars bangga sambil menyenggol pelan lengan Mrs. Fair yang berdiri di sebelahnya.

Mrs. Fair tersentak dan sontak menoleh ke pintu, "O benar--," wanita tengah baya itu mengangguk dan tersenyum ramah pada Jonathan. "Selamat datang, Athan. Macet di jalan ya?"

Jonathan menghentikan langkahnya di depan dua wanita yang sekarang sedang memandang penuh kagum padanya. Sepasang mata Mrs. Fair menyapu Jonathan dari wajah sampai ujung kaki. Tidak bisa ditutupi kekagumannya terhadap pria muda di hadapannya ini.

Jonathan mengangguk pendek, menunjukkan sikap hormatnya yang terlihat kaku dan datar terhadap pasangan suami istri Fair.

"Happy birthday, Mr. Fair .. ," Jonathan merogoh ke saku jas dan menyerahkan sebuah kotak terbungkus kertas bola-bola kecil kepada Mr. Fair. "Semoga tuan menyukainya ... "

Mr. Fair menerima kado dari Jonathan dengan tersenyum sumringah. "Ya, tentu. Tentu saja aku menyukainya. Thanks, Athan ... "

Jonathan mengangguk. "You're welcome--"

"Mary tadi berada di luar--" kata Mrs. Fair. "Apa kau bertemu dengannya?"

Sekali lagi Jonathan mengangguk kaku. "Ya--di teras depan."

"O--Apa kau berbicara dengannya, Athan?" Mrs. Mars bertanya pada putranya. "Mom rasa ada baiknya kau mengajaknya dansa ... "

"A .. aku ... " Sebuah suara yang bernafas tersengal-sengal terdengar dari belakang. Jonathan, Mr dan Mrs. Mars, begitu juga Mr dan Mrs. Fair berpaling bersamaan. Dilihat oleh mereka, Mary yang berdiri agak membungkuk sambil memegangi perutnya. "A .. aku tidak ingin ... berdansa dengannya ... "

"Mary!!" tegur Mr dan Mrs. Fair kaget.

"Apa katamu?!" bentak Mr. Fair. "Kau tidak sopan sekali!"

"Dad, .. a ... aku ... " Mary melirik takut-takut. " .. aku .. bukan ... "

"Aku tidak keberatan--" Jonathan memotong perkataan Mary dengan nada ringan. “Sesuai keinginanmu jika begitu—“

Mary terperangah, terkejut dan segera berbalik menatap Jonathan yang saat ini memandangnya dingin. Mary tidak mampu meneruskan kata-katanya, hanya mampu bertanya gugup dan terbatah-batah.

“A .. apa .. katamu ..?”

Jonathan tidak mengindahkan Mary. Pria berparas sempurna itu memindahkan pandangannya ke sudut lain ruangan itu. Dan pada saat itu pula, dilihatnya Em yang duduk cemberut di seberang ruangan. Di sampingnya, duduk seorang pria muda yang terlihat murung, namun orang itu tidak terfokus oleh mata Jonathan, seolah dia tidak melihat Stan yang saat itu sedang galau hatinya.

Alis Jonathan berkerut. Berpikir keras dengan perhatian yang tidak berpindah dari raut wajah Em.

“Mars, apa .. “

Jonathan mengangkat tangannya, menghentikan perkataan Mary yang belum sempat berlanjut.

“What?!!”

Jonathan tidak menjawab, dia bergerak pelan meninggalkan orang-orang yang sekarang sedang memandangnya bingung.

“Ada apa dengan Athan?” tanya Mrs. Fair tidak mengerti.

Mr dan Mrs. Mars saling berpandangan, untuk kemudian mengangkat pundak serempak, pertanda mereka juga tidak tahu.

Sedangkan Mary, menatap punggung Jonathan yang semakin jauh meninggalkannya dengan perasaan serba salah. Tiba-tiba saja dia merasa bodoh. Sebuah suara mulai bernyanyi di gendang telinganya, menegur dan memarahinya kenapa bersikap sebodoh itu terhadap Jonathan.

Karna terus terang saja, penampilan Jonathan yang dilihat Mary malam ini, untuk pertama kali tadi di teras depan, sempat membuat hatinya berdesir. Sebagaimanapun dia mengingkarinya, Mary tahu—perasaan itu tidak mungkin dibohongi.

Berulangkali Mary mengingatkan diri, bahwa orang yang dicintainya, dan yang berhasil menarik perhatian dan hatinya hanya Stan seorang, tapi sekarang …. Apakah keyakinan dan kepercayaan itu masih berlaku? Setelah Jonathan dengan dingin dan kaku menolak dirinya dan membuat harga dirinya terinjak-injak, .. yang ternyata justru membuatnya seolah tidak mampu berpaling dari pria berparas sempurna namun berpembawaan ‘es’ tersebut?  

Mary mengepalkan tangannya, .. seruan-seruan kecil dari sudut lain ruangan itu membuatnya berpaling.

“Benar kan, dia keren sekali?”

“Siapa? Siapa?”

“Kalau tidak salah—Mars. Namanya Jonathan Mars! Pengusaha muda sukses dari London. Dengar-dengar, dia putra tunggal dari Tuan dan Nyonya Mars, pemilik Mars Globe .. “

“Wah, kalau bisa menjadi kekasihnya, pasti akan sangat membahagiakan .. “

Para wanita itu saling mendorong sambil berseru dan cekikikan genit. Mary mengenyitkan alisnya, sekilas melintas bayangan dalam pikirannya bahwa ‘kekasih’ yang diributkan para wanita tersebut adalah dirinya. Mary tidak mampu menahan senyumnya. Namun, senyuman itu hanya bertahan sebentar, segera saja wajahnya berubah datar, .. senyuman tersebut memudar dan akhirnya menghilang tanpa bekas.

Melihat sikap Jonathan padanya, masih mungkinkah? Mary mengeleng. Lalu, bagaimana perasaannya sendiri terhadap Stan?

Reflek, Mary memindahkan pandangannya mencari keberadaan Stan. Sampai detik yang entah keberapa, baru dilihatnya Stan yang duduk di seberang ruangan. Dan dilihatnya kini, Jonathan yang ternyata juga berjalan kearah yang ingin ditujunya. Mary melebarkan mata perlahan, bertanya-tanya apa yang akan dilakukan Jonathan.


******



“Em, kita turun ke lantai dansa?”

Em tidak bergeming terhadap bujukan-bujukan yang sesekali dilontarkan Stan dengan nada sedikit memelas. Hati Em yang sebenarnya sedikit tergerak tapi dengan keras ditahannya, dia tidak ingin menyerah untuk kesekian kali hanya oleh bujukan Stan, karna dirasanya, Stan sudah keterlaluan kali ini.

“Kau benar-benar marah padaku?” Stan menghela nafas panjang. “Kau tahu, aku punya alasan mengapa melakukannya …. “

“Aku tidak ingin tahu! Dan aku juga tidak mau dengar!” Em menutup telinganya dengan kedua tangan dan menatap sinis. Dia ingin Stan percaya, dia benar-benar marah kali ini.

“Aku merasa pernah melihatmu … “ Suara asing nan rendah yang tiba-tiba menyelip ke dalam pembicaraan Em dan Stan, mengejutkan keduanya.

Stan menoleh, berbeda dengan Em yang langsung tersentak bangun dari tempat duduknya.

“K .. au!!!” Em menunjuk Jonathan yang sudah berdiri di hadapannya. Sepasang mata Em terbelalak lebar, seperti melihat sesuatu yang sangat menakutkan.

“Ternyata benar, ini kau—“ Jonathan seperti menyengir kecil.

“Ke .. kenapa .. ada di sini .. ?” tanya Em gugup.

“Siapa?” Stan mengenyitkan alis, menatap Jonathan dengan pandangan tak berkedip. Dia sedang mengingat-ingat dimana pernah melihat pria asing jangkung ini.

Jonathan tidak memperlihatkan reaksi terhadap keterkejutan Em, begitu juga Stan yang seolah sedang menebak-nebak siapa dirinya. Sikap Jonathan masih seperti biasa, datar dan tidak menunjukan luapan perasaannya. Tapi, apa yang dilakukannya kemudian sangat mengejutkan Em dan Stan.

Jonathan tiba-tiba saja menarik tangan Em. “Aku pinjam pasanganmu sebentar,” katanya pada Stan yang saat itu melebarkan matanya.

Stan ingat sekarang. “KAUUUU!!!” Stan menunjuk Jonathan. Dia ingat, Jonathan merupakan ‘pria gila’ yang memaksa Em pergi dengannya waktu itu.

Namun sudah terlambat, Em tersandung-sandung dibawa sedikit paksa oleh Jonathan ke lantai dansa. Em menjerit kecil, memohon dilepaskan, namun genggaman Jonathan malah semakin erat. Stan tersentak bangun dan mengejar mereka. Namun segalanya percuma, karna langkahnya terhalangi oleh orang-orang yang sedang berdansa sambil berputar-putar di lantai dansa.

“Le .. lepaskan, .. mau .. mau apa .. ?” Em berkata memelas. Sudah berulang kali dia berusaha menyingkirkan cengkraman Jonathan dari pergelangan tangannya, tapi tidak berhasil.

Sekarang mulai dirasakan Em, lengan panjang Jonathan melingkar di pinggangnya, memaksa kakinya untuk mulai bergerak mengikuti gerakan maju mundur yang dilakukan Jonathan, seiring alunan musik mellow yang mulai diputar dari sudut ruangan.

“Hentikan! Singkirkan tanganmu!”

Suara Em mengeras. Gerahamnya digigit rapat ketika menghimpun segala keberanian untuk menolak Jonathan. Em mengangkat kepala, memaksa irisnya yang saat itu sebenarnya kelabu untuk bersinar tajam. Namun Em jadi terperangah. Bukannya kemarahan seperti dikira yang didapatkannya, tapi justru rangkulan Jonathan yang mendadak saja menjadi lebih erat. Dagu runcing pria itu tiba-tiba mendarat di pundaknya, terbenam sampai cuping hidungnya yang mancung mencium pundak Em yang hanya terbalut kain tipis.

“Jangan bergerak … ,” sangat sayup dan lemah permintaan itu memasuki telinga Em. Em sampai membulatkan mata, tidak yakin terhadap pendengarannya sendiri. “ .. dan jangan membantah, … “ Jonathan mendesis halus. “ … bantu aku melepaskan diri dari keadaan ini, .. sekali saja .. “

Em memalingkan wajah, menatap tak percaya wajah sempurna yang meringkuk di tenguknya. Dua pasang mata itu bertemu, .. mulut Em yang sudah terbuka dan akan mengeluarkan penolakan jadi tertutup rapat, entah kenapa, ketika melihat sorot mata penuh tekanan dari Jonathan, bukan pengharapan yang didapatkannya di sana tapi keputusasaan dan ketidaktahuan terhadap jalan keluar yang mesti diambil yang didapatkannya. Tanpa sadar, … ketika Em menganggukan kepalanya, dan jangan ditanya kenapa, karna setelah dari kantor Jonathan waktu itu sampai sekarang, dia menjadi penurut di depan orang asing ini, .. sekali lagi_Em tidak tahu.

Sementara di sudut lain ruangan itu, Stan sudah berhasil melepaskan diri dari kepungan pasangan-pasangan yang sedang berdansa walau dengan agak susah dan sekarang sedang berjalan menuju kearah Em dan Jonathan.

Mary yang selesai memberi salam sekedarnya pada seorang wanita tengah baya berpostur pendek yang menyapa dengan ramah, ikut melangkahkan kakinya ke tempat Em dan Jonathan dengan terburu-buru.

Pada saat yang genting tersebut, entah karna disengaja atau memang sudah tidak tahan berlama-lama berada dalam ruangan tersebut, Jonathan tiba-tiba melepaskan rangkulannya dari pinggang Em dan menarik tangan gadis mungil itu untuk mengikuti langkahnya ke arah pintu.

“A .. ada apa .. ?” Em bertanya gugup, sepasang matanya terbelalak.

“Ikut denganku!” sahut Jonathan tanpa melirik Em.

“Eh .. eh—“ tergopoh-gopoh Em mempercepat langkahnya mesti kebingungan. Dia ingin menolak permintaan pria ini, tapi entah mengapa sorot sendu tadi, yang seolah berkata di dunia ini sudah tidak ada lagi yang bisa diharapkannya, membuat Em menurut begitu saja.

Sepasang muda mudi dengan postur yang sangat berbeda, yang satu mungil dan yang satunya lagi tinggi menjulang, bergerak cepat meninggalkan orang-orang yang menatap heran dari dalam ruangan.

Stan menghentikan langkahnya begitu menyadari sudah tidak mungkin lagi mengejar Em. Mary sampai di sisi Stan, menatap punggung Jonathan dan Em yang semakin jauh dan akhirnya menghilang dalam keputusasaan. Mary menghela nafas, merasakan kekecewaan yang mendalam.

“Dia .. pergi .. begitu saja ..?” desis Mary, tidak mampu mempercayai apa yang telah terjadi.

“Pria itu .. “ Stan mengesek gerahamnya dan melanjutkan dengan geram, “ .. yang datang mencarimu waktu itu. Kau bilang tidak tahu apa-apa tentang dia, .. dan sekarang, sekali lagi dia membawa Em pergi … “ Stan menatap Mary lekat-lekat. “Apa yang akan kau katakan?”

“A .. Aku .. “ Mary tidak mampu berkata apa-apa ditatap seperti itu oleh Stan. Lidahnya terkelu. Dengan kepala yang hampir tertunduk, kelopak matanya mengatup perlahan-lahan.

“Fair!!” tegur Stan keras, hingga menyadarkan Mary dari lamunannya yang hanya bertahan sepersekian detik. “Siapa pria itu?!!”

Mary mengangkat wajah, membuka mulut dengan enggan, “Dia Mars, pria yang dijodohkan orangtuaku denganku … “

“Hah?” Mata Stan melebar, merasa tidak percaya akan pendengarannya sendiri. “ … perjodohan?”

“Aku tidak tahu mengapa dia sampai bersikap seperti itu!” tandas Mary cepat, seolah mencegah Stan bertanya lebih lanjut. “Karna terus terang saja, aku tidak begitu mengenalnya!”

“Dan kau setuju-setuju saja dijodohkan dengan orang seperti dia?” tanya Stan tidak percaya.

“A .. aku .. “ Mary melirik gelisah, karna seperti tebakan Stan, dia merasa diri bodoh tersentuh perasaannya kini. Bukan maksud semula akan seperti ini, karna jujur saja, Mary tahu_yang disukainya selama ini hanya Stan seorang, tapi dia juga tidak tahu mengapa, mengapa seorang Mars, mampu membuatnya berpaling, bahkan hanya dalam pertemuan yang ketiga kali?

“Kau tidak serius kan?” Stan mengenyitkan alisnya. Walau hatinya sudah melayang ke keberadaan Em, namun dia ingin memperjelas identitas pria yang selalu ‘menculik’ dengan paksa Em tersebut.

“A .. aku .. ,” Mary menghela nafas, membiarkan irisnya meredup mengapai lantai. “ … aku rasa, .. aku tidak punya pilihan .. “

“What?” Stan melebarkan mata, heran. “Apa maksudmu?”

Mary tidak menjawab, dia hanya mampu mengeleng pelan sambil menghela nafas kembali.

“Fair!” tegur Stan. “Kalau tidak salah, waktu itu kau pernah berkata ada yang ingin kau bicarakan denganku. Ada apa?” tanya Stan, sambil mengarahkan pandangannya ke pintu. Untuk saat ini, dia sudah ingin menghambur keluar dari ruangan itu.

“Eh?!” Mary tersentak. Dia terlihat gugup begitu diingatkan akan keputusannya buat mengungkapkan perasaannya terhadap Stan waktu itu. “A .. aku .. “

“Tidak ada?” tebak Stan.

“Aku .. ,” Mary menghela nafas kemudian mengangkat pundak, putus asa. “Tidak ada … “

“Hn—“ Stan mengangguk, dia tidak bertanya lebih lanjut, karna sepertinya_Stan sudah tidak tertarik lagi terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan Mary. Stan berputar ke arah pintu, melambaikan tangannya secara asal pada Mary. “Kalau begitu, sampai ketemu—“

Mary mengangguk lemah, … dia tidak berdaya dihadapkan pada perasaannya saat ini. Mary ingin menolak telah terjerumus dalam pesona Jonathan .. tapi sepertinya, semua yang terjadi, apa yang dirasakannya terhadap Jonathan dan keputusan yang diambilnya dengan melepas Stan, membuktikan bahwa dia telah berubah.

Pada saat itu, Mr dan Mrs. Fair, begitu juga orangtua Jonathan, mendekati Mary yang sedang tertunduk lesu. Perhatian keempat orang terkemuka tersebut tertuju kearah pintu, dimana orang-orang yang keluar tadi, Jonathan, Em dan Stan berlalu.

“Athan kemana?” tanya Mrs. Mars bingung, sambil melirik suaminya yang mengenyitkan alisnya.

“Apa yang dilakukan anak itu?” tanya Mr. Mars tidak senang, dilihatnya Mary yang saat itu berpaling kearahnya. “Apa kau tahu, nak Mary?”

Mary menghela nafas, kemudian mengelengkan kepala lemah. “Tidak, paman .. “

“Apa yang diinginkannya?” ulang Mr. Mars geram. Kepalan tangannya terkepal erat.

“Tenang, dad!” Mrs. Mars terlihat berusaha meredakan kemarahan suaminya, tapi Mr. Mars menepisnya dengan gesit.

“Begini akibatnya kalau kau terlalu memanjakannya! Anak itu tidak pernah hormat pada orangtua! Dia sendiri yang menjanjikan kehadirannya di pesta ini, tapi lihat, apa yang dilakukannya?!! Dia menghancurkan semuanya!!!”

Melihat kemarahan sahabatnya, Mr. Fair hanya mampu menahan nafas. “Mungkin Athan punya alasan sendiri—“ katanya, berusaha membela anak muda yang dirasa sebentar lagi akan menjadi mantunya.

“Aku sangat mengenal anak itu!” dengus Mr. Mars, seolah tidak memberi kesempatan pada siapapun untuk membela Jonathan, yang mungkin dianggapnya seorang terdakwa bersalah.

“Kalau begitu .. “ Mr. Fair berusaha tersenyum, tapi usahanya hanya mengambang di bibir begitu melihat kebekuan raut Mr. Mars, membuatnya segera berbalik ke sikap semula. Agak kikuk Mr. Fair menarik tangan istrinya dan memberi isyarat kepada Mary untuk memberi waktu Mr. Mars menenangkan diri.

Sementara itu, Mrs. Mars menanggapi sikap suaminya dengan perasaan tidak enak. Wanita itu mengangguk pendek pada tuan rumah dan mengucapkan kata maaf tanpa suara.


******



Em melirik takut-takut lewat pundaknya berulangkali, kearah Jonathan yang mengemudikan mobil di bangku di sebelahnya. Bibir Em yang sudah dibuka untuk mengeluarkan suara ditahannya dengan keras agar tidak bertingkah begitu dilihatnya Jonathan membawa mobilnya dengan raut kaku tertuju ke depan. Tidak ada suara yang terucap dari bibir Jonathan sejak meninggalkan kediaman Fair sejak hampir sejam yang lalu. Em tidak berani lagi memberontak seperti dulu-dulu. Bukan hanya kecelakaan yang tidak diinginkan yang ditakutkannya terjadi tapi terlebih, Em agak merasa ngeri dengan keberingasan yang diperlihatkan Jonathan.

Em menghela nafas, lalu mengalihkan perhatiannya ke arah jalan lewat jendela di sampingnya. Kabut malam sudah menurun dan menyelimuti alam di sekitarnya. Jalanan semakin sulit dikenali, tapi tidak bagi Em yang tiba-tiba melebarkan matanya bulat-bulat. Jonathan menghentikan mobil di teras depan sebuah rumah yang terlihat kelam.

“I … ini …. ,” Em mencengkram sisi pintu, mencondongkan tubuh hingga jidatnya membentur kaca jendela, seolah ingin menyakinkan bahwa tempat yang diinjaknya ini benar tidak asing baginya.

“Keluarlah .. “

Suara kaku itu membuat Em berpaling dan menatap Jonathan.

“K .. au … “

Jonathan melepaskan sabuk pengamannya, membuka pintu dan mendorongnya dengan agak keras.

“Dari sini ke rumahmu tidak jauh lagi, nanti aku akan mengantarmu pulang .. “

Em menaikan bola matanya dan mengikuti gerak Jonathan beranjak keluar dari mobil. Em memutar kepala kearah teras, sebentar saja … pandangannya jadi kabur. Em menekan dadanya dan mendesis tajam, “ … tempat ini, .. ba … bagaimana … mungkin … ?”


*****
« Last Edit: March 14, 2012, 10:38:10 am by Be my self »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline viollet.koo

  • Full
  • ***
  • Posts: 371
  • I'm minsunner until the end of time ♥ minsun
  • Location: Indonesia
    • View Profile
[smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] mommy update ternyata  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [hmpfh]

baca dulu ya mom [hug]

 이민호 ♥ 구혜선

-Viollet Koo-

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
[smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] mommy update ternyata  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [hmpfh]

baca dulu ya mom [hug]

wokehhhhh, gw tunggu komennya ya,,, sekrg, bobo dulu ah [hmpfh] [hmpfh] Hface

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline My My

  • Junior
  • **
  • Posts: 165
    • View Profile
kok kentang si mami  [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] kapan scene hottnya [what] [what] [what] [what]
next chapter jangan lama ya mami [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257]

Offline viollet.koo

  • Full
  • ***
  • Posts: 371
  • I'm minsunner until the end of time ♥ minsun
  • Location: Indonesia
    • View Profile
aduh mom, gue bingung nih. si jonathan udah suka sama em kan mom? iya kan ? bener kan? pasti iya deh  [hmpfh]
soalnya dia suka mengamati em dari jendela, kalo ga tertarik sama em itu ga mungkin deh  Hface
tapi si jonathan kok datar-datar aja sih? harusnya kalo ketemu em agak agak gimana gitu kek [goodgrief]

terus ini lagi jenis jenis kaya si mary nih, kalo udah suka sama stan ya sama stan aja kali  [dry] ga usah ngincer ngincer si jonathan, si athan juga ga bakalan suka sama cewek jenis kaya mary gitu  [goodgrief]
lebih baik lagi nih mom, si mary ga bakalan dapetin si jonathan maupun si stan  [devil2]

oiya kalo diliat liat aura jonathan nih orang yang lebih suka actions daripada words ya mom??  [hmpfh] (bahasa gue  [laughing] )
berarti next chapter bakalan ada kisses dong?  [kiss] harusnya sih ada ya, kalo ga ada si mommy minta di  [head break]  [hmff]
eh itu scene terakhir si em ga usah dianterin pulang gapapa kok, tidur di rumah athan aja  [hmpfh]
next chapter jangan kelamaan lo mom  whistling

 이민호 ♥ 구혜선

-Viollet Koo-

Offline Namutz

  • Junior
  • **
  • Posts: 197
  • nona goo is inspiring women
    • View Profile
mommmmmyyyyyyyyy [hug] [hug] [hug] [hug] [hug] [hug] updetanya panjang sekali tingkyuuuu ya mooommmmmmmy ahay
 i
selama ini jonatan ngintip cendela ngapainnnnn? melamun aape ngawasin em hahaaa

benerkan si mary akirnya suka jonat juga  sukuriiiiin tapi udah terlambat kaliiiiii  [jumpy] [jumpy] [jumpy] [jumpy] [jumpy]

[jumpy] [rofl] [rofl] [rofl] [rofl] [rofl] [rofl] [rofl] [rofl] gigit jari aja loooooo   wkwkwwkwwkwkwwkw

stan stan kebiasaaan deketin cewek selalu banyak mikir sih , tanpa di coba dulu begitukan jadinya kalo udah di duluin

 orang baru taurasa kan ,kalau udaah banyak kesempatan  yang terbuaang

dan ingat kesempatan itu tak daataang dua kali
karena kadang kadang cinta itu adalah kom petisi

tingyu mamiiiii ku sayang walau pun haanya ff tapi mengandung pesan luar biasa


miss you mommy