Poll

okay, gw buat polling lagi yg berhubungan dgn karakter mh. kesempatan terakhir, siapa yg anda inginkan tuk jd mh??? perlu diingat, jumlah vote tdk mempengaruhi keputusan terhdp penentuan karakter mh, gw cuman ingin liat suara hati para pembaca sekalian, t

Sheldon
6 (40%)
alden
9 (60%)

Total Members Voted: 13

Author Topic: I See The Light, .. Maybe?? #CHAPTER 9#  (Read 13127 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: I See The Light, .. Maybe?? #SPOILER#
« Reply #195 on: November 21, 2011, 07:57:22 pm »
CHAPTER 5



Characters :

Elsie Han—25 tahun, tidak begitu mengerti akan 'Dirinya sendiri’. Hidup terlalu berpengangan pada ‘Apa yang dipercayainya’, yang sebenarnya—belum tentu benar.

Sheldon Han—24 tahun, dia mudah ceria ataupun akrab dengan orang-orang di sekelilingnya. Namun demikian, terkadang emosinya gampang tersulut. Tidak banyak yang mampu menebak perasaan hatinya. Namun satu yang pasti, cintanya tidak bercela.

Alden Song—24 tahun, pendiam tapi mampu menerka pikiran orang dengan sangat baik. Dia seorang pengamat jitu. Calon pemimpin yang bisa diandalkan. Namun, .. siapa yang mampu menebak perasaannya?




"Hi!!"

Langkah Elsie tercegat di depan pintu ruang kantornya.

Sepasang mata bulat besar itu melebar, .. tangannya yang sedang membawa setumpuk dokumen, hampir menjatuhkan dokumen-dokumen tersebut ke lantai. Bibir Elsie bergerak pelan seiring pandangannya yang menangkap  siapa yang berdiri di hadapannya sekarang.

"Sheld .... ?"

"Surprise!!" Sheldon tersenyum sambil mengembangkan tangan kanannya yang mengenggam sebuket mawar merah dan tangan kirinya yang memegang sekotak coklat lebar-lebar. "Saya kembali ... "

"Hn--" Tanpa sadar Elsie membalas senyum itu, .. matanya melirik jam tangan yang melingkar dengan manis di lengan kirinya. "Bukankah ini masih terlalu pagi, Tuan Han?"

"Memang!" Sheldon menghampiri Elsie dan menyodorkan buket bunga dan kotak coklat di tangannya. "Pesawat yang saya tumpangi mendarat setengah jam yang lalu, dan saya langsung kemari untuk mengajakmu sarapan bersama. Bagaimana? .. Apa kau sudah sarapan?"

Elsie mengangkat bahu. Dan berlagak seolah tidak melihat apa yang berniat diberikan Sheldon, dia melangkahkan kaki menuju ke meja kerja Nona Kim. "Saya belum sarapan, .. tapi juga tidak punya rencana sarapan di luar ... ," katanya pada Sheldon.

Elsie menyodorkan tumpukan dokumen di tangannya pada Nona Kim yang saat ini sedang sibuk dengan selembar kertas di atas meja.

"Yang ini sudah selesai, Nona Kim ... "

"EH?!!" Nona Kim tersentak kaget dan langsung mendongak dari kertas yang sedang dibacanya. "A .. apa yang .. ibu bilang?"

Sementara itu, ... Sheldon sudah sampai di sebelah Elsie.  Menarik kembali tangannya yang memegang mawar dan coklat_mencengkram pelan dan menahan diri seolah tidak terjadi apa-apa antara dia dan Elsie. Pemberiannya ditolak?

"Saya bilang_yang ini sudah selesai. Kau boleh mengirimnya hari ini juga ... " Elsie melirik sekilas kertas dalam genggaman Nona Kim, lalu melanjutkan sambil lalu, ".. masalah pribadi sebaiknya tidak dibawa ke kantor, Nona Kim ... "

Elsie memutar tubuh dan berjalan menjauhi Nona Kim yang sedang mengangga lebar.

Sheldon mengikuti kepergian Elsie dengan pandangannya, beberapa detik berlalu dan dia beralih pada Nona Kim yang masih termangu bingung di tempatnya.

"Kau--ckckck ... " Sheldon mengerak-gerakan telunjuknya di depan Nona Kim, " .. lain kali, jangan ulangi lagi ... "

"Saya ... "

"No, no--tidak ada penjelasan ... "

Sheldon masih mengerak-gerakan telunjuknya ketika melangkah mundur, lalu memutar tubuh dan terburu-buru mengejar Elsie yang kini sudah sampai di depan ruang kantornya.

"Heyyy!!!"

Sheldon meluncur gesit di atas sol sepatu karetnya hingga berhenti tepat di depan Elsie. Tangannya menekan kusen pintu ketika berbicara dengan nafas sedikit tersengal.

"Ba .. bagaimana sarapannya ... ?"

Elsie melipat tangan di depan dada. Terlihat jelas dia agak kesal langkahnya tercegat oleh Sheldon.

"Sudah saya bilang, kan? Tidak ada waktu dan rencana buat sarapan di luar!" Tangan Elsie terulur untuk membuka pintu. "Minggirlah dari situ!"

"Ayolah!" Sheldon berkeras di tempatnya. "Beri saya kesempatan!"

"Kesempatan?" Tangan Elsie terhenti di atas gerendel pintu. "Maksudmu?"

"Kau sudah tahu ... " Sheldon menghela nafasnya. "Saya yakin kau sudah tahu ... "

"Saya tidak mengerti maksudmu ... "

Sheldon terlihat merapatkan gerahamnya. "Buat apa saya lakukan semua ini. Menyediakan kejutan-kejutan buatmu. Memberikan apa yang seharusnya tidak boleh kulakukan selaku putra tunggal dari orangtuaku, .. kau mengerti?"

Elsie membalas tatapan Sheldon lekat-lekat. "Tidak!" Kemudian dia menarik gerendel tersebut dan memaksa pintu hingga terbuka.

"Saya sudah berulangkali memperingati diri_bahwa kau menerimaku, tanpa mengucapkan apa-apa, hanya karena warisan dari kakek," Sheldon berkata dengan cepat. " .. dan saya tidak perduli. Sungguh_saya benar-benar tidak perduli … “ Sheldon menghela nafasnya_berat. “ …. Tapi hanya satu yang kuharapkan, … kau bisa lebih manis padaku ... Karna …. aku mencintaimu, Els!!"

Elsie tersentak di ambang pintu. Langkahnya terhenti seketika itu juga. Sepasang matanya yang bulat dan besar, terbelalak lebar. Kata Cinta itu--akhirnya terlontar dari mulut Sheldon. Kata yang--kalau boleh--tidak ingin didengar Elsie seumur hidupnya. Dia ingin segala sesuatu berjalan apa adanya__agar saat itu tiba;kalaupun dia harus meninggalkan Sheldon__hal itu tidak terlalu menyakitkan bagi pria ini. Karna walau bagaimanapun, Sheldon sudah terlalu baik padanya.

"Untuk .. apa ... kau katakan itu ... ?"

"Karna aku ingin kau mengetahui perasaanku yang sebenarnya, Els!" Sheldon menekan pundak Elsie dengan sepasang tangannya. Menatapnya lekat-lekat dengan badan yang agak dicondongkan ke depan. Hingga pandangannya bertemu tatapan Elsie. Dia tersenyum. Senyum yang terlihat tulus dan bahagia. "Saya mencintaimu! Ini yang benar. Apapun yang terjadi, saya akan berada di sisimu .. "

"Ehm--" Elsie membuang muka setelah beberapa detik. "Kalau begitu_kau ingin sarapan di mana?"

Mata Sheldon berbinar, "Kau bersedia?"

"Kau tentukan tempatnya--" kata Elsie dengan nada dibuat seacuh mungkin.

"Tentu saja!" Sheldon mengatupkan kedua tangannya dan tertawa keras. "Saya sudah memesan makanan di cafe lantai bawah. Bagaimana?"

Elsie mengangkat pundaknya. "Terserah!"

"Yuhuuuu!!"

Layaknya anak kecil, Sheldon bersorak dari tempatnya. Suaranya membahana dalam kantor yang termasuk tenang itu. Beberapa pasang mata melirik mereka. Ada yang tersenyum lalu kembali lagi ke pekerjaan mereka. Ada juga yang melirik sinis dan mendengus, untuk kemudian menghempaskan kertas-kertas di tangan mereka. Sebagian lagi_terlihat jelas_ikhlas_ikut berbahagia buat kebersamaan majikan mereka.



******



Sheldon sedang membolak-balik majalah travel di tangannya siang itu. Secangkir kopi yang sudah dingin di atas meja_belum disentuhnya. Begitu juga seporsi salad yang telah dipesannya setengah jam yang lalu. Masih utuh tersaji di atas meja.

Alden yang duduk menyilangkan kaki di depan Sheldon melirik sekilas sahabatnya itu. Berdeham halus lalu mengabaikannya, kembali menekuni koran yang sedari tadi dibacanya. Tiba-tiba dia mendengar suara kursi digeser. Alden mengangkat kepala perlahan dan menatap sahabatnya.

"Menurutmu_tempat wisata mana yang paling menyenangkan?" Sheldon melebarkan mata_mempelototi majalah di tangannya.

Alden melirik sepintas majalah di tangan Sheldon, lalu mengembalikan perhatian pada sahabatnya itu. "Kau libur?"

"Tidak ada waktu sih--" Sheldon mengangkat pundaknya. "Tapi, ... saya ingin memberi kejutan itu pada Els. Eh--bagaimana menurutmu dengan Roma?" Sheldon menyorongkan majalah di tangannya kepada Alden.

Alden melihat majalah yang memperlihatkan keindahan Roma tersebut. Dia tidak segera menjawab. Alisnya malah berkenyit sangat dalam saat_memikirkan 'apa' yang selama ini agak merisaukannya. "Kau sudah memberitahu mama mu?"

"Hm--" Sheldon berdehem pelan. Tiba-tiba saja dia menjadi murung. Dia menarik kembali majalah yang tadi disodorkannya pada Alden. Dengan semangat yang sedikit menurun, dia melempar majalah tersebut ke atas meja. "Belum ... "

"Kau tidak berniat memberitahunya?Apa rencanamu? Menyembunyikan masalah ini terus?"

"Memangnya saya harus bagaimana?" Sheldon balas bertanya dengan kesal. "Kau tahu saya tidak takut, ataupun perduli terhadap pandangan dan keputusan mama. Yang kupikirkan hanya perasaan Els! Dia pasti sedih dan menderita jika mama bicara langsung padanya. Apalagi mengenai hal yang tidak-tidak. Ataupun mengusirnya dari Han's Group ... Saya sungguh tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya … "

"Bagaimanapun, keterus-terangan yang terpenting menurutku. Cepat atau lambat, nona Han akan mengetahui segalanya ... "

Sheldon menghela nafas. Perlahan-lahan_dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.

"Yah--kita lihat saja bagaimana nanti ... "


******



Sheldon meloncat-loncat__menuruni tangga sambil bersiul-siul. Hatinya sedang senang pagi itu. Rencananya untuk memberi kejutan pada Elsie_dengan mengajaknya tamasya bersama di Roma_akan dilaksanakannya hari ini. Dia akan memberi tahu Elsie setelah sarapan nanti, .. mengajaknya ke bandara tanpa memberi kesempatan padanya untuk berpikir atau menduga dia akan dibawa kemana, .. dan ini_pasti akan merupakan kejutan yang dirasanya akan mampu menyentuh hati gadis itu. Dengan begitu, Sheldon berharap sikap Elsie padanya_dapat sedikit berubah setelah hari ini.

Sheldon sampai di ruang makan dan mendapati papanya sedang sibuk dengan koran bisnis yang sedang dibacanya.

“Pagi, pa!” sapa Sheldon sambil menarik kursi di hadapan Tuan Han.

Tuan Han menurunkan koran di tangannya dan melirik Sheldon.

“Pagi ..”

Sheldon tersenyum lebar, menarik piring yang berisi sarapannya_yang sudah tersedia di atas meja.

“Pagi yang cerah, bukan?”

Tuan Han kembali menurunkan koran yang sudah dibacanya lagi, .. mengamati gerak-gerik putranya dengan seksama. Dan kali ini, dia menjatuhkan koran tersebut di atas meja.

“Kau merasa senang, Sheld?” tanya Tuan Han dengan nada datar yang terkesan tajam.

Sheldon menghentikan kunyahan di mulutnya dan menatap papanya. “Tentu saja. Memangnya kenapa papa bertanya seperti itu?”

“Tidak ada yang kau sembunyikan?” Suara Tuan Han berubah keras.

“Tidak! Ada apa sebenarnya?”

Sheldon mengerutkan alisnya seiring kebingungan terhadap pertanyaan yang dilontarkan Tuan Han. Beberapa saat berlalu dan pandangannya menyapu daun meja.

Ada yang aneh .. Sheldon mengejapkan sepasang matanya. Berpikir. O—ya, kenapa Cuma ada dua porsi makanan di atas meja? Mana sarapan mama?

“Kemana mama?” Sheldon mengangkat kepalanya dan menatap Tuan Han. “Kenapa jam segini belum turun jua?” Pertanyaan tersebut meluncur seiring prasangka buruk yang melintas di kepalanya.

Mungkinkah?!

“Mamamu sedang mengurus sesuatu yang tidak sanggup kau lakukan dan ... “

BRAKKK!!

Perkataan Tuan Han belum selesai, sudah terhenti oleh gebrakan keras di atas meja.

Sheldon bangkit dari kursi. Wajahnya memucat, kepalan tangannya yang sedikit memar akibat benturan keras tadi mencengkram daun meja yang tidak bersalah.

“Mama .. “ Suaranya bergetar ketika mengeluarkan desisan ini. “Arrrrggggg!!” Sheldon kemudian mengerang sekuat tenaga dan menendang kursi yang didudukinya keras-keras. Kursi tersebut terjatuh, terpelanting ke lantai dengan bunyi keras.

Sheldon berlari ke pintu, .. tanpa memperdulikan tatapan heran dari Tuan Han, dia bergegas-gegas keluar dari tempat itu.

“SHELDDDD!!! MAU KEMANA?!!!”

BUMMMM!! Suara pintu ruang makan yang dihempaskan dengan keras oleh Sheldon.

Tuan Han agak tersentak, .. sebelum akhirnya dia menghela nafas dan mengeleng-gelengkan kepalanya. “Anak ini …. , dari dulu sampai sekarang selalu keras kepala. Kenapa dia tidak melupakan saja wanita itu?”


******



“Kau mengerti maksud bibi, kan?”

Dengan tenang, Nyonya Han meletakan cangkir kopinya ke atas meja. Tatapannya tidak beralih, masih menatap lekat Elsie yang duduk di hadapannya.

Elsie menundukan kepala. Tidak ada kata yang terucap dari bibirnya sejak memasuki café ini. Dia menghabiskan sarapannya, menuntaskan tehnya, .. dan selama itu_pula, hanya Nyonya Han yang mendominasi pembicaraan di antara mereka.

“Bibi rasa tidak ada gunanya kau berkeras.” Nyonya Han melipat tangannya di depan dada. “Apapun yang dilakukan Sheldon, itu tidak akan berhasil. Semua keputusan ada di tangan ku, dan tangan Paman Han. Sekali kami bilang tidak, .. maka kau tidak bisa tinggal dan bekerja lagi di sini … “

Elsie meremas tangan dan mengigit bibirnya. Hal ini_sudah dibayangkannya akan terjadi, .. namun … bukan yang seperti ini! Dia tidak menyangka hari ini datangnya akan seterlambat ini. Tiga bulan sudah, … yah_tiga bulan sudah lamanya dia bekerja kembali di Han’s Group. Dia melakukan segalanya dengan sangat baik. Hingga tidak ada ‘sedikitpun’ kesalahan berarti yang dilakukannya walau dia bukan ahli di bidang pembukuan.

Selama tiga bulan ini, semuanya berjalan tenang. Sampai-sampai, dia sudah melupakan kemungkinan akan disingkirkan dari Han’s Group. Tapi takdirnya tetap di situ. Nyonya Han datang pagi ini. Menuntut haknya yang telah dimanfaatkan oleh putranya sendiri untuk mendapatkan perhatian dari wanita yang dicintainya.

Elsie menghela nafas perlahan. Haruskah dia menyerah?

Di antara kebisuan itu, .. pintu café tersebut tiba-tiba dibuka dengan kasar dari luar. Suara pintu yang menghantam dinding mengejutkan kedua wanita yang saling berhadapan dalam kebisuan itu.

Elsie dan Nyonya Han sama-sama berpaling kearah jalan masuk café. Tampak Sheldon melangkah dengan langkah lebar-lebar kearah mereka. Belum sempat keduanya bersuara, Sheldon sudah menyambar tangan Elsie dan memaksanya bangkit dari kursinya.

“Ikut denganku!!”

“Eh?!!” Elsie tersentak kaget. Matanya terbelalak menatap Sheldon.

“Ikut denganku!!” ulang Sheldon_keras dan mengelegar. “Apa kau tidak dengar?”

“Sheld!!” Terdengar teguran dari Nyonya Han. “Hentikan ulahmu! Apa-apaan ini? Apa kau tidak lihat mama sedang berbicara dengan Elsie?”

Sheldon mengalihkan perhatian pada mamanya dengan cepat. Sepasang matanya bersinar tajam. “Saya tahu apa yang ingin mama katakan. Tapi percuma! Saya tidak akan pernah setuju! Pokoknya Els akan tetap di sini. Tidak boleh kemana-mana!”

“Kau terlalu kekanak-kanakan.” Nyonya Han melebarkan matanya. “Jangan dikira apa yang kau lakukan selama ini mama tidak tahu. Hentikan kekonyolanmu, atau mama tidak akan segan-segan lagi … “

“Tidak segan-segan apa?” tanya Sheldon_menantang. “Menghapus namaku dari keluarga Han dan tidak mengakuiku sebagai anak? “ Sheldon menyengir sambil mengeleng-gelengkan kepalanya. “Sejak dulu mama tahu kalau saya tidak pernah perduli dengan semua itu.” Sheldon mempererat genggaman di tangan Elsie. “Silahkan saja lakukan itu!” Kemudian ditariknya Elsie untuk mengikutinya. “Ayo kita pergi dari sini. Percuma bicara dengan orang yang tidak mau mengerti .. “

Elsie masih menoleh kepada Nyonya Han ketika langkahnya terseret mengikuti langkah Sheldon.

“SHELDDD!!”

Panggilan Nyonya Han tidak didengar Sheldon. Dengan sekali tarik, Sheldon membuka pintu café dan menarik Elsie keluar bersamanya.


******



“Kau tidak perlu takut .. ,” oceh Sheldon panjang lebar sambil melangkah panjang-panjang di jalan kecil beraspal dengan Elsie yang terseok-seok di belakangnya. “Apapun yang dikatakan mama, saya tidak perduli. Kalau perlu_kita pergi dari sini. Meninggalkan semuanya. Saya tidak percaya di dunia sebesar ini, tidak ada tempat bagi kita .. “

“Hen .. hentikan … “

Elsie mengerak-gerakan tangannya hingga terlepas dari pengangan Sheldon. Setelah dirasa genggaman Sheldon agak sedikit melonggar, dia memanfaatkan kesempatan itu.

Elsie menghentikan langkahnya, membungkuk kemudian memegangi perutnya sambil mengambil nafas dalam-dalam.

Sheldon ikut menghentikan langkahnya. Memutar tubuh menghadapi Elsie dengan wajah berkerut. “Kenapa? Kau tidak mau? Kau tidak ingin kita bahagia?”

Elsie mengeleng dengan nafasnya yang tersengal-sengal. “Bu … bukan. Tapi, … bukan ini yang kuinginkan. Kau .. kau tahu itu .. “

Sheldon melihat kecemasan itu di mata Elsie. Kecemasan yang mampu membuat hatinya runtuh seketika. Sheldon dibuatnya termangu saat itu juga. Seperti disadarkan kini—akan tujuan Elsie yang sebenarnya. Alasannya kenapa gadis itu sampai menerima cintanya.

Sheldon melangkah mendekati Elsie. Merengkuhnya ke dalam dekapan yang erat dan hangat.

“Sorry. I’m really sorry .. ,” desis Sheldon. “Benar katamu. Seharusnya saya memikirkan posisimu, apa yang menjadi bebanmu selama ini. Maaf karna saya telah egois. Mengatasnamakan kebahagianku sebagai kebahagian kita, padahal bukan begitu … “

“Tidak … ,” Elsie mengeleng lemah. “Seharusnya saya yang minta maaf. Saya yang egois .. “

“Tidak!!” ujar Sheldon tegas. Dia melepaskan pelukannya dari tubuh Elsie dan menatap langsung ke bola mata yang bulat tapi bersinar redup itu. “Dari semula kita sudah tahu alasanmu menerimaku. Dan saya sudah bilang, akan menanti dengan sabar sampai ‘Hari itu’. Sekarang, saya akan memikirkan cara yang terbaik untuk mempertahankanmu di Han’s Group, dengan mengesampingkan pikiran yang sempat kuutarakan tadi. Kau mau menunggu, kan?”

Selama beberapa lama, kedua insan itu saling bertatapan. Seolah berusaha memahami atau menyelami apa yang ada dalam hati masing-masing. Sampai akhirnya … Elsie mengangguk pelan.

Sheldon tersenyum. Digenggamnya erat-erat pergelangan tangan Elsie.

“Sekarang, temani saya sarapan. Ok?" Sheldon mengedipkan matanya. "Karna perdebatan kecil dengan papa, sarapanku jadi berantakan ... "

Sheldon tertawa, .. namun usahanya untuk mencairkan suasana sepertinya tidak berhasil. Elsie tetap menatapnya dengan sorot sendu.

"Sorry .... "

"Hey!!" Sheldon berseru sedikit keras. Walau begitu, wajahnya masih menyunggingkan senyum lebar. "Come on--lupakan semuanya. Setelah sarapan, kita jalan-jalan bersama. Sudah lama sekali rasanya saya tidak memberi kejutan padamu. Bagaimana kalau kita ke taman bermain?"

Elsie mengejapkan matanya. "Taman bermain?" Sudah lama rasanya dia tidak pergi ke tempat seperti itu ... Kedengarannya akan menyenangkan jika dia bisa menghabiskan waktu sepanjang hari di situ. Melupakan semua yang terjadi walau hanya untuk sesaat.

"Iya--taman bermain." Sheldon mengangguk. "Niat semula sih ingin mengajakmu ke Roma, tapi sepertinya_tidak memungkinkan melakukan rencana itu di saat seperti ini. Jadi, ... bagaimana kalau saya menebusnya dengan mengajakmu ke taman bermain Lotte World?"

"Saya lebih memilih Lotte World .. " Elsie menyetujui dengan cepat.

Sheldon tertawa, "Baiklah ... " dia meremas tangan Elsie, kemudian menariknya halus, mengajaknya untuk pergi dengannya. "Kalau begitu kita berangkat sekarang .... "

Elsie mengikuti saja gerak langkah Sheldon. Menatap punggung dan bahu lebar pria itu dengan pandangan nanar.  Dan 'sedikit' perasaan bersalah.

Dia bersedia mengorbankan apa saja untuk ku. Meninggalkan yang dimilikinya selama ini, .. bahkan rela melepas nama dan kedudukannya sebagai penerus Han's Group dan putra tunggal dari orangtuanya. Hanya demi aku. Hanya untuk melindungiku. Namun kenapa ... kenapa aku tidak mencoba untuk berpikir di posisinya, walau hanya untuk sesaat saja? Kenapa aku tidak sanggup melakukan itu? Menerima kebaikan hatinya itu? Kenapa aku justru menolaknya? Dan memaksa dia untuk mengerti aku? Mengikuti kehendak ku?

Dua tetes airmata mengalir menuruni pipi Elsie_menjadikan pandangannya mengabur.

Apakah ini ... karna amanat yang 'HARUS' kulakukan, .. ataukah .... perasaan_yang memang kurang mendalam ... ?

Elsie mengelengkan kepala seiring kerisauan yang makin tidak dimengertinya. Bagaimana perasaannya yang sebenarnya terhadap Sheldon?


*******



"Bagaimana? Apa kau merasa capek?" tanya Sheldon, begitu dia dan Elsie sudah berada di lapangan parkir Lotte World.

Elsie mengangguk pendek, namun dia tidak mengatakan apa-apa.

"Sepertinya kau benar-benar capek ... " Sheldon berkata dengan prihatin. "Kita makan malam di restoran dekat Han's Palace saja,ya? Setelah itu, saya akan mengantarmu pulang ... "

"Tidak usah!" ujar Elsie cepat. Ini untuk pertama kalinya dia mengeluarkan suara setelah keluar dari Lotte World duapuluh menit yang lalu.

"Kau tidak lapar?" tanya Sheldon heran.

Elsie mengeleng pelan. "Saya sangat capek. Biar saya makan di rumah saja. Kau tidak perlu mengantarku, Sheld. Saya bisa pulang sendiri. Lagipula, ... kau pasti sangat lelah juga. Dan, .. orangtuamu pasti sudah menunggu kepulanganmu .... "

Sheldon mengenyitkan alis ragu-ragu. "Kau yakin?" tanyanya begitu melihat Elsie membuka sabuk pengaman yang terpasang di tubuhnya.

Elsie mengangguk. "Sangat yakin .. ," katanya. Setelah tersenyum lemah pada Sheldon, dia membuka pintu dan melangkah keluar.  "Sampai ketemu, Sheld. Hati-hati di jalan ... "

Sheldon melongokkan kepalanya. Dia mengangkat tangan. Namun niatnya untuk membantah sudah tidak berguna lagi. Elsie sudah berjalan menjauhinya. Tanpa berpaling sekali, dan sedikitpun.

“Maafkan saya … ,” ujar Elsie lirih dari posisinya yang semakin menjauhi dari pandangan Sheldon.


*****




Mercy abu-abu tersebut berhenti dengan suara mendecit di jalan beraspal pada sore bergerimis itu.  Penumpang yang duduk di jok belakang sedikit terhentak ke depan. Kepalanya terangkat, dan alisnya berkerut ketika melihat perdebatan kecil yang mulai terjadi di jok depan akibat ‘kecelakaan’ kecil tadi.

"Ada apa?" tanya pria muda tersebut dengan nada tenang. Kejadian barusan sepertinya tidak memberikan dampak apa-apa terhadapnya.

Pria yang duduk di jok depan sebelah kemudi berpaling dengan cemas, sementara si supir memicingkan mata melawan gerimis untuk melihat apa sebenarnya yang menghalangi jalan mereka.

"Bapak tidak apa-apa?" tanya pria yang duduk di depan pada pria muda yang mengajukan pertanyaan pertama, yang ternyata tidak lain dan tidak bukan adalah Alden Song adanya.

"Sepertinya ... ada seseorang berdiri menghalangi jalan ... " Menjawab pertanyaan Alden, si supir berkata pelan-pelan dan tidak begitu yakin.  Pandangannya terus dipicingkan ke jalan di depannya. " ... dia .. mungkin seorang wanita, pak.  Menunduk di tengah gerimis ... "

Alden masih mengerutkan alisnya ketika memindahkan pandangan ke depan.

"Apa dia tidak apa-apa berdiri di tengah hujan seperti itu?" Pria di sebelah supir, Tuan Roger Song, mengeleng-gelengkan kepalanya.

Alden tidak memberi komentar terhadap pernyataan Tuan Song. Matanya terus menyorot ke depan. Di antara keremangan lampu jalanan, dia seperti menangkap sesuatu yang tidak asing dari wanita yang berdiri dengan kepala tertunduk sekitar satu setengah meter di depannya. Alden mengerutkan dahinya semakin dalam. Wanita tersebut sepertinya tenggelam seutuhnya dalam alam pikirannya sehingga bunyi decitan keras dari mobil yang direm secara mendadak seolah tidak berpengaruh sedikitpun terhadapnya.

"Bunyikan klakson, Pak Kim!" Tuan Song memberi perintah dengan tegas pada supir di sebelahnya.

"Iya, pak ... "

Klakson sudah hampir ditekan Pak Kim, namun terhenti mendadak oleh tekanan Alden di bangku yang didudukinya.

"Tunggu sebentar!" kata Alden dengan suara khasnya yang tenang dan dalam. "Tolong berikan payung padaku, Pak Song. Saya akan turun dan melihatnya sendiri ... "

Tuan Song menatap Alden heran. Terlihat jelas dia tidak begitu yakin dengan pendengarannya. "Maksud bapak?"

"Saya akan melihatnya sendiri!" Alden mengulangi dengan sikapnya yang tegas dan tidak mungkin dibantah.

"Tapi pak .... ," ujar Tuan Song ragu-ragu.

Alden membuka pintu di sebelahnya, lalu mengulurkan tangannya kearah Tuan Song. "Tuan Song ... "

Tuan Song menghela nafas. Dia tahu, apa yang akan dikatakan selanjutnya percuma saja. Alden terlalu keras untuk dibantah. Sekali saja dia mengeluarkan perintah_maka harus dilaksanakan dengan patuh. Tuan Song membungkuk lalu merogoh ke bawah kakinya, mengambil sebatang payung yang tergeletak di sana dan menyodorkannya pada Alden.

"Perlu saya temani, pak?"

"Tidak!"

Alden membuka payung di tangannya, kemudian melangkah keluar mobil. Gerimis yang sudah menjadi hujan deras, langsung menerpa kakinya yang terbungkus sepatu kulit mengkilap. Ujung celananya juga menjadi basah.

"Hati-hati, pak!" seru Tuan Song di antara riuhnya rintik-rintik hujan yang semakin deras.

Alden menoleh dari posisinya. Tersenyum pada Tuan Song.

"I am okay, Mr. Song ... "

Dengan tenang, Alden mulai melangkahkan kakinya. Menghampiri wanita yang masih betah berlama-lama dalam terpaan hujan, seolah tidak merasakan lagi suasana di sekelilingnya, … wanita itu berdiri dengan sepasang bahu menjuntai ke bawah. Alden menghentikan langkah di sebelah wanita itu, mengalihkan payung di tangannya secara perlahan, hingga menaungi wanita itu_dari hujan yang semakin lebat.

"Ternyata benar_ini kau--"

Merasa air yang menerpanya mendadak menghilang, wanita itu menengadah dan berpaling ke arah Alden.
 
"K ... au .... " Suara itu berujar dengan lirih.  Bibirnya yang pucat dan membiru terlihat bergetar, dengan gigi yang saling bergemelatuk menahan hawa dingin.

"Apa yang kau lakukan?!" tegur Alden dengan suaranya yang mendadak berubah keras. Jidatnya berkenyit sangat dalam begitu pandangannya menyusuri sekujur tubuh yang basah kuyup itu.  "Apa kau sudah gila? Tidak tahu kalau keluyuran di tengah hujan begini akan membuatmu sakit?!"

Wanita, yang ternyata Elsie Han itu memejamkan mata, mengalihkan wajahnya dari tatapan Alden. Kepalanya tertunduk kembali.

"Bukan … urusanmu ... " Elsie mengigit bibir. Tubuhnya mengigil hebat, dia merasa kedinginan. Namun semua tidak diperhatikannya, .. sepertinya_saat itu, dia tidak ingin memikirkan apa-apa lagi.

"Kuantar kau pulang!" Tanpa memperdulikan ucapan rada judes dari Elsie, Alden menyambar tangan gadis itu. Menariknya dengan agak keras, memaksanya untuk beranjak dari tempat itu.

“Jangan perdulikan aku … “ Dengan sisa-sisa tenaganya, Elsie mengibaskan tangan Alden. Matanya hampir meredup ketika melanjutkan dengan nada lirih yang hampir tak terdengar. “Pergilah … “

Alden menyipitkan mata perlahan. “Terjadi sesuatu?”

“Ya, benar .. “ Elsie tersenyum kecut. “Benar katamu—Apa yang kulakukan ini bodoh! Bodoh sekali untuk tidak mendengar nasehat yang sudah tahu benar … “

“Keluarga Sheld?” tebak Alden pelan-pelan.

Elsie menghela nafas. Matanya menatap kosong pinggir jalan yang sedikit terendam air. “Kau pasti sedang menertawakanku sekarang. Sudah dinasehati tapi tidak mau mendengar. Malah mencaci-maki mu waktu itu ..”

Untuk beberapa detik, Alden menatap lekat wajah Elsie yang sedikit tertunduk. Mata elangnya tidak berkedip, tapi mengisyaratkan sesuatu yang sulit untuk ditafsirkan. Entah apa yang dipikirkannya, mungkin tidak pernah ada yang tahu. Sampai Alden mengerakkan tangannya kembali, mengenggam erat pergelangan tangan Elsie.

“Pulang sekarang juga! Kau bisa sakit bila berlama-lama terus di sini. DALAM KEADAAN SEPERTI INI!!”

“Tidak!!!!” Elsie hampir menjerit di tengah gemuruhnya hujan sore hari itu. Suara yang kering, tubuh yang lemah dan tak bertenaga_tidak menjadikannya kehilangan tenaga untuk melawan Alden. Sepertinya, … dia benar-benar enggan untuk pulang saat itu. “Saya tidak ingin pulang. TIDAK!!” Elsie mengeleng keras-keras. “Untuk saat ini, saya tidak ingin pulang! Jangan memaksaku! Saya mohon!!”

Alden kembali menyipitkan matanya. Terlihat jelas dia tidak begitu setuju dengan keinginan Elsie. Namun dia tidak mengeluarkan suara. Dengan setia, dia menanti_sampai Elsie berhasil mengatur pernafasannya yang memburu.

“Saya tidak sanggup … bertemu Sheld .. “ Elsie mengelengkan kepalanya lagi. “Tidak!! Yang benar, saya tidak ingin bertemu dengannya untuk saat ini … “

“Lalu ... , Apa maumu?”

Elsie menutup wajah dengan sepasang tangannya. Kepalanya kembali digeleng-gelengkan. Suaranya terdengar serak ketika berseru, “Saya tidak tahu!! Yang jelas—bukan Han’s Palace, ataupun .. tempat-tempat yang mungkin dapat ditemukan Sheld. Saya butuh waktu untuk menenangkan diri …”

Alden mengangguk, seolah mengerti arah mana pembicaraan Elsie. Dia melangkah setapak, hingga berdiri di sebelah Elsie. Tangan yang memegang payung dipindahkannya ke samping_sampai menaungi kepala gadis itu dari terpaan hujan. Alden lalu memutar tubuh dan melangkahkan kakinya.

“Ikut denganku!”

“Eh?!” Elsie yang sudah dibuat mengangga oleh perhatian pria ini, melebarkan matanya. “Ke .. kemana?”

“Ikut saja!” jawab Alden tenang sambil terus melangkah dan tanpa berpaling sedikitpun. Mau tidak mau, walau dengan tanda tanya besar di kepalanya, Elsie melangkah dengan agak terseret_mengikuti gerak kaki panjang dari Alden.


******



Mercy abu-abu yang sekarang sudah bertambah satu penumpangnya itu meluncur dengan tenang melewati pintu gerbang otomatis yang terbuka secara perlahan-lahan. Sebuah halaman yang luas dan panjang langsung menyapa mereka. Elsie melebarkan matanya. Halaman depan ini lebih luas dari Han’s Palace yang selama ini ditinggalinya. Beraneka ragam pohon dan bunga_tumbuh di situ. Juga tetumbuhan yang terpangkas rapi_seakan ikut menyemarakan tempat itu.

Jalan setapak yang agak berkelok, yang sekarang mereka telusuri dengan mobil_juga terlihat agak lain menurut penglihatan Elsie. Kerikil-kerikil kecil yang melapisi jalan tersebut di kiri kanan, berwarna putih kapur_memantulkan sinar lampu sore yang sudah remang-remang sehingga menimbulkan nuansa yang agak magic bagi Elsie. Begitu menentramkan.

Hingga mobil tersebut memperlambat lajunya di serambi sebuah rumah yang teramat megah, dan perlahan-lahan masuk .. kemudian berhenti di depan pintu masuk utama.

Pak Kim, orang yang mengendarai mobil, keluar dari mobil dan terburu-buru membukakan pintu di sebelah Alden.

Sebelum Alden melangkah keluar ….

“Di … sini .. ?” terdengar pertanyaan ragu-ragu dari sebelahnya.

Alden menoleh. Dilihatnya, Elsie menatapnya bingung dibalik balutan selimut wol tebal yang diberikannya beberapa waktu lalu.

Alden menganggukan kepalanya, “Iya .. “ kemudian, dia menjatuhkan sepasang kakinya ke lantai, bersiap beranjak dari mobil itu.

“Ta .. tapi, … tempat apa ini?”

Alden tidak menjawab. Setelah berada di luar, dia menengok ke dalam dan melambaikan tangannya pada Elsie.

“keluarlah!”

Elsie memanyunkan bibirnya. Mau tidak mau, dia melangkah keluar—setelah dilihatnya, Tuan Song yang duduk di depan Alden, juga sudah berada di luar sekarang.

Elsie bermaksud menutup pintu, namun didahului oleh Alden. Elsie mendongak_berniat mengatakan sesuatu, .. namun, lagi-lagi kalah cepat oleh seseorang yang berseru dengan hormat dari depan rumah.

“Selamat sore, Tuan muda!” Seorang wanita setengah baya, dengan kulit yang sudah keriput namun terlihat bersahaja, tersenyum cerah.

“Tuan muda???” Elsie menatap Alden. Tidak mengerti.

Tapi yang ditatap, malah berbalik dari Tuan Song kepada wanita itu. “Bi So, … tolong antar nona ini untuk bersih-bersih … “ Perintah Alden pada wanita tengah baya itu.

Wanita yang dipanggil Bibi So_agak melebarkan matanya. Sepertinya, perintah tersebut terdengar agak aneh baginya. Namun begitu, setelah berpikir selama beberapa detik, dia tersenyum. Setelah berhasil menangkap, bahwa apa yang disuruh Alden itu benar dan dia tidak salah dengar, Bibi So membungkuk dengan hormat.

“Baik, Tuan muda … “ Bibi So mempersilahkan Elsie_dengan cara mengerakan tangannya ke dalam rumah yang pintunya sudah terpentang lebar. “Silahkan, nona. Sebelah sini .. “

“Eh—“ Elsie melirik Alden bingung. Namun pria itu telah mengalihkan perhatiannya pada Tuan Song.

Begitu merasa tidak direspon oleh Alden, Elsie PUN melangkahkan kakinya_mengikuti Bibi So yang telah masuk lebih dulu. Bibirnya tak hentinya mengerutu, kesal. Samar-samar, Elsie mendengar pembicaraan di belakangnya.

“Tuan Song … “ Panggilan Alden seperti pertanyaan yang tidak perlu diutarakan langsung, karna Tuan Song akan mengerti.

Sesaat kemudian, terdengar jawaban dari Tuan Song. “Setelah menyelesaikan urusan yang sedikit terbengkalai hari ini, saya akan pulang, pak .. “

Elsie menoleh sedikit lewat pundaknya. Dia melihat Alden mengangguk pada Tuan Song. Pria itu lalu ikut masuk ke dalam rumah, beberapa langkah di belakangnya, berbelok kearah berlawanan dengan arahnya. Berjalan dengan tenang menaiki tangga berputar yang mengarah ke atas. Namun sampai di tangga pertengahan, dia berhenti.

Sementara, Tuan Song tetap berada di ruang depan. Menjatuhkan dirinya di atas sofa, mengeluarkan beberapa berkas dari dalam tas, kemudian menekuninya.

Alden memutar tubuh hingga menghadap kearah Elsie—yang memalingkan wajah dengan cepat_agar tidak terlihat pria itu, kalau dia sedang mengamati setiap gerak-geriknya—dan Bibi So.

“BI … “ Suara Alden terdengar keras namun ragu-ragu.

Bibi So menghentikan langkahnya dan mendongak kearah Alden. “Ya, tuan muda?”

“Kau … “ Alden berhenti beberapa detik.

Elsie mengejapkan mata sekali_memasang kuping agar bisa mendengar dengan jelas. Aneh rasanya dia jadi ingin tahu apa yang akan dikatakan pria itu selanjutnya.

“ …. boleh ambil pakaian di kamar paling ujung …. “

“Kamar paling ujung?” Bibi So mengulangi kata-kata itu, .. seolah apa yang didengarnya terdengar sangat ganjil dan tidak mungkin diucapkan seorang Alden Song. “Maksud tuan muda_kamar … “

“Ya, kamar yang itu!!” sahut Alden tegas. “Setelah itu, bawa dia ke ruang makan untuk makan malam bersama.”

“OH—“ Bibi So manggut-manggut layaknya orang linglung. Namun hanya sesaat dia seperti itu. Pada detik kesepuluh, dia sudah berpaling pada Elsie yang berdiri di sebelahnya. “Sebelah sini, nona .. “

Panggilan dari Bibi So membuat Elsie tersadar dari lamunannya.

“Ya?”

Bibi So tersenyum. “Kamar mandinya ada di dalam .. ,” kata Bibi So sambil menunjuk sebuah ruangan berpintu putih, beberapa jengkal di depannya. “Nona masuklah ke dalam. Segala keperluannya sudah tersedia di situ. Sekarang, saya akan ke atas dan membawakan pakaian ganti buat nona …”

Elsie tersenyum risih begitu melihat sinar mata lembut dari Bibi So menyelusuri wajahnya. “Te .. terimakasih, bi .. “

“Nona yang pertama kali … ,” ujar Bibi So tiba-tiba.

“Apa?” tanya Elsie bingung. “Maksud bibi?”

“Wanita yang pertama kali dibawa tuan muda ke rumah ini .. “

“HAHH?!!”

Bibi So kembali memperlihatkan senyumnya yang hangat dan menenangkan. “Nona cepatlah membersihkan diri. Saya lihat, pakaian nona basah semua. Pasti kehujanan di luar, ya? Kalau tidak segera diganti, nanti bisa jatuh sakit. Setelah selesai, nona dapat mengabungkan diri bersama tuan muda di ruang makan … Ini sudah hampir jam makan malam … “

Bibi So bermaksud memutar tubuhnya, namun terhenti oleh seruan Elsie yang tiba-tiba.

“BI!!”

Bibi So memalingkan wajahnya kembali pada Elsie. “Ya, nona? Ada perintah lain?”

Elsie melayangkan pandangan ke seluruh sudut ruangan. “Tempat ini … Tempat apa ini?”

Bibi So tersenyum lembut. “Tentu saja rumah tuan muda, nona … “

“RUMAH ALDDD?!!!” Elsie berteriak. Walau jauh di lubuk hatinya, dia seolah sudah dapat menebak jawaban itu, namun tetap saja reaksi tak terkira, begitu mendengar jawaban_langsung dari bibir Bibi So, terlontar begitu saja. “Jadi, … dia bukan … “ Elsie mengeleng putus asa. Dia menghela nafas, kemudian mengelengkan kepalanya lagi.

“Bukan apa, nona?” Bibi So terlihat kebingungan dengan tingkah Elsie. “Apa yang nona maksudkan?”

Elsie mengeleng kembali. “Tidak! Tidak apa-apa, bi. Saya … saya akan membersihkan diri sekarang … “

Terburu-buru, namun dengan langkah yang agak gontai, Elsie membuka pintu kamar mandi di belakangnya kemudian masuk ke dalam. Sebentar saja, pintu itu ditutup olehnya. Menyembunyikan diri, walau hanya untuk sesaat, dari Bibi So, sangat diperlukannya sekarang.

Dia perlu waktu berpikir. Yah—semua kejadian ini, begitu mendadak baginya. Sulit untuk dicerna otaknya sekaligus. Alden Song pemilik rumah yang besarnya melebihi Han’s Palace, … dan seperti istana ini? … Siapa sebenarnya pria itu?


*****TBC*****
« Last Edit: November 21, 2011, 08:11:53 pm by Be my self »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
makasih mami updatenya  [flowers] [lovestruck]
Elsie sedih karna merasa bersalah terhadap Sheldon karna dia memanfaatkan perhatian sheldon walau pun sheldon sendiri tidak keberatan  [bored] tapi.. Elsie mulai sadar kalau itu tidak adil buat Sheldon [heh] apa Elsie akan membuka hatinya  memeberi kesempatan buat Sheldon  [what] , sedikit demi sedikit jadi diri Alden mulai terbuka kalau selama ini Elsie yang beranggapan kalau Alden menurutnya hanya pengikut Sheldon ternyata SALAH besar  [smiley-dance013] apa keluarga Alden lebih kaya dari keluarga Sheldon  [chin] makanya ommanya Sheldon dulu mau mengajak bekerja sama dengan Alden  whistling Elsie wanita pertama yang di ajak kerumah Istana nya Alden  [dry] kayanya Alden ada perhatian lebih sama Elsie  [hug]

Offline vhia_minsuners

  • Full
  • ***
  • Posts: 411
  • saranghae MinSun.... saranghae Joondi...
    • View Profile
sheldon,,,,,, aku tetap padamu....!!  [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]
sheldon udah ngungkapin perasaannya cintanya ma els..... tapi els.... huuuuuuuuuuuuuu.............


MH tetap Sheld...............!!!!
[/size]
« Last Edit: November 21, 2011, 10:05:47 pm by vhia_minsuners »


kissing you baby... muaaaccchhh ^^

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
ALDEN lebih tajir ye mam, whoahhhhhhhh mana Elsi termasuk cewe pertama yg dibawa pulang kerumah???? [chin] hmmm sesuatu banget sichhh [hmpfh]

Sheldon menyatakan cintanya pada Els dan dia tahu benar alasan Els menerima cintanya. Sheldon sangat memahami Els dan tidak memaksanya dan itu yang gw suka dari Sheldon. sheldonnnnnnnn [huglove] terus berjuang untuk mendapatkan cinta Els.

Els , sepertinya dirinya juga merasa menyesal telah "mempermainkan "perasaan Sheldon yg ternyata sangat tulus mencintainya bahkan Sheld rela kehilangan semuanya demi Els. Els Els Els, malah maen hujan2an  [nono] nanti sakit nenk seperti kata bang Ald [hmpfh]



Selama beberapa lama, kedua insan itu saling bertatapan. Seolah berusaha memahami atau menyelami apa yang ada dalam hati masing-masing. Sampai akhirnya … Elsie mengangguk pelan.


ane pikir mau ada  kissu kissu mam [hmpfh]



SHELD cintamu sungguh tak tercela and i'm gonna choose you SHELD [cheekkiss], tp ALD boleh juga sich secara tajir habissss #plakkkkkkk tapi ane tetep milih SHELD coz I'M SHELDONERZ [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Mawar Jingga

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
    • View Profile
Bener kaaannnn....Kayanya ALden dah mulai ada rasa ke Els...I THOUGHT SOOOOO....Pasti Alden diem2 suka juga ama Els. MAlah gue rasa Alden ntar yang bakalan ama Els...*mudah2an*....hehehe...abis kayanya Alden lebih dewasa, dan perhatian...Alden ternyata diam2 tajir....Orang tuanya ke mana neh? Dia tinggal sndirian yah di rumah???

Sebenernya perasaan Els ke Sheldon seperti apa sih? Apa dia kasian aja ama Sheldon, atau dia mau karena gak mau posisinya di Han's tersisih?? kasian juga ya dia...sepertinya dia punya ambisi terlalu tinggi....

DItunggu lagi Luph updetannya....

Trims yaaaa.... [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Bener kaaannnn....Kayanya ALden dah mulai ada rasa ke Els...I THOUGHT SOOOOO....Pasti Alden diem2 suka juga ama Els. MAlah gue rasa Alden ntar yang bakalan ama Els...*mudah2an*....hehehe...abis kayanya Alden lebih dewasa, dan perhatian...Alden ternyata diam2 tajir....Orang tuanya ke mana neh? Dia tinggal sndirian yah di rumah???

Sebenernya perasaan Els ke Sheldon seperti apa sih? Apa dia kasian aja ama Sheldon, atau dia mau karena gak mau posisinya di Han's tersisih?? kasian juga ya dia...sepertinya dia punya ambisi terlalu tinggi....

DItunggu lagi Luph updetannya....

Trims yaaaa.... [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]
gw ga bisa blg klu alden udah ada rasa ke elsie, klu perhatian sbg teman sih iya, soalnya si elsie pan cewek yg dicintai ama sahabat karibnya [biggrin] [biggrin]
alden ntar yg bakalan sama elsie [chin] [chin] kenapa elu berpikiran bgt [what] hm--sepertinya, elu lbh suka alden ya [biggrin] emang sih alden lebih dewasa dari sheldon. ini mah udah pasti [goodgrief] sheldon kadang2 ga bisa ngontrol emosinya, berlainan ama alden yg pembawaannya selalu tenang dan menghanyutkan [hmpfh] [hmpfh]
alden tajir--emberrrrr [hmpfh] [hmpfh] kira2 orgtuanya kemana ya? bakal ketahuan di next chp, dear hehe

sebenarnya, perasaan elsie ke sheldon tuh bukan karna kasian, tp terlebih  utk memanfaatkan kelebihannya sbg penerus Han's Group. lagipula, bukankah Sheldon sendiri yg mengajukan jasa itu? jadi elsie rasa, ga ada salahnya jika dia menerimanya [heh] [heh] tp sekarang, terus-terang aja dia merasa menyesal. dia tidak menyangka ternyt sheldon sgt serius dan sangat mencintainya [cry] [cry]

elsie emang punya ambisi yg tinggi terhdp kekayaan Han, namun sayang--semua tdk didukung oleh kemampuannya. dia merasa mengetahui apa yg diinginkannya, tp sebenarnya tidak [sweat] [sweat]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
ALDEN lebih tajir ye mam, whoahhhhhhhh mana Elsi termasuk cewe pertama yg dibawa pulang kerumah???? [chin] hmmm sesuatu banget sichhh [hmpfh]

Sheldon menyatakan cintanya pada Els dan dia tahu benar alasan Els menerima cintanya. Sheldon sangat memahami Els dan tidak memaksanya dan itu yang gw suka dari Sheldon. sheldonnnnnnnn [huglove] terus berjuang untuk mendapatkan cinta Els.

Els , sepertinya dirinya juga merasa menyesal telah "mempermainkan "perasaan Sheldon yg ternyata sangat tulus mencintainya bahkan Sheld rela kehilangan semuanya demi Els. Els Els Els, malah maen hujan2an  [nono] nanti sakit nenk seperti kata bang Ald [hmpfh]



Selama beberapa lama, kedua insan itu saling bertatapan. Seolah berusaha memahami atau menyelami apa yang ada dalam hati masing-masing. Sampai akhirnya … Elsie mengangguk pelan.


ane pikir mau ada  kissu kissu mam [hmpfh]



SHELD cintamu sungguh tak tercela and i'm gonna choose you SHELD [cheekkiss], tp ALD boleh juga sich secara tajir habissss #plakkkkkkk tapi ane tetep milih SHELD coz I'M SHELDONERZ [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
emang alden lbh tajir dr sheldon kok [hmpfh] [hmpfh] ayo ayo alden, berjuang tuk dptin elsie [hmff] [hmff]

tidak usah diragukan cinta sheldon terhdp elsie. dia rela menukar apa saja yg dimilikinya utk mendptkan cinta dari wanita yg sudah dicintainya sejak kecil itu [lovestruck] [lovestruck]

jgn berharap mudah mendptkan moment kiss di ff ini [nono] [nono] ga gampang, jeng. authornya pan masih lugu [hmpfh] [hmpfh]

elu milih sheldon [chin] [chin] hati2 loh, tar kirain dpt orange eh ternyt jeruk nipis [laughing] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
sheldon,,,,,, aku tetap padamu....!!  [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]
sheldon udah ngungkapin perasaannya cintanya ma els..... tapi els.... huuuuuuuuuuuuuu.............


MH tetap Sheld...............!!!!
[/size]
maksa banget [chin] [chin] elu yakin nih si mh tuh sheld? ati2 salah pilih loh [hmpfh] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
makasih mami updatenya  [flowers] [lovestruck]
Elsie sedih karna merasa bersalah terhadap Sheldon karna dia memanfaatkan perhatian sheldon walau pun sheldon sendiri tidak keberatan  [bored] tapi.. Elsie mulai sadar kalau itu tidak adil buat Sheldon [heh] apa Elsie akan membuka hatinya  memeberi kesempatan buat Sheldon  [what] , sedikit demi sedikit jadi diri Alden mulai terbuka kalau selama ini Elsie yang beranggapan kalau Alden menurutnya hanya pengikut Sheldon ternyata SALAH besar  [smiley-dance013] apa keluarga Alden lebih kaya dari keluarga Sheldon  [chin] makanya ommanya Sheldon dulu mau mengajak bekerja sama dengan Alden  whistling Elsie wanita pertama yang di ajak kerumah Istana nya Alden  [dry] kayanya Alden ada perhatian lebih sama Elsie  [hug]
yah, seperti yg elu katakan, elsie mulai merasa bersalah pd sheldon. dia merasa segalanya tidak adil bagi laki2 itu, .. smentara sheldon bersedia mengorbankan segalanya demi dia, yg dpikirkannya malah jalan tuk mendptkan kekayaan Han kembali [sweat]
keluarga alden emang lbh kaya dari sheldon kok [biggrin] [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

iiuuu

  • Guest
mami... cinta cinta n makin cinta ama alden lol

yg jd mh tuh alden pan ya mi?? ia dong..@maksa.com..
mam.. votenya kok cuman sekali, pengen berkali2 lol

eh, mam kamar sapa itu? apa kamar rahasia ya?kamar yg diomongin alden..

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
mami... cinta cinta n makin cinta ama alden lol

yg jd mh tuh alden pan ya mi?? ia dong..@maksa.com..
mam.. votenya kok cuman sekali, pengen berkali2 lol

eh, mam kamar sapa itu? apa kamar rahasia ya?kamar yg diomongin alden..
sepertinya pengemar alden makin bertambah nih #sesuai perkiraan gw [hmpfh] [hmpfh]
kamar yg mana ya [what] kok gw ga nangkep maksud elu [sweat] [sweat] klu kamar yg dimasuki elsie tuh_kamar mandi, say [laughing] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
SPOILER ...




"Nona .... " Bibi So membungkuk dan tersenyum ramah.

"Bibi ... menungguku ... ?" tanya Elsie heran.

"Saya takut nona akan tersesat di sini. Rumah ini terlalu besar buat orang yang untuk pertama kali menginjakan kaki di sini, seperti nona ... ," jelas Bibi So panjang lebar. "Lagipula, .. saya berkewajiban mengantar nona ke ruang makan. Sebentar lagi, acara makan malam akan dimulai. Tuan muda pasti sudah siap di sana ... " Bibi So menelusuri penampilan Elsie dengan pandangannya. "Hm--tidak disangka ..  gaun yang sudah limabelas tahun ini begitu pas di tubuh nona. Tuan muda benar-benar jeli matanya, .. hingga bisa menduga ukuran tubuh nona sama dengannya. Yah, walau sedikit ketinggalan jaman tapi ... nona tetap terliat mempesona dalam balutan gaun nyonya ... "

Setelah berkata begitu, Bibi So sudah bermaksud beranjak dari tempatnya. Namun, langkahnya terhenti oleh perkataan Elsie yang lebih mirip gumaman pertanyaan.

"Nyonya?"

Bibi So menoleh dari posisinya. Dia tersenyum. "Ibu dari tuan muda ... "

"O--" Elsie manggut-manggut di tempatnya. Tanpa sadar, dia tersenyum dan mengeleng-gelengkan kepalanya. Ternyata dia telah sangka, .. bagaimana mungkin dia mengira, nyonya yang dimaksud Bibi So itu istri dari Alden Song?





Sepeninggal Bibi So, ....

"Makanlah ... "

Setelah mengatakan itu, Alden mengambil sendok dari atas meja di samping mangkuknya_menyendok sesuap demi sesuap sup di dalam mangkuk dan memasukannya ke dalam mulut dengan sangat pelan.

Elsie melihat semua itu, ... pria di depannya tidak bersuara, khusuk dengan makan malamnya.

Alden mengangkat mangkuk nasinya,  menyumpit dengan pelan-pelan dan membawa butiran-butiran nasi putih tersebut ke dalam mulutnya. Dia mengunyah dengan tenang dan dengan gayanya yang tanpa cacat. Dia terlihat sangat berwibawa saat makan, .. sungguh merupakan contoh dari anak orang kaya yang terdidik dengan baik. Tangannya silih berganti menyumpit lauk yang diinginkan, memakannya dengan tanpa memperlihatkan bahwa dia makan karna 'lapar', tapi terlebih karna ini merupakan 'kewajiban'.

Sudah lewat tujuh menit ketika Elsie menghela nafas dan mulai menyantap makan malamnya. Percuma mengatakan apa juga, orang ini--sepertinya terbiasa makan tanpa bersuara--HUH!! Berpikir begitu, Elsie melahap makanannya dengan sedikit kesal.




Mata Elsie menyipit, menghujam lekat wajah Alden yang sekarang sedang melanjutkan makan malamnya. Pria itu bergerak tenang, seolah insiden kecil tadi,_tidak pernah terjadi dan sama sekali tidak berpengaruh terhadap dirinya.

Dia begitu tenang, ... begitu percaya diri. Seolah segala sesuatu ... berada dalam genggaman tangannya, ... berada dalam kendali dan kuasanya. Tidak akan meleset dari perhitungannya. Apa yang dilakukannya, ... apa yang sudah diputuskannya, ... dan apa yang dipikirkannya, benar adanya. Tidak ada yang salah dalam tindakannya. Dia tahu apa yang 'harus' dan 'pantas' dilakukan. Maupun apa yang 'tidak boleh' dan mesti 'dihindarinya'.

Tatapan Elsie meredup. Orang seperti dia, .. begitu jauh ... begitu tinggi, ... seolah tidak teraih. Sudah pasti dia tidak suka wanita seperti aku.  Dia pasti berpikir, aku ini begitu rendah, begitu tidak berguna, ... tidak berpendirian, ... tidak tahu apa yang dilakukan. Elsie menghela nafas dan menundukan kepalanya. Kenapa, ... kenapa aku merasa begitu kecil di hadapannya ... ? Dan kenapa .... hatiku ... terasa ... nyeri ... ? Berpikir sampai di sini, entah mengapa, bibir Elsie jadi terkelu.




Elsie menunjuk ke depan, ke lukisan di depannya. "Dia ... ?"

Alis Bibi So berkenyit semakin dalam. "Sudah saya bilang kan? Lukisan itu tuan muda .. "

"Bukan itu maksudku!" tukas Elsie yang tiba-tiba berubah keras. "Maksudku, siapa sebenarnya dia? Dari keluarga mana? Bagaimana reputasi dan kedudukannya di London ini?"

Bibi So sedikit menyusut begitu diberondong pertanyaan beruntun dari Elsie. Dia agak gentar ketika menjawab lambat-lambat. "Dia .. tuan muda Alden Song. Tentu saja pewaris dan pemilik tunggal dari Tax-Jack, perusahaan migas terbesar yang berpusat di Brunai ... "

Elsie terhenyak sampai ujung kakinya menyentuh kaki sofa.  "Alden Song! Alden Song!" Bibirnya komat-kamit mengulangi nama itu.




Sheldon menghempaskan majalah di tangannya ke atas meja kecil di café kecil yang sedang dikunjunginya dengan Alden siang itu.

"Coba kau bilang--dia bisa kemana?!" umpatnya keras. "Di Han's Palace_tidak ada! Tidak juga ke kantor! Bahkan tempat yang mungkin didatanginya, sudah kudatangi, tapi tetap saja tidak kutemukan-HUHH!!”

Alden yang duduk di depan Sheldon memperhatikan kejengkelan sahabatnya yang membuncah itu dalam diam. Cangkir kopi yang sudah habis diminumnya diletakkannya di atas meja kemudian meraih sepotong cookies dan mengigitnya pelan.

“Menurutmu, apa dia marah padaku?” tanya Sheldon yang berubah jadi khawatir. “Memang benar sih mama sudah keterlaluan, tapi kan .. saya sudah menjanjikan padanya bahwa semua akan baik-baik saja … “ Sheldon mengacak-ngacak rambutnya frustasi. “Kenapa dia masih takut dan meragukan semua itu? Meninggalkanku? OH__TIDAKKK!!”

BRAKKKK!!

Sheldon mengebrak meja. Tubuh jangkungnya berdiri tegak dari kursi dengan sepasang mata terbelalak menakutkan.

“Bisakah kau lebih tenang dulu?” Untuk pertamakalinya, Alden mengeluarkan suaranya.

“Bagaimana saya bisa tenang?!” balas Sheldon dengan nafasnya yang memburu. “Dia meninggalkanku!!! Kau dengar itu?!! DIA MENINGGALKANKU!!!!”


« Last Edit: November 27, 2011, 12:37:24 am by Be my self »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline hye sun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1252
    • View Profile
Re: I See The Light, .. Maybe?? #SPOILER# 27 Nov' 11
« Reply #207 on: November 27, 2011, 02:43:06 am »
Quote
Sheldon mengebrak meja. Tubuh jangkungnya berdiri tegak dari kursi dengan sepasang mata terbelalak menakutkan.

INI LEE MIN HO BANGETTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT

SHELDONNNNNNN FIGHTING, BABY  [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]



[lovestruck] [lovestruck] Couples who love each other tell each other a thousand things without talking [lovestruck] [lovestruck]

iiuuu

  • Guest
Re: I See The Light, .. Maybe?? #SPOILER# 27 Nov' 11
« Reply #208 on: November 27, 2011, 04:41:23 am »
mami... cinta cinta n makin cinta ama alden lol

yg jd mh tuh alden pan ya mi?? ia dong..@maksa.com..
mam.. votenya kok cuman sekali, pengen berkali2 lol

eh, mam kamar sapa itu? apa kamar rahasia ya?kamar yg diomongin alden..
sepertinya pengemar alden makin bertambah nih #sesuai perkiraan gw [hmpfh] [hmpfh]
kamar yg mana ya [what] kok gw ga nangkep maksud elu [sweat] [sweat] klu kamar yg dimasuki elsie tuh_kamar mandi, say [laughing] [laughing]

ane uda cnta ama alden dr dulu kali mam lol..
maksudnya.. kamar yg bibi so dsuruh ambil baju buat els.. ternyata kamar ommanya...

kalo sheld mh gpp de mam.. ane aje yg dpt ald..hmpf

alden agak2 mirip ama guru q.. mam.. update guru ku doong..

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
Re: I See The Light, .. Maybe?? #SPOILER# 27 Nov' 11
« Reply #209 on: November 27, 2011, 04:52:47 am »
pilihannku masih tetap pada Alden Song  [lovestruck] dia tenang tidak mengungkit masalah pribadi orang kalau orang itu sendiri tidak ingin membahasnya  [lovestruck]