Author Topic: *When a Gay met a Young Mom (in love again)* ~chp 22 (ending), 22 Jan'2011  (Read 97568 times)

Offline neiya

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1006
  • Location: depoook
    • View Profile
Aku dataaaaangg !!!!

Chapt apa ini?? Kok begini?? Apa apaan itu si hye sun kabur tanpa penjelasan dari mino duluuu???? Haaahh ??? Mana kangsan di bentak bentak lagi T_T

Tapi gapapa.. Hye sun kabur berarti kasih aku kesempatan biar cincin yang dibeli mino buat akuuu... ^^

Tak bisaaaa.. Jari jarikuu terimaa dua cincin dari hatimuuu.. Dari cintamuuu..u...uuu.. :p

APA?? UPDATENYA SEMINGGU LAGI?? LONG CHAPT?? HAAH BONUS MVERS??? Makasih loh mii :p


Hoho..kaboooooooorr diketek minoooo !!!!

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Aku dataaaaangg !!!!

Chapt apa ini?? Kok begini?? Apa apaan itu si hye sun kabur tanpa penjelasan dari mino duluuu???? Haaahh ??? Mana kangsan di bentak bentak lagi T_T

Tapi gapapa.. Hye sun kabur berarti kasih aku kesempatan biar cincin yang dibeli mino buat akuuu... ^^

Tak bisaaaa.. Jari jarikuu terimaa dua cincin dari hatimuuu.. Dari cintamuuu..u...uuu.. :p

APA?? UPDATENYA SEMINGGU LAGI?? LONG CHAPT?? HAAH BONUS MVERS??? Makasih loh mii :p


Hoho..kaboooooooorr diketek minoooo !!!!
[guns] [guns] [guns] mampus lu,, datang2 ngomong begituan [whip] [whip]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline liliona

  • Superintendent
  • Junior
  • *****
  • Posts: 123
  • ^^my lovely couple^^
    • View Profile
 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

mami,gomawo udh update  [cheekkiss] [cheekkiss] [cheekkiss]

ikutan nangis baca chapter ini  [cry] [cry] [cry]  kacian uri mino ditinggalin hye sun  [sweat] [sweat]

mg2 chapter selanjutnya mereka bisa baikan lagi mam  [lovestruck] [lovestruck]

mami masa tega bikin gw nangis lagi  kl chapter depan mereka blm baikan [hmpfh] [hmpfh]


                   ~~~minsun~~~
                   *forever in love*

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
kapan mi update bengkok bengkok [drool] [drool] [drool] [drool] [drool] [drool] [drool] [drool] [drool] [drool] [drool] [drool] [drool] [drool] [drool]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
kapan mi update bengkok bengkok [drool] [drool] [drool] [drool] [drool] [drool] [drool] [drool] [drool] [drool] [drool] [drool] [drool] [drool] [drool]
ga tahu,, gw usahain weekend ini ya? klu ga sabtu ya minggu [sweat]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Chainezz_Vian

  • Guest
Bnr ya mii?? Tak tunggu loh. Hoho .^^. 
     
Abis bengkok", update UL ato gk rath ya mam. . .   Ya? Ya?     

[smiley-gen013] [smiley-gen013]

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
serius mi klo ga sbtu minggu bkal update bnegkok???? [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]senenk euy dgrnyaa,,, niy c kariin yg ga mnepati jnji  [angry] [angry] mami dah mau update lgi msa dya luman jg.. payah ah,,, [biggrin] [biggrin] [biggrin] [biggrin]

lanjutkan mi,, aq dkung denga segenap jiwa n raga,,, [clap] [clap] [clap]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
yihaa asoy dah beneran ya mi weekend [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
waduh senangnya mami bentar lagi mo up date si bengkok [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] ku tunggu yo mam [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
tp di cahpt selanjutnya mino bakalan nyari hye sun kan mam?, trus hye sun maukan maafin mino, jangan kasih yg sedih2 [cry] [cry] ya mam.

hye sun dah hamidunkan mi?????, miane mi banyak nanya and banyak maunya [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile


mamiiiii tmabah penasaran ma niy ff gra2 semalem  [hmpfh] [hmpfh] anyway thx bgt ya mi  punk punk punk. pokoknya jangan lama2 mrka terpisahnya dong mi,, kasian mino tar balik kya dlu lg  [cry] [cry] [cry] dtunggu weekend ya mi  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile


mamiiiii tmabah penasaran ma niy ff gra2 semalem  [hmpfh] [hmpfh] anyway thx bgt ya mi  punk punk punk. pokoknya jangan lama2 mrka terpisahnya dong mi,, kasian mino tar balik kya dlu lg  [cry] [cry] [cry] dtunggu weekend ya mi  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
kak okman emang semalem ada apa??

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
mpiiirr,, ga ko c mami cm ksih spoler ja,, mknya tambah ngebet sama  niy bengkok  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

ayoooooooooooooooooo mamiiiiiiiiiiii UPDATEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
gw update ff ini sebentar lagi .. sekitar sepuluh menit, ok?

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
CHAPTER SIXTEEN

Song of The Day :


Additional Cast :

Inoue Mao as Maiko Katada


Kriing .. kriing .. kriing ..

Tut,, sebuah tangan terjulur menekan tombol speaker di telepon yang terletak di atas meja.

“Ya?”

“Pak direktur, pak presiden mengingatkan acara makan siang hari ini—sekitar pukul 1:15. Beliau akan sedikit terlambat. Rapat dengan Blue & Blues yang dilakukan sekarang akan diperpanjang selama duapuluh menit mendatang. Jadi pak presiden berharap bapak dapat menunggunya sebentar di restoran Hyatt .. “

“Araso .. “. _Pemilik tangan tersebut bermaksud meletakkan gagang telepon ketika suara wanita di seberang terdengar lagi.

“Pak direktur, ada lagi .. “

Alisnya berkenyit. “Ya, apa anda bisa memberikan laporan sekaligus Son Seo Jin-ssi?”

“Sosoengheyo, pak direktur .. ,” jawab wanita di ujung sana takut-takut. “Tuan Kang minta disambungkan ke nomor bapak setengah jam yang lalu .. “

“Mwo?!” orang yang dipanggil pak direktur tersebut berteriak memekakkan telinga. “Mengapa baru sekarang kamu memberitahuku?” tanyanya—marah.

“Sosoengheyo pak .. ,” suara di seberang semakin bergetar. “Ta .. tadi bapak sedang rapat dengan Glory Capital jadi .. jadi saya .. saya tidak bisa mengabari  bapak .. “

“Lalu mengapa tidak memberitahuku setelah rapat?” tanya pria tersebut tajam. “Kamu tahu saya sedang menunggu kabar darinya-kan?”

“Sosoengheyo .. ,” suara itu terdengar sangat pelan.

Pria itu menghembuskan nafasnya. “Sudahlah!” cecarnya. “Sekarang hubungkan saya dengan tuan Kang! SEGERA!”

“Ne, pak .. “

Plakk,, gagang telepon di tangannya ditekan dengan keras ke tempatnya semula. Tiga menit kemudian telepon itu berbunyi lagi.

Kriing .. kriinggg .. kringg …

“Ya? Tuan Kang?” sahutnya dengan segera.

“Ne, tuan Lee … ,” jawab suara seorang pria yang sangat khas—dalam dan bertenaga—dari ujung telepon.

“Bagaimana? Ada kabar?” tanya pria itu penuh harap. Dia terlihat gelisah. Berkali-kali tangannya memutar pulpen emas di tangannya—dari kanan ke kiri ataupun sebaliknya.

“Sosoengheyo, kami tidak mendapat kabar apa-apa tuan Lee. Kami sudah mengikuti jalur yang tepat. Seperti yang kita ketahui—sekitar satu tahun yang lalu, agashi meninggalkan Korea ke Jepang. Dan kabar terakhir yang kita dapat adalah catatan keluarnya dari rumah sakit Tokyo. Setelah itu beritanya tidak terdengar lagi. Bahkan sampai sekarangpun tidak didapat catatan keluarnya dari negara itu. Kami sudah mengeledah hampir seluruh kota dan desa di sana tapi kami tidak berhasil menemukan jejaknya.”

“Ne, araso .. ,” pria muda itu menghela nafas dan mengayunkan kursi kerjanya ke belakang. “Teruskan penyelidikanmu tuan Kang. Jika ada kabar, segera menghubungiku .. “

“Agashimida .. ”

Hubungan diputuskan. Pria itu meletakkan telepon ke tempatnya. Selama sepuluh menit ke depan dia tidak bergerak. Tangannya mengusap matanya yang terasa perih.


Kemudian kepalanya menengadah ke atas—bertumpu ke sandaran kursi kerjanya yang tinggi. Dia menghela nafas lagi. Diletakkannya pulpen yang dari tadi dimainkan di jemari tangannya ke atas meja kemudian dia berdiri dari kursi. Dengan langkah gontai dia berjalan ke arah pintu. Tak bersemangat dia membuka pintu itu dan melangkah ke luar.

Seorang wanita berpenampilan kaku dan berkacamata tebal segera berdiri dari tempatnya begitu melihat kemunculan majikannya yang mendadak. Dia membungkuk dengan hormat.

“Pak .. pak direktur .. “

“Saya keluar sekarang Seojin—ssi .. ,” kata pria muda itu pada sekretarisnya. “Tidak ada penambahan jadwal untuk hari ini. Sehabis makan siang dengan aboji, saya tidak akan kembali. Meeting-meeting buat siang dan sore ini dibatalkan saja .. “

Seojin mengangguk. “Agashimida, pak direktur .. “ diamatinya pria di hadapannya yang terlihat sedang memikirkan sesuatu itu. “A … apa pak direktur tidak enak badan?” tanyanya perlahan. “Perlu saya panggilkan dokter Kim?” Sikapnya yang semula takut-takut berubah khawatir.

Majikannya itu mengeleng dengan cepat. “Tidak! Kamu tidak perlu melakukan itu. Saya .. hanya ada urusan lain .. “ kemudian pria berpostur tinggi itu memutar badannya, menelusuri lorong besar yang beratap tinggi tersebut—menuju deretan lift yang berada di ujung lorong.

Begitu berada dalam lift yang kosong dia menyandar perlahan-lahan ke dinding lift di belakangnya. Kepalanya menengadah ke atas—menatap semu langit-langit lift yang terbuat dari aluminium dan kristal jernih yang memantulkan wajah dan posturnya yang sempurna.



Bayangan-bayangan masa lalu yang tidak pernah meninggalkan pikirannya selama setahun terakhir kembali terbayang dalam ingatannya—begitu jelas dan menyayat, seperti baru terjadi kemarin.


*************



Flashback …

Pada hari kepergian Hyesun … Minho berhadapan dengan Soeun yang sedang mengatur beberapa gaun di depan butiknya. Nafasnya terengah-engah. Alis Soeun berkerut. Tampang pemuda di hadapannya berantakan. Wajahnya yang keras terlihat sangat pucat. Sepasang matanya memerah, begitu juga cuping hidungnya yang besar dan mancung.

“Wegude Minho-ssi?” Soeun mendekati Minho dan menepuk lengannya buat menyadarkannya dari lamunan. Ya, pemuda ini masih dalam keadaan menerawang dan sepertinya sedang terguncang hebat.

Minho tersentak—mulutnya mengangga. Nafasnya terdengar masih memburu ketika menyahut Soeun. “Hye .. sun … Apa .. apa kamu melihat Hyesun? A … apa dia mendatangimu?”

Soeun mengeleng pelan-pelan—tidak mengerti. “Aniyo. Hyesun tidak mencariku hari ini.” Katanya, “Memangnya kenapa?”

“Ohh .. ,” tubuh Minho langsung oleng ke samping. Untung saja meja besar di sebelah mampu menahan tubuh jangkungnya sehingga tidak tersungkur ke lantai.

Soeun segera menarik tubuh Minho--berdiri kembali. "Gwencana, Minho-ssi?"

Minho mengeleng keras-keras. "Tidak! Saya tidak baik-baik saja." sahutnya sambil mengigit bibirnya. "Hyesun, ... dia ... dia pergi dariku. PERGI DARIKU ... "

"Mwo?!" mata Soeun terbelalak lebar. "Tapi .. tapi kenapa? Apa sebenarnya yang terjadi?"

Minho mengeleng lagi. Dia tidak mampu menjawab. Tubuhnya kembali oleng ke samping. Dengan susah payah dia bersandar ke sisi meja.

"Minho-ssi .. ," Soeun mendesah. "Anda kelihatannya sangat terguncang." katanya sambil mengamati Minho. "Saya rasa anda memerlukan minuman untuk menenangkan diri. Bagaimana dengan brandy?"

Minho tidak menjawab. Pandangannya tertuju ke lantai. Terlihat hampa dan tak bernyawa. Soeun menghela nafasnya--berat. Kelihatannya masalah ini sangat serius. Apa benar Hyesun pergi begitu saja? Ada masalah apa? Tapi apa membingungkan jika Hyesun melakukan itu? TIDAK,, jawabannya tentu saja TIDAK. Saya terlalu mengenalnya, kata Soeun dalam hati.

Kemudian dia memutar tubuh ke arah seorang pria gemulai yang sedang menata beberapa helai scarf di sudut ruangan. Melambaikan tangan dan berteriak kepadanya.

"Andrew, tuangkan dua gelas brandy dan bawa ke ruang kerjaku!!"

Andrew Kim--pria melambai itu--berbalik dan mengangkat tangannya. "Ne!"

Soeun mendekati Minho, kemudian memegang tangannya. "Kita masuk ke ruang kerjaku, Minho-ssi. Lebih enak berbicara di dalam .. "

Minho mengangkat wajah dan mengangguk perlahan. Soeun kemudian menuntunnya ke ruang kerjanya yang berada di lorong dalam butik tersebut. Mereka duduk berhadapan dalam ruangan yang cukup besar. Minho memperhatikan sekilas ruangan tersebut--tidak berubah dari kunjungannya yang pertama.

Beberapa menit kemudian pintu diketuk dari luar. Andrew Kim masuk dengan nampan yang berisi dua gelas brandy. Diletakkannya gelas-gelas tersebut di atas meja kerja Soeun yang terbuat dari kaca, kemudian dia keluar tanpa berkata apa-apa lagi.

Soeun berdeham perlahan sebelum mengeluarkan suaranya. "Sebaiknya diminum dulu brandy-nya, Minho-ssi .. "

Minho mengangguk pelan. Diraihnya gelas dari atas meja dan meneguk brandy tersebut sampai habis. Soeun memperhatikannya dengan pandangan menyelidik. Dia benar-benar tertekan .. , pikir Soeun.

"Ehmm--sekarang, bisa ceritakan apa sebenarnya yang terjadi?"

Minho meletakkan gelas di tangannya. Pandangannya tertumpu ke lantai marmer di bawah kakinya--terlihat hampa dan semu. Kakinya mengores-gores lantai keras itu. "Saya salah ... ," katanya--pelan.

"Ada apa?" kening Soeun berkerut semakin dalam.



"Dia .. dia pergi karena .. karena kesalahanku .. ," Minho mendesah.

"Maksudnya?" tanya Soeun. "Kamu melakukan sesuatu yang tidak bisa dimaafkan?"

Minho mengangkat wajah perlahan. Soeun sangat terkejut. Sepasang mata itu memerah dan mulai berair.

"Saya tidak bermaksud begitu ... SUNGGUH .. ," desis Minho. "Taruhan itu--bahkan saya sudah melupakannya ... "

"Taruhan? Taruhan apa?" tanya Soeun kebingungan.

"Taruhan menyingkirkannya dari rumah yang kami beli ... ," jawab Minho---putus asa.

"Mwo?!" mata Soeun terbelalak lebar.

Minho mengangguk lemah. "Iya. Taruhan rendahan itu." Dia mengigit bibir keras-keras. "Tapi .. sesungguhnya .. saya .. saya tidak bermaksud begitu. Saya tidak pernah menerima taruhan itu ... "

Soeun menghembuskan nafas sambil mengamati pemuda di hadapannya. "Kenapa kamu tidak menjelaskannya pada Hyesun?"

"Saya tidak punya kesempatan itu." kata Minho cepat. Di saat yang lain dia menundukkan kepalanya lagi. Kemudian dia mengeleng perlahan. "Dia tidak memberiku kesempatan. Dia .. dia pergi begitu saja hari ini--pagi-pagi sekali ... "

"O .. ," Soeun mengangguk dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Sepasang matanya meredup. Inilah Hyesun ... , desahnya dalam hati.

"Seharusnya saya tahu .... ," lanjut Minho lirih. "Seharusnya saya berhati-hati ... , sedikit saja kesalahan akan berakibat fatal. Hyesun, ... dia ... dia belum seutuhnya percaya padaku ... Dia .. dia masih menyimpan perasaan bimbang itu--saya tahu ... " Dia menengadah ke atas dan menghembuskan nafasnya keras-keras. "Ya, memang sulit menghimpun kekuatan untuk mempercayai seorang mantan gay kan?"

"Mwo?" Soeun tersentak dari tempatnya. "Gay? Anda?" dia menunjuk Minho dengan pandangan tak percaya.


Pemuda jangkung itu menoleh padanya. Mengamati ekspresinya yang luar biasa. Sesaat kemudian dia tersenyum kecut. "Kamu tidak tahu kenyataan ini, Soeun-ssi?"

Soeun mengeleng--sangat pelan. "A .. niyo .. "

"Dia tidak menceritakannya padamu?"

Soeun mengeleng lagi--lebih pelan dari tadi.

"Anda kaget?" Minho berkata dengan suara bergetar. "Anda pasti tidak percaya ya? Apalagi Hyesun .. "

Soeun langsung menegakkan badannya. "Tidak juga!" katanya cepat.

"Mwo?"

"Maksudku, aku percaya dengan ketulusanmu Minho-ssi .. ," Soeun tersenyum menenangkan. "Beberapa teman gayku waktu di Aussie ada yang berubah lurus, dan mereka benar-benar mencintai pasangannya, jadi ... ," dia menepuk lengan Minho. "Aku percaya padamu ... Kamu mencintai Hyesun dengan tulus. Aku bisa melihatnya. Hanya si keras kepala itu yang masih buta dengan perhatian-perhatian dari anda .. "

Minho berusaha tersenyum--tapi tidak bisa. Perlahan-lahan dua butir airmatanya mengalir menuruni pipinya. "Dia tidak akan kembali ... "

Melihat itu, Soeun menepuk lengannya lagi. Kali ini lebih keras, diikuti perkataannya yang lantang. "Tenang saja. Kalau sudah jodoh, tidak akan ke mana-mana .. "

Minho menatap Soeun dan gadis itu mengedipkan sebelah matanya.

"Percayalah ... "

Minho mengangguk lambat-lambat--walaupun dia tidak percaya masalah ini akan terselesaikan seperti yang diharapkan Soeun.

**********


Mercy merah yang dikemudikan Minho berhenti dengan suara mendecit keras di depan pintu masuk klinik Kim’s Health—hampir menabrak pintu dari kaca besar itu. Terburu-buru pengemudinya keluar dari mobil dan berlari ke pintu. Didorongnya kuat-kuat pintu malang itu sehingga terhempas ke belakang. Dia menghambur ke dalam dengan nafas memburu. Seorang wanita muda berpakaian suster segera berpaling padanya.

"Anyongheseyo, tuan ... Ada yang bisa saya bantu?"

Minho mengeleng keras-keras sambil mengambil nafas sedalam-dalamnya. "Kim ... Kim Joon-ssi ... Sa .. saya mencari Kim Joon-ssi .. "

Si suster muda--Eunhye--mengerutkan alisnya. "Tuan ada janji dengan dokter Kim?"

"Tidak!" jawab Minho parau.

"O .. ," Eunhye menganggukkan kepalanya. "Sosoengheyo tuan. Mulai hari ini dokter Kim berhenti praktek di sini--sampai enam bulan kemudian. Jika tuan ingin membuat appointment, kami masih mempunyai dokter Song dan dokter Jung yang bertugas sementara di sini ... TUAN!!" Perkataan Eunhye berakhir dengan teriakan ketika Minho tersungkur dengan kedua lutut di lantai di hadapannya.

Eunhye sangat kaget. Tergesa-gesa dia berlari ke arah pemuda itu dan berusaha membantunya berdiri. Tapi Minho menolak dengan cara mengibaskan tangannya.

"Jadi benar mereka .. mereka pergi bersama?"

Wajah Eunhye berkerut. "Pergi bersama? Siapa? Siapa yang pergi bersama?"


**********


Selang setengah tahun kemudian ...
Dua postur jangkung dan tegap berdiri di atap gedung--menghadap mentari senja yang memancarkan semburat merah di cakrawala. Salah satunya berjubah putih sedangkan yang satunya lagi memakai kemeja kotak-kotak biru yang dipadu celana jeans ketat warna senada.

"Seperti kamu lihat, saya tidak pergi bersamanya .. ," kata pria berjubah putih.

Pria di sebelahnya menghela nafas--berat. "Entah dia berada di mana sekarang .. "

"Apa kamu sudah mencarinya, Minho-ssi?"

Minho mengangguk. "Ne. Terakhir kali dia berada di Jepang. Dan saya rasa dia masih berada di sana .. "

"Tapi kamu belum menemukannya?"

"Belum .. "

Pria berjubah putih itu memutar tubuhnya--membelakangi sinar mentari yang mulai meredup. "Banyak kejadian yang tidak saya ketahui selama setengah tahun terakhir ..." desahnya. "Waktu itu .. ketika Hyesun mendatangiku, seharusnya saya lebih memperhatikannya. Seharusnya saya menyadari benar-benar ada yang tidak beres dengannya." Dia menoleh pada Minho.


"Miane Minho-ssi, .. saya tidak berhasil mencegah kepergian Hyesun."

Minho mengeleng sambil tersenyum kecut. "Tidak ada gunanya menyesalinya sekarang. Jika dia ingin pergi, tidak ada yang bisa mencegahnya."

"Hyesun terlalu menjaga diri .. ," kata Kim Joon. "Dia tidak pernah mau mengungkapkan perasaannya pada orang lain." kemudian dia menatap Minho dalam-dalam. "Bahkan padaku ini, yang sudah mengenalnya selama tiga tahun, dia tidak pernah mengatakan apa-apa. Tapi, dia sedikit berubah ketika bersamamu. Saya yakin kamu orang terpenting dalam hidup Hyesun, Minho-ssi. Jangan menyerah .. "

Minho berbalik, kemudian berhadapan dengan Kim Joon. "Saya tidak tahu apa bisa bertahan, hyung-a .. ," tiba-tiba dia tersenyum ketika menyadari pengunaan kata hyung terlontar dari mulutnya. "Hmm--kalau anda tidak keberatan .. ," katanya risih. "Saya merasa .. merasa akrab berbicara seperti ini dengan anda ... Mungkin ini pengaruh suasana di sini--nyaman sekali .. "

Kim Joon tertawa perlahan. Dia mengeleng, lalu menepuk pundak Minho--berkali-kali. "Tentu saja tidak! Saya senang mempunyai dongseng sepertimu .. "

Minho tersenyum cerah. "Saya juga!" katanya sambil membalas tepukan Kim Joon di pundaknya. "Hyung--walaupun saya tidak punya pegangan, saya berjanji padamu saya akan mencarinya di manapun dia berada. Hyesun tidak akan lepas dari tanganku."

Kim Joon tersenyum puas. "Bagus! Saya serahkan kebahagiaan Hyesun ke dalam tanganmu ..."

Kedua pria itu tertawa bersamaan. Perlahan perhatian mereka beralih ke langit atas yang mulai mengelap. Saat itu mentari senja sudah memasuki peraduannya. Keadaan dalam atap gedung tersebut menjadi kelam. Bayang-bayang gedung-gedung lain di sekitarnya saling menyenggol satu sama lain.

End of Chapter ...


*************

  

Tiiing,, pintu lift terbuka. Beberapa karyawan yang sedang menunggu lift di lobi depan segera membungkukkan badannya begitu melihat pria yang berada di dalam.

"Pak direktur!" sapa mereka serempak.

"Hmm--," pria itu mengangguk kemudian keluar dari lift dengan langkah tenang.

Kriing ... kriing ... , deringan telepon menghentikan langkahnya di pintu masuk. Agak malas dia merogoh ke dalam kantong celana dan mengeluarkan ponsel yang sedang berteriak-teriak keras tersebut. Tampangnya langsung berubah ketika melihat nama yang terpampang di layar ponsel. Hmm--dia lagi! gerutunya kesal. Dia menekan tombol off, kemudian mengembalikan ponsel tersebut ke dalam kantong celana. Dia meneruskan langkahnya.


Keluar dari kantor Lee's Corporation--tidak sampai setengah menit--ponselnya berbunyi lagi. Dia semakin jengkel. Dikeluarkannya ponsel tersebut dengan asal-asalan, kemudian menerima hubungan telepon yang tidak diinginkannya itu.

"Yaa, Kim Hyung Joong! Jika yang kau minta bantuan-bantuan menyebalkan seperti yang lalu-lalu, lupakan saja!"

Suara di seberang tercekat sesaat. Dia tidak mengira orang yang dihubunginya akan semurka itu. "Minho-a, please .. "

"No!" sahut Minho tegas. "TIDAK LAGI! DAN TIDAK AKAN!"

"Weo?"

"Saya sudah muak! SANGAT MUAK!"

"Tapi ... yang ini lain .. ," kata Hyunjoong dengan nada memelas.

"Apanya yang lain? Tetap saja seorang wanita!" gerutu Minho. Langkahnya yang tadi sempat terhenti diteruskan lagi.

"Ini .. benar-benar lain, Minho-a .. ," Hyungjoong berusaha memberi penjelasan tapi segera diputus Minho.

"Cukup! Aku tidak akan melakukan apapun sehubungan dengan rencana-rencana ayahmu menjodohkanmu dengan wanita-wanita itu, jadi jangan mengangguku .. aku sudah cukup pusing .."

"Minho-a .. "

Pippp--tanpa menunggu perkataan Hyunjoong lebih lanjut, Minho memutuskan hubungan telepon. Dia menghela nafas dan memasukkan ponsel tersebut ke tempatnya--di kantong celana. Dia menuju tempat parkir dengan langkah gontai.

Sesampainya di sana, dia berhenti dan berpikir sejenak. Perlahan dia mengelengkan kepalanya. Tidak! Perasaanku sedang kacau. Akan berbahaya kalau aku memaksakan diri menyetir sendiri.

Minho memutar tubuhnya keluar dari tempat parkir. Ditelusurinya jalan raya yang cukup ramai siang itu. Kendaraan-kendaraan tampak berlalu-lalang dengan suara-suaranya yang memekakkan telinga. Matahari siang yang bersinar terik membakar kulit wajahnya yang tidak terlindungi apapun. Begitu juga asap-asap tebal yang dihasilkan dari knalpot-knalpot kendaraan membuat nafasnya sesak. Tapi semua itu tidak berpengaruh bagi Minho. Dia terus melangkah tanpa arah dan tujuan. Kakinya terasa berat sehingga langkahnya agak diseret.

Minho menengadah ke atas. Sinar menyilaukan dari mentari siang terasa menyilet matanya. Minho langsung memejamkan mata rapat-rapat. Tangannya segera diangkat--menghindar dari timpaan cahaya sang raja siang.

Minho melangkah lagi. Sekarang jalan di depannya agak melebar dan membelah jalan kecil yang satu dengan yang lain di sebelah kiri dan kanannya. Di tengah-tengah terdapat persimpangan yang berdekatan dengan palang lintasan. Paling ujung terlihat barisan terminal bis yang cukup ramai diantri para penumpang.

Sebuah truk yang sesak oleh barang mendadak menjerit keras di dekat Minho. Pemuda itu segera menepi. Dia mendengus. Belum habis kekesalannya tiba-tiba sesuatu yang kecil menabraknya.

"Huuu .... huuuu ... huuu ... " seorang anak kecil seumuran Kangsan jatuh ke jalanan beraspal dan menangis kesengukan. Lutut dan lengannya berdarah akibat goresan dari jalan aspal.

Minho mengangga. Dia bermaksud menolong anak itu tapi tertunda dengan menyelipnya seseorang di hadapannya.  

Seorang wanita muda berjongkok di depan anak kecil itu dengan tampang cemas. "Oh sayang, gwencana? Sudah omma bilang kan jangan lari-lari seperti itu, lihat deh akibatnya ... "

Wanita tersebut mengeluarkan sebuah saputangan, kemudian menghapus darah yang mengalir dari luka di kaki dan tangan putranya dengan sangat hati-hati. Anak itu meringis. Si ibu kemudian memeluk dan menghiburnya.

Minho memperhatikan adegan di hadapannya dalam kebisuan. Adegan ini terasa familiar. Bayangan masa lalu kembali bermain dalam pikirannya.  
 
"Ada apa??", Minho bertanya dengan tampang gugup.

Perlahan Hyesun mengangkat wajahnya. Mengalihkan perhatian dari Kang San ke Minho. Tampangnya sangat memprihatinkan. Sepasang mata berair yang memerah dan hidung berlendir yang belum sempat dihapusnya.

"Kanggg ... Sannn ... Kangg.. Sann .. hidungnya... ber... darah ... ber ... da... rah .. ba .. nyak se .. ka ...li .... hu .. hu ...", jawab Hyesun dengan suara yang bergetar hebat dan sangat memelas. Isak tanggis masih tersisa dalam ucapannya yang terputus-putus.

"San tidak apa-apa jadi jangan menangis lagi .. kamu sangat jelek kalau menangis begitu ....", ujar Minho.

Hyesun menghentikan isakannya, tatapannya tertuju lurus ke Minho ...
"Jika ... jika .. memang .. tidak apa-apa ... mengapa .. mengapa sampai berdarah sebanyak ini?"

"Heiiii .. kamu ini omma macam apa? .. anak kecil tuh sudah biasa kalau mimisan .. apakah ini tidak diketahui sama kamu?", tanya Minho kesal.

Minho tersenyum perlahan. "Paboya." katanya pelan. "Apa benar kamu seorang suster sedangkan mimisan saja tidak tahu? " dia mengeleng. Senyumannya semakin lebar. Dua menit kemudian dia melewati sepasang ibu dan anak yang masih berpelukan itu.

Minho menyeberangi jalan lebar di hadapannya--berpindah ke jalan aspal yang lebih kecil. Sekitar lima menit dia sampai di barisan terminal bis yang tadi dilihatnya dari kejauhan. Tiba-tiba dia merasa sesuatu mengenai baju beserta rambutnya. Minho menengadah. Hujan deras mendadak menerpa wajahnya.

"Sial!!" dia berteriak dan langsung merapat ke terminal bis di sebelahnya--berdesakan dengan calon penumpang lain, yang juga tidak mengira dengan datangnya hujan mendadak ini.

Minho mengibas-ngibaskan jasnya yang basah. "Payah!" untuk kesekian-kalinya dia mengomel lagi. Diperhatikannya keadaan sekelilingnya dengan seksama. Cuaca masih cerah dan matahari masih mengantung di atas langit. Dahinya berkenyit. Ini bukan hari yang cocok untuk turun hujan .. hmmm--ada sesuatu, keadaan ini ... sepertinya pernah terjadi ....

 
"AWASSSS!!", teriak Minho.

Tangannya bergerak cepat, melingkar di depan dada Hyesun dan menariknya lebih merapat ke halte bis yang dikerumuni cukup banyak orang, bersamaan dengan gerakan Hyesun menarik Kangsan kedekatnya, bertepatan dengan derasnya air hujan yang ditumpahkan secara mendadak dari langit.

Hyesun langsung terpaku. Jantungnya berdegup kencang. Jarak Minho sangat dekat dengannya. Bahkan .. dada pemuda itu menempel ketat di balik punggungnya. Detak jantungnya yang halus bisa dirasakannya dengan jelas. Wajahnya juga menempel ketat dekat telinganya dan rambutnya bergerak seiring dengan pernafasannya yang teratur. Wajah Hyesun mulai memerah ketika melihat beberapa pasang mata melirik kearah mereka.

Minho menengadah ke langit, "Benar, .. cuaca apa ini? .. tadi keadaannya masih cerah, .. siapa dapat meramalkan akan hujan sederas ini .."


"Ehemmm ... ", untuk mengurangi kecanggungannya, Hyesun berdehem perlahan. Tapi isyaratnya itu tidak tertangkap oleh Minho karena tangannya masih melingkari tubuhnya.

Hyesun segera melangkah kedepan sehingga tangan Minho terlepas dari tubuhnya. Minho mengerutkan alisnya. Dia bermaksud mengeluarkan suara tapi terbungkam oleh bis yang sudah tiba dan berhenti tepat di samping mereka.

Ingatan ini membuat Minho tersenyum lebar. Tapi hanya sesaat. Lima menit kemudian senyuman itu sirna. Dia mengedarkan pandangan ke seputar tempat itu dengan tatapan sendu. Terlalu banyak kenangan di sini. Semuanya sangat akrab dalam pikirannya. Jalan-jalan, terminal-terminal bis ini, gedung-gedung yang berjejer rapi sepanjang jalan--semuanya,, menyimpan kenangan yang tidak mungkin terlupakan olehnya. Bahkan lautan di ujung sana--yang tidak terlihat oleh matanya, terasa sangat dekat. Tidak ada yang asing.  JALAN KENANGANNYA DENGAN HYESUN.

Hujan berhenti beberapa menit kemudian. Cuma hujan lewat .. desis Minho. Tangannya terangkat menghapus wajahnya yang agak basah. Tiba-tiba sesuatu tertangkap oleh matanya. Jam tangan yang melingkar di tangan kirinya mengingatkannya akan sesuatu. Minho menghela nafas, kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celana. Tergesa dia menekan beberapa tombol lalu membawa ponsel itu ke telinga.


*************

  

"Di mana?" Hyunjoong berbicara di telepon sambil berlari ke arah mobilnya. "Restoran Hyatt? Anda yakin, tuan Song?" dia membuka pintu mobil kemudian masuk ke dalam. "Lunch dengan appanya? O araso,, gumawo tuan Song ... " Sekejap saja mobil itu meluncur ke luar dari tempat parkir memasuki jalan raya yang padat oleh arus lalu lintas.


*************

  

"Tidak bisa datang? Tapi ... Iya, baiklah. Jangan terlalu memaksakan dirimu, Minho-a. Istirahatlah yang cukup." Mr. Lee meletakkan ponselnya ke atas meja.

"Dari Minho, pak direktur?" tanya Insung yang selalu setia di sampingnya.

Mr. Lee mengangguk sambil mendesah halus. "Delapan kali dari sepuluh perjanjian yang dibuat dalam sebulan .. Entah apa yang dipikirkan anak itu! Sudah setahun, mengapa masih tidak bisa melupakannya?"

Insung membungkuk hormat. "Saya rasa karena Minho sangat mencintainya, pak .. ," setelah terdiam sesaat dia melanjutkannya pelan. "Kalau bukan begitu .. tidak ada Minho yang sekarang ... "

"Mwo?" Mr. Lee berpaling padanya. "Apa yang barusan kamu katakan?"

Insung tertawa perlahan. "O tidak. Saya hanya berbicara pada diri sendiri .. " alasannya. Tentang masa lalu Minho--seorang gay--tidak baik diungkit-ungkit lagi. Dia segera membungkam dengan membungkuk dalam-dalam.

Mr. Lee mengangguk dan tidak bermaksud bertanya lebih lanjut. "Makan siangnya di sajikan saja Insung-a .. dan kamu makan siang denganku hari ini .. "

"Ne."

Insung mengangkat tangan ke atas. Beberapa pelayan yang melihatnya segera mendatangi mereka dengan terburu-buru.

"Makanannya bisa disajikan sekarang .. ," perintah Insung.

Para pelayan tersebut mengangguk. Mereka berlalu, dan sebentar saja mereka kembali lagi dengan piring-piring yang berisi makanan-makanan yang sudah dipesan pelangan tetapnya beberapa waktu yang lalu.

 
*************

  

Hyunjoong memasuki restoran Hyatt dengan langkah lebar. Seorang pelayan berpakaian formal--kemungkinan besar manajer restoran itu--langsung menyambutnya.

"Anyongheseyo, tuan. Apa sudah memesan tempat?"

Hyunjoong mengeleng. "Tidak." jawabnya cepat. "Saya mencari seseorang." dia berhenti sesaat--berpikir, ".. lebih tepatnya dua orang .. ," lanjutnya kemudian.

"Iya?" orang itu bertanya dengan sopan.

"Tuan Lee dari Lee's Corporation. Kalau tidak salah beliau pelangan tetap di restoran ini."

"O tuan Lee," si manajer restoran tersenyum. "Tentu saja. Tuan Lee selalu menyukai pelayanan kami .. ," katanya dengan bangga.

Hyunjoong tertawa perlahan. Seorang pelayan yang baik memang selalu membanggakan apa yang sudah dilakukannya, pikirnya geli.

"Jadi .. saya bisa diantarkan kepadanya?"

Manajer restoran tersebut membungkuk dengan hormat. "Tentu saja. Saya akan menyuruh rekan kerjaku mengantar anda ke ruangannya ... " Orang itu memutar badannya, kemudian melambai pada seorang pelayan berpakaian serba putih. "Sung, antarkan tuan ini ke ruang tuan Lee. TUAN LEE DARI LEE'S CORPORATION." tegasnya pada kata-kata paling belakang.

Pelayan yang dipanggil mendekati mereka. Dia membungkuk pada manajer bertampang serius itu, "Ne, manajer Kim." katanya. kemudian tangannya bergerak ke depan--menyilahkan Hyungjoong mengikutinya. "Di sini, tuan .. ," katanya hormat.
 

*************

  

Pintu ruang VIP yang ditempati Mr. Lee diketuk. Setelah terdengar sahutan dari dalam yang menyilahkan mereka masuk, pelayan yang membawa Hyunjoong membuka pintu tersebut. Dia dan Hyunjoong memasuki ruangan dengan langkah pelan.

"Tuan Lee .. ," pelayan tersebut membungkuk dengan hormat. "Ada tamu buat tuan."

Mr. Lee dan Insung yang sedang asyik menikmati makan siang menghentikan kesibukannya. Mereka mengangkat wajah dan memandangi tamunya.

"Siapa?" kata Mr. Lee,

"Hyunjoong!" dan Insung bersamaan.

Mr. Lee menoleh pada Insung. "Kamu mengenalnya?"

Insung mengangguk, "Ne."

Sebelum Mr. Lee bertanya lebih lanjut, Hyunjoong sudah sampai di depan mereka. Pemuda itu membungkuk dengan hormat, "Tuan Lee dan .. Sung hyung .. "

"Siapa kamu?" tanya Mr. Lee.

"Dia Kim Hyun Joong, sahabat Minho .. ," Insung menjawab pertanyaan yang ditujukan pada Hyungjoong.

Sekali lagi Mr. Lee berpaling padanya. "Sahabat Minho?" keningnya berkenyit, "Maksudnya sahabat karib?"

Insung mengangguk lambat-lambat. "Saya rasa .. cukup akrab .. "

"Mengapa tidak memberitahuku bahwa selain gadis itu dia punya sahabat yang lain?" kata Mr. Lee dengan nada menyalahkan. "Setelah setahun, seharusnya kamu memberitahuku, Insung-a. Terlalu sedikit yang kuketahui tentang anak itu." tegur Mr. Lee.

"Sosoengheyo pak direktur .. ," kata Insung sambil menundukkan wajahnya. "Saya salah .. "

Mr. Lee menghela nafas perlahan, "Ah sudahlah." katanya pelan--masih dengan nada menyesal. Kemudian dia berpaling pada Hyunjoong. "Silahkan duduk nak." katanya sambil tersenyum pada Hyunjoong. Tangannya menunjuk kursi di sebelahnya. "Banyak yang ingin saya tanyakan tentang Minho. Kebetulan sekali kamu mendatangiku di sini .. "

Hyunjoong mengangguk kemudian menjatuhkan diri di kursi yang ditawarkan Mr. Lee. "Hmm--sebenarnya .. saya mencari Minho." jawabnya gugup. Dia memandangi sekelilingnya tapi tidak mendapati orang yang dicarinya. "Saya dengar dari sekretarisnya kalau dia makan siang bersama tuan di restoran ini .. "

Sekali lagi Mr. Lee menghela nafasnya. "Rencana semula memang begitu .. ," katanya sambil meraih serbet di atas meja dan melap tangannya yang lengket oleh madu. "Tapi dia membatalkannya lagi .. "

"Lagi?" tanya Hyungjoong tidak mengerti.

"Iya, LAGI .. ," ulang Mr. Lee dengan nada kecut. "Setahun terakhir, itu yang dilakukannya. Selalu menyendiri, dan hanya kadang-kadang saja menerima tawaran makan bersama yang kusiapkan baginya .. "

"O .. ," Hyunjoong mengangguk. "Dia berubah dingin setelah kepergian Hyesun. Iya-kan?"


"Kamu tahu itu?" tanya Mr. Lee terkejut.

"Iya." jawab Hyunjoong. "Saya sempat tinggal bersama mereka di rumah kecil di pinggir kota itu .."

Mr. Lee mengangguk-angguk mengerti. "Jadi hubungan kalian memang seakrab itu."

"Boleh dikatakan begitu .. ," kata Hyunjoong. "Tapi bisa juga dikatakan TIDAK. Minho--dia .. dia tidak terlalu banyak membicarakan masalah pribadinya denganku. Mungkin--mungkin Hyesun lebih banyak tahu tentang dirinya daripada aku .. "

"Ya, mungkin saja .. ," desah Mr. Lee. "Dia sangat mencintai gadis itu. Saya sangat terpukul melihat keadaannya selama setahun ini. Di luar dia terlihat tidak apa-apa. Masih bekerja seperti biasa. Tidak ada kesalahan berarti yang dilakukannya. Tapi .. di dalam ... ," Mr. Lee mengigit bibirnya yang mulai berkeriput. " .. dia .. dia sangat menderita. SAYA TAHU ITU. Dan .. saya tidak bisa melakukan apa-apa untuk menolongnya .. "

Sesaat ruangan itu menjadi sunyi. Semua bertaut dengan pikiran masing-masing. Insung menghembuskan nafas perlahan--sangat pelan sehingga tidak terdengar oleh yang lain. Lima menit kemudian Mr. Lee menegakkan badannya. Dia berusaha tersenyum guna menghilangkan kekakuan yang tiba-tiba tercipta di ruangan itu.

"Oh ya?!" katanya dengan nada dibuat seceria mungkin. "Apa maksudmu mencari Minho, nak Joong?"

Hyunjoong mengangkat wajahnya yang tertunduk ke kolong meja. "Iya?" tanyanya linglung. "Oh!!" tiba-tiba dia menepuk jidatnya. "Benar!" katanya sambil tertawa. "Saya sampai lupa .. Saya ingin meminta bantuan Minho. Sudah ditolak di telepon sih .. ," suaranya jadi kikuk, ".. tapi saya pikir, jika saya mendatanginya sendiri dan mengemis-ngemis padanya mungkin dia bersedia menolongku .. "

"Memangnya pertolongan apa itu?"

Hyunjoong tersenyum malu-malu. Dia merasa sulit mengatakannya. Beberapa menit berlalu dan dia belum menjawab pertanyaan Mr. Lee.

"Tidak bisa dibicarakan dengan paman?" goda Mr. Lee. "Berhubungan dengan wanita mungkin?" tebak pria setengah baya itu sambil tersenyum nakal.

"Oh .. ," mata Hyunjoong terbelalak lebar. "Bagaimana .. bagaimana mungkin paman mengetahuinya?" tanpa sadar dia memanggil Mr. Lee dengan sebutan 'paman'.

"Ha .. ha .. ," tawa Mr. Lee langsung meledak. "Anak-anak muda jaman sekarang ... apa lagi yang dibicarakannya selain wanita?"

Bibir Hyunjoong mengerucut mendengar jawaban tersebut. "Tapi .. saya tidak begitu .. ," katanya pelan sehingga tidak terdengar Mr. Lee. Tapi Insung mendengarnya. Wajah pria itu langsung berkerut.

"Bukan begitu, paman Lee!" bantah Hyunjoong dengan pipi merona. "Maksudku ... ," dia menoleh kesana kemari--kebingungan sendiri. Digaruknya kepalanya yang tidak gatal. "Maksudku, .. niat appa memang begitu, tapi ... tapi saya tidak mau .. "

"Memangnya kenapa?" tanya Mr. Lee setelah berhasil menghentikan ketawanya. "Ayahmu ingin menjodohkanmu. Iya-kan? Dan kamu menolaknya? Tapi mengapa?"

"Bukan menjodohkan ... ," ralat Hyunjoong. "Cuma mengenalkan .. " lanjutnya sambil tertunduk malu.

"Iya, tahu." Mr. Lee mengangguk. "Jadi mengapa menolaknya?"

"Hmmm--," Hyunjoong kelihatan semakin serba salah. Dia tidak tahu bagaimana harus menanggapi pertanyaan tersebut. Berulangkali jemarinya saling meremas sehingga meninggalkan bekas merah yang sangat dalam. Sedangkan Insung masih memperhatikannya dengan kening berkerut dari seberang meja. Semoga dia tahu apa yang pantas dikatakan dan apa yang tidak, desisnya dalam hati.

"Nak Joong?"

"Eh--iya!" sahut Hyunjoong. "Itu .. itu karena ... karena wanita itu adik sepupuku sendiri ... ," Hyunjoong menghembuskan nafasnya setelah mengatakan ini. "Aku tidak suka dijodohkan dengan sepupu sendiri. Dalam kamusku tidak ada PERJODOHAN seperti ini. Tidak mungkin .. "

"Begitu?" Mr. Lee mengelus dagunya. "Kalau cuma sepupu sih saya rasa itu wajar-wajar saja .. ," diperhatikannya Hyunjoong dengan seksama, kemudian dia tersenyum, "Tapi kalau sudah menyangkut prinsip sih memang susah .. " Mr. Lee mengangguk-angguk dengan bijak. "Paman akan mendukungmu ... "

Hyunjoong tersenyum cerah. "Gumawo paman Lee .. "

Mr. Lee kemudian menepuk lengan Hyunjoong. "Paman akan berusaha menolongmu .. ," dia berpikir sejenak. Tampangnya jadi serius. Tiba-tiba dia menjentikkan jarinya, "Dapat!" serunya. "Bagaimana kalau kita mengenalkan adik sepupumu pada Minho?"

"Mwo?!" teriak Hyunjoong--kaget. "Tidak bisa!" dia mengeleng sekeras-keras. "Minho akan membunuhku jika mengetahui rencana ini! Tidak mungkin!"

"Tenang saja, nak Joong!" kata Mr. Lee menenangkan. "Jika ketahuan, paman yang akan bertanggungjawab. Lagipula kamu tidak bilang, paman tidak bilang, begitu juga Insung, bagaimana Minho bisa mengetahuinya? Benar tidak?" Mr. Lee mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum simpul.

"Tapi .. pak direktur .. ," Insung menyela tapi segera dihentikan Mr. Lee. "Kalian tidak perlu bilang apa-apa lagi. Saya sudah mengambil keputusan." kemudian dia berpaling pada Hyunjoong. "O ya, adik sepupumu--orangnya bagaimana?"

"Orangnya bagaimana?" Hyunjoong mengaruk kepalanya. "Sejujurnya .. saya tidak tahu." katanya kebingungan.

"Tidak tahu?"

"Iya." Hyunjoong mengangguk dengan ekspresi putus asa. "Sudah lama saya tidak bertemu dengannya." jawabnya sambil mengangkat bahu. "Tapi kata appa dia tumbuh menjadi gadis yang manis. Sedikit keras kepala tapi tidak berlebihan. Dia selalu hormat pada orangtua .. "

"Itu sudah lebih dari cukup." sela Mr. Lee puas. Dia menyandar ke sandaran kursi sambil tersenyum lebar. "Kita buat janji dinner bersama besok malam. Saya yang akan menghubungi Minho. Akan kupastikan dia menghadiri acara makan malam ini--BAGAIMANAPUN JUGA! Sedangkan kamu, nak Joong, bawa adik sepupumu ke sana--restoran Gaulle. Kurasa masakan Prancis perfect buat pasangan ini .. " Mr. Lee tersenyum-senyum sendiri dengan rencana-rencana yang sudah tersusun di otaknya.

Hyunjoong dan Insung memperhatikan pria itu, kemudian mereka saling melirik--tanpa mampu berkata apa-apa. Hyunjoong bergerak sedikit--bermaksud mengatakan sesuatu, tapi langsung dicegah oleh Insung.

"Biarkan saja .. ," kata Insung dengan mengerak-gerakkan mulutnya.

Hyunjoong menghembuskan nafas, kemudian agak sengan dia mengangguk pasrah. Rencana semula bukan begini .. Mengapa bisa jadi seperti ini?  

 
*************

  

Setelah merapatkan jasnya yang sudah basah sebagian, Minho keluar dari halte bis. Dia menyeberangi jalan raya menuju jalan yang lebih kecil di depannya. Dia terus melangkah. Menyeberangi beberapa jalan lagi, hingga sampai di sudut sebuah gang yang agak kumuh. Dia memasuki gang tersebut dengan kepala tertunduk. Kakinya yang terbalut sepatu kulit menyepak-nyepak air hujan yang mengenangi jalan dari aspal yang sudah berlubang-lubang dan becek tersebut. Air beserta tanah beterbangan ke mana-mana. Ada yang menerpa dinding-dinding pudar toko di sebelah dan sebagian lagi mengenai sepatu dan celananya.

Keluar dari gang gelap itu, dia memasuki wilayah jalan besar lagi. Minho mengangkat wajahnya. Sinar terik sang mentari kembali mengenai kulitnya. Minho mengeleng perlahan. Kemudian dia melangkah lagi. Sampai sebuah taman kecil agak di sudut jalan membuatnya berhenti.

Tidak banyak orang dalam taman itu. Ada sebuah keluarga yang menarik perhatiannya. Seorang ayah, ibu dan putranya yang masih kecil. Mereka sedang bermain papan luncuran dengan diiringi gelak tawa yang menyejukkan. Minho tertegun. Samar-samar bayangan-bayangan yang sangat mirip memasuki pikirannya--seperti rol-rol film yang diputar ulang dalam otaknya.

Minho, Hyesun dan Kangsan melewati sebuah taman kecil, dan tiba-tiba Hyesun menghentikan langkahnya.

"Mau main ayunan dan luncuran?", tanyanya pada Minho. Senyum tipis tersungging di bibirnya.

"Mwoo? .. Ide gila apa lagi ini?"

"Memangnya kenapa?"

"Dengan kaki sepanjang ini, bagaimana mungkin saya bisa bermain permainan anak kecil itu?", teriak Minho keras-keras.

Hyesun mendengus, kemudian beralih pada Kangsan sambil tersenyum manis.
"San-a, kita main ayunan dan luncuran ya?"

"Horeeeeeeeeeee ...", teriak Kangsan kegirangan.

Hyesun melirik Minho lewat sudut matanya, senyuman masih tersungging di bibirnya. lalu dia mengandeng Kangsan memasuki taman kecil di depannya. Minho menghembuskan nafas kuat-kuat. Akhirnya dia terpaksa mengikuti langkah Hyesun dan Kangsan.

Di dalam taman, Hyesun dan Kangsan sudah bermain dengan gembira. Teriakan dan suara ketawa mereka terdengar sampai ke pinggir jalan. Minho mendengus perlahan. Kemudian dia menaiki tangga pendek di tengah taman dan menjatuhkan diri di atas luncuran--di sebelah Kangsan.


Dua menit berlalu, mendadak seseorang mendorongnya dari belakang sehingga tubuhnya yang panjang meluncur turun dari luncuran yang tidak begitu panjang itu.

"Ha .. ha .. ha .. ". Hyesun tertawa keras.

Minho langsung berpaling ke belakang.
"YAAAAAA .. GADIS GILAAA ... ", teriaknya.

"Heiii .. santaikan dirimu!! .. Jangan tengang terus, nanti cepat tua .. ". Hyesun balas berteriak. Dia masih tertawa keras melihat wajah pucat Minho.

Kangsan mendekati mereka dan menarik tangan Minho.
"Hyung-nim, temani San main ayunan ... "

"Mwoo?", mata Minho terbelalak lebar.

"Main ayunan .. ", kata Kangsan lagi.

"Seperti saya bilang, santaikan dirimu, Minho-a ... ". Suara Hyesun terdengar lain. Kali ini sangat menyejukkan. "Temanilah San main sepuasnya .. "

Minho terdiam selama beberapa saat. Lima menit kemudian dia sudah bermain gila-gilaan dengan Kangsan. Hyesun bergabung dengan mereka setelah itu.
 

Minho mengeleng keras-keras. "Lagi? Kapan kamu akan berhenti, Minho-a?!" dipukulnya kepalanya berulangkali--sampai terasa sakit.

Dia memutar tubuh dengan cepat kemudian berlari dari taman itu. Detak-detuk sepatunya sangat keras dan terdengar menyayat hati.


*************

  

Lagi-lagi Minho tertegun. Nafasnya terengah-engah sambil menghadapi benda-benda di hadapannya--kue-kue ulangtahun dalam berbagai model dan warna. Hanya sebuah kue yang menarik perhatiannya. Sebuah kue ulangtahun yang dihiasi beberapa kuntum mawar dengan kupu-kupu dan lebah yang sedang mengerumuninya. Minho mendesah. Tangannya menarik rambutnya dengan putus asa.

Tanpa sadar seorang ahjuma mendekatinya. "Kamu .... ?"

Minho berpaling perlahan. Si ahjuma penjaga toko menunjuk ke arahnya dengan takjub.

"Kamu .. kamu pembeli waktu itu?" kata si ahjuma. "Iya-kan? .. Setahun yang lalu .. "

Minho tidak menjawab. Ditatapnya ahjuma tersebut dengan ekspresi keheranan.

"Bagaimana kabarnya wanita itu?" tanya si ahjuma dengan senyuman mengoda. "Kue ulangtahun waktu itu untuk wanita pujaanmu kan?"

"Ehmmm--," Minho berdeham pelan guna membersihkan tenggorokannya. "Apa maksud ahjuma?"

Si ahjuma mengibaskan tangannya. "Jangan berpura-pura tidak tahu, anak muda. Ekspresi wajahmu waktu itu menjelaskan semuanya .. "

"Benarkah?" desah Minho lirih.

"Iya." sahut ahjuma itu. Kemudian dia berjalan ke rak kaca di depan toko dan mengeluarkan kue ulangtahun yang tadi menarik perhatian Minho. "Apa hari ini kamu membutuhkannya?" katanya sambil melirik kue di tangannya. "Hari ini hari yang sama kan?"

Minho menatap kue tersebut dengan pandangan nanar. Ya, hari ini hari ulangtahun Hyesun. Hari naas yang sangat bersejarah itu. Tapi .. kue ulangtahun tanpa pemeran utama, .. bukankah terlalu mengenaskan? Dia menghela nafas--sangat berat.

"Bagaimana?"

Minho merogoh ke dalam saku jas dan mengeluarkan dompetnya. "Bungkus kue ini buatku, ahjuma!"

Si ahjuma segera melakukannya. Dalam waktu beberapa menit dia menyodorkan kotak yang sudah diisi kue tersebut pada Minho. Dia tersenyum. "Sampaikan kata selamat ulangtahun dariku buat gadis yang sangat beruntung itu .. "

Minho mengangguk. Diterimanya kotak tersebut dan ditatapnya dalam waktu yang cukup lama. Setelah itu dia menghela nafas lagi. "Saya akan menyampaikannya jika bertemu dengannya .. ," kata Minho dengan senyum dipaksakan. Kemudian dia memutar tubuh dan berjalan ke pintu. Sampai di ambang pintu, dia menoleh kembali pada ahjuma yang masih menatap punggungnya. "Gumawo karna sudah mengingatnya, ahjuma." dia menunduk perlahan. "Saya sangat menghargainya ... dan ... saya yakin, Hyesun juga."  


*************

  

Minho meletakkan kotak di tangannya ke atas meja. Dia kembali lagi ke sini. Rumah yang ditinggalinya dulu .. bersama Hyesun. Sudah hampir setengah tahun dia tidak kemari. Minho mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Hampir semua barang--termasuk lantai, tampak terlapisi debu. Begitu juga langit-langit ruangan dihinggapi sarang laba-laba yang cukup banyak.

"Aku kembali, Hyesun-a ... Setelah menghimpun kekuatan--dan ini tidak mudah--akhirnya aku memutuskan untuk kembali .. ," kata Minho pada dinding bisu--lirih. "Kamu ada di mana? Masihkah kamu mengingatku?" tanyanya dengan hati perih. "Atau .. kamu sudah melupakan semuanya? Kenangan-kenangan manis kita ... "

Minho menumpu dagu dengan tangannya. Perlahan-lahan sepasang matanya tergenangi air. "Hari ini .. ulangtahunmu ... ," dia mengigit bibirnya. "Aku tahu .. kamu pasti sangat tertekan hari ini .. ," desis Minho. "Miane .. saya tidak di sisimu .. ," kemudian dia menundukkan wajahnya di atas meja yang berdebu. Isakan halus terdengar dari bibirnya. "Miane .... "

Kriinggg ... kriinggg ...

Jeritan nyaring dari ponsel dalam kantong celananya di ruangan yang sunyi itu menghentaknya. Minho mengeluarkan ponsel tersebut secara pelan-pelan dan tak bersemangat.

"Anyong .. ," sapanya tanpa melihat dulu siapa peneleponnya.

"Minho-a .. ," suara Mr. Lee terdengar di seberang.

"Oh appa .. ," Minho segera menghapus airmatanya. "Ada apa?"

"Besok malam, apa kamu ada waktu?"

"Ne. Ada apa?" tanya Minho dengan isak tertahan.

"Dinner bersama." sahut Mr. Lee cepat. "Appa sudah mempersiapkan semuanya. Restoran Gaulle, pukul 7 malam. Ingat datang tepat waktu!"

"Tapi .. "

"Tidak ada alasan apapun." sela Mr. Lee segera. "Appa berharap kamu bisa datang, Minho-a .. Sekali ini saja--jangan mengecewakan appa, please."

Minho tidak menjawab. Matanya terpejam perlahan.

"Kamu dengar perkataanku, Lee Min Ho?"

"Ne .. ," desah Minho.

"Jadi?"

"Araso. Saya akan ke sana. Dan ... tepat waktu seperti permintaanmu .. "

"Bagus!" suara Mr. Lee terdengar ceria. "Kalau begitu sampai ketemu besok malam."

Hubungan telepon diputus. Mata Minho masih terpejam dengan ekspresi tertekan yang akan menyayat hati siapapun yang melihatnya.

 

"Apa yang harus kulakukan, Hyesun-a?" desah Minho. "Aku tidak bisa berbuat apapun tanpamu ... Menjalin kembali hubungan yang sudah retak dengan appa--aku tidak sanggup melakukannya tanpamu di sampingku. Aku tidak punya kekuatan untuk itu. Aku takut--sangat takut ... ," perlahan dia manengadah ke atas. "Katakan padaku, apa yang harus kulakukan, baby?"


*************

  

Restoran Gaulle, pukul 7:15 malam ...

Minho dan Hyunjoong duduk berhadapan dalam ruang VIP yang sudah dipesan atas nama Mr. Lee. Minho menatap Hyunjoong dengan dingin, sedangkan Hyunjoong menoleh kesana kemari--gelisah dan .. sedikit takut.

"Apa-apaan ini? Bisa jelaskan padaku?"

"Hmm--ini ... ," suara Hyunjoong tercekat di tenggorokan. Dia mati kutu ditatap Minho seperti itu.

"Appa yang membuat janji makan malam denganku, tapi mengapa kamu ada di sini?"

"Saya ... "

"Kim Hyun Joong,, kalau kamu masih tidak bisa menjelaskannya, aku akan pergi sekarang juga!", ancam Minho. Tidak, dia bukan mengancam. Dia sudah berdiri dari tempatnya dan bermaksud melangkah dari situ.

Tapi pintu yang dibuka mendadak dengan suara keras menghentikan maksudnya. Minho menjatuhkan diri kembali di kursinya. Seorang cewek berambut panjang yang sedikit awut-awutan dan dua kantong besar terjinjing di tangan memasuki ruangan dengan nafas terengah-engah. Dia melangkah lebar ke arah mereka, kemudian menghempaskan dua kantong besar di tangannya ke atas meja--tepat di hadapan Hyunjoong. Pemuda itu tersentak. Belum habis keterkejutannya, cewek bertampang jutek itu menjatuhkan diri di sebelahnya.

"Mian ... saya .. saya terlambat .. ," kata gadis itu di sela-sela nafasnya yang memburu. Dia mencari-cari di atas meja. Kemudian didapatkan segelas air putih di hadapan Hyunjoong. Tanpa bertanya lebih dulu, dia meraih gelas itu dan meneguknya sampai habis.

"Yaa--itu .. itu minumanku .. ," protes Hyunjoong syok. "Bagaimana .. kamu .. sembarangan menyerobot minuman orang ..," dia mendelik pada gadis di sebelahnya. "Kamu siapa ha?"

"Kim Hyun Joong!" tiba-tiba gadis itu berteriak. Kemudian dia tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Hyunjoong yang mengelikan.

"Ka .. kamu siapa? Mengapa bisa mengenalku?" Hyunjoong semakin kebingungan melihat kegembiraan gadis asing yang menurutnya tidak begitu waras ini.

"Cih--," gadis itu menjulurkan lidahnya. "Apa susahnya mengenalimu?" lalu pandangannya menyelusuri Hyunjoong dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Rambut pirang, wajah putih, gaya gemulai .. ," dia tersenyum simpul begitu sampai pada kata-kata terakhir.

"Apanya yang gemulai?!" sela Hyungjoong dengan nada tersinggung.

"Apa bukan begitu?" goda gadis bengal itu. "Tapi .. ciri-ciri itu, paman Kim yang memberikannya padaku .. ," lanjutnya sambil mengangkat bahu--seakan tidak bersalah.

"MWO?!" mata Hyunjoong terbelalak lebar. "Jadi .. kamu ... "

"Yup! Maiko Katada .. ," gadis itu menjentikkan tangan sambil mengedipkan sebelah matanya.

brakkk ..., gebrakkan keras di atas meja membuat kedua orang yang sedang berbicara dengan sengit itu berpaling. Minho menahan amarah dengan memandangi mereka silih berganti.

"Sudah cukup basa-basinya?!" tanyanya dingin.

"Minho-a .. ," nyali Hyunjoong yang sempat membesar menciut lagi.

Maiko mengerutkan alisnya begitu menyadari kehadiran orang lain di meja itu. catatan dari penulis : Maiko sangat urakan. Dia jarang menaruh perhatian pada orang atau barang lain yang memang bukan tujuannya he .. he .. "Anda siapa?" perlahan dia berpaling pada Hyunjoong. "Kim Hyun Joong, siapa dia? Bukannya makan malam ini hanya kamu dan saya?"

"Hmm---," Hyunjoong semakin menyusut di posisinya. Dia merasa terpojok--sangat terpojok dengan pandangan dua orang ini. "Bukan rencanaku! Sungguh .. ," katanya lemahh. Dia menoleh pada Minho. "Minho-a, .. ini rencana paman Lee .. ," dia mengigit bibir keras-keras begitu mengutarakan rahasia ini. "Paman Lee ingin ... ," dia melirik Maiko sehingga Minho mengerti maksudnya.

Minho mendesah dan tidak bertanya lebih lanjut.

Hyungjoong yang merasa bersalah segera beralih pada Maiko. "Mai, ini juga bukan rencanaku .. ," katanya dengan suara dikeraskan. Entah mengapa suaranya bisa senyaring ini ketika berhadapan dengan Maiko. "Appa yang mengatur semuanya ... jadi .. ," dia memandangi Minho dan Maiko silih berganti. " .. kalian lihat,, semuanya rencana norak dari orangtua kita .. "

"Begitu?" Maiko mencibir. Dia tidak terlihat terkejut, ataupun marah dengan penjelasan Hyunjoong. "Jadi .. apa kita perlu melanjutkan rencana ini?"

"MAI!!!" teriak Hyunjoong--kaget.

Maiko langsung tertawa terbahak-bahak. "Ha .. ha .. just kidding ... ," Dia memanjangkan bibirnya ketika melihat kedua pemuda itu menatapnya dengan pandangan tak percaya. "Yaa--kalian tidak bisa diajak bercanda ya?" teriaknya risih. Tiba-tiba dia menekan keras jidat Hyunjoong bagian kiri dengan telunjuknya. "Kamu--punya otak tidak?"

"MWO?" Hyunjoong menarik kepalanya kesal.

"Mwo apanya?" Maiko berdecak. "Apa maksudmu melakukan semua ini?" dia berpaling pada Minho dan bertanya :"Siapa namamu?"

"Lee Min Ho," jawab Minho--cuek.

"Ok." Maiko mengangguk dan beralih kembali pada Hyunjoong. "Apa maksudmu melakukan perjodohan ini?" ditekannya kembali jidat Hyunjoong. "Dasar otak udang--bodoh. Apa kamu kira saya dan Minho akan menerimanya?"

Minho tersenyum perlahan mendengar cecaran-cecaran Maiko pada Hyunjoong. Tapi itu hanya sekilas dan tidak kentara. Hyunjoong maupun Maiko tidak melihatnya.

"Yaa--," Hyunjoong mengibaskan tangan Maiko dengan alis berkenyit. "Kan sudah kubilang bukan rencanaku .. Lagipula .. mengapa kamu terlambat begini?", telunjuknya menunjuk dua kantong besar yang tergeletak di atas meja. "Apa pula ini? Kamu pasti belanja sampai lupa waktu!"

"Apanya?" Maiko memukul tangan Hyunjoong. "Ini semua buat persiapan ulangtahun Miko .. "

"Miko?"

Maiko mengangguk sambil merangkul kedua kakinya yang dinaikkan ke atas kursi. Pandangannya dilemparkan ke luar jendela.

 
"O iya, sudah setahun ya usianya?" lanjut Hyunjoong.

Maiko menoleh padanya. "Ne. Dan dia lucu sekali .. ." Dia tersenyum manis begitu mengingat dongsengnya itu--sangat lain dengan sikap jutek yang diperlihatkannya tadi. "Ulangtahunnya beberapa hari lagi .. ," lanjut Maiko. "Jika kamu tidak keberatan, datang--ya, Kim Hyun Joong ... ," tiba-tiba dia menepuk dada Hyunjoong keras-keras. Sampai pemuda itu terbatuk-batuk.

"Yaa--," untuk kesekiankalinya Hyunjoong berteriak keras. "Bisa tidak kamu bicara .. jangan sambil main tangan? Sakit tahu?!" dia melotot tidak senang. "Ada lagi! Jangan memanggilku dengan nama panjang! Kedengarannya sangat aneh."

"Aneh bagaimana?" sela Maiko. "Saya senang memanggilmu seperti itu. Saya terbiasa memanggil nama orang dengan nama panjangnya .. ," gadis itu membusungkan dadanya--cuek.

"MWO?!" Hyunjoong menunjuk-nunjuk wajah Maiko dengan nafas tertahan. Emosinya benar-benar sedang diuji saat ini. "Terbiasa katamu?! .. Lalu panggilanmu pada Minho apa? HAHHH?!"

Maiko tertawa. "Iya-ya ha .. ha .. Mian, saya lupa." kemudian dia bersiul pelan. "Tapi tetap .. saya lebih suka memanggilmu KIM HYUN JOONG!"

Hyungjoong mengangkat tangan untuk membalas perkataan Maiko tapi terhenti oleh seruan Minho.

"Sudah! Sudah!" Minho mengibaskan tangannya berkali-kali. "Kalian capek tidak sih?"

Maiko dan Hyunjoong menoleh padanya. Kemudian mereka saling melempar pandang dan mencibir bersamaan.

"Lapar tidak? Mau makan?" tawar Minho ketika kedua orang itu tidak menyahutnya.

Maiko dan Hyunjoong mengangguk kuat-kuat. Minho tidak mampu menahan ketawa melihat kelakuan mereka. Tumben kedua makhluk ini akur .. , katanya dalam hati. "Bagus. Kalau begitu kita makan sekarang. Ok?"

Keputusan diambil. Acara makan malampun dimulai. Mereka makan tanpa bersuara. Bahkan si Maiko bengal juga tidak berkata apa-apa. Makanan dihabiskan dalam waktu duapuluh menit. Setelah itu Minho pamit dengan alasan masih ada pekerjaan yang tertunda. Dia membayar bon yang disodorkan seorang pelayan, kemudian meninggalkan Maiko dan Hyunjoong yang masih setia di tempatnya.

Maiko meletakkan serbet yang digunakan untuk mengelap mulutnya ke atas meja, kemudian mengerak-gerakkan tubuhnya sambil menghembuskan nafas berkali-kali.

"Hati-hati nanti patah tulang .. ," ujar Hyunjoong tanpa melirik gadis di sebelahnya.

"Mwo?" Maiko menghentikan kesibukkannya. "Apa katamu?"

Hyunjoong tidak menjawab. Dia malah mengambil gelas dari atas meja dan mereguk anggur yang tersisa dengan nikmat.

Maiko langsung cemberut. "Ya sudah!" katanya--cuek.

Kemudian dia berdiri dari tempatnya. "Kamu bawain barang-barangku itu .. ," tangannya menunjuk dua kantong besar yang sudah dipindahkan ke lantai.

"Mwo?" mulut Hyunjoong mengangga. "Tapi .. ," bantahannya terlambat. Maiko sudah terburu-buru meninggalkan ruangan itu.

brakkk ..., pintu ditutup dengan keras.

"YAA--MAIKO KATADA!!" teriakannya tidak berguna. Maiko sudah menghilang dari situ--meninggalkan dua kantong besar yang harus dibawa olehnya. Hyunjoong menatap nanar dua kantong besar yang terlihat berat itu--lemas.

  
*************
« Last Edit: September 05, 2010, 05:34:06 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline viollet.koo

  • Full
  • ***
  • Posts: 371
  • I'm minsunner until the end of time ♥ minsun
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Miiiiiiiiii gomawo udah di update  [cheekkiss] save dulu...baca besok  [hmpfh]

 이민호 ♥ 구혜선

-Viollet Koo-