Author Topic: *When a Gay met a Young Mom (in love again)* ~chp 22 (ending), 22 Jan'2011  (Read 97568 times)

Offline Mawar Jingga

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
    • View Profile
Thanks ya Shanty buat ending versi kamu. Tapi masih ada yang versi Loph kan?  [hmpfh] [hmpfh] *tetap ngarep*...

Kalau ada, ditunggu ya Loppph.... muahhh... [huglove]

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
MISI....NUMPANG LEWAT!!!!!!!

uda ada updatetan dari mami blon??  [hmpfh]

thanks bgt buat end chap WGYM versi sis shanty  [lovestruck] [lovestruck]

 [i love you] sis,,,sweet end  [AddEmoticons04225]

Love you more than I can say

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
weee mancapp nih bikinan shanty onn tapi kok gak ada yang bikin  [drool] [drool] [drool] [drool] [drool] [drool] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] ayooo mami update versimu sapa tau ada yang bikin [on] [on] [on] [on] [on] [on] [on] [rofl] [rofl] [rofl] [rofl] [rofl]

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile

Thanks ya Shanty buat ending versi kamu. Tapi masih ada yang versi Loph kan?  [hmpfh] [hmpfh] *tetap ngarep*...

Kalau ada, ditunggu ya Loppph.... muahhh... [huglove]

MISI....NUMPANG LEWAT!!!!!!!

uda ada updatetan dari mami blon??  [hmpfh]

thanks bgt buat end chap WGYM versi sis shanty  [lovestruck] [lovestruck]

 [i love you] sis,,,sweet end  [AddEmoticons04225]

huaaaa,,, thx bgt tuk shanty yg dah ksih kado tuk bengkok..... krennnn... happy ending yg sweet....:) :) :)

tpi tar ini bakal nyambun g sama ending yg mami buat pa beda lg c mksudnya? rada bingung saya....hehhee

weee mancapp nih bikinan shanty onn tapi kok gak ada yang bikin  [drool] [drool] [drool] [drool] [drool] [drool] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] ayooo mami update versimu sapa tau ada yang bikin [on] [on] [on] [on] [on] [on] [on] [rofl] [rofl] [rofl] [rofl] [rofl]


All : thnx buat commentnya ttg ending bengkok versi gw and juga thnx buat mami dah ngepost di mari [huglove] [huglove] and pastinya gw juga menanti ending bengkok dari mami yg pastinya bakalan bikin ni ending bengkok lebih berkesan dan mungkin gw bakalan sedih karena hrs berpisah ama bengkok  [cry] [cry]

and buat mpirrr: dasar ya lo otak cum2, gw bikin yg scene kissu aja merinding disko apalagi kalo ampe yg guling2an [laughing] [hmpfh] tapi kalo mami bikin yg HAWT ampe guling2an ,gw juga dgn senang hati menanti PM an (cum cum .com) [hmpfh] [hmpfh]

Mami, UP DATE UP DATE UP DATE,  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

satu request lagi boleh ga mi [heh], up date RATHDAZE donks mi ama si little coward [hmpfh]... MAMI i lop u poreper [huglove] [huglove](ngerayu ceritanya [hmpfh])


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
well, tunggu sebentar,, lagi edit2 piku [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
CHAPTER TWENTY TWO
(ENDING)



Song of the day :
JJ Lin ft. Charlene Choi - Little Dimples
http://www.youtube.com/watch?v=Qs0X8C9Jdvo&feature=related

Lyrics : I'm still searching
for someone to lean on
and for a hug
who would pray for me?
worry for me?
be angry for me and be upset for me?

Happiness starts to look likely in the future
fate lets us slowly get close together
and then loneliness disappears
boredom is filled with conversations
changes are happening

little dimples, long lashes
these are your most beautiful trademarks
Every night, I can't sleep
Missing your smile
You don't know
How important you are to me
With you, life is perfectly complete

Little dimples, long lashes
Irresistibly mesmerizing
I slowed my steps
It feels as if I'm drunk
I finally found
The wonderfulness of a heart to heart connection
A lifetime of warm goodness
I will love you forever, from now until you're old



(Nyanyi : )"Sangaeil-chukaehamida ... sangaeil-chukaehamida ...... , .... 'sangaeil-chukaehamida ... "

"Haraboji! Sangaeil-chuake!!" Kangsan merangkul Mr. Lee erat-erat--sampai orang tua itu hampir tak bisa bernafas--, lalu mendaratkan ciuman lengket ke pipinya, hingga menimbulkan suara keras--baik di sebelah kanan maupun di sebelah kiri.

Mr. Lee tertawa lebar. "Gumawo--gumawo, San-a .. Haraboji sangat bahagia hari ini .. ," kemudian dia beralih ke bayi mungil dalam dekapan Hyesun. "Bagaimana denganmu, sayang?" tanyanya pada bayi yang sedang tertidur lelap itu. "Apa yang akan kau berikan pada haraboji?"

Hyesun tersenyum sambil mengelus kepala putrinya. "Dia akan merangkul dan mencium tuan, seperti yang dilakukan San, jika dia sudah besar nanti .. "

"Ha .. ha .. arasoyo .. " Mr. Lee tertawa. "Saya mengerti, Hyesun-a .. Pertanyaan tadi hanya dengan maksud bercanda. Jangan dianggap serius .. " Kemudian dia mencolek pipi tembem Yuri. "Cucu haraboji pasti akan menyayangi dan melindungi haraboji, benar kan?"

Hyesun mengulum senyum melihat kelakuan pria itu. "Ne. Dia akan melakukannya ... ," jawab Hyesun.

Lalu tiba-tiba Kangsan berseru, "San juga menyayangi, dan akan selalu melindungi haraboji!!" Anak itu menyinsingkan lengan baju dan memperlihatkan otot lengannya yang sama sekali tak kelihatan.

Mr. Lee tergelak keras, "Jeongmal?"

"Ne!!" Kangsan mengangguk keras-keras.

"Ha .. ha .. anak pintar .. " Mr. Lee mengelus sayang kepala Kangsan, kemudian melebarkan tangannya kearah Hyesun. "Boleh saya mengendongnya?"

"Tentu .. ," Hyesun tersenyum kemudian menyerahkan Yuri kepada Mr. Lee.

"Dia sangat manis .. ," kata Mr. Lee setelah Yuri berada dalam tangannya. "Kalau tak ngambek--sungguh, dia sangat mirip denganmu, Minho-a ... " Dia mengangkat wajah kearah Minho.

Mendengar perkataan ayahnya, Minho mengangguk dengan mantap. "Ne. Saya rasa juga begitu!" lalu tangannya melingkar ke pundak Hyesun yang duduk di sebelahnya, sambil menatapnya lembut. "Karna waktu mengandungnya, kau terlalu merindukanku, iya kan, baby?"

"Mwo?" Hyesun berpaling dengan cepat.

"Bukankah begitu?" tanya Minho dengan senyum mengoda. "Ayo, ngaku saja! Jika tidak, mana mungkin Yuri begitu mirip denganku? haha .. "

"Yaa--" Hyesun mengangkat tangannya.

Mengira Hyesun akan memukulnya, Minho segera memejamkan mata rapat-rapat. Tapi dia salah. Hyesun tak melakukan itu. Memang tangan Hyesun mendarat di wajahnya, namun tak terasa sakit, karna Hyesun mengelusnya  dengan lembut. Minho membuka mata perlahan-lahan. "Baby ... ," panggilnya tersendat-sendat. Tak dapat dipercaya Hyesun akan berlaku seperti ini--apalagi di depan orang lain, terutama ayahnya sendiri. Hyesun sedang tersenyum padanya. Ya--tersenyum dengan lembut. Sepasang mata yang berbinar-binar.

"Ne--dia mirip denganmu. Karna dia memang putrimu--putri kandungmu .. "

"Apa saya melewatkan sesuatu?" pertanyaan Mr. Lee yang tiba-tiba menyadarkan keduanya dari kehayutan perasaan masing-masing.

Minho dan Hyesun berpaling kepadanya.

"Kelihatannya benar kan?" ulang Mr. Lee. "Telah terjadi sesuatu antara kalian?" sambungnya dengan nada menyelidik.

Minho tersenyum. "Ne. Tapi, saya tidak akan menceritakannya sekarang .. "

"Mwo? Kenapa?"

Minho melepaskan rangkulannya dari pundak Hyesun, kemudian menuju ke tempat ayahnya. "Appa .. ," panggil Minho sambil meletakan tangannya di buku-buku tangan Mr. Lee. "Sangeil chukae." dia tersenyum lembut. "Ini ulang tahun pertama yang saya lewatkan bersama appa. Tahun lalu--saya tak mampu melakukannya. Miane. Tak ada yang bisa kuberikan karna aku memang tak mengetahui apa yang appa sukai. Tapi ... " Minho mengeledah tasnya, kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil yang panjangnya kira-kira tigapuluh sentimeter. Disodorkannya kotak tersebut pada Mr. Lee. "Sangaeil chukae .. "

"Untuk ku?" tanya Mr. Lee terkejut.

"Ne .. ," jawab Minho. "Hanya hadiah sederhana. Semoga appa menyukainya .. "

Mr. Lee menerima kado itu dengan tangan gemetar. Perlahan, dua bulir airmata jatuh dari pelupuknya. "Bo .. boleh ... dibuka?"

"Tentu .. "

Mr. Lee membuka pita yang mengikat kotak di tangannya dengan gerakan lambat. setelah itu dibukanya penutupnya. Matanya melebar. Benar kata Minho--hanya hadiah sederhana dan tak bervariasi. Karna yang diberikan Minho hanya sebuah dasi. Tapi dasi ini memberi arti sangat dalam buat Mr. Lee. Dasi ini adalah hadiah pertama Minho untuknya.

"Gumawo ... "

Minho mengeleng perlahan. "Untuk tahun depan, saya akan lebih memperhatikan kegemaran-kegemaran appa .. Apa yang appa sukai dan cintai .. "

"Iya. Perlahan saja .. " Lalu Mr. Lee berpaling pada Hyesun. “Yang paling ingin kuucapkan terimakasihnya, adalah kau, Hyesun-a .. “

“Aku?” Hyesun menunjuk dirinya dengan heran. “Weoyo?”


“Ne. Kamu .. ,” Mr. Lee mengangguk sambil tersenyum lembut. “Karna kau telah mengembalikan Minho padaku—putraku yang hilang selama tujuh tahun, putraku satu-satunya .. dan juga membantu menyelesaikan semua masalah yang terjadi pada kami .. “

“O—“ Hyesun mengangguk-angguk tanda mengerti. “Tak perlu terlalu dipikirkan, tuan Lee. Saya senang dapat membantu .. “

“Satu hal lagi!” ujar Mr. Lee tiba-tiba.

“Dhe?”

“Terimakasih buat cucu-cucu yang kau berikan. Mererka merupakan hadiah paling indah, tiada taranya buatku … “

Hyesun tersenyum. Dia tak menjawab karna bulir-bulir airmata sudah hampir jatuh dari pelupuk matanya dan ditahan dengan susah payah agar tak mengalir keluar. Dia sangat terharu—bahagia buat semua akhir ini. Tanpa disadari olehnya, tangannya menempel ke bagian perut dan mengusapnya dengan lembut.

Ya, masih ada hadiah dalam perutnya itu. Sesuatu yang sama sekali tak diperkirakannya setelah berhubungan kembali dengan Minho. Sesuatu yang ajaib dan terjadi hanya dalam hubungan sekali. Apakah semua ini karna kemurahan hati Tuhan? Bahwa sesungguhnya dia masih membutuhkan Minho buat menjaganya seumur hidup? Mungkin!! Hyesun menetapkan itu sebagai jawabannya.

“Kenapa, baby?”

Pertanyaan pelan dari Minho menyadarkan Hyesun dari lamunannya. Dia berpaling kepadanya dan tersenyum.

“Anhi—tak apa-apa. Saya hanya—lapar …”

“Lapar?”

“Ne .. “

“Secepat itu? Kan kita baru makan dua jam yang lalu .. ,” tanya Minho keheranan. Daya makan Hyesun makin besar saja .. , pikirnya.

“Iya, … tapi saya sudah lapar lagi .. ,” rengek Hyesun. Dia jadi tersenyum sendiri. Ini untuk pertamakalinya dia merengek pada Minho. Seingatnya, dia tak pernah melakukannya. Ya, sekalipun dalam hubungan mereka selama setengah tahun dulu.

“Baiklah .. “ Minho tersenyum,untuk kemudian mengelus lembut kepala Hyesun—memperlakukannya laksana Kangsan dan Yuri. “Kita makan sekarang. Buka bekal-bekal yang kita bawa dan taruh di lapangan rumput ini … Ayo San!!” Dia menoleh dan berteriak pada Kangsan. “Bantu appa mengeluarkan bekal-bekal dari kantong-kantong, San-a!!”

“NE!” Kangsan melonjak bangun dari duduknya. Sebelah tangannya menempel di jidat. “Siap bos!!!”

“Ha .. ha .. kemarilah!!”

Dalam sekejap, terjadi kesibukan di tengah lapangan rumput itu. Kangsan dan Minho bahu membahu mengeluarkan bekal-bekal yang tak terhitung banyaknya. Sedangkan Hyesun memperhatikan semua itu sambil mengulum senyum. Sesekali dia menelan liur menyaksikan makanan-makanan yang mulai tersaji di depannya. Mr. Lee mengelus lembut kepala Yuri, lalu menerawangkan pandangannya ke langit. Dia sangat bahagia. Sungguh tak dikira, dalam usianya yang mencapai baya ini, dia dapat menyaksikan adegan-adegan yang ingin disaksikannya sejak dulu. Dalam hati, dia sangat bersyukur pada Tuhan. Perlahan dia menunduk, kemudian mendaratkan kecupan hangat di kepala Yuri.

Sehabis acara makan-makan, mereka melanjutkan permainan sesuai jadwal yang sudah disusun sebelumnya. Minho mengeluarkan layang-layang yang disimpan dalam bagasi mobil, kemudian mengajari Kangsan memainkannya. Hyesun ikut dalam permainan itu. Mereka tertawa ketika layang-layang tersebut berputar-putar di udara. Dan menjerit begitu layang-layang tersebut putus. Mereka berkejar-kejaran. Sibuk mengikatnya kembali kemudian menerbangkannya lagi ke udara.

Sementara itu, Mr. Lee memperhatikan adegan-adegan tersebut dari tempatnya sambil tersenyum lebar. Tangannya memeluk erat Yuri. Permainan baru dihentikan setelah si bayi bengal menangis keras minta makan. Hyesun menyiapkan susu lalu memberikannya pada Minho karna memang Minho memintanya dengan keras. Minho menyusui Yuri dengan botol. Dia memperhatikan dengan penuh kasih sayang putrinya yang menyedot susu dengan sangat cepat.

Setelah itu, permainan tak dilanjutkan lagi. Mereka lebih memilih duduk-duduk di lapangan rumput yang dilapisi kain lebar sambil menikmati keindahan pemandangan yang beranjak senja. Sinar mentari mulai menguning, menyorotkan kelembutan dan kehangatan. Minho menjatuhkan pandangan ke pemandangan bukit di kejauhan sana. Yuri masih berada dalam rangkulannya. Sedangkan Hyesun, perlahan-lahan menyandarkan kepalanya ke pundak Minho.

Minho meliriknya. “Indah ya?”

Hyesun mengangguk. “Ne .. “ Suaranya keluar berupa desahan.

Setelah itu sunyi. Mereka hanyut dalam ciptaan Tuhan yang maha besar. Mr. Lee berada di belakang mereka. Mengamati mereka dengan seksama, kemudian dia tersenyum. Kangsan yang bermaksud menarik lengan Minho, segera ditariknya kembali.

“Mau apa?” bisiknya halus.

Kangsan berpaling padanya. “Main sama appa .. ,” jawab anak itu dengan ekspresi kocak.

Mr. Lee mengeleng. “Jangan! Biarkan saja appa dan omma begitu.” Sahutnya, masih sambil berbisik. “San ingin bermain?!”

“Ne!” sahut Kangsan.

“Kalau begitu, biar haraboji yang temanin .. “ Kemudian pria paruh baya itu membawa Kangsan ke tengah lapangan dan main bola bersama.


><><>O<><><



Malam harinya—Minho memasuki kamarnya. Hyesun yang sedang mengoleskan cream di wajahnya segera berbalik kearahnya.

“Gimana dengan anak itu?”

“Sudah tidur .. “ Minho terkekeh. “Mungkin kecapekan.” Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Aneh juga ya?”

“Mwoga?” tanya Hyesun sambil mengerutkan alisnya.

“Dia berkeras tidur dengan appa sedangkan biasanya dia nggak mau dipisahkan darimu. Aneh kan?”

“Mungkin dia sudah merasa akrab dengan kakeknya itu .. ,” kata Hyesun sambil berdiri dari duduknya.

“Ya, mungkin juga … ,” jawab Minho sambil menjatuhkan diri di ranjang. Pandangannya bertemu sesosok tubuh mungil yang sedang tertidur pulas. “Yaa—“ dia tersenyum. “Si nakal ini tertidur juga … “

“Iya .. “ Hyesun ikut menjatuhkan dirinya di ranjang—di sebelah Minho. “Sempat ngambek tadi. Tapi setelah kenyang, dia langsung tidur .. “

Tiba-tiba Hyesun melihat senyum tipis tersungging di wajah Minho.

“Mwo?” tanyanya heran.

“Berarti?” Minho mengangkat alisnya.

“Mwo?” tanya Hyesun lagi—semakin tak mengerti.

“Kita … “ Mendadak Minho menekan kedua tangan Hyesun, menimpa tubuhnya hingga terhempas ke ranjang.

Hyesun tersentak kaget. “Hey—apa-apaan ini?”

“Saya tahu kau mengerti maksudku, baby?” tanya Minho nakal.

“Yaa—“ Hyesun berusaha mendorong tubuh Minho ke belakang. “Kau akan membangunkan Yuri dengan mengerak-gerakan ranjang ini!!”

“Salahmu sendiri .. “ Minho memonyongkan bibirnya.

“Mwo? Memangnya apa salahku?”

Minho menunjuk ke ranjang baby yang terletak di samping ranjang. “Saya sudah mempersiapkan itu, tapi kau malah membaringkannya di sini .. “

“Hah—“ Mata Hyesun terbelalak lebar.

“Benar kan?!” sela Minho sambil mengerutkan bibirnya. Pura-pura tidak senang.

Hyesun tertawa. Saking gelinya terhadap tampang Minho, dia tertawa sambil memegangi perutnya.

“Yaa—apa yang lucu?” protes Minho.

“Tampangmu .. ha …. Ha … “ Hyesun menunjuk dengan ekspresi geli. Namun sebelum Minho mengajukan keberatannya lagi, tiba-tiba dia mengangkat tubuhnya dan mendaratkan ciuman lengket ke bibir Minho. “Aku akan memindahkannya sekarang .. ,” bisiknya di telinga Minho.

Mata Minho melebar. Tubuhnya jadi kaku. Dia tak bereaksi ketika Hyesun mendorongnya ke samping, berdiri dan memindahkan tubuh mungil Yuri ke ranjang bayi. Setelah itu, Hyesun kembali merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.

“Minho-a .. ,” panggilnya pelan.

Namun cukup keras untuk membangunkan Minho dari keterpanaannya. “Dhe?”

“Gumawo buat segalanya … “

“Baby … “ Minho menjatuhkan dirinya kembali, di atas Hyesun. Dia menyangga tubuhnya dengan kedua tangan. Kemudian dielusnya lembut pipi gadis di bawahnya. "Sarangheyo ... " Perlahan dia menunduk dan mendaratkan bibirnya ke bibir Hyesun, melumatnya dengan lembut.


Hyesun memejamkan matanya. Tangannya melingkar ke leher Minho, kemudian membalas lumatan di bibirnya. Dia mendesah. Tangan Minho mulai mengerayangi tubuhnya. Mulai dari wajah, bergerak perlahan ke bawah sampai menyentuh bukit dadanya. Hyesun mengangkat badannya sedikit, lalu mengerang kecil. Minho menurunkan ciumannya ke telinga, lalu berputar ke leher, menjilat dan mengecapnya dengan bergairah. Hyesun menengadah sehingga Minho dapat bergerak dengan leluasa di bagian lehernya. Kemudian permainan Minho mulai liar. Tangannya menyusup ke dalam kaos yang dipakai Hyesun, menyentuh buah dada yang menantang itu, menarik bra-nya ke bawah, lalu meremas sepasang kulit kembar yang kenyal.

Hyesun mengigit bibirnya. "Minho-a ... "

"Baby .. " Minho ikut mendesah.

Lalu dia menarik diri ke belakang, membuka kancing kemejanya satu persatu, sampai seluruh kancingnya terlepas dilemparnya kemeja ke lantai. Setelah itu dia melakukan hal yang sama pada Hyesun.

Hyesun pasrah saja. Menatapnya dengan mata redup. Dia membantu dengan membuka pakaian dalamnya--yaitu bra yang masih tersisa di bagian tubuh teratas. Minho mengamati semua itu sambil membuka celananya sendiri. Lalu Minho kembali membaringkan Hyesun di atas ranjang, menciumnya dengan ganas. Hyesun balas merangkulnya, memberikan kecupan-kecupan dan lumatan-lumatan yang tak kalah liarnya--sampai meninggalkan bercak-bercak merah di sekujur tubuh Minho.

Mereka sudah polos sekarang. Desahan dan erangan membuat kamar itu semakin panas. Hyesun terlonjak ketika Minho memasukan sesuatu ke dalam tubuhnya, lewat bagian vital di antara selangkangannya.

"Minho-a!!" jeritnya tertahan. Dia memejamkan mata rapat-rapat--meresap semua kenikmatan yang selama ini sangat dirindukannya.

Begitu juga Minho. Dia berseru di sela-sela telinga Hyesun. "Baby ... ahh--akhh ... sarangheyo ... "

Keadaan itu berlangsung berulangkali, sampai mereka terkapar kelelahan di atas ranjang dengan sekujur tubuh basah bersimbah keringat.


><><>O<><><



Hyesun tersenyum dalam rangkulan Minho. Tatapannya tak berkedip tertuju pada pemuda yang terbaring dengan mata terpejam itu. Entah dia ketiduran atau tidak, Hyesun selalu merasa takjub begitu melihat wajah itu. Perlahan, Hyesun mengangkat tangan dan mengelus lembut wajah Minho.

Tanpa diduga, paras sempurna itu tersenyum. Walaupun matanya tak dibuka, senyuman itu terhias jelas di wajahnya. Lesung pipi yang sangat dalam menghiasi wajah Minho.

"Sudah bangun?"

Minho membuka matanya. "Ne. Dan kau?"


Hyesun tersenyum sambil mempererat rangkulannya. "Saya tak bisa tidur .. "

"Weeyo?" tanya Minho. Wajahnya mengisaratkan kekhawatiran. "Kau tak enak badan?"

"Aniyo .. ," Hyesun mengeleng. Kemudian, dia mendaratkan ciuman ke dagu Minho. "Saya hanya ingin melihatmu. Melihatmu dari jarak sedekat ini ... Terutama senyum dan ... " Hyesun menekan pipi Minho. "... lesung pipimu, .. itu yang membuatku tak mampu memejamkan mata selama ini ... "

"O--" Minho tertawa. Lalu dia merangkul tubuh polos Hyesun erat-erat. "Baby?"

"Ne?" Hyesun menengadah.

"Gumawo atas semuanya ... " Mereka saling menatap, lalu Minho melanjutkan perkataannya. "Terimakasih atas pemberianmu. Selain Kangsan dan Yuri, juga cinta dan dirimu sendiri ... "

"Masih ada .. ," sela Hyesun. Entah mengapa, saat ini juga dia ingin menyampaikan berita ini kepada Minho.

"Mwo?" tanya Minho.

Hyesun mengenggam tangan Minho, kemudian membawanya perlahan ke perutnya. "Di sini ... "

"Dhe?" Minho memandanginya keheranan. "Apa?"

Hyesun tak menjawab. Dia mengulum senyum sambil mengerling malu-malu kearah Minho.

"Maksudmu?" tanya Minho kembali. "Apa, baby?" tuntutnya. "Katakan padaku!"

"Kau tak bisa menebaknya?" Hyesun balik bertanya. "Apa kau sungguh-sungguh tak mampu merasakannya? Di sini!" Dia menekan telapak tangan Minho ke perutnya. "Bagaimana? Apa kau merasakannya?"

"Maksudmu?" Mata Minho melebar. "Maksudmu ... , a ... apakah .... "

"Ne ... ," jawab Hyesun sambil menundukan kepalanya.

"Be .. benarkah?" Minho terbelalak lebar. "Maksudmu, aku akan jadi ayah lagi? Kau .. mengandung?"

"Ne .. ," jawab Hyesun sekali lagi.

"Jeongmal?!!" seru Minho. Diguncangnya tubuh Hyesun. "Baby?!!"

"Ne. Kau akan jadi ayah lagi. Kangsan dan Yuri akan memiliki dongseng .. "

"Tapi, kapan? Oh--" Minho tiba-tiba menepuk jidatnya. "Malam itu--setelah dari pesta pernikahan Soeun-ssi?"

"Ne .. " Hyesun mengangkat wajahnya. "Apa .. kau .. bahagia dengan ... "

"Tentu saja!" potong Minho. "Aku sangat bahagia, baby. Yuhuy--!!!"

Mendadak Minho menyibak selimut yang menyelimuti tubuh mereka dan melompat dari ranjang. Dia berlari kearah lemari dan membuka salah satu lacinya.

"Kau kenapa?" tanya Hyesun bingung.

Minho tak menjawab. Semenit kemudian dia kembali lagi dengan sebuah kotak kecil di tangannya. Dia menjatuhkan diri di atas ranjang, tepat di depan Hyesun. Dibukanya kotak tersebut dan menyodorkannya ke hadapan Hyesun. Dia tersenyum.

"Aku menantikan jawaban 'IYA' buat pertanyaan apakah kau bersedia menikah denganku, baby?"

Hyesun tertegun. Ternyata yang berada dalam kotak di tangan Minho adalah sepasang cincin bertahta berlian besar. Sinarnya berkilauan dalam ruangan yang masih buram-buram itu. Maklum, saat itu waktu baru menunjukan pukul 5 lewat seperempat pagi.

"Bagaimana, baby?" tanya Minho. "Maukah kau menjadi istriku?"

Hyesun mengigit bibirnya, kemudian ... tanpa diduga, dia mengeleng.

"MWO?!!" Minho terperanjat kaget. "Mengapa?!! Apa kau masih marah padaku? Kenapa, baby?" tanyanya bertubi-tubi.

"Bukan begitu!" sahut Hyesun. Dia membungkuk dan meraih tas yang tergeletak di samping ranjang. Kemudian dia mengeledah sejenak, setelah dapat, dikeluarkannya sesuatu dari dalam. "Saya memilih cincin ini .. ," katanya sambil menyorongkan kotak dari kayu merah berkilat yang sudah dibukanya.

"Ini ... ," suara Minho tercekat. Sekarang terlihat jelas sepasang cincin yang diberikannya pada Hyesun beberapa waktu lalu. Cincin yang dipesan dan dibeli khusus buat melamar Hyesun setahun yang lalu--yang tidak disempat diberikannya karna kepergian gadis yang sangat dicintainya ini. Cincin antik yang terpahat halus dengan beberapa bintang yang menaungi sebuah bulan sabit yang kelihatan menunduk malu-malu. "Kau .. menyimpannya?"

"Ne .. " Hyesun mengambil salah satu cincin itu dan memperhatikannya. "Saya menyukainya sejak pertama kali melihatnya," katanya. "Saya ingin sekali memakainya tapi ... tak kulakukan, karna ... saya tak mau benda berharga ini hanya perlambang dari ucapan terimakasihmu. TIDAK MAU!" Kemudian Hyesun meletakan cincin itu di tangan Minho. "Saya ingin kau menyematkannya di tanganku, ketika aku mengatakan 'IYA' buat pertanyaanmu. Aku rela, Minho-a .. "

Minho terpana. "Chinja? Kau bersedia?"

"Ne .. " Hyesun mengangguk yakin. "Karna aku mencintaimu, Minho-a .. "

Tak tertahankan lagi, Minho meraup tubuh Hyesun ke dalam pelukannya. Dikecupnya dalam-dalam jidat Hyesun. "Saranghe, baby .. saranghe ... " Kemudian dia menyematkan cincin di tangannya ke jari manis Hyesun. "Sekarang .. ," katanya sambil merebahkan tubuhnya ke ranjang dan menerawangkan pandangannya ke langit-langit kamar. Hyesun merangkul erat leher Minho dan ikut merebahkan kepalanya di dada bidang pemuda itu. "Kapan kau pindah ke sini?" lanjut Minho.

Hyesun menatap Minho. "Tidak sekarang, Minho-a. Keluarga Katada belum menemukan baby sister yang cocok buat Miko. Sampai saat itu, saya masih harus menjaganya. Maiko sekeluarga sudah terlalu baik padaku, jadi aku tak boleh mengecewakan mereka. Tapi tak perlu khawatir, mereka sudah berjanji untuk menyeleksi secepatnya dari calon-calon yang sudah ada ... "

Minho mendesah, kemudian mendaratkan bibirnya di jidat Hyesun. "Ya udah, kalau begitu ... Sekarang, ceritakan padaku apa yang terjadi padamu selama setahun ini .. " katanya sambil berbalik menghadapi Hyesun.


"Kau belum mengetahuinya?" tanya Hyesun. Dia merasa agak heran. Selama ini Minho memperlihatkan sikap seolah dia mengetahui segalanya.

"Tidak seluruhnya .. ," jawab Minho. "Karna itu, aku ingin mendengarnya langsung darimu--Bukankah keterus-terangan sangat diperlukan dalam hubungan kita sekarang ini?"

"Benar juga ... ," kata Hyesun. “Tapi, sebelum itu … ,” perkataannya terputus. Dia terlihat ragu-ragu sejenak.

“Kenapa? Ada yang serius?”

“Ini tentang Yuri ..,” desis Hyesun.

“Ada apa dengan Yuri?” tanya Minho sambil mengerutkan alisnya.

“Namanya .. ,” ujar Hyesun. “Waktu itu saya sangat marah .. jadi, marganya .. saya .. saya ubah dengan margaku … “


“O—“ Minho tertawa. “Kukira ada masalah yang serius .. “

“Kau tak marah?”

Minho mengeleng. “Tidak. Kalau dipikir-pikir, wajar kau melakukannya. Saat itu kau pasti sangat tertekan dan tak tahu harus berbuat apa. Aku bersyukur kau mempertahankan Yuri, .. karna itu, tak seharusnya saya marah.”

Hyesun merangkul Minho erat-erat. “Gumawo .. “

“Sudah. Itu bisa diatur .. ,” ujar Minho sambil mencium lembut jidat Hyesun. “Kita akan merubahnya nanti .. sekarang, ceritakan apa yang kau alami selama ini .. “

Hyesun mengangguk, lalu dia mulai bercerita, diikuti selaan-selaan pertanyaan-pertanyaan dari Minho di sana sini. Setelah selesai, giliran Minho yang bercerita. Selama dua jam ke depan digunakan sepasang kekasih tersebut buat mengeluarkan semua unek-unek atau rahasia yang selama ini terjadi dan tertanam dalam hati masing-masing.


><><>O<><><



Minho mengetuk pintu ruang kerja Mr. Lee kemudian membukanya.

"Appa?"


Mr. Lee menengadah dari posisinya. "Ya?"

"Apa saya menganggu?" tanya Minho ragu-ragu. Dia melirik sekilas lembaran-lembaran yang berserakan di atas meja.

Mr. Lee memundurkan kursinya sedikit. "Tidak--tidak--kau tak menganggu. Masuklah!"

Pandangan Minho masih tertuju ke atas meja ketika memasuki ruangan. "Apa itu?"

Mr. Lee tersenyum. Dia mengambil lembaran-lembaran dari atas meja dan mengacungkannya kearah Minho. "Hanya melihat-lihat foto-foto yang kita ambil kemarin .. "

"O--" Minho meraih beberapa lembar foto, lalu dia tertawa.

"Putrimu kalau ngambek nggak ketulung .... ," ujar Mr. Lee, ikut tertawa.

"Iya .. ," jawab Minho sambil mengamati foto di tangannya. Foto itu memperlihatkan Yuri yang sedang menangis dengan menganggakan mulut lebar-lebar. Pipi tembemnya sampai mengkerut dan mata bundarnya terpejam rapat-rapat. "Aku sungguh tak mengerti mengapa dia sebandel ini?"

"Mirip denganmu .. ," sahut Mr. Lee.

"Dhe?"

"Waktu kecil, kau juga seperti itu, Minho-a .. ," ujar Mr. Lee sambil tertawa geli.

"O ya?" Minho mengangguk-angguk kecil, kemudian dia beralih ke foto berikutnya. Kangsan terlihat sangat menghayati permainan bola dengan Mr. Lee--ayahnya, dalam foto itu. "San jadi akrab dengan appa ... "

"Ne .. ," sahut Mr. Lee. "Dia anak yang menyenangkan .. "

"Benar .. " Minho menyetujui. "Dia juga lucu dan pintar .. "

Mr. Lee mengamati Minho, kemudian bertanya perlahan. "Apa kau bahagia, Minho-a?"

Minho menghentikan gerakan tangannya menyibak-nyibak foto, lalu mengangkat wajah menghadapi Mr. Lee. "Ne. Sangat, appa!!" ujarnya yakin, kemudian dia melanjutkannya lagi, " ... sebenarnya, ada hal lain yang ingin kubicarakan dengan appa ... , berhubungan dengan maksud kedatanganku ke sini .. "

"Apa itu?"

"Kami akan menikah!" jawab Minho tanpa basa basi.

"Mwo?" Mr. Lee terlonjat kaget. "Siapa katamu?" tanyanya sekali lagi--buat menyakinkan pendengarannya sendiri.

"Aku dan Hyesun!" ujar Minho. "Kami berencana menikah secepatnya .. "

"Mwo?! Kapan itu?"

"Paling lambat dua bulan mendatang .. " Minho kemudian menjatuhkan dirinya di kursi. "Tak bisa ditunda lagi karna Hyesun sudah mengandung .. "

"Mwo?" Mr. Lee terlihat lebih kaget lagi mendengar kabar ini. "Mengapa bisa begitu? Kapan ... kapan kalian melakukannya?"

Minho membisu di tempatnya. Terlihat agak risih terhadap pertanyaan ayahnya yang langsung ke pokok masalah.

"Appa tak senang?" Dia malah balas bertanya.

"Aniyo!!" Mr. Lee mengeleng dengan cepat. "Kenapa bertanya seperti itu? Tentu saja appa bahagia mendengar kabar ini .. " Kemudian dia berdiri dari kursi dan mendekati Minho. Ditepuknya pundak pemuda itu. "Baiklah. Appa tidak akan menanyakan apa-apa lagi. Yang penting kau bahagia, appa menurut saja ... "

Minho tersenyum. "Gumawo, appa .. "

Mr. Lee kemudian mengangguk-angguk puas. "Bagus--bagus. Keluarga kita akan lebih utuh lagi dengan kehadiran si kecil. Walaupun, appa sudah cukup puas dengan Kangsan dan Yuri, tapi ... appa ikut berbahagia buatmu, Minho-a. Akhirnya apa yang kau harapkan dan impikan selama ini, terwujud juga .. "

"Ne .. ," Minho mendesah. Dia mendongak--mengarahkan pandangannya ke langit-langit ruangan yang agak kelam, kemudian tersenyum perlahan. "Semua sudah berlalu .. "


><><>O<><><



Hyunjoong bergerak dari posisinya begitu sosok yang ditunggunya keluar dari gedung. Tampangnya berubah keras. Pencariannya selama sebulan ini membuat hatinya panas saat itu juga.

"MAIKO KATADA!!" teriak Hyunjoong keras-keras.

Maiko menghentikan langkahnya. Kepalanya yang sedari tadi tertunduk, menengadah. Dia terlihat kaget, tapi itu hanya sesaat. Sebentar kemudian, parasnya sudah berbalik kembali, dingin. Dia melanjutkan langkahnya—dan seakan tak melihat Hyunjoong, dia lewat begitu saja.

"HEY--" Hyunjoong menarik tangan Maiko. "Mau kemana?!!"

"Apa perdulimu?!" Cewek itu berteriak. Tangannya segera dikibaskan dengan ekspresi murka. "Jangan menyentuhku!"

"Kenapa?" Hyunjoong mendelik. "Kemana saja kau selama ini? Aku nyariin kemana-mana tak ketemu. Kata paman Katada, kau kembali ke Jepang, apa benar?"

"Apa perdulimu?" Maiko kembali meneriakan pertanyaan itu. "Jika kau masih terombang-ambing sama perasaanmu sendiri, jangan sekali-kali mencariku lagi!!"

"Mwo? … Kau .. " Hyunjoong mengangkat telunjuknya, namun perkataannya tak berlanjut. Selama beberapa saat keduanya saling menatap dengan sikap menantang.

"Saya akan menutup galeri ini dan tak akan kembali ke sini!!” ketus Maiko kemudian.

“Mwo?” seru Hyunjoong kaget. “Kenapa? Bukankah kau sudah menaruh seluruh perhatian dan waktu dalam mendirikan galeri ini? Kau mengunakan segenap hatimu dalam merancang semuanya, .. saya tahu itu … Lalu kenapa? .. ”

Maiko mengangkat bahunya. “Untuk apa?” ujarnya cuek. “Semua sudah tak berarti lagi. Saya akan pindah ke Jepang—bekerjasama dengan kak Soko, mendirikan galeri lain di Tokyo … “

“Tidak boleh!!” celetuk Hyunjoong tiba-tiba. Matanya bersinar tajam dan gelap. “Kau tak boleh melakukan itu! Kau tak boleh pergi dari sini!” mendadak dia menyambar tangan Maiko dan menarik kearahnya. “Kau dengar?!”

“Memangnya kenapa?!” Maiko mengeraskan suaranya, kemudian mendorong Hyunjoong. Tangannya ditarik dengan keras sehingga terlepas dari cengkraman pemuda itu. “Saya rasa keputusanku tak ada hubungannya denganmu, Kim Hyun Joong-ssi .. “

Dia mendelik—sangat murka dan marah besar. Dia pingin teriak kembali, ataupun ngamuk-ngamuk tak karuan. Tapi karna dirasa semua itu percuma—dia mempelototi Hyunjoong dengan mata membulat, lalu melewatinya tanpa berujar apapun lagi.

Mendadak sebuah tangan mendarat di lengannya. Mata Maiko membesar. Sebelum sadar apa yang terjadi, tangan tersebut sudah menariknya ke belakang dan .. tanpa diduga, seraut wajah condong kearahnya dan langsung menyambar bibirnya dengan panas. Maiko tersentak—kaget dengan mata terbelalak lebar.


Hyunjoong melumat bibirnya dengan bergairah. Lidah yang bergelora memasuki mulut bahkan hampir mengenai kerongkongannya. Maiko mendesah. Jantungnya berdegup kencang. Hyunjoong menciumnya hanya dalam tiga menit, kemudian melepaskannya kembali.

“Wee… yo? A .. apa maksudnya ini?” tanya Maiko tersendat-sendat.

Hyunjoong menatapnya, kemudian .. tersenyum perlahan. “Artinya … , “ alisnya terangkat, “ … aku menyerah. Kau menang, Mai!”

“Jadi?” ulang Maiko buat memastikan. Ditatapnya pemuda di depannya lekat-lekat.

“Aku pasrah.” Hyunjoong mengerakan bahunya. “Terserah apa hukumanmu. Sarangheyo, Maiko Katada .. “

“Hah—“ Maiko terbelalak. “Chin .. ja?”

“Ne!” Hyunjoong melebarkan tangannya. “Apa .. aku bakal dapat pelukan?”

“Yeahh!!!!” Tiba-tiba Maiko merangkulnya erat-erat. Sepasang lengan cewek itu melingkar ke lehernya sampai hampir tak bisa bernafas. Hyunjoong tertawa. Perlahan dilepaskannya gayutan Maiko di lehernya.

“Jadi—apa galerimu akan tetap dipindahkan ke Jepang?”

“Ne!!” sahut Maiko keras-keras—jawaban yang sangat mengejutkan Hyunjoong.

“Mwo? Yaa—“

“Tapi … ,” Maiko menempelkan tangannya di wajah Hyunjoong—membuat pemuda itu terpaku dalam sedetik. “Aku berjanji—eh aniyo, “ dia mengeleng. “Aku bersumpah—Cuma kau, satu-satunya di hatiku .. “

“Jeongmal?” desah Hyunjoong.

Maiko tertawa. “Ne. Karna itu kau tak perlu cemburu lagi. Apalagi sama kak Soko .. Dia hanya sebatas seorang oppa bagiku, .. lain dengamu, Kim Hyun Joong … “

Hyunjoong tak bertanya lebih lanjut. Tangannya merangkul pinggang Maiko dan membawanya ke dalam pelukan. Dia sudah tak perduli lagi dengan orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar gedung dan jalan raya. Perlahan kepalanya menunduk kemudian melahap bibir Maiko dengan bergairah.


><><>O<><><



Sabtu pagi yang cerah. Setelah menyelesaikan segala persiapan, termasuk memilih pakaian pengantin, tempat penyelenggaraan pesta pernikahan dan segala tetek bengeknya, Minho dan Hyesun meluangkan sedikit waktu buat berjalan-jalan sehabis sarapan. Kangsan dan Yuri kembali ke rumah bersama Mr. Lee, ditemani seorang baby sister yang khusus dipekerjakan Minho buat membantu Hyesun yang sedang hamil muda.

Pasangan tersebut sudah menghabiskan waktu sejam dalam sebuah mall terkenal di tengah kota Seoul ketika Hyesun tiba-tiba menghentikan langkahnya. Dia berdiri tepat di sebuah toko yang menjual pernak pernik lucu. Perhatiannya tertuju kepada sesuatu yang terpajang di etalase toko depan. Minho ikut berhenti di samping Hyesun.

"Weeyo?"

Hyesun menunjuk ke depan. "Lihat itu!"

Minho mengerutkan alisnya, lalu mengikuti arah yang ditunjuk Hyesun.


"Menurutmu .. ," lanjut Hyesun. " ... apakah kita .. akan seperti mereka?"

Minho tertegun. Yang ada di hadapannya, yang dipajang di etalase toko tersebut adalah sepasang boneka kakek nenek yang terbuat dari porselen. Pembuatan kedua boneka tersebut sangat halus--hampir tak bercacat. Keduanya duduk di atas kursi goyang. Si kakek sedang menghisap cerutunya sedangkan si nenek memangku seekor kucing dalam pangkuannya. Kedua boneka tersebut sedang tersenyum pada mereka--tidak, mereka tersenyum pada siapa saja yang memandang dan melewatinya--atau, lebih tepatnya lagi, mereka tersenyum pada dunia. Senyuman yang menyatakan kemenangannya. Mungkin karna mereka mampu hidup dan bertahan, tak terpisahkan dalam dunia yang sangat keras ini. Keteguhan dan cinta sejati yang mampu meruntuhkan semua rintangan dan cobaan berat.

Minho menghembuskan nafas perlahan. Entah mengapa, hatinya terenyuh. Apalagi ketika mendapati raut sendu Hyesun. Wanita yang sangat dicintainya ini seakan mengharapkan sebuah kepastian--kepastian dari jawaban yang ingin didapatkannya.

Minho melingkarkan sepasang tangannya ke pinggang Hyesun. Dagunya bertumpu di pundak mungil itu, dan berbisik halus, "Pasti, baby. Kita akan seperti mereka, .. bahkan lebih dari itu ... ," perlahan, dikecupnya tenguk Hyesun. "Aku berjanji padamu, apapun yang terjadi di kemudian hari, aku tak akan membiarkanmu menderita. Aku tak akan membiarkanmu menyaksikan sesuatu yang tak ingin kau saksikan .. "

Hyesun mengerakan kepalanya menghadap Minho. "Misalnya?"

Minho menyentuh pipi Hyesun kemudian menekan lembut kearahnya. "Saya tak akan membiarkanmu melihat kepergianku."

"Mwo?" Hyesun tersentak kaget. "Omongan apa ini?" tanyanya dengan alis berkerut.

Minho tersenyum, kemudian menyambung perkataannya dengan nada tenang dan lembut. "Aku tahu kau akan bersedih buat kepergianku--jika suatu saat aku meninggalkanmu lebih dahulu. Karena itu, .. kalaupun memang kita tak bisa pergi bersama--" Minho mengelus wajah Hyesun. " .. aku berjanji padamu, aku akan menjaga umurku lebih panjang agar kau tak melihat kepergianku. Biarlah aku yang bersedih dan menderita ketika menghantarmu .. biarlah begitu ... "

"Minho-a .. ," Hyesun berkata lirih.

"Aku berjanji, baby .. ," Minho mendekatkan wajahnya ke wajah Hyesun.



"Karna aku mencintaimu ... " kemudian dikecupnya perlahan bibir yang bergetar itu. " ... sampai mati .. "

"Hottie!!!"

Seruan tiba-tiba dari samping mengejutkan mereka. Minho melepaskan ciumannya dan berpaling dengan cepat. Begitu juga Hyesun.

"Jess noona!!" seru Minho kaget.

Jessica Gomez sudah berdiri di dekat mereka. "Benar kau?" Jess melebarkan matanya. "Kemana saja selama ini?"

"O--" Minho membungkuk sedikit. "Anyong, noona .. "

Jess balas dengan menganggukan kepalanya. Kemudian dia beralih pada Hyesun. Alisnya berkerut perlahan. Dia terlihat mengingat-ingat, lalu matanya melebar--dia ingat sekarang!

"Dia ... ," ujarnya sambil menunjuk Hyesun. " ... wanita waktu itu--yang ... "

"Ne!" Minho segera memutuskan perkataan Jess. "Namanya Goo Hye Sun .. "

"Oh--" Jess menutup mulut dengan tangannya. Kemudian matanya mulai membasah. Dia mendekati Hyesun dan berujar lirih. "Sosoengheyo, agashi. Saya sungguh minta maaf buat perkataan-perkataan setahun yang lalu. Saya berharap kau tak menyalahkan Minho karna sesungguhnya ... "

"Gumawo .. ," tiba-tiba Hyesun memeluk Jess erat-erat. "Gumawo buat semuanya .. ," katanya sambil tersenyum lembut.

"Mwo? Ke .. kenapa?" tanya Jess dengan mata terbelalak.

"Karna onnie, saya jadi sekarang ini .. ," sahut Hyesun pelan. "Menyadari berkah besar yang telah kuterima. Bahwa selama ini saya terlalu banyak menuntut tanpa mau menyadari dan memberi kesempatan untuk menerima. Yang sebenarnya, saya sudah memiliki segala-galanya ... "

"Kau .. kau memaafkanku?" tanya Jess tersendat-sendat.

Hyesun melepaskan rangkulannya dan tersenyum. "Saya sudah melupakan peristiwa itu. Jadi onnie juga nggak usah memikirkannya. Yang penting bagiku sekarang adalah Minho dan anak-anak ku ... "

"Anak-anak?"

"Ne ... ," sela Minho. "Kami menikah sebulan kemudian. Noona datanglah ... Surat undangannya akan kukirimkan ke '2X' ... ajak juga si Seung-gi ... "

"Kalian menikah?" Jess mengulang kata-kata itu.

"Ne .. "

"Kalau begitu, masalahnya benar-benar selesai?"

"Iya ... " Minho tertawa. "Noona tak percaya?"

Jess mengeleng. "Tidak tahu." desisnya. "Yang kuketahui, setahun yang lalu--masalahnya benar-benar runyam  .. "

"Memang ... ," kata Minho. "Tapi, kami melaluinya .. karna cinta kami teguh .. "

"Syukurlah ... ," ujar Jess terharu. "Noona berdoa buat kebahagiaan kalian." kemudian agak tergesa dia melihat ke jam kecil di tangannya. "Sekarang noona pergi dulu. Ada pertemuan dengan agen penyalur alkohol .. sampai ketemu lagi, hottie dan Hyesun-ssi .. Saya akan menghadiri pernikahan kalian .. "

"Ok--sampai ketemu, noona ... "

"Sampai ketemu .. " Jess melambaikan tangannya kemudian berlalu dari hadapan mereka.

Minho tersenyum, setelah itu dia berbalik pada Hyesun dan meraih tangannya secara tiba-tiba.

"Wee?" tanya Hyesun heran.

"Kita ke dalam .. ," jawab Minho sambil menunjuk ke dalam toko.

"Mwo?!" Hyesun melebarkan matanya. "Weeyo?" tanyanya semakin tak mengerti.

"Kau suka boneka porselen itu kan?" Minho balas bertanya.


"Iya, tapi .... "

Belum habis perkataan Hyesun, Minho sudah menariknya, bergerak dari posisi semula. "Kacha!!"

"Hey--!"

Protes Hyesun tak berarti lagi karna mereka sudah berada dalam toko dan Minho dengan semangat menunjuk dua boneka yang terpajang di depan toko pada penjaga di situ.

"Bungkuskan sepasang boneka porselen itu buatku!"


><><>O<><><



Pernikahan Minho dan Hyesun diselenggarakan secara besar-besaran di Lee’s mansion. Sejak tadi pagi para pelayan sudah sibuk keluyuran kesana-kemari—mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan buat acara besar itu. Pekarangan luar dihias sedemikian rupa. Semua tata riasnya terbuat dari mawar-mawar merah kesukaan Hyesun atas perintah Minho. Begitu juga di dalam mansion, hampir seluruh dekorasinya memakai bunga mawar merah.

Makanan-makanan istimewa dan lezat yang terolah dari tangan-tangan terampil koki-koki ternama dihidangkan di atas dua meja panjang yang terletak di ruang depan. Begitu juga gelas-gelas kristal yang ditumpuk tinggi berbentuk segitiga sudah diisi sampanye berkualitas paling bagus. Musik lembut mengalun seiring suasana sacral yang sedang berlangsung. Pernikahan tersebut akan dipimpin oleh seorang pengacara. Sedangkan pengucapan janji suci antar kedua mempelai itu sendiri sudah dilakukan di gereja Katedral, kemarin.

Para tamu sudah berdatangan, memenuhi Lee’s mansion yang luas dan megah. Di antara orang-orang tersebut, terdapat pasangan Soeun dan Jaejoong—diikuti halmonie. Ada juga Kim Joon dan istrinya—Eunhye, begitu juga kenalan-kenalan Minho dari bar ‘2X’—Jess, Seunggi dan Dara. Juga terdapat Kim Bum, si guru masak Minho, yang sedang bercakap-cakap riang sama In Sung. Sedangkan pemuda yang lain, Won Bin, ikut melibatkan diri dalam percakapan mereka. Semua orang tampak baik-baik saja. Semua masalah sudah terselesaikan. Hari ini mereka datang hanya untuk satu tujuan—yaitu menyelamati pasangan yang sedang berbahagia, Minho dan Hyesun.

Minho terlihat gelisah di tempatnya. Berulangkali tangannya mengerak-gerakan dasi kupu-kupu yang menghiasi lehernya—menarik kemudian mengembalikannya ke posisi semula. Dia sangat gelisah. Penampilannya yang mempesona saat ini tak membantu mengurangi kegelisahan-kegelisahan tersebut. Dia berjalan mondar-mandir. Tuxedo hitamnya sudah agak kusut ketika pintu di belakangnya terdengar dibuka. Minho segera berpaling.
  
Pengantin wanita memasuki ruangan dengan langkah pelan. Tangan kirinya digandeng Mr. Lee sedangkan tangan kanannya mengendong bayi mungil usia lima bulan yang memakai gaun serupa. Bedanya—gaun si pengantin wanita panjang sampai ke lantai sedangkan gaun milik si bayi pendek di atas lutut. Kangsan mengiringi langkah mereka. Dia terlihat tampan dan lucu dalam balutan jas formal warna putih.

Sekarang mereka tiba di depan Minho. Kegelisahan masih tersemburat di wajah tampan calon pengantin pria itu. Lebih dari gelisah, sekarang dia kebingungan—Bingung harus berbuat apa. Tangannya terjulur buat menyibak kerudung Hyesun ketika Mr. Lee tiba-tiba menegurnya.

“Belum saatnya, Minho-a .. “

“Oh—“ Minho menutup mulut dengan tangannya.

Suasana menjadi ramai oleh suara ketawa para tamu. Wajah Minho memerah seketika itu juga. Dia merasa bodoh. Bodoh sekali buat kegelisahannya. Padahal kemarin sudah dijalani acara seperti ini. Perjanjian suci di gereja tak berbeda jauh dengan acara sekarang, tapi entah mengapa dia masih gugup saja.

Mr. Lee menyerahkan Hyesun pada Minho.

“Jaga dia baik-baik, Minho-a .. Ingat, pernikahan adalah ikrar sehidup-semati .. “

“Ne, appa .. gumawo .. ,” ucap Minho.

Setelah itu mereka berhadapan dengan pak pengacara yang memimpin upacara itu. Pak pengacara mengucapkan sesuatu yang diikuti oleh sepasang pengantin. Selesai menandatangani surat pernikahan, pak pengacara mengijinkan Minho membuka kerudung Hyesun, mencium wanita yang sekarang sudah resmi menjadi istrinya kemudian saling bertukar cincin.

Minho membuka kerudung yang menutupi wajah Hyesun. Untuk sesaat dia terkesima. Hyesun terlihat sangat cantik dengan dandanan dan gaun pengantin yang melekat di tubuh mungilnya. Wajah itu tersipu kemerah-merahan. Sedangkan bibirnya yang ranum agak bergetar ketika Minho menciumnya.

“Sarangheyo, baby … “ Minho melumatnya perlahan.

Hyesun mendesah kemudian membuka matanya. Senyuman yang tersungging itu membuat pikiran dan perasaannya melayang. Dia mengangkat tangan dan mengelus wajah Minho. “Sarangheyo .. “ Mereka berciuman kembali. Kali ini lebih panas sehingga semua undangan sampai menahan nafas.

Minho melepaskan ciumannya pada menit ke lima, setelah itu memakaikan cincin dalam kotak di tangannya ke jari Hyesun. Begitu juga Hyesun melakukan hal yang sama. Sesaat kemudian para undangan bertepuk tangan meriah menyambut permulaan dari hidup baru sepasang pengantin ini.


><><>O<><><



Tujuh tahun kemudian …

Hyesun baru memasukan dua potong daging ke dalam panci berisi air mendidih buat sup special malam ini ketika terdengar teriakan dari ruang makan yang bersebelahan dengan dapur.

“OMMA!!!!”

Segera saja, dia menghambur keluar lewat pintu penghubung di situ dengan tangan yang masih memegang sendok besar buat mengaduk sup.

“Ne? Wegude?” tanyanya cemas.

Kangsan cemberut dan menunjuk goresan panjang yang tercetak di buku pelajarannya. “Jae Na!! Dia mencoret-coret buku ku lagi!!”

“Mwo?!!” Hyesun terbelalak. Lalu beralih ke gadis kecil berkepang dua, berusia sekitar enam tahun, yang cengar-cengir di samping meja. Tangan gadis kecil berkulit putih itu memegang pensil dan terlihat sudah bersiap membubuhkan coretan selanjutnya. Hyesun mendelik, “Lee Jae Na!! Hentikan kenakalanmu! Jangan ganggu oppa!!”

Jae Nae mencibir dan meneruskan tangannya yang sudah terlanjur diulurkan. Hyesun segera berlari kearahnya dan menarik tangannya kembali. “Hentikan, kata omma!! Oppa harus belajar buat persiapan kelulusan ujian akhir .. jadi jangan menganggunya … ,” bentak Hyesun.

Jae Nae mencibir lagi. Dia tak terlihat gentar ataupun takut terhadap gertakan Hyesun. “Oppa soak rajin!!”

“Mwo? Kau ini … “ Hyesun mendesah. Kemudian dia berpaling pada Kangsan. “Pindah ke kamar, San-a. Percuma menasehati si bengal ini—dia tak akan dengar. Ingat, kunci pintunya … “

Kangsan mendelik kearah Jae Na. Dengan malas dia berdiri dan membereskan buku-buku yang berserakan di atas meja. “Ne, omma .. “

“Tapi jangan lama-lama, San-a .. ,” lanjut Hyesun sambil membantu Kangsan membereskan buku-bukunya. “Makan malam sebentar lagi siap. Setengah jam lagi, keluar dari kamarmu .. “

“Ne .. “

Jae Na memperhatikan kesibukan mereka lewat sudut matanya. Dia mengangkat bahu cuek, meletakan pensil di tangannya, kemudian mendekati anak perempuan lain yang duduk di seberang meja sambil membaca-baca buku.

“Onnie!” Jae Na menghempaskan tubuhnya di samping anak perempuan itu.

“Eh--?” Si anak perempuan menoleh. “Mwo?”

“Baca apa?” Tanpa diduga Jae Na merebut buku tersebut dari tangan si anak yang lebih besar darinya.

“Yaa—Jangan mengangguku!!” dengus anak perempuan itu sambil menarik kembali bukunya.

“Yaa—onnie pelit!!” Jae Na merengek. “Omma!!! Yuri onnie pelit!!!” teriakannya membahana dalam ruangan itu.

Hyesun memberikan buku terakhir pada Kangsan, lalu berpaling padanya.

“Jangan berteriak, Lee Jae Na!! Omma tahu kelakuanmu! Menyingkir dari onniemu sebelum omma jewer … “

“JANGAN MANJAT SOFA, SAYANG!!!”

Perkataan Hyesun terpotong oleh jeritan mendadak dari ruang sebelah. Dia tersentak, begitu juga anak-anak yang berada dalam ruangan itu.

“NANTI JATUH!!!!” teriakan itu berlanjut.

Hyesun segera berlari kearah teriakan tersebut, diikuti Jae Na dan Yuri, sedangkan Kangsan--merangkul buku-bukunya, berdiri perlahan dan berjalan lambat di belakang, menuju ke kamarnya. Dia sudah terbiasa dengan keadaan atau keributan-keributan yang sering terjadi dalam rumah tangga ini, jadi sudah tak terpengaruh lagi. Sementara itu, anak laki-laki lain—yang sedari tadi tak terusik oleh keberisikan mereka—melirik sebentar, lalu tenggelam kembali dalam buku di tangannya.

Hyesun, Yuri dan Jae Na sampai di ambang ruang tamu dan melihat Minho menerjang kearah sofa, tepat pada saat sesosok tubuh mungil yang sedang memanjat ke atas, terpelanting jatuh.

“Akh!!” teriak Minho begitu tubuh mungil tersebut menimpa dadanya.

“Ada apa?” tanya Hyesun kaget.

Minho berpaling. Dia meringis kecil sebelum menjawab. “Tadi kutinggal sebentar buat mengambil mainannya. Tak tahunya si kecil bandel ini sudah manjat-manjat tak karuan …. “ Tangannya menyentuh kepala bayi perempuan usia dua tahun yang sedang tertawa-tawa geli. Pengalaman mengejutkan tadi rupanya tak berpengaruh terhadapnya.

Hyesun mendekati mereka dan mengambil-alih bayi itu sehingga Minho dapat bangun dari posisinya.

“Lain kali jangan ditinggal sendiri. Usia seperti Eun Chae memang sedang nakal-nakalnya … “

“Ne .. “ Minho mengibaskan kaosnya. “Apa makanannya sudah siap?”

“Belum .. “ Hyesun menyodorkan Eun Chae kembali pada Minho.

“O ya, Sung hyung ikut makan malam ini … ,” kata Minho sambil tertawa ketika tangan Eun Chae mengelitik jakunnya. Dengan segera dia menekan tangan mungil milik Eun Chae dan mendaratkan ciuman ke pipinya yang kemerah-merahan.

“Iya, saya sudah tahu dari appa … “

Minho mengangguk. “Lalu bagaimana dengan kalian, anak-anak?” dia beralih pada dua gadis kecil di belakang Hyesun. “Apa yang kalian inginkan sebagai hadiah natal nanti?”

“Jangan terlalu memanjakan mereka!” ujar Hyesun.

Minho tertawa kecil. “Bukan memanjakan, baby. Tapi ini wajib!” kemudian dia mengedipkan sebelah mata kepada kedua putrinya. “Benar kan, sayang?!”

“Ne!!” sahut Yuri dan Jae Na keras-keras.

“Huh--!” Hyesun mendengus. “Saya tak punya waktu berdebat dengan kalian. Masakanku nanti gosong .. “

Hyesun memutar tubuh, tapi sebelum dia bergerak—Mr. Lee memasuki ruangan dengan kalang kabut. Tangannya mengendong bayi usia tiga bulan yang sedang menangis keras.

“Minho—tolongin appa!! Putramu tiba-tiba menangis seperti ini. Sudah appa hibur dari sepuluh menit yang lalu di kamar tadi, tapi tak mau berhenti. Kayaknya dia buang air besar. Diganti diapernya ya, appa nggak tahu caranya .. “

“Mwo?!” Minho segera berpaling pada Hyesun. Tapi, orang yang ingin dimintai pertolongan itu langsung membuang muka kearah lain.

“Saya harus melanjutkan pekerjaanku yang terbengkalai … ,” kata Hyesun acuh. “Bantu omma, anak-anak .. ,” lanjutnya pada Yuri dan Jae Na.

“Ne .. ,” jawab kedua anak itu sambil mengikuti ommanya.

“Yaa—baby!!” panggil Minho.

Hyesun berlagak tak mendengar. Sampai di ambang pintu, dia tersenyum. Rasakan, Minho-a. Siapa suruh minta anak sebanyak ini?!” tawanya dalam hati.

“Baby—yaaaaa!!!”

“Berikan Eun Chae pada appa!” Mr. Lee menyodorkan bayi di tangannya kepada Minho. “Tukar dengan Sun Ki …. “

“Appa—“ Minho memandangi bayi Sun Ki dengan putus asa. Selama ini tugas menganti diaper selalu diserahkan padanya. Apalagi kalau bayi ini buang air besar.

“Kau tahu appa tak bisa membantumu?” Mr. Lee mengangkat bahu.

Minho mendesah. Mau tidak mau dia menyerahkan Eun Chae pada Mr. Lee, kemudian menukarnya dengan Sun Ki. Mr. Lee tersenyum. Minho membawa Sun Ki ke sofa dan menidurkannya di sana. Bayi itu masih berteriak-teriak dengan keras.

“Appa ambilkan diaper-nya!” Mr. Lee berjalan kearah pintu bersama Eun Chae. Tapi, tiba-tiba …

“Pha .. pha … “

Langkah Mr. Lee terhenti. Dia tersentak dan segera berpaling pada Eun Chae. Begitu juga Minho yang sedang sibuk membersihkan kotoran Sun Ki.

“Appa, apakah … itu … ,” tanya Minho ragu-ragu. Perkataan tadi terlalu samar sehingga tak tertangkap jelas.

“Ya—“ jawab Mr. Lee tercekat. “Benar. Eun Chae—akhirnya … akhirnya dia ngomong juga, Minho-a … ,” lanjutnya dengan bulir-bulir airmata yang mulai menuruni sepasang pipi keriputnya. “Dia .. dia normal, .. cucuku … “ Kemudian dia membawa Eun Chae kembali ke tempat Minho. “Dan dia memanggilmu .. Eun Chae memanggilmu untuk pertamakalinya … “

Mulut Minho terbuka. Tak ada suara yang keluar. Dia sangat terharu. Selama usianya yang genap dua tahun ini, Eun Chae memang belum bisa berkata-kata—bahkan memanggil appa dan omma sekalipun. Minho sangat khawatir, begitu juga Hyesun dan Mr. Lee. Mereka lalu memeriksakannya ke dokter-dokter ternama begitu menyadari ketidaknormalan ini. Memang menurut dokter-dokter tersebut Eun Chae normal. Dia hanya lambat berkata-kata jika dibandingkan bayi-bayi seumurnya. Namun, tetap saja hal itu mengkhawatirkan mereka. Tapi saat ini, semuanya sirna sudah. Eun Chae bersuara. Walaupun kata-katanya samar dan tak jelas, putrinya ini memanggilnya.

Minho menerima Eun Chae dari tangan Mr. Lee—tangannya gemetar. Airmata mengalir dari pelupuk matanya. Perlahan diciumnya jidat mungil itu.

“Panggil appa lagi, sayang … “

“Pha .. pha … pha .. pha .. “ Eun Chae melontarkan kata-kata itu berulangkali.

“Anak pintar .. ,” tak tertahankan lagi, Minho merangkul Eun Chae erat-erat. Dia terisak—menciumi putrinya secara membabi-buta.

“Sudah, Minho-a …. ,” Mr. Lee berusaha menenangkan. “Urusi dulu si Sun Ki. Sekarang berikan Eun Chae pada appa … “

Minho mengangkat kepalanya. Dia masih terisak halus. Sambil menghapus airmatanya, dia mengangguk. “Ne .. “ Kemudian diserahkannya Eun Chae kepada Mr. Lee.

Mr. Lee menepuk pundak Minho. “Semua sudah berlalu … “ Kemudian dia berlalu buat mengambilkan diaper Sun Ki.

Di ruang makan …

Hyesun berjalan ke dapur. Yuri dan Jae Na yang mengikutinya, menjatuhkan diri kembali ke deretan kursi di ruang makan dan meneruskan kesibukannya membaca buku. Hyesun menghentikan langkahnya begitu tak mendengar langkah di belakang. Dia segera berpaling pada mereka.

“Hey—anak-anak. Tadi omma sudah bilang, bantu omma mengeluarkan peralatan-peralatan makan .. “

Yuri menengadah dari buku yang baru saja hendak dimulainya. “Kenapa omma meliburkan para ahjuma?”

“Iya!” sambar Jae Na. “Omma selalu meliburkan para ahjuma setiap hari sabtu dan minggu, jadinya begini deh .. “

“Mwo?”

“Omma seharusnya tak melakukannya .. ,” lanjut Yuri bijak. “Kami terlalu kecil buat membantu-bantu di dapur .. “

“Kalian .. ,” Hyesun menghela nafasnya. “Omma ingin yang terbaik di hari keluarga ini, apa kalian paham?”

Percuma saja berbicara begitu pada putri-putrinya. Yuri dan Jae Na mengangkat bahu kemudian kembali menekuni kegemarannya masing-masing. Yuri membaca buku, sedangkan Jae Na mencoret-coret di buku gambar.

Brak!!

Hyesun berpaling. Anak laki-laki di sudut ruangan—yang wajahnya bagai pinang dibelah dua dengan Jae Na—berdiri dari kursinya.

“Biar In yang membantu omma!”

“Oh—“ Hyesun membuka mulut. Wajahnya terlihat berseri-seri. “Emang Jae In yang paling sayang pada omma .. ,” dia mengulurkan tangan pada anak itu. “Ayo, ikut omma ke dalam .. “

Jae In meraih tangan Hyesun. Sambil bergandengan, mereka memasuki dapur.

Yuri dan Jae Na menengadah dari buku masing-masing. Mereka mencibir secara bersamaan.

“Omma selalu pilih kasih terhadap Jae In (oppa)!!”


><><>O<><><
« Last Edit: January 22, 2011, 07:39:29 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Lima menit kemudian, Mr. Lee kembali ke ruang tamu bersama Eun Chae dan Insung.

“Hy—Minho-a .. ,” sapa Insung pada Minho yang sedang sibuk membilas bokong Sun Ki. “Sibuk ya?”

Minho menghentikan kesibukannya. “O hyung, kapan sampainya?” katanya sambil menerima diaper dari tangan Mr. Lee. Eun Cha sudah diturunkan ke lantai dan bermain-main sendiri dengan mainannya.

“Beberapa menit yang lalu .. ,” jawab Insung. “Pak direktur sendiri yang membukakan pintu untuk ku .. ,” kemudian pandangannya diedarkan berkeliling-liling. “Kayaknya para pembantu diliburkan semua ya?”

“Ne .. Hyesun yang mengurus semua itu.” Kata Minho. “Katanya, dia ingin hanya keluarga sendiri yang hadir dalam acara makan malam bersama ini. Dia tak ingin diganggu jadi semuanya dilakukan sendiri .. mulai dari persiapan sampai memasak .. “

“Wah—jadi .. saya sudah dianggap keluarga sendiri?” Insung tertawa.


“Tentu saja!” sahut Minho. Tapi ketenangan yang hanya sebentar itu kembali terusik oleh kenakalan Eun Chae. Anak itu kembali memanjat sofa.

“Pha .. pha .. pha .. pha .. ”

“No, sayang. Kau bisa jatuh .. “ Minho segera menyambar Eun Chae ke dalam pelukannya. Tapi di saat lain, si Sun Ki mulai merengek. Rupanya dia tak suka berbaring terlalu lama di sofa. Bayi itu memprotes pingin digendong. Minho jadi kalang-kabut. Eun Chae yang diturunkan ke sofa di sebelahnya, langsung memanjat lagi. “Yaa—yaa—no!!!!”

“Minho benar-benar sibuk ..” kata Insung pada Mr. Lee yang kini sudah berada di sebelahnya.

“Benar.” Mr. Lee tertawa.

“Apa tak terlalu ribut kalau setiap hari begini?” Insung ikut tertawa.

“Kadang-kadang memang .. ,” ujar Mr. Lee. “Kepala sampai mau pecah kalau anak-anak ini ribut bersamaan. Kau tahu—enam anak bandel dalam satu ruangan?” Tawa Mr. Lee semakin keras.

“Saya bisa membayangkannya .. ,” timpal Insung ngeri.

“Walaupun demikian .. “ Mr. Lee menghentikan tawanya. Suaranya berubah pelan dan lembut. “Suasana ini memberi kehangatan dan kenyamanan tersendiri. Jika salah seorang di antara mereka memanggilmu ‘haraboji’, kau akan merasakan kebahagiaan yang tiada taranya—semua kekesalanmu pasti akan meluluh saat itu jua .. Ataupun ketika mereka menunjukan keberhasilan-keberhasilan yang berhasil dicapainya, baik di sekolah maupun dalam kegiatan-kegiatan biasa … semua sangat ajaib, Insung-a .. “

Insung tersenyum. “Pak direktur sangat puas dengan kehidupan sekarang?”

“Ne .. ,” Mr. Lee kembali memperlihatkan ketawanya. “Mereka sangat berarti bagiku. “ Kemudian dia meletakan tangan ke pundak Insung. “Lalu bagaimana denganmu? Kudengar dari Minho, kau cuti dua minggu .. ”

“Iya .. ,” jawab Insung. Sesaat dia terdiam. Kepalanya menunduk, sampai sekitar dua menit kemudian, dia mengangkatnya lagi.

“Bagaimana masalahmu dengan Won Bin?” tanya Mr. Lee agak risih. Dia tak ingin menanyakan pertanyaan ini, sesungguhnya—sejak dulu dia tak pernah mengubris masalah pribadi Insung.

“Dia memutuskan kembali ke ayahnya dan menerima perjodohan yang sudah direncanakan semula .. “

“Mwo?” Mr. Lee terbelalak. “Apa itu mungkin?”

“Saya rasa tak masalah.” Ujar Insung cepat. Dia tersenyum. Bukan senyum hambar ataupun pahit, melainkan senyum ikhlas. “Wanita itu dikenalnya sejak kecil, dan Won Bin menyayanginya. Abojinya ingin penerus buat keluarga Won dan Won Bin tak bisa berkata lain, karna itu … “

“Kau kecewa?” sela Mr. Lee.

Insung menoleh padanya. “Untuk apa?”

“Karna Won Bin memutuskanmu sepihak .. “

“Tidak .. ,” Insung mengeleng. “Bukan keputusan sepihak. Kami sudah mendiskusikannya bersama—dengan kepala jernih. Dan .. tak ada pilihan lain.”

“Lalu apa rencanamu sekarang?”

“Libur seperti yang saya katakan tadi .. “ Insung tersenyum.

“Kau tak bermaksud menghadiri pernikahan mereka?”

“Hadir .. “ Insung menegakan badannya. “Saya sudah akan pulang waktu itu.”

“O—“ Mr. Lee mengangguk. “Apa kau pergi sendirian?”

“Tidak ..,” Insung tiba-tiba tertawa. “Sangat aneh. Beberapa hari yang lalu saya ketemu Bum. Dia bilang akan menghabiskan waktu beberapa minggu di New Zealand ..”

“Kau ikut dengannya?” tanya Mr. Lee tak percaya.

“Ne .. “

“Apa .. kalian berpeluang .. “

“Tidak tahu!” sela Insung. “Untuk saat ini, saya tak ingin memikirkan apapun selain relaks. Tapi … “

“Iya?”

“Mungkin tak menutup kemungkinan itu. Bum kelihatan jauh lebih dewasa dari pertemuan kami yang terakhir … Saya rasa kami bisa menghabiskan hari-hari yang menyenangkan di sana .. “

“Semoga saja .. “

“AKH!!!”

Teriakan itu membuyarkan pembicaraan pribadi kedua pria tersebut. Keduanya berpaling kearah Minho. Mengenaskan, ayah muda itu tergeletak di lantai dengan Eun Chae menimpa sepasang kaki dan Sun Ki terpeluk dalam genggaman sepasang tangannya.

“Pha .. pha .. pha .. pha .. “ Eun Chae merangkak naik di sekujur tubuh Minho, sampai mencapai dadanya dan seinci lagi hampir menimpa dongsengnya.

“Yaaa—yaaa—tak boleh begitu, sayang!!!” jerit Minho panik. Dia segera beranjak bangun—tangannya masih memeluk putranya erat-erat. Malang, Eun Chae yang berada di dadanya terpelanting ke belakang. Minho berteriak, secepat kilat dia menahan jatuhnya tubuh Eun Chae dengan sepasang kakinya.

“AKHH!!!” teriakan Minho terdengar kembali.

“Pha .. pha … pha … “ Eun Chae bertepuk-tangan.  

“Oh—“ Mr. Lee dan Insung melebarkan mata bersamaan, kemudian mereka saling melirik, berpandangan dengan ekspresi bengong. Sebentar saja, mereka tertawa terbahak-bahak.

SPECIAL : Hyesun menceritakan asal usul Kangsan setelah anak itu memasuki sekolah menengah. Saat itu Kangsan sudah berusia enam belas tahun dan Hyesun merasa sudah saatnya dia mengetahui segalanya.

Atas dukungan Minho, Hyesun membeberkan semua di hadapan Kangsan—tanpa terkecuali. Mengenai kecelakaan tragis yang menimpa kedua orangtuanya dan bagaimana kejadian tersebut masih berhubungan dengannya, Goo Hye Sun—bibinya sendiri, dan juga semua kebohongan-kebohongan yang tercipta selama ini. Hyesun menangis kesengukan ketika melakukannya. Selain teringat kembali akan kejadian yang sudah berhasil dilupakannya itu, dia juga takut Kangsan akan marah dan membencinya. Ya, setelah mengetahui kebohongan-kebohongannya selama ini, siapa yang tidak?

Beruntung Minho senantiasa menenaminya--berada di sisinya. Mengenggam erat setiap jemari tangannya dan menyalurkan kekuatan yang luar biasa sehingga dia mampu bertahan sampai titik terakhir. Setelah itu, Hyesun hanya dapat menunggu. Menunggu reaksi dari pemuda tanggung di depannya.

Sepasang mata Kangsan meredup. Dia mendekati Hyesun dan menyentuh tangannya. Sungguh mengejutkan Hyesun ketika mendengar perkataaan yang tak disangka dari Kangsan. Keponakan yang sudah dianggapnya anak kandung sendiri ini memaafkannya? Benarkah?

“Omma—apapun yang terjadi, kau tetap ommaku. Omma tersayang yang melindungi dan menjagaku sejak dulu—dengan sepenuh hati.” Kangsan mengerakan-gerakan tangannya di atas punggung tangan Hyesun. Menatap ommanya dengan lembut. Suaranya terdengar parau tapi menyentuh dan mengandung sejuta keyakinan. “Aku tak pernah perduli siapa orangtua kandungku—siapa mereka dan apa yang telah mereka lakukan. Bagiku—kau segala-galanya. Persetan dengan sindiran-sindiran dan tebakan-tebakan simpang-siur mengenai asal usulku dari orang-orang munafik itu. Aku tak perduli--jeongmal. Ya, walaupun aku cukup senang setelah mengetahui ternyata orangtuaku tidak seperti yang kubayangkan semula. Aku menyayangimu omma. Apapun yang kau lakukan—demi kebahagiaanku, aku tahu itu. Kau pasti juga sangat menderita ketika harus menyembunyikan semua dariku. Aku memahaminya, omma. Gumawo, karna telah memberikan sebuah keluarga bagiku. Sebuah keluarga yang hangat dan penuh cinta. Jika bukan begitu, jika bukan kebohongan-kebohongan yang kau lakukan, mungkin—mungkin masa kecil-ku tak akan sebahagia ini. Sekali lagi, gumawo .. “

“San-a .. “

Kemudian, ibu dan anak itu berpelukan erat, menangis terisak-isak, saling melepas segala keganjalan-keganjalan yang selama ini tertanam di hati masing-masing. Hyesun sangat bersyukur. Ternyata semua berakhir indah.

Minho menyaksikan adegan-adegan mengharukan itu dari tempatnya. Dia tak bersuara karna memang tak tepat buatnya untuk bersuara. Perlahan, dia tersenyum. Senyuman paling indah dan paling lebar dari seorang pria yang berbahagia di dunia ini.


 
><> THE END <><



p.s. : ya, akhirnya story ini berakhir juga hmpfh.. Gw harap endingnya ga mengecewakan. Agak capek juga dikejar updatean yang bejubun, karna itu para readers--gw berjanji tak akan membuka tret baru lagi. NOT FOR THIS TIME. Gw akan lebih menfokuskan ke ff yang sudah ada, meneruskan dan menamatkan mereka.

Di ff ini, happy ending buat semua karakter—termasuk insung, yg wlp pd akhirnya tak bersatu ama wonbin, ga apa deh masih ada kimbum wkk. Yup, akhirnya mereka bersatu kembali setelah berpisah bertahun-tahun. Mereka lebih cocok, hubungan mereka tak akan dihalangi oleh keluarga karna mereka memang tak punya keluarga. Lain ama wonbin yang mempunyai appa dari golongan hitam, yg otomatis menginginkan keturunan/penerus buat keluarganya.

Akhir kata, selamat berpisah buat bengkok. Satu tahun sudah tret ini menemani kita2 jadi sudah saatnya dia berlalu hahaha, kalau tidak—mana ada bengkok ke-2, bener ga?
« Last Edit: January 21, 2011, 11:28:58 pm by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
yeah mami ilop yu [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [flowers] [flowers] [flowers]

mami, gw save dulu yech mo makan dulu bentar, ntar lgsg eke komen, oce mam [huglove] [huglove] [huglove]

and btw gw suka ama backsong nya mam. JJ Lin penyanyi hongkong aporit eke tuch [hmff]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
Mamiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii tararengkyu udah diupdate yippieeeeeeeee happy ending smua^^

Bwakakakakakak si mami jd beneran bikin mino tokcer trs neh langsung bentuk tim basket kalo bikin kesebelasan makin uhuy mam dol langsung lol

Dan wanita yg dijodohkan dgn wonbin adalah saya mian insung oppa ane ambil blk my hubby kembali kepelukanku lol

jiakakakak insung sm si mbum jdnya si mak nem girang donk ye secara hubby plus cemcemannya dy bersatu halah walaupun blon resmi jadian lol

Congrats mami udah kelar bengkoknye yg ini^^ lanjot ke bengkok slanjutnya hmpf


ADAM COUPLE SELCA

Offline mutiara_minsun

  • Junior
  • **
  • Posts: 199
  • mino bilng."sayang kmu trmakn ak jd cow kmu?"hehe
    • View Profile
gomawo mii dac d update  [lovestruck]

ya tuhan gw bacanya kayak org gila , snyum-senyum sendiri.. [rofl]
happy ending.  [huglove] [huglove] senangny hatii ku ..

apalagi kangsan dac tau kalau dia bukan anak hye sun dan untungny dy gk marah !

mami, d tngg update si little coward , rath , TDC, UL , MI3 , september blabal (lupa nma ny ) willing, bengkok 2, The Sounds of death, The Miracle of Falling Stars,       *SEARCHING MY DESTINY,  my best friend's BOYFRIEND..
smua nya gw suka ! jadi gw ngarep bnget dengan updatean mami ( gila gw ni )

gw cma bsa kasihh smangat !  [smiley-gen013] [smiley-gen013]
skali lagi gomawo dan gw tnggu updatean yang laen  [hmpfh] [hmpfh]

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
mami..................... [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] gw suka banget ama endingnya so sweet [huglove]


hye sun kalo lg tekdung suka agresif ye mam, gimana mino gak melongo hye sun nya inisiatif , heheheh...dasar ni couple kgk bisa dibiarin berdua di kamar pastinya kan [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh](mupeng.ngiler .com)

Ya Tuhan , ntu minsun mo bikin team basket yech mam, ada kang san, yuri, jae na, jae in, eun chae, su ki, Min Ho tokcer  yech mam, malah tokcer banget tuch, xixixixixixiiii

ngakak gw bayngain si mino lagi bersihin beraknya su ki,  [hmff] [hmff],

aw aw insung oppa clbk ama mbum ye mam, ahhhh gw pikir insung bakalan sembuh mam, knapa gak lempar ke gw mam si Insung, gw lurusin dech dijamin lurus kgk bakalan bengkok lagi [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

mami, tengkyu buat Final Bengkoknya, gw suka beneran suka banget apalgi ama backsongnya cuco mam..LITTLE DIMPLE berarti ya kalo diartiin senyuman lah mam (betul gak mam, betul yach [lovestruck])

 [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove]

goodbye my dear bengkok,  [cry] [cry] 1 tahun kita bersama dlm suka dan duka [hmpfh] tp i will jump to my 2nd bengkok [hmpfh] [hmpfh],

Mami [flowers] [flowers]




    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline vhia_minsuners

  • Full
  • ***
  • Posts: 411
  • saranghae MinSun.... saranghae Joondi...
    • View Profile
 [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry]
 [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry]
 [cry] [cry] [cry] [cry]

wah bengkok dah tamat.....
bakal nunggu bengkok selanjutnya....

pasti bengok selanjutnya bakal lebih bagus lagi.... meskipun sedih... tapi itu udah kemauan mami... baiklah...

Gomawo mami udah menyajikan ff ini untuk minship yg pada kekurangan vitaminsun,, [huglove] [huglove] [huglove] [huglove]

sampai ketemu lagi di bengkok selanjutnya... nah lo... [heh] [heh]


kissing you baby... muaaaccchhh ^^

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
wah... dah update... waduh, anak minsun berjibun banget, adik yuri kembar, ya???? tapi aku suka pas waktu min ho gugup di pernikahan [rofl] [rofl] [rofl]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
shanty, judul lagunya berarti lesung pipi, cocok banget buat couple yg satu ini [lovestruck] [lovestruck] and liriknya jg cocok jd gw pakai sebagai backsong finalnya [hmpfh] [hmpfh]

mutiara, hammer2 hammer2 dasar,, elu mau gw teler beneran ya [dry] [goodgrief] [hmpfh]

mak yem. o ternyata cewek yg ditunangkan ama bang wonbin tuh elu toh,, ok, arasoyo [hmpfh] (authornya aja ga tahu [laughing] )

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
vhia, yup sampai ketemu kembali di ff bengkok selanjutnya [biggrin]

sisicia, iya anaknya minsun kembar--si jae in and jae na. sifat mereka beda 180 derajat--jae na usil minta ampun and kekanak2an sedangkan jae in sgt dewasa [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun